Kala Azure adalah seorang kapten agen rahasia legendaris yang ditakuti musuh dan dihormati.
Namun, karier cemerlangnya berakhir tragis, saat menjalankan operasi penting, ia dikhianati oleh orang terdekatnya dan terbunuh secara mengenaskan, membawa serta dendam yang membara.
Ajaibnya, Kala tiba-tiba terbangun dan mendapati jiwanya berada dalam tubuh Keira, seorang siswi SMA yang lemah dan merupakan korban bullying kronis di sekolahnya.
Berbekal keahlian agen rahasia yang tak tertandingi, Kala segera beradaptasi dengan identitas barunya. Ia mulai membersihkan lingkungan Keira, dengan cepat mengatasi para pembuli dan secara bertahap membasmi jaringan kriminal mafia yang ternyata menyusup dan beroperasi di sekolah-sekolah.
Namun, tujuan utamanya tetap pembalasan. Saat Kala menyelidiki kematiannya, ia menemukan kaitan yang mengejutkan, para pengkhianat yang membunuhnya ternyata merupakan bagian dari faksi penjahat yang selama ini menjadi target perburuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Pria Berambut Abu-abu
Pagar besi tua itu berderit pelan saat Keira melangkah masuk ke halaman rumahnya yang sederhana namun asri. Begitu pintu depan terbuka, aroma harum masakan rumahan langsung menyambutnya, menetralisir sisa-sisa bau lembap dan keringat dari gang sempit tadi.
"Kamu sudah pulang, Sayang?"
Marvin muncul dari arah dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggangnya. Wajah pria paruh baya itu tampak begitu ceria, binar matanya memancarkan ketenangan yang sudah lama ia rindukan.
Malam itu, ketegangan sebagai seorang agen seolah luruh saat mereka duduk bersama di meja makan, menikmati hidangan sederhana yang terasa jauh lebih mewah daripada jamuan formal mana pun.
Setelah makan malam, mereka pindah ke teras rumah. Udara malam yang sejuk menyelimuti mereka saat duduk di kursi rotan, ditemani teh hangat yang mengepulkan uap tipis.
"Jadi, bagaimana sekolah barumu?" tanya Marvin sambil tersenyum lebar. "Teman-temannya baik, bukan? Ayah harap kamu bisa menikmati masa mudamu dengan tenang di sina."
Keira menyesap tehnya, menatap kegelapan malam sejenak sebelum menoleh pada ayahnya. Ia teringat apa yang baru ia alami siang tadi. Namun, ia tidak mungkin membebani ayahnya dengan kenyataan itu.
"Sangat baik, Yah," bohong Keira dengan nada suara yang sangat meyakinkan. "Guru-gurunya ramah, dan lingkungannya jauh lebih tenang daripada yang sebelumnya. Keira suka di sini."
Marvin menghela napas lega, bahunya yang semula tegang tampak merileks. "Syukurlah. Ayah benar-benar merasa tenang sekarang. Kamu tahu, Ayah baru saja mendengar kabar bahwa sekolahmu yang lama sudah dirombak total oleh kementerian. Dan yang paling melegakan ..." Marvin menjeda sejenak, wajahnya menunjukkan kepuasan yang mendalam. "Jordan, kepala sekolah korup itu, akhirnya resmi dijebloskan ke penjara. Akhirnya masih ada keadilan ya sayang."
Keira memaksakan sebuah senyuman kecil. Ia tahu betul siapa yang sebenarnya mengurus Jordan hingga masuk penjara, namun ia membiarkan ayahnya percaya bahwa itu adalah kerja murni dari hukum. Baginya, melihat ayahnya merasa aman adalah prioritas tertinggi di atas misi apa pun.
"Itu berita bagus, Yah. Sekarang Ayah tidak perlu khawatir lagi tentang masa lalu," sahut Keira lembut.
Malam itu tampak damai. Hanya ada mereka berdua yang kini menikmati malam penuh bintang. Udara malam yang dingin kini justru terasa begitu hangat. Keira dalam diam menatap Marvin merasa bersyukur bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.
*
*
Pagi itu, langit tampak mendung tipis saat Keira melangkah turun dari bus kota. Ia merapikan rok seragamnya, mencoba menikmati ketenangan sejenak sebelum menghadapi kebisingan sekolah. Namun, ketenangan itu hancur dalam hitungan detik.
Wush!
Sebuah motor besar berwarna hitam legam melesat dengan kecepatan tinggi, menghantam genangan air sisa hujan semalam tepat di samping trotoar. Air cokelat itu menciprat hebat, membasahi seragam putih bersih Keira hingga basah kuyup dari bahu sampai ke lutut.
"Woi! Berhenti!" teriak Keira spontan. Amarahnya memuncak.
Tanpa berpikir panjang, tangannya merogoh saku dan menyambar gantungan kunci plastik berbentuk granat kecil, sebuah benda ikonik yang selalu ia bawa.
Dengan akurasi seorang agen, ia melempar benda itu.
Tuk!
Gantungan kunci itu menghantam helm si pengendara dengan telak. Suara benturan itu rupanya cukup mengejutkan si pemotor hingga ia menginjak rem secara mendadak, membuat ban motornya berdecit panjang di atas aspal sebelum akhirnya berhenti total.
Keira berjalan cepat menghampiri pemotor itu dengan langkah lebar. "Heh! kau punya mata nggak sih? Lihat nih seragamku!" omelnya habis-habisan tanpa memberi ampun. "Minimal punya sopan santun sedikit kalau bawa kendaraan di jalan umum. Kau kira ini sirkuit balap---"
Kalimat Keira terputus saat si pengendara melepas helmnya dengan gerakan perlahan. Rambut abu-abunya yang sedikit berantakan itu tersibak, menampakkan fitur wajah tegas dan mata tajam yang sangat familiar.
Mata Keira membelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.
"Kau ..." bisik Keira tertahan.
Pria itu adalah pria yang sama yang pernah ia hadang di pinggir jalan beberapa waktu lalu, pria asing yang dengan dinginnya ia mintai tolong atau lebih tepatnya ia paksa untuk mengantarnya ke dermaga.
Keira ingat betul tatapan dingin itu, tatapan yang kini kembali menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Namun, yang lebih mengejutkan Keira adalah apa yang dikenakan pria itu. Di balik jaket kulit hitam yang terbuka setengah, terpampang seragam dengan logo sekolah yang sama persis dengan yang dikenakannya.
"Kita ... satu sekolah?" Keira bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Pria itu turun dari motornya, berdiri tegak hingga bayangannya menutupi tubuh Keira yang lebih kecil. Ia menatap bercak air di seragam Keira, lalu beralih menatap gantungan kunci plastik yang kini tergeletak di aspal.
"Lemparan yang bagus untuk seorang siswi biasa," ucap pria itu dengan suara berat yang tenang, hampir menyerupai bisikan. "Dan untuk seragammu ... sepertinya kita punya banyak waktu untuk membahas ganti ruginya di kelas."
Keira terpaku. Ia pindah ke sekolah ini untuk belajar dengan tenang, namun sepertinya ia salah besar.