Ketika cinta datang dari arah yang salah, tiga hati harus memilih siapa yang harus bahagia dan siapa yang harus terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santika Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Alunan musik pesta terdengar mengiringi kediaman Nayla. Di outdoor belakang rumahnya, terlihat hiasan-hiasan pesta telah terpasang sempurna. Meja-meja kecil tertata rapi dengan berbagai hidangan di atasnya.
Di tengah-tengah outdoor juga terdapat panggung kecil dengan hiasan pita, rumbai-rumbai, dan balon dengan tulisan "Sweet Seventeen Nayla" di bagian tengahnya.
Di bagian tengah outdoor terdapat kolam renang dengan kedalaman dua meter, nuansa air yang berpadu dengan cahaya lampu memberi kesan yang elegan dan mewah.
Beberapa tamu sudah mulai berdatangan, memenuhi halaman belakang rumah Nayla dengan tawa dan suara obrolan yang saling bersahutan.
Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan kilau di permukaan kolam renang. Para pelayan tampak mondar-mandir membawa nampan minuman, sementara musik pop remaja mengalun lembut sebagai latar suasana.
Terlihat sang bintang yang berulang tahun hari ini, begitu cantik memakai strapless dress berwarna maroon dengan potongan rok lebih panjang di bagian ekor, dan payet kecil yang menghiasi gaunnya, membuat Nayla tampak begitu menawan.
Rambut Nayla diikat setengah, dengan style Curly dibagian bawahnya, serta mahkota kecil yang menghiasi kepala benar-benar nampak seperti tuan putri di hari kelahirannya.
Nayla awalnya sibuk menyapa tamu-tamu yang datang. Namun ketika seorang pemuda yang sangat dia tunggu-tunggu akhirnya tiba, dengan bersemangat Nayla menghampiri pemuda itu, meninggalkan teman-temannya yang lain.
“Hai Sa. Gue kira Lo gak bakal datang.” Ujarnya pelan dengan tatapan yang tertuju pada pemuda itu.
Sagara tersenyum tipis, “Happy birthday ya.” ucapnya memberi selamat. Sagara mengulurkan paper bag yang ia bawa, yang tentunya isinya adalah kado untuk Nayla.
“Makasih ya..” balas Nayla tersenyum manis, dia menerima kado tersebut.
Sagara kemudian melangkah menghampiri Nula dan Gazi yang terlihat sedang sibuk mengunyah.
Nayla terpaku, “Serius... Akhirnya... Gue disenyumin Sagara...” gumamnya girang.
Nayla masih berdiri di tempatnya selama beberapa detik, menatap punggung Sagara yang kini sudah menjauh menuju Nula dan Gazi. Sudut bibirnya terangkat tanpa bisa ia kendalikan.
Ketika gadis itu hendak melangkah menuju meja tempatnya meletakkan kado-kado yang didapat, seorang pemuda lainnya juga menghampirinya.
“Happy birthday ya Nay. Nih, kado dari gue.” Kata Tristan sembari menyodorkan paper bag nya.
“Iyaa, makasih ya.” balas Nayla, menerima kado itu.
“Tumben gak sama Alleta.” kata Nayla lagi, lebih seperti sindiran halus.
“Bentar lagi sampe tuh anak, dia sama Aru.” jawab Tristan santai.
“Ohh.. Lo gabung aja dulu sama yang lain, gue mau naroh ini.”
Tristan mengangguk kecil. “Oke.”
Nayla melangkah menuju meja panjang di sisi kanan area pesta, tempat tumpukan kado mulai memenuhi sudutnya. Ia meletakkan dua paper bag yang baru diterimanya, menatanya agar berdiri rapi di antara kotak-kotak hadiah lainnya.
Saat berbalik, Nayla melihat dari kejauhan sekelompok tamu baru memasuki area halaman belakang.
Di barisan paling depan, tampak Alleta dan Aru berjalan berdampingan, diikuti Bara dan beberapa teman lainnya.
Seutas senyum muncul di sudut bibir Nayla ketika melihat gadis yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang.
“Alleta! Aru!” panggil Nayla sambil melambaikan tangan.
Alleta tersenyum lebar. “Happy birthday, Nay.”
Ia menyerahkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas krem dengan pita emas.“Semoga suka.”
Nayla menerima dengan kedua tangan. “Makasih, ini cantik banget bungkusnya.”
