Aini adalah seorang istri setia yang harus menerima kenyataan pahit: suaminya, Varo, berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri, Cilla. Puncaknya, Aini memergoki Varo dan Cilla sedang menjalin hubungan terlarang di dalam rumahnya.
Rasa sakit Aini semakin dalam ketika ia menyadari bahwa perselingkuhan ini ternyata diketahui dan direstui oleh ibunya, Ibu Dewi.
Dikhianati oleh tiga orang terdekatnya sekaligus, Aini menolak hancur. Ia bertekad bangkit dan menyusun rencana balas dendam untuk menghancurkan mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Saksikan bagaimana Aini membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bollyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kehancuran Harga Diri Parasit
Aini menyandarkan punggungnya di sofa beludru ruang tamu, tangannya perlahan menyesap teh melati yang uapnya masih mengepul tipis. Aroma bunga yang menenangkan itu seolah menyapu sisa-sisa kepenatan yang menumpuk selama lima tahun terakhir. Ruang tamu itu kini terasa sangat lapang, bukan karena barang-barangnya berkurang, melainkan karena energi negatif yang biasanya memenuhi setiap sudut ruangan telah menguap. Tidak ada lagi suara melengking Ibu Sarah yang menuntut dibelikan emas, tidak ada lagi langkah kaki Varo yang selalu penuh rahasia, dan tidak ada lagi rengekan manja Cilla yang setiap nadanya terdengar seperti kikir yang menggesek besi.
"Akhirnya, Ai. Lo kelihatan hidup lagi. Kayak ada beban berton-ton yang baru aja diangkat dari bahu lo," celetuk Siska yang sedang asyik membolak-balik majalah fashion di sofa seberang. Siska melirik sahabatnya itu dengan binar bangga, tahu persis perjuangan panjang yang harus dilalui Aini untuk sampai di titik ini.
Aini tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini benar-benar sampai ke matanya.
"Gue cuma baru sadar, Sis. Selama lima tahun ini, gue bukan tinggal di sebuah rumah. Gue tinggal di sebuah medan perang yang sialnya, gue sendiri yang membiayai peluru dan senjatanya."
Pikiran Aini perlahan melayang kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu di Pengadilan Agama. Ia ingat betul bagaimana dinginnya ubin pengadilan itu saat ia melangkah keluar setelah palu hakim diketuk dengan mantap. Ia sengaja berjalan dengan kepala tegak, melewati Varo yang duduk tertunduk dengan wajah abu-abu, melewati Ibu Sarah yang masih mencoba memasang wajah angkuh meski matanya menyiratkan kepanikan, dan melewati Cilla yang sibuk menyembunyikan wajah di balik tas tangannya. Aini pulang lebih dulu dengan mobil merahnya, meninggalkan mereka menghadapi kenyataan pahit tanpa kendaraan, tanpa aset, dan tanpa kehormatan.
Pada saat yang hampir bersamaan, sebuah angkot tua dengan knalpot berasap hitam legam berguncang hebat melewati jalanan berlubang menuju kompleks elit tempat Aini tinggal. Di dalamnya, Ibu Sarah nyaris terjungkal dari bangku plastik yang sempit dan keras.
"Aduh! Supir bodoh! Bisa pelan sedikit tidak?! Kamu pikir kami ini karung beras?! Saya ini sedang hamil... eh, maksud saya, menantu saya ini sedang hamil!" bentak Ibu Sarah sambil memegangi konde rambutnya yang sudah miring dan mulai berantakan.
Varo hanya diam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap aspal jalanan yang terlihat dari pintu angkot yang terbuka. Di dalam sakunya, hanya tersisa beberapa lembar uang kumal senilai puluhan ribu rupiah—sisa kembalian terakhir setelah ia dipaksa melunasi biaya perkara yang jumlahnya di luar dugaan. Seluruh tabungannya hampir ludes, baik untuk membiayai gaya hidup Cilla dan juga Ibu Sarah yang selalu minta uang terus.
Cilla yang duduk di samping Varo terus-menerus menutup hidungnya dengan sapu tangan yang sudah tidak lagi harum.
"Mas, aku tidak kuat. Kepalaku pusing sekali, bau bensinnya menusuk. Kenapa kita harus naik kendaraan umum yang kotor seperti ini? Mana AC-nya? Aku mual sekali, Mas."
"AC apa, Neng? Ini angkot, bukan mall!" sahut supir angkot dari kursi depan dengan nada yang sangat ketus. Supir itu sedari tadi sudah gerah mendengar ocehan Ibu Sarah.
"Kalau mau mewah, naik taksi sana! mana mau taksi bawa kalau tidak bayar dua kali lipat. Lagian, gaya selangit tapi bayar angkot saja masih minta kembalian lima ratus perak!"
