NovelToon NovelToon
Mr. Billionare Obsession

Mr. Billionare Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusi Fitria

Semua berawal dari rasa percayaku yang begitu besar terhadap temanku sendiri. Ia dengan teganya menjadikanku tumbal untuk naik jabatan, mendorongku keseorang pria yang merupakan bosnya. Yang jelas, saat bertemu pria itu, hidupku berubah drastis. Dia mengklaim diriku, hanya miliknya seorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusi Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25

3 bulan kemudian...

This moment. Tak terasa sudah 3 bulan berlalu. Aku masih tak menyangka bahwa Elbarra akan menjadi pendamping hidupku.

Kini aku merasa tidak terpaksa lagi untuk menikah dengannya. Aku melakukannya secara suka cita, dan bahagia menantikan hari terindah ini.

Elbarra menepati janjinya untuk tidak kasar lagi kepadaku. Semenjak kepulangan dari Indonesia tiga bulan yang lalu, ia benar-benar berubah menjadi lebih lembut. Tutur katanya, sikapnya, bahkan perhatiannya sukses merebut hatiku.

Rasanya aku sudah jatuh cinta terhadapnya. Setiap kali ada wanita yang mendekatinya, aku jadi cemburu buta.

Sekembalinya dari Indonesia saat itu, aku kembali menjalani kuliah seperti biasa hingga aku lulus dengan IPK yang memuaskan. Yaa, aku baru wisuda minggu lalu.

Dan kalian tahu apa yang dilakukan Elbarra, buru-buru ia ingin menikahiku. Dia bilang, dia sudah tidak sabar untuk menunggu lagi. Dalam waktu seminggu Elbarra bersama orangtuanya menyiapkan pernikahan kami.

Tempat yang di pilih pada akhirnya adalah hotel berkelas yang tak jauh dari kediaman calon mertuaku. Awalnya aku ingin mengadakan pernikahan di Indonesia saja, tapi mengingat akhir tahun cuacanya sedang buruk, jadi niat itu diurungkan.

Saat ini aku sedang duduk di depan meja rias sambil meremas jariku gugup. Gaun putih terbalut di tubuhku dengan sebuah mahkota kecil yang menghiasi kepala, semakin membuatku terlihat bersinar.

"Sayang, sudah siap?"

Lamunanku buyar saat Mama masuk keruang ganti pakaian. Beliau begitu cantik dan terlihat muda dengan kebaya modern yang dipakainya. Ah bangganya aku memilikimu, Ma.

"Putriku cantik sekali..." Mama mendekat, lalu menggapai kedua tanganku.

Matanya nampak berkaca-kaca, aku tahu bahwa itu adalah air mata bahagia. Ia tersenyum kemudian memelukku erat.

"Mama cuman punya kamu, Nak. Setelah melihatmu menikah dan bahagia, Mama tidak punya permintaan lagi."

Dalam pelukannya, aku terisak. Sama halnya denganmu, Ma. Aku juga hanya memilikimu, tapi itu dulu. Sekarang aku memiliki Elbarra, Mommy, Daddy dan juga adik ipar.

"Bahagialah selalu, Sayang. Hanya itu harapan Mama!" Dia melepaskan pelukannya, Mama lalu menuntunku untuk keluar dari ruangan itu.

Ternyata sudah ada Daddy yang menunggu. Ia tersenyum kepadaku seraya memberi kode untuk memeluk lengannya. Aku bersyukur memiliki mertua yang begitu menyayangiku. Karena aku sudah tidak memiliki figur seorang ayah, jadi Daddy yang akan mendampingiku berjalan menuju altar.

Satu tanganku melingkar di lengan Daddy, satunya lagi menggenggam bunga baby breath. Dari sekian banyaknya bunga, kenapa aku justru memilih bunga baby breath? Karena bunga ini melambangkan Kemurnian, Ketulusan dan Cinta Abadi. Hal yang kuharapkan saat bersamamu, El.