Aru ikut menyodorkan kadonya. “Ini dari gue.”
Nayla tersenyum lebar. “Makasih banyak.”
Bara menepuk pelan bahu Nayla. “Selamat ulang tahun, Ibu ketua.”
“Apaan sih,” Nayla mendengus sambil tertawa.
Mereka pun bergerak masuk lebih ke tengah area pesta, bergabung dengan keramaian.
Ketika mereka memasuki area pesta, dua pasang mata tiba-tiba tertuju pada Alleta. Mereka terlihat sama-sama terpana oleh penampilan gadis itu, dress dusty pink yang dikenakannya, serta rambutnya yang diikat menggunakan pita membuat Alleta tampak begitu feminim.
Sagara tanpa basa-basi langsung menghampiri Alleta, membuat Nayla yang berjalan tepat di belakang mereka sontak memperlambat langkah.
“All,” panggil Sagara singkat.
Alleta menoleh. “Ehh, Sagara?”
“Lo keliatan… cantik,” ucap Sagara jujur, tanpa ekspresi berlebihan.
Alleta tersenyum kecil. “Bisa aja lo.”
Aru yang masih berdiri di sebelah Alleta menyenggol lengan sahabatnya pelan. Entah kenapa, malah Aru yang terlihat salting, padahal Alleta yang mendapat pujian.
Kata-kata yang terdengar manis itu, malah terasa seperti pisau yang menggores halus tapi perih bagi Nayla.
Ia yang berdiri di belakang Alleta malah merasa cahayanya sedikit redup, di hari dimana dirinyalah yang seharusnya menjadi bintang.
Alleta dan Sagara berdiri berhadapan hanya berjarak satu langkah. Gadis yang sedang berulang tahun itu memaksakan senyumnya, meski jelas dia sangat benci dengan pemandangan ini.
Beruntung beberapa tamu kembali berdatangan, mengalihkan perhatian Nayla yang langsung menghampiri mereka.
Di sisi lain, Tristan juga memperhatikan interaksi kedua orang itu. Dia mengulum senyum, sejak sebulan lebih dia melihat Alleta menjadi begitu dekat dengan Sagara. Dan perasaan cemburu itu semakin menyiksa, meskipun dia sadar tidak memiliki hak untuk merasakan itu.
Perlahan ia melangkah ke arah gadis itu, lalu berhenti tepat di samping Alleta.
Alleta yang menyadari kehadiran Tristan sontak menoleh, “Tristan. Lo jadi periksa kan?” tanyanya tanpa basa-basi, mengingat kondisi Tristan dua hari lalu.
Kemarin dan tadi di sekolah, Alleta juga sempat menanyakan hal yang sama, namun Tristan mengatakan belum.
Tristan tersenyum menanggapi pertanyaan itu, dan jelas jawabannya “Enggak... Hehe”
Alleta menghela nafas, “Tuh kannn..., selalu aja gitu. Kesehatan itu penting Tris.., gue khawatir sama lo.” kata Alleta tulus, meski nadanya terdengar seperti mengomel.
Sagara melirik Tristan sekilas, lalu menggeser langkah sedikit, memberi jarak. Entah kenapa, suasana di antara mereka bertiga terasa kaku.
Sementara itu di sisi lain halaman, Nayla kembali menyapa tamu-tamu dengan senyum profesionalnya. Namun matanya sesekali melirik ke arah Alleta—melihat gadis itu tertawa bersama Sagara, Tristan, Aru, dan Bara.
Tangannya menggenggam ujung gaunnya lebih erat.“Kenapa gue ngerasa kayak penonton di pesta gue sendiri…” gumamnya lirih.
Waktu menunjukkan pukul delapan, saat acara puncak–tiup lilin akhirnya dimulai. Semuanya terlihat berdiri mengelilingi panggung kecil, yang dimana Nayla berdiri di sana dengan kue ulang tahun dihadapannya.
Lampu-lampu taman sedikit diredupkan, menyisakan sorot utama yang jatuh tepat ke atas panggung kecil. Kue ulang tahun bertingkat dengan hiasan lilin angka 17 diletakkan di hadapan Nayla. Api lilin berpendar lembut, memantulkan kilau di mata gadis itu.
Kedua orang tua Nayla berdiri di sebelah kanan dan kirinya, ibunya yang memegang mic tersenyum lebar,“Oke semuanya, kita hitung mundur sama-sama ya!”
