Kisah ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Darman dan lebih di kenal dengan nama si rawing, dia adalah anak dari seorang jawara silat, tapi sayang bapaknya meninggal akibat serangan kelompok perampok yang datang ke desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panel Bola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Narsiyah Pergi Mencari Si Rawing
Matahari terbit di ufuk timur, Ki Odang dan istrinya sedang mengobrol, sedangkan Narsiyah sudah pergi ke pancuran untuk mandi, yang jadi bahan obrolan mereka yaitu mengenai Si Rawing yang belum pulang ke rumah.
"Abah, menurut Abah, Si Rawing itu pergi kemana? biasanya kalau dia mau pergi, dia selalu memberitahu Ambu kalau mau pergi kemana-mana, apa dia marah karena kita sudah berbicara sperti itu kemarin? Padahal niat Ambu baik, Ambu hanya ingin melihat mereka berdua bahagia, menurut Abah, apa perkataan Ambu kemarin sudah menyinggung perasaannya jang Rawing.?"
"Menurut Ambu bagaimana?"
"Ambu juga bingung, tapi menurut Ambu, perkataan kita kemarin tidak menyinggung perasaan jang Rawing, tapi yang membuat Ambu khawatir itu kalau jang Rawing nekat pergi ke tempatnya si Bewok."
"Nah itu, Abah juga khawatir, sebab melihat sikap seperti jang Rawing bisa saja pergi ke tempatnya si Bewok, waktu ngobrol bersama kita juga begitu, dia tidak akan memikirkan hal lain kalau belum membalas dendam kepada si Bewok, tapi kalau memang benar jang Rawing pergi ke sana, sama saja seperti mengantarkan nyawanya secara sukarela."
"kalau memang benar seperti itu, bagaimana dengan nasibnya si Narsiyah cucu kita bah, bisa di pastikan kalau jang Rawing berani pergi ke sana pasti mati."
"Benar, apa yang di katakan Ambu, padahal saat ada jang Rawing, kampung kita jadi aman dari gangguan Ki Jaka dan muridnya, kalau jang Rawing tidak ada, mereka pasti akan datang kembali ke kampung kita, dan membuat kekacauan."
Obrolan mereka terhenti, saat melihat ke arah halaman rumah ada Narsiyah yang baru saja pulang dari pancuran.
Setelah berganti pakaian, Narsiyah kembali lagi ketempatnya Ki Odang dan istrinya.
Ambu Odang menatap ke arah Narsiyah lalu bertanya, "nyai, tadi saat di pancuran, apa nyai menanyakan tentang jang Rawing kepada teman-teman nyai? siapa tahu mereka melihat jang Rawing."
"Sudah Ambu, tapi mereka tidak ada yang melihat kang Darman, nayi juga bingung Ambu, kenapa kang Darman pergi tanpa memberi tahu dulu kepada nyai, Abah, apa Abah menurut Abah, kang Darman pergi kemana.?"
Ki Odang menghela nafasnya, "Abah juga bingung nayi, tapi melihat sikapnya yang keras kepala, Abah punya pemikiran kalau jang Rawing pergi ketempatnya si Bewok."
Narsiyah terdiam, dia jadi memiliki pemikiran yang sama seperti Ki Odang.
Ambu Odang kembali berbicara, "tapi menurut Ambu, jang Rawing itu pasti tidak akan bertindak gegabah, sepertinya kitanya saja yang kurang bersabar, siapa tahu nanti siang jang Rawing sudah pulang kesini, jadi sekarang kita doakan saja jang Rawing agar selamat dari bahaya."
Ki Odang setuju dengan apa yang di katakan istrinya, "benar nyai, sekarang kita harus sabar, kita juga sudah tahu dengan sikapnya jang Rawing, tahu-tahu nanti sore sudah datang kesini."
Ki Odang dan istrinya, menghibur hati Narsiyah agar tidak terlalu mengkhawatirkan Si Rawing, pemuda yang dia cintai.
"mudah-mudahan saja, kang Darman tidak pergi ke tempatnya si Bewok, itu yang membuat nyai khawatir, tapi kalau nanti malam kang Darman masih belum datang bagaimana.?"
"waktu masih panjang nyai, kan tadi sudah Abah bilang, kalau jang Rawing itu orangnya di luar dugaan, jadi sekarang nyai jangan dulu berburuk sangka."