Dari kejauhan aku dapat melihat Elbarra yang lebih dulu berdiri di altar. Ia tersenyum penuh haru saat mata kami bertemu. Wajahnya jauh lebih tampan dari sebelumnya. Bangganya punya suami seperti dia.

Di kursi bagian paling depan sebelah kiri, terdapat Mama, Mommy dan Evelyn yang tersenyum bahagia melihatku. Mama dan Mommy berlomba-lomba meneteskan air mata.

Setelah berdiri di depan altar, Daddy menyerahkan tanganku kepada Elbarra. Akhirnya aku dan Elbarra berdiri berhadapan diatas altar sambil tersenyum.

Pendeta mulai melakukan tugasnya. Hingga tibalah saat pengucapan ikrar pernikahan.

"Aku Elbarra De Sanders, menerimamu Sisi Kiyandra menjadi istriku. Aku berjanji untuk mengasihi, menghormati, dan menyayangimu, serta setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam kaya dan miskin, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan kita."

Suara Elbarra begitu lantang menggema diruangan itu. Setelah dirinya, gantian aku yang mengucap janji.

"Aku Sisi Kiyandra, menerimamu Elbarra De Sanders sebagai suamiku. Aku berjanji untuk mengasihi, menghormati, dan menyayangimu, serta setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam kaya dan miskin, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan kita."

"Sekarang kalian sudah resmi menjadi pasangan suami-istri!" ucap Pendeta.

Elbarra mengambil sebuah cincin yang dipegang oleh Evelyn, ia memasangkannya di jariku. Ini cincin yang berbeda dengan cincin sebelumnya, namun aku tidak yakin jika cincin dijariku sekarang tidak memiliki GPS-nya.

Aku bergantian memakaikan cincin platinum di jari suamiku. Semua orang yang hadir bertepuk tangan dan bersorak senang. Tiba-tiba Elbarra menarik pinggangku, lalu mencium bibirku lembut.

"I love you, Dear..." bisiknya tepat di wajahku.

"I love you more, My Husband..."

Senyum kami sama-sama terukir. Apalagi orangtua suamiku yang begitu menantikan pernikahan putranya. By the way, usia Elbarra sudah cukup matang. Enam bulan lagi usianya genap kepala tiga, beda delapan tahun denganku xixixi.

Tapi tak masalah, usia bukanlah penghalang untuk urusan cinta, bukankah begitu?

Berjam-jam aku berdiri untuk menyambut dan bersalaman dengan tamu. Semua tamu tak ada satupun yang kukenal, karena kebanyakan dari mereka merupakan rekan bisnis Daddy dan Elbarra, sisanya teman-teman Mommy.

Lalu, bagaimana dengan kerabatku? Mama sudah mengirimi mereka undangan, namun tak ada yang datang sama sekali. Dengan alasan sibuk dan tidak ada waktu. Padahal semua biaya transportasi dan hotel akan ditanggung oleh keluarga Elbarra, jika memang mereka ingin datang.

Begitulah saudara dan saudari dari Papa. Semenjak Papaku tiada, mereka seakan menjauh. Seolah kami merupakan beban bagi mereka. Sedangkan Mama adalah anak tunggal, jadi tidak memiliki saudara.

Setelah kurasa tidak ada tamu yang harus kusalami lagi, aku bergegas mendaratku bokongku di kursi. Aku memijat kaki-ku perlahan, rasanya pegal sekali.

Elbarra yang menyadari, segera berjongkok dihadapanku. Ia memijat kaki-ku dengan lembut, mendingan memang, tapi aku malu karena menjadi pusat perhatian.

"El, cepat bangun! Semua orang melihat kita!" ucapku dengan suara pelan.

"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin membantu istriku!"

"Ish, kau ini. Aku 'kan jadi malu..."

Suami tampanku itu tertawa kecil, "Baiklah-baiklah."

Akhirnya Elbarra ikut duduk disampingku. Sepasang tanganku langsung melingkar dilengannya sambil menyandarkan kepalaku yang sedikit terasa pusing. Mungkin karena efek kelelahan.

