NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Sementara Parmi yang sibuk dengan penculikan Wardah. Di rumah, Sulis dan Seno, sedang endehoi di kamar tanpa takut ketahuan orang lagi.

"Sulis. Aku kangen banget sama kamu. Haduh..., aku sampe nggak kuat nahan, kalau kamu nampak di depan mataku. Namun aku coba tahan, sangking aku tidak ingin ketahuan, dan membahayakan diri kamu, Sulis."

Sulis tersenyum, lalu membuka semua pakaiannya.

"Baguslah, kamu sangat paham posisimu. Ayo, kita bersenang-senang, mumpung orang-orang pada sibuk."

Seno yang tergila-gila akan kekayaan dan kecantikan Bos istrinya itu, tanpa basa-basi, langsung melampiaskan nafs*nya. Keduanya pun bergum*l tanpa sadar, pintu yang tak tertutup sempurna. Sepasanga mata yang mengintip, sampai menutup mulutnya rapat, supaya tak ketahuan oleh kedua insan yang sedang melepas hasr*t mereka.

***

Wardah yang sudah tak bisa melawan lagi, di seret paksa oleh bebrapa orang yang kelihatan sangat bengis, dan di antaranya ada, Jepri juga. Hingga sampailah ke desa sebelah. Yang mana, beberapa tokoh, seperti ustad-ustad, Pak Imam, dan juga dukun, yang telah berkumpul lebih dulu. Mereka telah di mintai pertolongan oleh, Sulis,sebelumnya.

Sulis yang telah di puaskan oleh Seno, segera keluar untuk menyaksikan kemenangannya lagi.

Terlihat Seno, yang mengendap, keluar dari kamar Sulis. Sempat berpapasan dengan orang yang mengintip, namun Seno abaikan. Orang itu pun mengusap dada lega.

Sementara Beni dan Rohmat, yang baru selesai dengan kesibukan di rumah, tampak iba. Namun, karena termakan omongan Parmi, dan Sulis, keduanya pun tak bertindak apapun, dan hanya diam menyaksikan.

Sedangkan Laela, yang baru pulang dari warung Anita, dia hanya menanggapi semuanya acuh.

Di sana pun telah hadir istri-istri dari para korban yang sebelumnya telah meninggal. Tak ketinggalan Suami dari Paijah, yang juga ikut serta ingin membuat ritual.

Sobirin tergopoh menghampiri Sulis, yang terlihat begitu senang kala melihat Wardah, yang telah berhasil di tangkap.

"Bibi! Embak Wardah nggak bersalah. Tolong lepasin dia, Bi." Sobirin menangkupkan kedua tangannya memohon.

Sulis menoleh sejenak. Dengan tatapan penuh tanya. Sobirin yang paham segera melanjutkan kembali ucapannya. "Betul, Bi. Saya yang selalu bersama Embak Wardah, malam itu. Dan saya tahu siapa pelaku yang sebenarnya."

"Jangan asal bicara kamu, Sobirin! Sudah jelas-jelas dia itu anak dari Ustad bejat, itu. Pasti dialah yang ingin balas dendam." Timpal Parmi.

"Bukan, Embak. Saya sendiri saksinya. Embak Wardah, dan sayalah yang melihat langsung, lelaki yang berada di dalam hutan itu yang menyebabkan kampung kita ini menjadi seperti ini."

"Sobirin! Kamu ini di bayar, Wardah pake apa? Sampe mau mati-matian membelanya. Di bayar pake selangk*ngan? Salah ya tetap salah, Rin. Kami ini para istri, yang suami kami di bun*h dengan cara gaib, sangat tidak terima. Kamu ini, main bela saja. Dasar lelaki!" Ucap Karti ketus. Desi, dan Wati mengangguk setuju.

"Sobirin! Lebih baik kamu cepat pergi dari sini! Jangan menghalangi kami memberi hukuman kepada wanita jahat itu! Kalau kamu tidak mau ikut terseret sebagai kaki tangannya." Teriak Parmi geram. Dia ingin cepat-cepat mengeksekusi orang yang mengetahui kebusukannya itu.

"Sumpah, Embak. Kalian juga akan percuma, melenyapkan, Embak Wardah. Karena bukan dia pelakunya. Dan pada akhirnya, kalian tetap akan di terror lagi. Dan bakalan ada korban lagi." Bujuk Sobirin yang sukses membuat Parmi, Sulis, dan yang lainnya tersadar.

