NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 : Harga Gardenia Putih

Konfrontasi Pagi yang Beracun

Fajar di Madrid masih terasa dingin, tetapi di dalam suite Hotel Ritz, udara terasa panas dan berat dari ketegangan yang ditinggalkan oleh acara gala semalam. Alicia Valero baru saja menyelesaikan ritual paginya: meditasi singkat untuk mengosongkan pikiran dan membaca laporan pasar saham yang keras. Ia duduk di chaise longue beludru, mengenakan jubah mandi sutra putihnya, sebuah perwujudan ketenangan yang menipu.

Ia sedang meninjau rencana proyek Cielo Alto di tabletnya ketika bel pintu pribadinya berbunyi.

Alicia menghela napas, merasakan adanya energi yang salah. Ia mengintip melalui lubang. Di luar, Isabel berdiri—sosok yang tidak diundang, mengenakan pakaian yang terlalu mencolok untuk jam sepagi ini. Matanya menunjukkan perpaduan antara keberanian palsu yang terinspirasi oleh Santiago, dan kegugupan yang mendalam.

Alicia tidak membuka pintu segera. Ia membiarkan Isabel menunggu selama tiga puluh detik, sebuah permainan kekuasaan sederhana. Kemudian, ia membuka pintu dengan gerakan yang tenang dan elegan.

“Isabel,” sapa Alicia, suaranya lembut, seperti nada piano yang sempurna, tanpa emosi. “Sungguh pemandangan yang tak terduga. Aku kira kau sibuk mengatur etika Madrid. Masuklah. Aku ingin sekali tahu alasan mengapa seorang agen properti sewaan kini merasa memiliki hak untuk menemuiku.”

Isabel melangkah masuk, mencoba berdiri tegak. Ruangan yang disewa Alicia terasa tiga kali lebih besar dari apartemennya, dan pemandangan dari jendela setinggi langit-langit ke arah taman Ritz segera membuatnya merasa inferior.

“Aku datang bukan sebagai agen, Alicia. Aku datang sebagai Direktur Yayasan Bumi Valero,” Isabel menegaskan, mencoba mencari tempat duduk yang memberinya keunggulan, tetapi Alicia telah menguasai setiap sudut ruangan. “Aku merasa kita harus berkomunikasi langsung mengenai proyek Cielo Alto dan keberlanjutan. Ini adalah tanggung jawab moral kami.”

Alicia berjalan ke bar, menyajikan kopi Kolombia dalam cangkir porselen Royal Doulton. “Tanggung jawab moral? Tentu. Aku suka ketika orang membicarakan tanggung jawab moral sambil merusak rumah tangga orang lain. Kau mau kopi? Atau mungkin kau lebih suka infused water yang hanya berisi es dan janji kosong, seperti yang ditawarkan Santiago akhir-akhir ini?”

Isabel mengambil cangkir kopi itu dengan tangan gemetar. Ia mencoba menyesap, tetapi panasnya membuatnya tersentak.

“Alicia, kau harus berhenti bertingkah seperti istri yang cemburu. Aku di sini untuk bisnis yang sah,” kata Isabel, matanya keras. “Kau harus mundur dari Cielo Alto. Tanah itu harus dilestarikan. Dan media, Alicia, media ada di pihakku. Mereka melihatku sebagai simbol harapan yang berjuang melawan keserakahan Montenegro Group. Aku dan Santiago, kami berada di posisi yang benar.”

Alicia duduk di kursi tunggal di seberang Isabel, menatapnya dengan tatapan yang membekukan.

“Kau berbicara tentang media, Isabel, seolah-olah media peduli pada dirimu. Media hanya peduli pada drama. Dan kau adalah bagian paling murahan dari drama yang aku buat,” balas Alicia. “Tapi, mari kita bicarakan hal yang lebih pribadi, agar kau tidak merasa terlalu terasing.”