Sekarang Narsiyah bisa menerima omongan dari kakek dan neneknya, dia menunggu kedatangannya Si Rawing, tapi saat waktu hampir malam, Si Rawing yang di tunggu-tunggu tidak kunjung datang, hal itu membuat Narsiyah semakin kepikiran dengan Si Rawing.
"kenapa kang Darman belum juga pulang, apakah dia sudah tidak betah tinggal di rumah ini, atau memang dia pergi ke tempatnya si Bewok? Kalau seperti ini, nanti subuh aku harus pergi mencari kang Darman, kenapa dia pergi tanpa alasan yang jelas, apa memang karena dia tidak mencintai aku.?"
Saat pagi harinya, Ki Odang dan istrinya merasa aneh, karena tidak seperti biasanya Narsiyah belum terlihat keluar dari dalam kamarnya.
Karena penasaran, Ambu Odang pergi ke kamarnya Narsiyah, saat pintu kamar terbuka, Ambu Odang terkejut, karena Narsiyah sudah tidak ada di dalam kamarnya.
Ambu Odang melihat di atas kasur ada sebuah kertas, saat Ambu Odang mengambil kertas itu, Ambu Odang kembali terkejut, karena kertas itu adalah surat dari Narsiyah yang telah pergi meninggalkan kampung untuk mencari Si Rawing.
"Abah, Abah." teriak Ambu Odang memanggil suaminya.
"ada Ambu, pagi-pagi sudah teriak-teriak." Ki Odang datang menghampiri Ambu Odang yang sedang duduk di atas kasur.
"Cucu kita pergi, kayanya dia mau mencari jang Rawing, dia itukan perempuan, Ambu khawatir dengan keselamatannya, jangan diam saja Abah cepat cari cucu kita."
"Abah harus pergi kemana Ambu, kalau Abah pergi ke arah barat, takutnya si nyai pergi ke arah timur."
"cepat pergi bah, jangan bicara kemana-mana, coba tanyakan kepada tetangga siapa tahu mereka melihat arah kepergiannya Narsiyah."
Akhirnya Ki Odang pergi meninggalkan Ambu Odang sendirian, dia melaksanakan apa yang di katakan oleh istrinya itu.
Ki Odang terus bertanya kepada tetangga-tetangganya, tapi mereka semua tidak ada yang mengetahui kemana arah kepergiannya Narsiyah.
Tubuhnya Ki Odang terasa lemas saat kembali ke rumah, akhirnya Ki Odang dan istrinya hanya bisa berdoa dan berharap agar Narsiyah tidak mengalami hal-hal yang buruk.
Di tempat lain, Narsiyah sekarang sedang beristirahat di salah satu warung.
"nyai itu mau kemana? Ibu perhatikan, sepertinya nyai baru saja selesai melakukan perjalanan jauh.?" tanya pemilik warung, yang seorang perempuan paruh baya, dan cukup ramah.
"iya Bu, aku lagi mencari pemuda yang bernama Si Rawing."
"hus, nyai jangan menyebut nama itu terlalu keras, nanti kalau ada anak buahnya Ki Jaka bisa bahaya, karena menurut mereka Si Rawing itu termasuk manusia yang jahat."
Mendengar perkataan si ibu warung, Narsiyah tersinggung, dia tidak terima kalau pemuda yang dia cintai di anggap orang yang jahat, "kalau seperti itu kebalik Bu, orang yang jahat itu Ki Jaka, mereka adalah antek-anteknya si Bewok pemimpin kelompok Macan Liar."
"hus, nyai jangan terlalu keras ngomongnya, ibu juga tahu nyai, kalau Si Rawing itu pemuda yang berhati baik, dia berani melawan kejahatan, tapi Ki Jaka dan anak buahnya menyebarkan kabar kalau Si Rawing itu orang yang jahat. Memang ada apa nyai mau mencari Si Rawing?"
"Ehh, aku hanya ingin bertemu dengannya Bu, aku dan Si Rawing bisa di bilang saudara."
Narsiyah yang sedang mengobrol dengan pemilik warung tidak mengetahui kalau di samping warung itu ada salah satu anak buahnya Ki Jaka yang mendengarkan pembicaraan mereka, dia langsung pergi meninggalkan warung itu dan berniat memberitahukan kepada Ki Jaka.
(Happy New Year, kepada pembaca Novel Toon, semoga di tahun yang baru ini kita semua di berikan kesehatan dan di lancarkan rejekinya, Amiin.)