Parmi terlihat berbisik di telinga, Sulis. "Sebaiknya, kita eksekusi si pembuat onar dulu, baru dia, Embak. Lumayankan? Seklai tepuk semuanya bisa kita

musnahkan." Sulis pun menyeringai, lalu mengangguk.

Pak Imam yang penasaran akan keributan itu pun mendekat. "Pak Imam. Tolong bantu saya untuk menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya." Sobirin langsung memohon kepada Pak Imam.

"Apa benar yang kamu katakan itu, Rin?" Tanya Pak Imam.

"Betul, Pak. Bila tidak percaya, saya akan antar anda semua ke tempatnya langsung yang berada di dalam hutan.

Saya masih ingat jalurnya." Ucap Sobirin, membuat semua orang tertegun.

"Baik! Kalau begitu, mari, bawa kami ke tempat itu.

Agar kami bisa menuntaskan sampai kebiangnya." Ucap Pak Imam.

Wardah yang mendengar langsung berteriak. "Jangan! Sobirin! Jangan beri tahu. Aku mohon!" Teriak Wardah khawatir. Walau dia tidak tahu, perkataan pria itu benar atau tidak, saat dia mengatakan kalau dia adalah kakak kandungnya. Namun, melihat raut wajahnya yang mirip dirinya, dan cerita akan dendamnya selama ini, karena orang tuanya yang di bun*h tanpa kesalahan. Wardah yakin pria itu tidak bohong.

Sulis yang mendengar Wardah berteriak dia mendekat, lalu ia berbisik. "Oh! Jadi kamu sudah tahu, kalau itu perbuatan kakakmu? Menyesal aku tidak memusnakan kalian berdua kala itu. Heh! Aku pikir, kalian akan mati di makan binatang buas pada malam di bun*hnya Ibumu, waktu itu. Hebat! Kalian bisa bertahan hidup, dan sampai menipu kami. Setelah kakakmu mati, aku jamin, orangtua angkat mu lah gilirannya." Bisik Sulis membuat raut wajah Wardah memerah menahan amarah, namun tak sanggup melawan.

"Jangan berani berteriak lagi, kalau masih ingin menyelamatkan kedua orangtua angkatmu. Gadis bodoh!" Sulis tersenyum sinis. Wardah yang terbakar api amarah, hanya bisa melampiaskan dengan air matanya.

"Jangan apa-apakan Kakakku, Bi. Aku mohon." Lirih Wardah terisak. Dia pun mengingat ucapan Ibunya saat dia di seret. Menyesal, mengapa tak menjadi jahat juga seperti Kakaknya. Dalam hatinya berkata.

Sulis melangkah mendekati rombongan yang sudah bersiap akan menuju hutan. Sobirin menatap Wardah iba.

Maaf Embak. Aku hanya membela yang benar. Walau mungkin tujuan orang itu ingin membalaskan sakit hatinya, tetap saja tidak di terima, bila Embak, yang tidak melakukan kesalahan apa pun, malah menjadi korbannya.

Air mata Wardah terus membanjiri pipinya yang mulus.

"Bawa dia juga! Supaya lebih akurat jalannya." Titah Sulis kepada anak buahnya, agar menyertakan Wardah ikut. Rombongan pun berangkat menuju dalam hutan yang sangat rimbun.

Pak RT yang awalnya takut, dia dengan penuh semangat ikut dalam rombongan itu juga. Sudah siap

dengan segala rencana jahatnya.

Pokonya, aku harus ikut menghukumnya. Enak saja, anak lelakiku satu-satunya di wafatkan begitu saja. Mana masih punya hutang sama aku. Dan parahnya, istrinya tidak mau membayar hutang suaminya sendiri. Huuuhh! Geram aku.

***

Sesampainya di pondok kecil, semua rombongan berpencar mengepung pondok tersebut. Bau anyir dan busuk menguar dari pondok tersebut, walau jarak masih agak jauh.

Semua orang menutup hidung merasa mual teramat sangat akan bau tersebut. Hawa dingin tiba-tiba merayap membuat para rombongan itu mengigil. Di tambah, suasana yang awalnya cerah, kini tiba-tiba menjadi gelap. Hujan deras pun turun. Membuat semua orang kesulitan untuk mencapai pondok tersebut, yang letaknya agak lebih tinggi. Jalur yang licin membuat beberapa tergelincir dan cedera.

itu. "Astagfirullahhalazim." Sebut ketiga Ustad bayaran

"Aarrgghhttt!!! Tolong...!" Tiba-tiba terdengar suara orang yang jatuh ke dalam jurang, tepat di belakang pondok tersebut.

