Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28 Hal-hal yang Tidak Pernah Ia Pelajari
Sejak dinyatakan pulih, Julian lebih sering mengikuti Raina.
Bukan karena diminta. Ia hanya bosan selalu di kamar, dan entah mengapa Julian ingin mempelajari dunia Raina.Ia selalu berdiri di ambang pintu kamarnya setiap pagi menunggu Raina keluar kamar untuk berangkat ke warungnya.
"Mau ikut lagi?" Begitu Raina melihat Julian sudah menunggu di ambang pintu kamarnya.
Dan Julian mengangguk
“Tapi aku ingin ke pasar dulu,” kata Raina suatu pagi.
Julian mengangguk. “Aku ikut.”
Pasar masih basah oleh sisa hujan malam. Bau sayur segar, tanah lembap, dan ikan bercampur menjadi satu. Raina berjalan cepat, hafal jalurnya, berhenti hanya pada lapak yang ia kenal.
Julian memperhatikan sekitar "Pasar di Jerman tidak sekumuh ini" Batinnya
"Raina" Panggil Julian langsung memegang tangan Raina saat Raina akan masuk ke bagian perikanan.
"Di sini kotor" Ucap Julian pelan
Raina mengedarkan pandangannya dan mengangguk.
"ini pasar tradisional, bukan mall wajar kalau tidak bersih.Lagipula ini sudah jauh lebih baik dari pasar tradisional dulu.Kamu tidak nyaman ya?" Tanya Raina memperhatikan ekspresi Julian yang selalu datar.
"Sedikit" Jawab Julian.
"huff...Ya sudah kita percepat belanjanya" Ucap Raina menarik tangan Julian.
...........
Di warung, Bu Sri sudah sibuk di depan kompor. Silfi menata berbagai macam lauk pauk di etalase, sementara Pak Tarno membersihkan halaman warung.
“Mas Julian,” sapa Bu Sri sambil tersenyum, “kelihatannya sudah segar.”
“Sudah, Bu,” jawab Julian sopan.
“Bagus,” kata Silfi singkat. “Duduk saja dulu mas,mau aku buatin teh anget?.”Tawar Silfi.
Julian menggeleng" Terimakasih "
Entah mengapa sejak bersama Raina, Julian mulai terbiasa mengucapkan terimakasih.
"Raina mau aku buatin es teh atau es jeruk?" Tanya Silfi begitu Raina duduk di bangku kasir setelah menaruh barang belanjaannya.
"Es teh aja mbak kayaknya seger" Jawab Raina sambil membuka hpnya.
Julian duduk di kursi dekat dinding memperhatikan Raina dalam diam.
Saat warung mulai ramai dan sibuk, ia bangkit tanpa diminta, melap meja dan membawa piring kotor seolah dia sudah terbiasa dengan pekerjaan itu. Ketika Silfi mengangkat panci besar, Julian refleks menahan pintu agar tidak terbentur.
“Terima kasih,” kata Silfi.
Julian mengangguk kecil.
Pak Tarno memperhatikan dari kejauhan, lalu mengangguk pelan—penilaian diam-diam seorang bapak.
Raina bergerak cepat dari satu pesanan ke pesanan lain. Wajahnya fokus, tubuhnya tidak pernah benar-benar berhenti. Julian memperhatikannya tanpa sadar.
Ia baru menyadari sesuatu yang mengganggunya:
Raina tidak pernah mengeluh.
Ia hanya terus berjalan.
Sore hari, saat mereka kembali ke kos, Julian berhenti di depan pintu kamarnya.
“Aku… merepotkan ya?” tanyanya tiba-tiba.
Raina menoleh. “Kenapa?”
“Kamu membiayai semuanya.”
Raina diam sejenak. “Kamu kan belum bisa kerja.”Jawab Raina biasa.
Nada suaranya datar. Tidak menghakimi. Tidak merasa berkorban.
Julian mengangguk. Ada rasa tak nyaman yang tidak ia kenal—bukan soal harga diri, tapi tentang bergantung pada seseorang dan tidak tahu harus membalas dengan cara apa.
Malam turun pelan.
Julian duduk di tepi ranjang. Ponselnya bergetar singkat.
“Masih belum ada terobosan,” suara Daniel terdengar rendah. “Semua jalur berhenti. Bersih. Terlalu bersih.”
“Seseorang membersihkannya,” kata Julian.
“Iya. Dan bukan satu orang.”
Ada jeda.
“Kabar Vivienne?” tanya Julian.
“Dia kembali ke Paris. Secara resmi untuk pekerjaan.” Daniel menarik napas. “Tidak ada pergerakan mencurigakan.”
“Justru itu yang mencurigakan,” gumam Julian.
Julian menatap lampu kamar yang redup. “Jadi penyelidikan buntu.”
“Untuk sekarang.”
Julian menoleh ke dinding yang memisahkan kamarnya dengan kamar Raina. Dari baliknya,
“Aku aman di sini,” katanya.
Daniel terdiam sejenak. “Jangan terlalu lama menghilang.”
"Daniel cari cara agar aku bisa membantu Raina"
"Gampang kasih uang saja" Jawab Daniel seenaknya.
"Kamu sedang bercanda dengan ku Daniel?" Tanya Julian kesal namun tak kentara.
"Hehehe....aku akan cari cara nanti..." Jawab Daniel langsung mematikan ponselnya.
"Si*lan asisten satu ini" Batin Julian menatap ponselnya yang layarnya sudah gelap.
Julian menutup mata. “Selama mereka mengira aku sudah tersingkir, ini tempat terbaik.”
Julian berbaring, menatap langit-langit.
Di satu sisi, dunia yang penuh kendali, uang, dan kekuasaan—yang kini menjauh darinya.
Di sisi lain, kehidupan sederhana yang tidak pernah ia rencanakan—namun perlahan membuatnya bingung sekaligus tenang dan nyaman.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Julian hidup tanpa uang, tanpa peran, tanpa kendali penuh.
Dan yang paling menggelisahkan adalah kenyataan bahwa
ia tidak sepenuhnya ingin segera keluar dari kehidupan itu.