Alicia mencondongkan tubuh sedikit. “Kau bilang kau adalah ‘harapan’ Santiago. Kau memberinya sesuatu yang tidak bisa kuberikan. Katakan padaku, apa itu? Kehangatan? Gairah? Atau kau hanya memberinya ego yang rusak, yang kau bungkus dengan aroma gardenia palsumu?”

Isabel, yang kini merasa terpojok, menggunakan senjata terbesarnya: sindiran emosional.

“Santiago tidak butuh ego! Dia butuh wanita yang mau disentuh! Kau tahu apa yang dia katakan padaku? Dia bilang, malam-malam bersamamu seperti mengisi laporan pajak, Alicia! Dingin, akurat, dan menjemukan. Dia bilang, kau bahkan tidak bisa mengeluarkan suara saat mencapai klimaks, karena kau takut itu akan mengganggu penghitungan laba di otakmu. Aku memberinya gairah, Alicia! Aku memberinya bukti bahwa dia masih seorang pria!”

Kata-kata itu menusuk Alicia. Bukan karena ia peduli pada komentar Santiago, tetapi karena menyentuh luka lamanya: suatu keraguan apakah ia telah mengorbankan sisi wanitanya demi kekuasaan. Sebuah kilatan kemarahan melintas di mata Alicia, tetapi ia segera menekannya.

Alicia tersenyum. Senyum itu tidak menjanjikan kebaikan, melainkan malapetaka.

“Kau memberinya bukti bahwa dia masih seorang pria? Menarik,” ucap Alicia, suaranya merendah, nyaris berbisik. “Kau mengira kau adalah penyembuh, Isabel. Tapi kau adalah perban murah untuk luka kecil. Dan perban murah mudah dilepas.”

Alicia bangkit, berjalan mengelilingi sofa Isabel dengan langkah yang disengaja. Ia berhenti tepat di belakang Isabel, membungkuk hingga bibirnya berjarak hanya beberapa inci dari telinga Isabel. Isabel, yang kini terengah-engah, merasakan aura ancaman yang luar biasa.

“Kau benar tentang satu hal, Isabel. Hubunganku dengan Santiago memang dingin. Karena aku melihat pernikahan kami sebagai perusahaan patungan. Dan perusahaan patungan harusnya berdasarkan kesetiaan mutlak dan kepercayaan. Ketika ia melanggar kesetiaan itu, dia bukan lagi suamiku. Dia adalah aset yang didevaluasi.”

Alicia meletakkan tangannya di bahu Isabel. Sentuhannya dingin dan menekan.

“Dan sekarang, bandingkan gairah yang kau berikan kepadanya. Gairah murahan yang beraroma Gardenia Putih. Bandingkan itu dengan gairah yang kuberikan pada Rafael Montenegro. Pria yang kau dan Santiago benci. Pria yang bisa menghancurkan kalian berdua hanya dengan satu jentikkan jari.”

Alicia berbisik, nada yang sangat halus, namun menusuk tajam, terdengar bak bisikan iblis. “Tahukah kau, Isabel? Malam terakhir kami, Rafael membuatku bersuara. Suara yang lebih keras, lebih liar, dan lebih memuaskan daripada yang pernah kau dengar dari Santiago. Dan setiap kali ia menciumku, setiap kali ia menyentuhku, ia mengatakan hal yang sama: ‘Katakan pada Santiago, dia tidak hanya kehilangan perusahaannya, dia kehilangan gairah yang akan menghancurkannya.’”

“Aku ingin kau pulang sekarang, Isabel. Peluklah Santiago. Cium dia. Dan aku jamin, kau akan mencium aroma sandalwood dan kemenangan di kulitnya. Aroma pria yang membuatku bersemangat. Kau akan menjadi saksi bisu betapa hidupnya aku di ranjang musuh. Kau bukan lagi kekasihnya. Kau adalah cermin yang menunjukkan kepadanya betapa bodohnya ia.”