"Aku tidak sabar menunggu nanti malam."

Spontan, aku menjauhkan diri darinya. 'Nanti malam?', sepertinya aku mengerti kemana arah ucapannya.

Elbarra menyeringai, "Bersiaplah, Sayang!"

Sekujur tubuhku merinding mendengarnya. Aku menggeleng menolak, "Aku lelah, mau langsung istirahat."

"Tidak bisa. Aku sudah menunggunya sejak lama!" protes pria itu, ia memasang wajah masam.

Berdebat dengannya tidak akan ada habisnya. Justru aku jadi malu karena semua orang pasti akan melihat kearah kami.

"Terserah kau saja!" putusku akhirnya.

Raut wajahnya seketika berubah sumringah, ia menarik pinggangku agar semakin dekat. "Terima kasih, Istriku..."

"Tapi, janji jangan kasar yaa.."

"Siapp, Princess!!"

Ajaib sekali memang suamiku ini. Dalam sekejap ekpresinya bisa berubah seperti itu. Dia yang biasanya bersikap dingin dan acuh, sekarang menjadi ramah dan selalu tersenyum.

"Sisi!!" Evelyn memanggil sembari menghampiriku. "Akhirnya aku memiliki seorang saudari!"

"Bukankah memiliki saudara lelaki juga menyenangkan?"

Dengan tegas Evelyn menggeleng, "Dia kasar terhadapku! Aku tidak menyukainya!"

Rupanya Evelyn masih mengingat kejadian dulu soal Elbarra yang membentaknya. Kulirik Elbarra yang menatap adiknya tajam.

"Lagipula itu salahmu!" sindir Elbarra.

Sepasang mata berwarna silver melotot sebal kearah suamiku. Jika dilihat-lihat, mata Evelyn sama seperti Daddy. Sedangkan Elbarra menurun dari Mommy, berwarna almond terang.

"Karena kau memaksa Sisi!!" sungut Evelyn yang tak mau kalah.

Tumben dia berani, mungkin karena ada Daddy dan Mommy, gumamku dalam hati.

"Kau ini!!" Elbarra menggeram kesal, ia lalu menjitak kening Evelyn.

Tuk!!

"Aww... Sialan kau, Barra!"

"Apa? Kau ingin kujitak lagi?"

Evelyn mengepalkan tangannya, wajahnya memerah antara ingin marah atauuu mau menangis lagi seperti waktu itu.

"Kau menyebalkan!!" Akhirnya Evelyn memilih untuk pergi, ia menghentak-hentakkan kakinya.

Gadis itu menghampiri Mommy dan memeluk lengannya. Sepertinya dia mengadu, lihat saja Mommy yang menatap tajam kearah suamiku.

"Dasar manja!" Elbarra nampak tak peduli, mungkin ini sudah sering terjadi.

"Kau tidak boleh terlalu sering bertemu dengannya. Evelyn bagaikan seekor ular, ia dapat menyemburkan bisa-nya lalu mengenaimu!" lanjutnya.

Aku terkekeh geli, "Tapi dia menggemaskan, El. Aku merasa sepi jika tidak ada dirinya."

"Bukankah sekarang sudah ada aku? Kita akan bertemu setiap waktu, Sayang."

"Baiklah-baiklah. Aku mengalah, dan kau menang."

Elbarra kembali tersenyum, ia memelukku erat. Seakan dunia hanya milik kami berdua hehe, yang lainnya ngontrak.

1
Ika Yeni
penasarann smaa ellbaraa ,, hilang bagai di telann bumi
Ika Yeni
benerann elbaraa punyaa perempuann lainn ini? ya ampunn kasiann sisi,, apa cumaa slah paham?
Ika Yeni
elbaraa kmanaa istimu hamill ell
Ika Yeni
baguss kak ceritaa nyaa ,, semangat up yaa 😍
Yushi_Fitria: Terima kacih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!