NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.

Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.

Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.

Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.

Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Braaak!

Pintu besar berukir pedang emas itu terbuka lebar, seolah ditendang tanpa ragu. Suaranya menggema keras di seluruh ruangan, memutus ketegangan rapat yang baru saja mencapai puncaknya.

“Halo, teman-teman sekalian!” Suara itu lantang, penuh percaya diri. “Bagaimana kabar kalian?”

Tiga sosok melangkah masuk.

Andri berada di depan, bahunya tegap, senyum lebarnya penuh provokasi. Di belakangnya, Bima dan Kevin mengikuti dengan langkah tenang, wajah mereka datar, mata tajam, tak menunjukkan emosi berlebih.

Seluruh ruangan bereaksi.

Mordain, Alex, Raka, Kevin Halim, Nathan, Gilang, dan Zayn serempak mengalihkan pandangan, udara seketika berubah dingin.

“Andri, Bima, Kevin.” Suara Mordain rendah dan menusuk. “Apa yang kalian inginkan?”

Tak satu pun dari para perwakilan menyembunyikan permusuhan mereka. Tatapan-tatapan itu gelap, penuh sejarah buruk yang belum selesai.

Andri terkekeh. Ia melangkah mendekat dengan santai, seolah sedang masuk ke pesta, bukan ke sarang musuh.

“Haha! Kenapa tegang sekali?” katanya ringan. “Santai aja, kami dengar kalian lagi kumpul-kumpul. Jadi… aku pikir, kenapa nggak gabung?”

Kevin dan Bima tetap diam, keduanya hanya berdiri di kanan-kiri Andri, seperti dua bayangan yang siap bergerak kapan saja.

Wuuush!

Tiba-tiba sesosok tubuh melesat ke depan.

Baaak!

Alex menyerang lebih dulu, tinju penuh tenaga menghantam lurus ke arah wajah Andri.

Namun.

Andri menangkap pukulan itu dengan satu tangan, gerakannya bersih, mantap, tanpa goyah sedikit pun.

“Heh,” Andri menoleh sambil masih menggenggam tinju Alex. “Apa ini? Tiba-tiba main serang?”

Seolah pukulan itu tak lebih dari sentuhan ringan.

“Kau!” bentak Alex, menarik tangannya dan melompat mundur. “Kalian masuk tanpa izin ke rapat kami!”

Mordain dan para perwakilan kelas bergerak cepat, membentuk barisan di belakang Alex. Mereka berdiri sejajar, menghadap tiga orang itu dengan sikap siap tempur.

Di belakang mereka, anak-anak buah masing-masing ikut maju, memenuhi ruangan dengan aura agresif yang menekan.

Di sisi lain, Andri, Bima, dan Kevin hanya saling pandang, lalu tersenyum kecil.

Tak ada rasa gentar, tak ada keraguan, dua kubu kini saling berhadapan. Namun di tengah semua itu, ada dua sosok yang tak bergerak.

Dion masih duduk santai di kursinya, bersandar ringan, matanya mengamati tanpa ekspresi, seolah semua ini hanyalah tontonan yang menarik.

Barra berdiri di dekatnya, tubuhnya menegang, tangannya gemetar, napasnya tak teratur. Ia bisa merasakan tekanan di udara, tebal, berat, membuat jantungnya berdegup tak karuan.

Ruangan rapat itu kini berubah menjadi medan konflik, kubu perwakilan kelas, dan kubu para penguasa lama SMA Cahaya Senja. Satu percikan saja, dan tempat itu akan meledak.

“Bagaimana ini, Dion… bukankah ini sangat berbahaya?” bisik Barra dengan suara bergetar, tangannya mengepal di sisi baju batiknya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

“Mau bagaimana lagi,” jawab Dion santai tanpa mengalihkan pandangan. Matanya tenang, seolah sedang menonton adegan yang tak ada hubungannya dengan dirinya. “Kalau mereka ingin bertarung di sini, kita tak perlu ikut campur.”

Barra menelan ludah, di hadapan kekuatan-kekuatan seperti itu, ia tak punya pilihan selain mempercayai Dion sepenuhnya.

Di tengah ruangan, Bima melangkah ke depan. Langkahnya berat namun terkendali, suaranya dingin dan datar, namun mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk merinding.

“Tidak perlu ada perkelahian,” ucapnya perlahan. “Aku hanya ingin bertanya. Apa yang sebenarnya kalian lakukan, sampai berkumpul seperti ini... perwakilan dari setiap kelas?”

Ia berhenti tepat di tengah, lalu menatap satu per satu wajah di depannya. “Atau… apakah kalian berniat memberontak dan tidak lagi mengikuti apa yang kami inginkan?”

Mordain membenarkan kacamatanya, sorot matanya tajam, tak mundur selangkah pun.

“Kau tak perlu tahu, Bima,” jawabnya dingin. “Kalian bukan bagian dari kami.”

Bima menghela napas pendek, senyumnya hilang. “Ha… ini terakhir kalinya aku bertanya,” katanya pelan, namun penuh ancaman. “Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan?”

Tekanan dari tatapan Bima membuat udara di ruangan terasa lebih berat, beberapa perwakilan menegang tanpa sadar.

“Sekali lagi,” jawab Mordain tegas, “kalian tidak perlu tahu, kalian bukan bagian dari kami.”

Wuuush!

Dalam sekejap, Bima melesat ke depan, cepat, brutal, tanpa peringatan. Tangannya terulur, siap mencengkeram leher Mordain.

Mordain tersentak dan menghindar ke samping dengan refleks terbaiknya, angin dari cengkeraman itu nyaris menyapu wajahnya.

“Lumayan,” ujar Bima sambil berhenti, menatap Mordain dengan senyum tipis. “Kau bertambah kuat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya.”

Mordain terengah pelan. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. 'Bangsat… hampir saja,' batinnya lega. 'Kalau aku seperti setahun lalu, leherku sudah remuk.'

Tak memberi kesempatan lagi, Mordain mengangkat tangan. “Sepertinya kalian memang ingin berkelahi,” katanya dingin. “Kalau begitu, hajar mereka semua!”

Wuuush! Wuuush! Wuuush!

Zayn, Gilang, dan Nathan melesat bersamaan, serangan terkoordinasi, cepat, mematikan.

Bak! Buk! Buaaak!

Pukulan kiri Zayn dan pukulan kanan Gilang mengarah ke tubuh Bima, namun semuanya meleset, Bima bergerak seperti bayangan, setiap serangan hanya mengenai udara.

“Bodoh!” teriak Nathan. “Itu cuma umpan... mati kau!”

Ia memanfaatkan celah, melesat dengan pukulan lurus ke wajah Bima.

Namun Bima justru menyeringai.

“Sepertinya kalian memang berubah dalam setahun ini,” katanya ringan.

Pukulan Nathan memang cepat, sangat cepat, tapi Bima lebih cepat.

Wuuush!

Bruaaak!

Bima berputar dan menghantam balik dengan pukulan berat, tubuh Nathan terpental jauh, menghantam dinding ruangan dengan keras sebelum ambruk tak bergerak.

“Satu... telah tumbang.”

Bima mengangkat tangan bekas pukulannya, seolah pertarungan itu tidak lebih dari pemanasan singkat.

Di belakangnya, Andri dan Kevin menyeringai dingin, kemenangan telak itu seperti sudah mereka duga sejak awal.

Mordain dan para perwakilan lain terdiam, wajah-wajah mereka menegang, mata membelalak. Pelatihan setahun penuh, ternyata masih belum cukup, bahkan untuk menyentuh Bima.

1
iky__
I keep reading
iky__
up trus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!