Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertengkaran Adam dan Hawa
“Enggak apa-apa kok, Mas,” ucap Hawa ringan, suaranya terdengar nyaris hangat. “Mau nelpon siapa pun juga bebas. Hawa enggak bakal marah.”
Adam sempat tersenyum refleks. Dadanya menghangat, merasa diberi pengertian yang jarang ia dapatkan.
“Kamu memang baik banget, Hawa,” pujinya tulus, matanya berbinar.
Namun Hawa tidak tersenyum. Tatapannya lurus ke depan, lalu bibirnya kembali bergerak, kali ini lebih tenang… terlalu tenang.
“Mau pacaran sama siapa saja juga bebas, Mas. Enggak perlu sembunyi-sembunyi. Mau tidur dengan wanita mana pun juga silakan,” katanya datar. “Aku enggak akan peduli.”
Adam mengerjap, senyumnya membeku.
“Kalau itu memang kebahagiaanmu, tujuan hidupmu, aku enggak akan mengusik,” lanjut Hawa. “Karena pernikahan ini sejak awal tidak lahir dari cinta. Ini cuma wasiat. Kesepakatan dan cara paling cepat untuk menyelamatkan nyawa Ayahku.”
Ia menoleh perlahan, menatap Adam tepat di mata.
“Kamu bukan orang yang aku cintai, Mas. Dan hatiku… bukan untukmu.”
Seakan ada palu besar menghantam dada Adam. Ia terdiam, tenggorokannya tercekat. Tangan yang gemetar buru-buru meneguk botol air mineral, berharap dinginnya bisa memadamkan panas yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.
Entah kenapa, kata-kata Hawa yang diucapkan dengan suara lembut itu justru melibas kasar ke dalam hatinya.
“Dret!”
Ponsel Hawa berdering. Sebuah panggilan video masuk.
“Dokter Wahyu,” gumam Hawa lirih.
Wajahnya berubah seketika. Senyum manis merekah, matanya berbinar hangat. Senyum yang… belum pernah Adam lihat sebelumnya. Ada rona malu-malu di sana, aura kebucinan yang telanjang.
“Hai, Hawa,” sapa pria di layar. “Kamu lagi di mana? Maaf ganggu.”
“Aku di Ancol,” jawab Hawa ceria.
“Serius? Barusan aku dari Ancol, bawa keponakanku.”
“Oh ya?” Hawa tertawa kecil.
“Harusnya tadi kita ketemu,” ucap Wahyu, percakapan mengalir begitu akrab.
Adam yang duduk tepat di hadapan Hawa hanya bisa terpaku. Pandangannya tertancap pada wajah istrinya yang berbinar untuk pria lain. Rasa gelisah membuncah, hingga tanpa sadar ia menyalakan sebatang rokok, mengisapnya dalam-dalam.
“Besok masuk, kan?” tanya Wahyu.
“Tentu, Dok,” jawab Hawa cepat, mengangguk.
“Jangan panggil Dok kalau di luar,” sahut Wahyu sambil tersenyum. “Panggil Mas saja.”
Hawa sontak cekikikan, wajahnya merona.
“Ya sudah,” katanya malu-malu. “Sampai besok.”
“Aku tunggu,” balas Wahyu.
“Bye.”
“Bye.”
Layar ponsel meredup, namun senyum Hawa masih tertinggal.
“Siapa dia?” tanya Adam akhirnya, suaranya ditekan rendah sambil mematikan rokok di asbak.
“Dokter Wahyu,” jawab Hawa santai.
“Bukan itu,” Adam menatapnya tajam. “Kalian punya hubungan apa?”
“Teman.”
“Teman?” Adam tertawa kecil, getir. “Tapi kamu kasih dia senyum terindah yang belum pernah aku lihat.”
Hawa mengangkat bahu.
“Memang. Aku sudah lama menyukainya. Jadi… senyum itu khusus untuk dia.”
Jawaban apa adanya itu justru menghantam keras tanpa ampun. Adam tertawa sinis.
“Dia tahu kamu sudah menikah? Atau aku perlu kasih tau dia sekarang?”
“Dia tahu,” jawab Hawa tenang. “Tapi aku juga bilang, pernikahan ini enggak akan bertahan lama.”
“Oh begitu,” gumam Adam, rahangnya mengeras.
“Seleranya istri orang, ya?” ejeknya pahit.
“Enggak ada masalah, kan?” balas Hawa menantang, nada suaranya santai namun menusuk.
Adam terkejut.
“Jadi ini alasanmu milih Ancol, nolak bulan madu ke luar negeri?” bentaknya. “Mau ketemu dia, ya?”
“Tadinya begitu,” Hawa mengangguk jujur. “Ngapain juga bulan madu ke luar negeri, Mas. Buang waktu, buang uang.”
Ia menatap Adam dingin.
“Bulan madu ke luar negeri itu terlalu istimewa untuk pernikahan seperti ini. Itu cuma pantas untuk dua orang yang benar-benar saling mencintai.”
Kata-kata Hawa itu menggantung, lalu jatuh satu per satu ke hati Adam, meninggalkan panas dan dongkol yang membakar.
Adam terdiam.
Untuk pertama kalinya, Adam menyadari… istrinya bukan wanita yang bisa ia kendalikan.