Wajah Isabel memucat dan memerah secara bergantian. Kepercayaan dirinya runtuh total. Ia menyadari ia tidak hanya kalah secara moral, tetapi juga kalah di ranjang dan di meja strategi. Ia telah direndahkan ke status yang paling hina: alat yang tidak penting.

“Kau… kau wanita ja**ng!” teriak Isabel, matanya dipenuhi air mata kemarahan dan frustrasi. "Aku… aku adalah ISABEL! Aku adalah 'santa' di media! Aku yang seharusnya menjadi dewi kebaikan-nya! Kau hanya bayangan kotor, Alicia! Alat yang tidak penting? Tidak! Kau yang akan menjadi debu saat kebenaran terungkap!"

Isabel kemudian melompat, mengangkat tangannya, kali ini benar-benar berniat menyerang.

Tetapi sebelum Isabel bisa bergerak, Alicia, dengan refleks yang cepat dan terlatih, melangkah ke samping. Ia meraih rambut Isabel di tengkuk, menariknya ke belakang dengan genggaman yang kuat, hampir menjatuhkan Isabel ke lantai.

“Jangan coba-coba, Isabel. Tak akan aku izinkan tangan kotormu menyentuh meski sehelai rambutku,” desis Alicia, suaranya tetap lembut, tetapi nadanya lebih tajam daripada pecahan kaca. “Kau di sini hanyalah benalu yang aku izinkan. Sekarang, pergi dan urus yayasanmu, mainkan peranmu sebagai santa yang ditipu di depan media. Aku akan memberimu Cielo Alto untuk diperiksa. Sekarang, keluar. Sebelum aku memanggil keamanan dan menjamin kau tidak akan pernah lagi mendapat kartu identitas hotel bintang lima.”

Alicia melepaskan rambut Isabel dengan dorongan yang menghinakan. Isabel terhuyung ke belakang sampai menabrak meja kopi kaca, menimbulkan bunyi 'klang!' yang keras. Ia tidak segera bangkit. Ia merangkak sedikit, seolah-olah seluruh kekuatannya telah ditarik dari tubuhnya oleh kata-kata Alicia. Perlahan Isabel bangkit, memegangi rambutnya, air mata dan mascara terlihat membasahi wajah wanita itu.

"AKU TIDAK AKAN PERNAH LUPA HARI INI! TUNGGU SAJA! TUNGGU SAJA DAN KAU AKAN MENYESAL, ALICIA!!"

Ia keluar dari suite itu dengan kekalahan total.

Alicia tersenyum kecil, mengambil remote control, dan menyalakan musik klasik yang tenang. Kemudian melangkah perlahan mengambil ponselnya, untuk menghubungi layanan kamar.

​"Kirim tim ke suite ini. Aku butuh jasa untuk membuang meja kopi yang retak itu. Dan kirimkan sebotol parfumTous untukku. Aku tidak suka bau drama murahan yang baru saja terjadi."

****************

Beberapa menit kemudian, Rafael Montenegro masuk, melihat pintu yang sedikit terbuka dan aroma gardenia yang cepat menghilang.

“Aku baru saja melihat beberapa petugas suite berlalu dari arah sini. Apa yang terjadi?” tanya Rafael menautkan alisnya.

“Aku baru saja membuat ratu moralitas itu mengerti posisinya,” jawab Alicia, menarik napas dalam-dalam. “Dia bilang, Santiago menganggapku dingin. Dia menusuk titik lemahku.”

Rafael mendekat, memeluk Alicia. Ia tidak menawarkan simpati; ia menawarkan validasi kekuatan.

“Maka kita harus buktikan bahwa kau tidak dingin, mi amor. Kau hanya selektif,” bisik Rafael. “Isabel hanyalah pengganggu. Sekarang, fokuslah pada Cielo Alto.”

Mereka bergerak ke meja kerja, di mana skema Cielo Alto dan rancangan Proyek Palang Merah mereka terhampar.

“Strategi kita harus dieksekusi hari ini,” ujar Rafael. “Kita akan mengumumkan donasi pribadi Montenegro Group untuk perumahan sosial di Madrid. Totalnya lima puluh juta Euro.”