"Semuanya berhenti dulu! Jangan memaksa naik!" Seru Pak Imam.

"Bagaimana ini, Pak Imam. Hujan nya makin deras."

"Anginnya pun makin kencang, Pak." Orang-orang yang di dekat Pak Imam, mulai khawatir.

"Sabar-sabar. Tetap tenang! Pokonya, hari ini juga, si pembuat terror itu harus kita musnahkan! Jangan sampai nanti kita yang menjadi gilirannya." Teriak Parmi menyemangati.

Pak Imam geleng-gelang kepala, merasa Parmi begitu ambisius sampai tak menghiraukan keselamatan orang lain.

Sementara Seno, dengan setia memeluk Sulis, untuk melindunginya dari angin yang bertiup begitu kencang.

Parmi yang sempat melihat pun, tampak hatinya terbakar amarah, namun ia tahan.

Bisa-bisanya dia melindungi orang lain, bukannya melindungiku. Awas kamu, Mas.

Mereka bertahan di tengah guyuran hujan begitu lama. Hingga banyak dari mereka yang jatuh ke jurang.

Pak Imam yang berfirasat itu bukan hujan normal

pun, mengajak ustad lain berdoa lalu membaca ayat-ayat Alqur'an. Dan tiba-tiba hujan pun seketika berhenti.

"Subahanallah, alhamdulillah." Ucap syukur semuanya.

Sedangkan di dalam pondok, wajah Azka nampak merah padam karena marah. "Dasar makhluk-makhluk

yang tak berakal! Beraninya mereka melawan mantraku! Akan ku buat semuanya mati sia-sia di sini!" Azka mengeluarkan benda-benda magisnya, sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra.

Burung gagak pun mulai berdatangan, mengumpul menjadi satu di atap rumah, lalu kawanan burung itu berubah menjadi makhluk tinggi besar yang sangat menyeramkan. Matanya besar bulat berwarna merah menyala, lidahnya menjulur panjang, tubuhnya berbulu, dan kepalanya bertanduk.

Semua orang yang tersisa nampak begitu ketakutan.

"Makhluk a-apa itu?!" Teriak mereka panik.

"Minggir! Semuanya minggir!" Teriak seorang Ustad.

Dia pun mencoba melawan makhluk tinggi besar itu.

Terdengar rauman mengerikan dari monster tersebut.

Warga yang tersisa memilih lari terbirit-birit menuju rumah mereka.

Pertarungan sengit tiga lawan satu pun di menang kan oleh makhluk tersebut.

Azka tersenyum angkuh.

Pak Imam yang tau kalau makhluk itu ada yang mengendalikan, dia berusaha untuk masuk ke dalam rumah kecil itu. Namun, tanah yang gembur dan licin, teramat sangat menyulitkannya.

Kini Azka, kembali membaca mantra. Tanpa sadar ada seseorang yang berusaha membuka pintu belakangnya.

Kini terlihat, makhluk itu berubah wujud menjadi Yusuf dan Seruni. Keduanya melayang mendekati, Parmi.

Parmi begitu ketakutan. Terlihat tubuhnya mulai bergetar.

"Parmi...! Ayo ikut kami! Kamu juga harus merasakan bagaimana rasa panasnya api yang telah kalian berikan kepada kami. Hihi...!" Kedua makhluk jelamaan itu bersuara bersamaan, membuat Parmi, tak bisa menahan lagi ketakutannya.

Dia berlari menuju suaminya. "Mas, tolong aku."

Namun Seno pun, tak kalah ketakutannya seperti Parmi.

"Ini semua salah kamu, Parmi! Coba kamu dulu nggak membayar mereka untuk membun*h Seruni, pasti kita tidak akan menjadi sasaran mereka selanjutnya!" Kesal Seno.

"Bukan murni salahku, Mas. Ini semua juga karena, Embak Sulis! Dia dalang dari semuanya. Dan kamu tahu betul itu." Elak Parmi.

Kedua suami istri itu bertengkar saling menyalahkan.