Seketikа itu juga, suasana hati Adam runtuh tanpa sisa. Dadanya terasa sesak, pikirannya kusut, seolah malam yang semula tenang berubah menjadi medan perang batin. Berbanding terbalik dengan Hawa, yang justru tampak ringan dan ceria. Senyum kecil terus menghiasi bibirnya, sebab esok adalah hari yang sangat ia nantikan: kembali bekerja dan bertemu lagi dengan dokter Wahyu.
Usai makan malam, Adam tak banyak bicara. Ia segera mengajak Hawa pulang, suaranya terdengar dingin dan terburu-buru.
“Ya, sebaiknya kita pulang. Besok harus bekerja lagi.”
Hawa hanya mengangguk, tak menanggapi lebih jauh. Adam memilih diam, membiarkan mood buruknya mengendap. Sepanjang perjalanan, mobil melaju dalam keheningan yang dingin. AC menyala, tapi yang terasa justru keheningan. Hingga akhirnya, kegelisahan itu tak lagi bisa ia pendam.
Sampai di rumah, Hawa turun lebih dulu. Langkahnya ringan, nyaris tanpa beban. Adam menyusul dengan langkah cepat.
“Hawa, tunggu. Aku mau bicara,” katanya tertahan.
Hawa terpaksa menghentikan langkah dan menoleh.
“Apa kamu cemburu?” suara Adam terdengar menekan, sarat tudingan. “Lalu kamu balas dendam ke aku hanya karena aku masih sering menelepon teman-teman wanitaku?” Ia mendengus kecil, seolah yakin penuh pada pembelaannya sendiri. “Mereka cuma teman, Hawa. Teman bisnis. Enggak ada cinta, enggak ada perasaan serius di sana.” Adam berkata dengan nada membenarkan diri, menganggap kebiasaan buruknya itu sesuatu yang wajar, lazim, bahkan lumrah dalam pergaulan zaman modern yang menurutnya tak lagi mengenal batas.
Hawa mematung sejenak, lalu wajahnya berubah terkejut.
“Apa? Cemburu?”
Tawa renyahnya pecah begitu saja. “Ahahahaha!” Ia bahkan menepuk pelan pundak Adam, seolah yang barusan ia dengar hanyalah lelucon.
“Kenapa Hawa harus cemburu, Mas? Mau mereka teman, atau teman tidur kamu, aku kan sudah bilang semua itu enggak masalah.”
Sorot mata Adam mengeras. Rahangnya mengatup kuat.
“Aku enggak semurahan itu!” ucapnya tajam.
Hawa tetap tenang. Terlalu tenang, malah.
“Intinya aku enggak punya hak buat ngatur hidup kamu, Mas. Kamu bebas mau ngapain saja. Itu hakmu. Itu pilihanmu.”
Adam makin tersulut.
“Kalau gitu, ngapain kamu terlalu dekat sama dokter itu? Belum tentu dia orang baik. Sekarang ini banyak manusia berpenampilan sempurna, tapi aslinya brengsek!”
“Aku cuma berteman,” jawab Hawa datar. “Masalahnya apa?”
“Tapi kamu menyukainya?” potong Adam, nada suaranya meninggi.
Hawa menatapnya lurus.
“Terus kalau mengagumi atau menyukai seseorang, itu salah?”
Kalimat itu seperti bensin yang disiramkan ke api. Wajah Adam memerah.
“Jadi kalau dia ngajak kamu jadi teman tidur, kamu juga mau? Kalau dia melamar kamu, kamu terima juga?!”
Hawa menarik napas pelan, lalu menjawab tanpa ragu, tanpa gentar.
“Dokter Wahyu itu pria mahal, Mas. Dia punya kelas. Dia menjunjung tinggi makna cinta dan kasih sayang. Dia menjaga kehormatan dan reputasinya sebagai orang yang mengabdi di pelayanan publik.”
“Halah,” Adam terkekeh sinis sambil membuang pandangannya, rahangnya mengeras. “Mana ada pria seperti itu. Dia cuma sok suci di hadapan kamu. Boroknya saja belum kelihatan.” Nada suaranya meremehkan, penuh prasangka, seolah keyakinannya sendiri adalah kebenaran mutlak.
Hawa menatap Adam dengan mata yang kini tak lagi hangat.
“Dan kalau nanti dia melamarku, tentu aku akan menerimanya… setelah pernikahan wasiat ini selesai.”
Kalimat terakhir itu menghantam Adam tanpa ampun. Malam terasa semakin gelap, dan jarak di antara mereka kini terasa jauh, meski hanya dipisahkan oleh beberapa langkah saja.
Hatinya memang harus di kasih pencerahan kalo Raisa hanya memanfaatkan diri'y saja
yg jadi korban mahluk kita yo gus, haseeem
ternyata si Raisa lebih dari pemain 👊👊👊
kasihan Harun laki² bodoh🥺🥺
bukan seseorang yg dekat dengan Hawa atau Adam kann...🤔
bodoh kamu Runn
dia tuh ingin mnguasai perusahaan di sumatera kamu harus hati2
knpa sih Runn kmu ga jauh2 dari Raisa, gmpang bngt kamu terpengaruh bujuk rayunya
jangan2 emamg udah dibeli nih dan Bunda Rani jg tau