"Apa kamu bilang?! Kamu menghina kami tidak mampu bayar taksi?! Asal kamu tahu ya, anak saya ini Manajer sukses! Kami punya rumah paling mewah di kompleks elit depan itu!" Ibu Sarah kembali meledak, egonya yang terluka mencoba mencari pelampiasan pada supir yang tidak bersalah.
Supir itu tertawa mengejek, suaranya parau terkena debu jalanan.
"Manajer kok naik angkot? Sudahlah, Nek. Jangan banyak gaya, malu sama umur yang sudah bau tanah!"
"Kurang ajar! Berhenti! Berhenti sekarang juga!" teriak Ibu Sarah histeris. Saat angkot itu berhenti mendadak di depan gerbang kompleks, Ibu Sarah turun dengan kaki menghentak, bahkan sempat menendang ban angkot itu dengan sisa tenaganya.
"Waduh, ada nenek sihir mengamuk! Kaburrr!" teriak supir angkot sambil tancap gas, meninggalkan mereka bertiga dalam kepulan asap hitam yang membuat Ibu Sarah terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah.
Kembali di dalam rumah, Aini yang sedang menikmati tehnya tiba-tiba mendengar suara gaduh dari arah pintu samping yang tersambung ke dapur. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja kaca, suaranya berdenting pelan. Siska langsung sigap menegakkan posisi duduknya.
"Mereka datang," bisik Siska dengan seringai yang menyiratkan rasa puas yang mendalam.
Di dapur, Ibu Sarah, Varo, dan Cilla masuk dengan langkah yang dibuat-buat tenang, seolah-olah mereka masih menjadi pemilik tempat itu. Tanpa rasa malu sedikit pun, Ibu Sarah langsung menuju kompor. Tangannya yang gemetar karena lapar dan amarah membuka kulkas dan menemukan wadah berisi ayam bumbu kuning yang belum digoreng.
"Makan saja dulu, Cilla. Jangan dipikirkan si mandul itu. Ini rejeki kita, pasti Tuhan yang menggerakkan tangan Aini untuk menyisakan makanan ini karena tahu kita akan lapar setelah lelah berdebat di pengadilan tadi," ujar Ibu Sarah sambil menyalakan api kompor dengan kasar. Suara minyak yang memercik mulai memenuhi ruangan, bersamaan dengan bau gurih ayam goreng yang menyengat.
"Tapi Bu, Aini tadi kan sudah bilang kalau kita harus segera berkemas..." Varo mencoba memberikan peringatan, namun suaranya terdengar sangat lemah, hampir seperti bisikan.
"Halah! Kamu itu laki-laki kok penakut sekali, Varo! Aini itu cuma menggertak! Dia itu perempuan lemah, hatinya lembek seperti tahu. Dia tidak akan berani mengusir Ibu mertuanya sendiri secara kasar di depan tetangga. Dia pasti cuma mau cari perhatian supaya kita memohon-mohon padanya!" Ibu Sarah mulai menyendok nasi sisa semalam yang ada di penanak nasi ke piringnya dengan rakus.
"Benarkah saya selemah itu di mata Ibu?"
Suara dingin dan datar itu memotong udara dapur yang panas. Ibu Sarah tersedak potongan tulang ayam yang sedang ia kunyah, membuatnya terbatuk-batuk hebat sampai air matanya keluar. Varo nyaris menjatuhkan piring berisi nasi ke lantai. Aini berdiri di ambang pintu dapur, bersandar pada kusen kayu dengan tangan terlipat di dada. Ia menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang sangat merendahkan, seolah sedang melihat tumpukan sampah yang lupa dibuang selama berminggu-minggu.
"Wah, luar biasa sekali. Definisi parasit yang sebenarnya ternyata memang nyata. Sudah dinyatakan kalah secara sah di pengadilan, status suami-istri sudah putus, tapi masih sempat-sempatnya mencuri makanan di rumah orang lain tanpa izin," ucap Aini, nadanya tetap tenang namun setiap katanya terasa tajam seperti sembilu.
"Jangan sombong kamu, Aini! Rumah ini dibangun saat Varo masih jadi suamimu! Jadi secara moral, ini masih ada hak kami di sini! Kamu jangan jadi anak durhaka yang tidak punya perasaan!" teriak Ibu Sarah sambil mencoba menelan makanannya dengan paksa meski tenggorokannya terasa sakit.
Aini tertawa pendek, tawa yang penuh dengan penghinaan.
"Hak moral? Sepertinya Ibu lupa kalau moral adalah kata yang paling tidak pantas diucapkan oleh orang yang mendukung anaknya berselingkuh dengan adik iparnya sendiri di rumah istrinya. Dan asal Ibu tahu, ayam yang sedang Ibu telan itu, nasi yang Ibu makan itu, semuanya dibeli dengan uang hasil keringat saya sendiri. Silakan telan habis, nikmati setiap kunyahannya, karena saya pastikan itu akan menjadi makanan terakhir kalian di bawah atap rumah saya."