Sampai akhirnya, makhluk jelmaan yang awalnya seperti manusia biasa, kini rupa mereka berubah menjadi mengerikan. Dengan tubuh menghitam, dan kulit mengelupas. Asap tipis pun terlihat masih mengepul di tubuh makhluk tersebut. Parmi dan Seno, makin menggigil ketakutan. Dadanya terlihat naik turun, dengan terus melangkah mundur mencoba menjauh.

Namun percuma, kedua makhluk itu menekan leher Seno, dan Parmi. Terlihat wajah mereka yang memucat, dan lidah mereka yang menjulur keluar.

"ΑΚΚΚΗΗΗ!!!" Keduanya terkapar bersamaan tanpa seorang pun yang melihat.

Sedangkan di dalam pondok. Azka terkejut melihat kedatangan, Sulis.

"Haha...! Kamu pikir semudah itu bisa melenyapkan aku, hah?! Aku bukanlah manusia biasa, seperti orang-orang bodoh itu! Yang dengan mudah kau lenyapkan. Cuih! Haha...!"

Azka menatap wanita setengah baya si hadapannya dengan tatapan tajam. "Dasar wanita picik! Hatimu itu bukan lagi milik manusia. Ingatlah! Hukum dunia pasti akan kau dapatkan. Walau itu bukan dariku." Ucap Azka, yang sudah merasakan ada aura yang sangat kuat dari tubuh wanita di hadapannya itu.

"Cuih! Omong kosong apa yang coba kamu ucapkan kepadaku. Aku tidak akan bisa binasa, karena aku mempunyai pelindung yang sangat kuat!" Sulis mendekat, tanpa banyak bicara, langsung menyerang, Azka. Adu ilmu kebatunan pun terjadi sangat sengit. Keduanya sama-sama tangguh. Sampai akhirnya, Sulis mengeluarkan keris warisan Eyang nya. Dan langsung menancapkan keris itu. Cairan merah pun terlihat menggenangi tangannya.

Sedangkan Wardah yang masih tertinggal di belakang

terkejut melihat banyak sekali may*t yang tergeletak.

"Astagfirullahhalazim." Sebutnya bergegas naik ke atas. Firasatnya me gatakan ada hal buruk yang terjadi. Dia sangat mengkhawatirkan Kakaknya. Namun ia kesulitan, karena medan yang terlihat telah porak poranda.

Pak Imam, bersamaan dengan Sobirin, berhasil menaiki jalanan yang licin tersebut. Dia pun membuka pintu, dan alangkah terkejutnya, saat tangan Sulis telah bersimbah cairan mereh.

"A-Azram!" Sebut keduanya saat melihat Azka yang telah tertancap keris di tubuhnya.

Sulis tersenyum mengerikan. "Mampus kamu! Kamu bisa membun*h semuanya, tapi tidak dengan aku! Karena aku adalah pewaris keris sakti dari eyang buyutku! Hahaha...! Dari itulah aku selalu menang! Haha...!" Tawa Sulis menggelegar. Sobirin dan Pak Imam tidak menyangka akan perbuatan Sulis, yang seakan tidak punya hati tersebut.

Wardah yang baru datang, tak berani masuk. Dia hanya bisa mengintip dari celah dinding papan. Hatinya pilu, ia menangis tanpa suara.

"Abang...!!!" Sebutnya sembari sesenggukan.

POV Sulis

Aku tidak akan bisa di kalahkan! Itulah yang Eyang buyutku katakan sebelum ia wafat dulu. Dia pun memberikan aku keris sakti. Yang kata Eyang, aku akan selamat dari gangguan jin yang berniat jahat kepadaku.

Sejak memiliki keris itu, nasibku selalu mujur. Walau aku sering melakukan kesalahan. Tapi, dengan sedikit ucapan, semua orang pasti akan menuruti kemauanku. Dan harta yang aku punya pun tak pernah habis, walau aku selalu mengeluarkan uang banyak setiap harinya. Uang itu seolah turun dari langit begitu saja.

Dan kejadian hari ini, aku sangat senang, karena orang yang sangat berbahaya bagiku, bisa ku tumpas dengan begitu mudah, hanya dengan mempraktekkan ucapan Eyangku, lawanku tidak akan mendengar atau melihat keberadaanku.

Ku huj*mkan keris itu tepat di punggungnya. Dan seketika, musuhku ambruk tak bernyawa. Hahaha...!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!