“Jumlah yang sangat besar,” kata Alicia.

“Hanya untuk menunjukkan pada Santiago betapa bodohnya yayasan nirlaba kecilnya. Kita akan membeli tanah tepat di seberang Cielo Alto. Kita akan membangun perumahan sosial yang indah, modern, dan sangat etis. Itu akan membuat proyek Cielo Alto Santiago terlihat sangat eksklusif—dan sedikit garing.”

Alicia tersenyum licik. “Dan ketika Isabel memblokir Cielo Alto dengan dalih lingkungan, kita akan mengumumkan bahwa kami telah memutuskan untuk mendonasikan lima puluh persen keuntungan kotor Cielo Alto untuk pembangunan perumahan sosial itu. Dia akan berada di posisi yang tidak mungkin. Menolak uang untuk orang miskin hanya demi melestarikan semak-semak.”

“Tepat. Santiago ingin bermain moralitas, kita akan membelikannya seluruh arena moralitas. Kita akan membuatnya terlihat seperti dia menggunakan Isabel hanya untuk menghukum mantan istrinya dengan mengorbankan warga Madrid yang kurang beruntung.”

Kepala Alicia penuh dengan angka, persentase, dan headline media. Namun, Rafael menariknya berdiri.

“Cukup bisnis untuk saat ini. Kau telah menghabiskan energi yang luar biasa untuk konfrontasi itu. Kau harus mengisinya kembali,” bisik Rafael, mengangkat dagu Alicia.

“Kita harus berhati-hati, Rafael. Kita harus menjaga penampilan profesional kita,” kata Alicia, meskipun jantungnya mulai berdebar kencang.

“Kita harus menjaga penampilan untuk Santiago. Dan penampilan itu adalah bahwa kau sangat terpuaskan olehku,” koreksi Rafael, suaranya serak. Ia mengangkat Alicia dalam pelukannya, menuju ranjang yang mewah.

“Setiap sentuhanku hari ini adalah negosiasi, Alicia. Negosiasi yang akan mengirimkan pesan kepada Santiago, bahkan jika dia tidak ada di ruangan ini,” guman Rafael, menjatuhkan diri ke ranjang, menindih Alicia.

Ia menciumnya dengan intensitas yang kejam, sebuah klaim kepemilikan. Sentuhan mereka bukan lagi tentang balas dendam yang dingin, tetapi tentang kebutuhan yang mendalam dan saling membutuhkan. Alicia mencengkeram bahu Rafael, membalas setiap dorongan, setiap sentuhan, membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak dingin, dia hanya pemilih.

“Santiago bilang aku dingin. Buktikan padaku bahwa aku— aku adalah api yang membakar habis pengkhianatan, Rafael.” Tantang Alicia, nafasnya terengah-engah.

Rafael tersenyum, senyum yang menjanjikan dosa. “Aku tidak akan membuktikannya padamu, mi reina. Aku akan membuktikannya kepada dunia. Dan setelah ini, kau akan menelepon Isabel, dan dengan suara parau ini, kau akan memberitahunya bahwa yayasannya tidak akan pernah bisa menyentuh apa yang menjadi milik kita.”

Sutera putih kamar itu segera kusut. Power-play mereka adalah bagian penting dari strategi bisnis mereka. Semakin puas Alicia, semakin kuat ia di ruang rapat. Dan semakin puas Rafael, semakin ganas ia dalam negosiasi.

Di tengah gairah yang membakar, Alicia melupakan Isabel, Santiago, dan bahkan Cielo Alto sejenak. Ia hanya merasakan kebenaran yang ditawarkan Rafael—bahwa ia adalah wanita yang berapi-api dan haus akan dominasi yang setara.

Kontrak telah ditandatangani, dan Alicia akan memastikan ia mendapatkan semua yang telah dinegosiasikannya.

1
(🐼Pãñdä%Syâ🐼) 💤
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!