Aini tidak memberikan waktu bagi mereka untuk membalas. Ia memberikan isyarat kecil ke arah ruang tamu.
"Siska, panggil tamu kita masuk."
"Assalamu’alaikum! Paket pengusiran spesial sudah tiba!" seru Siska yang muncul dengan wajah penuh kemenangan. Di belakangnya, muncul dua orang petugas keamanan kompleks berbadan tegap dan dua orang anggota polisi berseragam lengkap dari polsek terdekat.
Wajah Ibu Sarah yang tadinya merah padam karena amarah, seketika berubah menjadi putih pucat seputih kertas. Cilla yang ketakutan langsung bersembunyi di belakang punggung Varo, tangannya mencengkeram erat kemeja suaminya yang sudah kusut.
"Ini dokumen-dokumennya, Pak Polisi," Aini menyerahkan salinan putusan pengadilan dan sertifikat asli rumahnya.
"Mereka ini secara hukum sudah tidak memiliki ikatan apa pun dengan saya dan menolak pergi dari rumah pribadi saya setelah diminta secara baik-baik."
Petugas polisi itu membaca dokumen tersebut dengan teliti, lalu menatap Varo dengan sangat tegas.
"Saudara Varo, sebagai mantan suami, Anda seharusnya sudah mengerti konsekuensi hukum ini. Anda dan keluarga Anda punya waktu tepat sepuluh menit untuk mengemasi semua barang pribadi kalian dan keluar dari sini secara damai. Jika tidak, kami terpaksa melakukan tindakan paksa atas laporan penyerobotan lahan dan perbuatan tidak menyenangkan."
"Sepuluh menit?! Mana sempat, Pak! Kami ini orang, bukan barang!" jerit Ibu Sarah histeris.
"Sembilan menit empat puluh detik," balas Siska dengan nada mengejek sambil menunjuk jam tangan mewahnya yang berkilau terkena cahaya lampu dapur.
Suasana berubah menjadi kekacauan yang memalukan. Keluarga yang tadinya begitu angkuh, yang selalu merasa paling berkuasa di rumah itu, kini terbirit-birit masuk ke kamar. Suara debuman pintu dan koper yang dibuka paksa terdengar sangat memilukan. Mereka memasukkan pakaian ke dalam koper secara asal-asalan, bahkan beberapa pasang sepatu mahal milik Ibu Sarah yang sebenarnya dibeli dengan uang nafkah Aini tercecer begitu saja di lantai karena koper yang sudah tidak muat lagi.
Sore itu, warga kompleks disuguhi tontonan yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Varo, Cilla yang menangis sesenggukan karena kakinya yang bengkak harus berjalan jauh, dan Ibu Sarah yang terus-menerus menutupi wajahnya dengan tas tangan palsu, berjalan menyeret koper-koper besar menuju pintu keluar kompleks.
Pak Wijaya, ayah Varo, hanya bisa tertunduk lesu di belakang mereka. Ia adalah satu-satunya orang yang masih memiliki sedikit rasa malu. Ia sempat menoleh ke arah Aini yang berdiri di teras rumah, berharap ada setitik belas kasihan di mata mantan menantunya itu. Namun, Aini tetap berdiri tegak, melipat tangannya, dan menatap lurus ke depan tanpa kedipan sedikit pun, seolah-olah ia sedang melihat orang asing yang tak pernah ia kenal.
"Huuu! Pergi sana keluarga penipu! Dasar pelakor tidak tahu diri!" teriak salah satu ibu-ibu tetangga yang sudah mendengar cerita viral tentang perselingkuhan Varo dan Cilla.
Di trotoar depan gerbang kompleks yang megah itu, mereka terpaksa menunggu angkot kembali. Tidak ada lagi mobil merah yang nyaman, tidak ada lagi sofa empuk, dan tidak ada lagi kenyamanan pendingin ruangan. Yang ada hanyalah debu jalanan yang beterbangan, bau asap knalpot, dan rasa malu yang akan membekas selamanya di sanubari mereka.
Aini menutup pintu gerbang besinya secara perlahan. Bunyi 'klik' saat kunci otomatisnya terpasang terdengar seperti penutup sebuah bab suram dalam bukunya. Ia berbalik, menatap rumahnya yang kini benar-benar bersih, suci, dan sepenuhnya miliknya kembali.
"Yuk, Sis. Gue beneran laper sekarang. Kita makan di restoran paling mahal yang pernah dikunjungi Varo pakai uang gue dulu. Tapi kali ini, gue bakal makan buat merayakan kebebasan dan kebahagiaan gue sendiri."
Aini melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan bayang-bayang masa lalunya yang kini hanya menjadi debu yang tersapu angin di atas aspal jalanan.
Bersambung
...****************...
...****************...