“Tiga… dua… satu…”
Nayla menghirup napas dalam-dalam, lalu meniup lilin-lilin itu.
Sorak sorai langsung pecah, tepuk tangan bergema di seluruh halaman.
“Yeaaay! Happy birthday Nayla!”
Nayla tersenyum, membungkuk kecil.“Terima kasih semuanya…”
Setelah sesi foto bersama, musik kembali mengalun lebih riang. Beberapa tamu mulai menari, sebagian lagi berbincang di sekitar kolam renang.
Terlihat Aru, Alleta, dan Tristan yang duduk di tempat yang disediakan di tepi kolam renang. Kedua gadis itu tengah asik makan kue, sementara Tristan terlihat menyeruput minumannya.
Alunan musik semakin keras, namun Alleta masih terlihat tenang dengan kuenya. Tristan memperhatikan gadis bermata cokelat itu, dia tertawa kecil melihat cara makannya.
Dengan reflek Tristan mengambil tisu, tangannya terulur mengusap sedikit krim yang menempel di sudut bibir Alleta.
Alleta terkejut kecil, dia terpaku.
“Ada krim di bibir Lo.” Tristan tersenyum tipis, sambil mengangkat tisu yang kini sedikit berbekas krim.
“Ohh, makasih.” kata Alleta, kemudian mengambil alih tisu tersebut dan mengelap bibirnya sendiri.
“Akhmm..”
Aru yang melihat kejadian itu langsung berdehem pelan.
“Apa sih Ru.” Alleta mendengus pelan. “Gue mau ambil minum dulu ya.”
Tristan dan Aru mengangguk hampir bersamaan. Alleta bangkit dari kursinya kemudian melangkah ke arah meja yang dipenuhi minuman.
Dia harus sedikit berhati-hati ketika berjalan, karena banyak orang yang sedang menari, jadi ia harus melangkah sedikit dekat dengan kolam renang agar tidak menyenggol mereka.
Ketika tengah melangkah dia kembali berpapasan dengan sang pemilik acara. Alleta tersenyum tulus “Nayla,” sapa Alleta lembut.
Nayla berhenti melangkah. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu di bawah sorot lampu taman yang temaram, diiringi musik yang terus mengalun.
Alleta tersenyum hangat.
“Pestanya keren banget. Lo kelihatan cantik banget hari ini.”
Nayla membalas senyum itu, meski sedikit kaku.“Makasih, All. Lo juga…”
Alleta melirik ke arah meja minuman.“Gue mau ambil minum dulu.”
Nayla mengangguk.
“Iya.”
Alleta pun melanjutkan langkahnya, melewati kerumunan yang menari, bergerak hati-hati di tepi kolam. Nayla memandang punggungnya beberapa detik lebih lama, sebelum sebuah senyum licik kembali terukir seperti smirk.
Alleta benar-benar berhati-hati dalam melangkah, namun sebelum dia mencapai meja yang dipenuhi minuman.
Seseorang tiba-tiba menyenggolnya dari belakang membuat langkah gadis itu seketika oleng dan...
BYURRR....
Semuanya langsung menoleh ke arah kolam. Musik masih mengalun, tapi tawa dan obrolan di sekitar kolam terhenti mendadak. Beberapa tamu menutup mulut terkejut, sebagian lain berdiri refleks mendekat ke tepi kolam.
“Alleta!!” seru Aru panik.
Tristan langsung bangkit dari kursinya, berlari ke tepi kolam.
“All!” panggilnya cemas.
Alleta muncul ke permukaan air, rambutnya yang tadi rapi kini basah menempel di pipi dan leher. Dress dusty pink yang dikenakannya berubah lebih gelap karena air, tubuhnya sedikit gemetar karena kaget dan dingin.
Alleta sebenarnya bisa berenang, namun karena malam itu udara terasa sangat dingin membuat air seolah-olah membekukan tubuhnya.
Sagara yang sedari tadi memperhatikan Alleta dari kejauhan langsung menyela kerumunan dan melangkah ke tepi kolam, dengan cepat pemuda itu melepas jaketnya.
BYURRR...
Dua orang pemuda ikut meluncur ke dalam kolam, keduanya berenang ke arah Alleta.
Semua orang semakin menganga melihat Tristan dan Sagara dengan sigap lngsung menolong Alleta.
Air kolam beriak hebat saat Tristan dan Sagara berenang cepat ke arah Alleta. Lampu taman memantul di permukaan air, menciptakan kilau-kilau kacau yang selaras dengan kepanikan di sekeliling.
“Pegang gue, All!” seru Tristan.
Alleta berusaha mengangkat tangannya, tapi tubuhnya terasa berat karena dingin. Napasnya tersengal kecil. Sagara tiba lebih dulu, satu tangannya langsung menyangga punggung Alleta agar kepalanya tetap di atas air.
“Tenang… gue ada,” ucap Sagara pendek, tapi tegas.
Tristan segera membantu dari sisi lain, memegang lengan Alleta dengan kuat. Bersama-sama mereka mengarahkannya ke tepi kolam.
Di pinggir kolam Aru sudah berlutut dengan wajah pucat.
Tubuh Alleta menggigil ketika akhirnya diangkat keluar dari Air, Sagara langsung mengambil jaketnya yang tadi dan langsung menyelimuti Alleta.
Tristan sedikit mundur, dia seperti tidak mendapat celah untuk membantu Alleta.
“All, lo gapapa?” tanya Aru panik.
Alleta hanya menggeleng, tubuhnya masih gemetar, aura dingin menyusup masuk hingga ke daging.
Namun tepat saat itu, tatapan Sagara yang tadinya khawatir langsung berubah tajam. Mata elangnya menyapu sekeliling, mencari sosok gadis bergaun maroon.
“Maksud lo apa Nay?” sentaknya dingin.
Nayla yang awalnya mengeras melihat Sagara yang begitu perhatian dengan Alleta langsung merubah mimik wajahnya. “Hah?”
“Gak usah pura-pura, gue udah liat. Lo yang dorong Alleta ke kolam.” Nada suara pemuda itu berubah tajam.
Semua mata tiba-tiba tertuju pada Nayla.
Nayla melangkah mundur setengah langkah, wajahnya pucat, namun tetap berusaha mempertahankan senyum yang rapuh.“Gue gak sengaja, gue mau ambil minum.” kata Nayla cepat, dia tentu tidak ingin disalahkan.
Kerumunan semakin rapat. Bisik-bisik mulai terdengar.
“Serius Nayla yang dorong?”
“Ya ampun… di pestanya sendiri…”
Nayla menggigit bibir, kedua tangannya mengepal di sisi gaun maroon-nya.“Gue beneran gak sengaja.” Ia kembali membela diri, matanya kemudian tertuju pada Alleta yang masih menggigil dalam balutan jaket Sagara.
Alleta mengangkat wajahnya pelan.
“Udah gak usah ribut. Gue gakpapa.” katanya lirih, disaat seperti ini Alleta bingung harus memihak yang mana.
“Aru, anterin gue pulang ya.” kata Alleta lagi.
Aru mengangguk cepat, dia hendak membantu Alleta berdiri namun Sagara segera menghadang.
Dengan gerakan yang sangat tiba-tiba dia mengangkat tubuh Alleta. Alleta nampak sedikit terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu, dia menatap mata Sagara bingung.
“Biar gue yang anter.” katanya, tanpa menunggu respon langsung melangkah pergi dari tepi kolam renang.
Aru segera menyusul.
Nayla yang merasakan langsung bagaimana Sagara begitu marah karena Alleta terkena masalah semakin memanas.Tatapannya tajam menatap punggung Sagara yang membawa Alleta dalam gendongannya.
Di hari ulang tahunnya.
Di pestanya sendiri.
Yang seharusnya menjadi malam miliknya.
Ia mengepalkan jemarinya hingga kuku menekan telapak tangan.
“Bagus… bagus banget,” gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh musik yang kembali diputar, seolah tak terjadi apa-apa.
Tristan menatap Nayla sekilas. Tatapan itu tak menghakimi, tapi juga tak membela. Ia kemudian mengalihkan pandangannya, mengikuti arah Sagara pergi.
Semakin ditahan, rasa cemburu itu malah semakin membakar. Tristan merasa tidak berguna. Dulu ia selalu membantu Alleta dikala sulit menyapa, namun kali ini ada orang lain yang malah melakukannya.
Tak ada pilihan lain, Tristan yang juga basah kuyup karena ikut menolong Alleta akhirnya melangkah pergi menuju motornya.
...Bersambung......
...–Agar tidak terluka, hiduplah seolah-olah kamu tidak punya tempat istimewa di hati manusia manapun–...