NovelToon NovelToon
Maya Dan Cangkulnya

Maya Dan Cangkulnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romansa pedesaan
Popularitas:276
Nilai: 5
Nama Author: R.Fahlefi

Sebuah karya yang menceritakan perjuangan ibu muda.
Namanya Maya, istri cantik yang anti mainstream

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.Fahlefi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pamer?

Gilang dengan semangat membara menggendong istrinya ke dalam kamar.

Apes...

Ternyata Sari belum tidur. Ia menatap kedua orang tuanya yang sedang dalam pose romantis itu dengan kening mengerut.

"Ibu? Kok digendong?? Sakit ya?"

Buru-buru Maya turun dari gendongan, ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

"E-h, iya, eh- nggak kok Nak, cuma kaki ibu keseleo, makanya digendong ayah." Ucap Maya terbata.

Sari pun menatap ayahnya meminta penjelasan.

"Ibu nggak bohong kan?"

"Iya, tadi ibumu kepleset di kamar mandi." Gilang menjawab lebih santai.

"Oh," Sari mengangguk.

Alhasil, Maya harus rela menahan cintanya dulu hingga larut malam, menunggu Sari bobo cantik. Gilang pun demikian, mereka cuma bisa bersabar atas kehendak yang tertahan.

Dan yang paling apes pula, saat Sari tidur mereka dua juga ikut tertidur hingga pagi datang sesuai janji.

Keesokan harinya setelah Gilang pergi kerja, Maya menemui Mirna untuk memberikan penjelasan mengenai Barto.

Di rumahnya Mirna sedang asyik memasak. Sedangkan ibu mertua Maya sedang duduk santai di halaman rumah. Maya tadi sempat menyapanya sebentar, tapi seperti biasa mertua Maya hanya mengangguk tipis. Ia tidak tertarik berbicara dengan Maya, namun sikapnya pada Maya sudah mulai membaik.

"Ada apa lagi sih kak May? Kok pagi-pagi udah nongol kayak kucing mau minta makan?" Ucap Mirna.

Maya menghela nafas, adik iparnya itu kalau ngomong jarang ada remnya.

"Aku mau ngomong samamu." Jawab Maya.

"Ngomong? Bukannya dari tadi kita ngomong?"

Maya duduk di kursi dapur.

"Aku mau ngomong masalah Barto!"

"Whattt? What hepen?" Seketika Mirna terkejut mendengar nama Barto. Tapi sesaat kemudian wajahnya sudah bersinar cerah dan ikut duduk.

"Ada apa dengan Barto kak May?" Mirna bersemangat.

"Kau kenal Barto?" Lanjut Maya.

"Barto? Ohh.. mendengar namanya saja sudah membuat jantungku jedag-jeduq." Jawab Mirna sambil matanya berkedip-kedip kayak lampu sedang konslet.

"Kau kenal Barto tidak?" Tanya Maya lagi sambil menghela nafas.

Mirna mengangguk, "Barto adalah cinta masa SMA ku kak Maya. Sekarang, ia datang lagi seperti hujan di tengah kemarau, membawa cahaya cinta yang sempat padam." Jawab Mirna penuh Drama.

Maya hendak muntah mendengarnya. Sungguh bucin sekali janda yang ada di depannya itu. Padahal Barto adalah bekas pacar Maya. Tapi Maya menahannya, nggak jadi muntah. Ia tahu kalau Mirna sedang berbunga-bunga, Maya nggak mau jadi hama yang menggugurkan bunga tersebut. Maya juga pernah merasakannya dulu.

Sesaat kemudian, Mirna baru tersadar, "Kak Maya kok kenal sama bang Barto?"

Maya menghirup udara dengan rakus, bersiap memberitahu sebuah kebenaran yang mungkin menakutkan bagi Mirna.

"Aku kenal Barto karena.... Barto adalah mantan pacarku dulu."

Hening.

Udara di dapur terasa menegangkan untuk Maya. Meskipun Mirna itu menyebalkan, tapi Maya masih punya secuil perasaan sayang pada adik iparnya itu. Itulah kenapa Maya memberitahu Mirna, ia tidak ingin Mirna nantinya menyesal, tak mau salah jalan. Mirna harus tahu siapa Barto sebelum mereka melanjutkan hubungan ke level selanjutnya.

"Oh cuma itu toh?" Jawab Mirna akhirnya, lalu menatap Maya penuh selidik.

"Iya, aku dan Barto itu punya hubungan masa lalu Mir. Itulah sebabnya aku memberitahumu. Aku nggak mau kau menyesal nantinya."

"Menyesal? Maksud kakak, Barto itu orang jahat?"

"Eh- bukan itu, Barto sebenarnya baik, cuma ya itu... Dia itu mantan aku."

"Jadi kakak nggak setuju aku sama Barto? Kakak mau balikan lagi?"

"Eh Mir, jaga muncung kau itu. Gak mungkin aku mau balikan sama dia."

"Terus kenapa? Kenapa kakak kayak nggak suka gitu?"

"Aku bukannya nggak suka, cuma kasih tahu aja."

"Terus?"

"Terus apa sih? Kalau kau pacaran sama Barto juga nggak masalah, yang penting aku sudah memberitahumu!!" Maya mulai berang.

"Terus kalau udah diberitahu? Kakak mau apa?"

"Aku nggak mau apa-apa Mir, aku cuma mau kau mengerti saja, kalau Barto itu mantan pacaraku! Udah?!"

"Terus kenapa kakak memberitahuku? Mau pamer gitu?" Mirna mulai terpancing, penyakit menyebalkannya sudah keluar lagi.

"Aku nggak mau pamer apa-apa! Kau itu bisa nggak sih dibilangin? Aku cuma berniat kasih tahu, suatu saat biar nggak ada yang ditutup-tutupi dalam hubungan kalian! Suatu saat agar kau tidak salah paham kenapa aku kenal sama kekasih brengsek mu itu!!" Nafas Maya mulai tak terkendali.

Mata Mirna berkunang, lalu berdiri.

"Kalau kakak cuma mau pamer dan bilang bang Barto itu gak pantas buatku...." Suara Mirna terisak, kemudian melanjutkan, "Lebih baik aku mati saja." Katanya dengan wajah menyedihkan.

Maya pun ikut berdiri, lalu menjitak kepala Mirna dengan siku jarinya.

"Eh Mir, otak kau itu udah konslet apa? Aku cuma mau nyampaikan kalau Barto mantan aku."

"Terus?" Tanya Mirna.

"Terus ya, itu.. nggak ada. Aku cuma mau bilang itu saja."

"Berarti benar kan? Kakak mau pamer saja?! Dasar!"

Maya menghela nafas, "Ya udah kalau kalian mau pacaran, pacaran saja! Kalau kalian mau kawin, kawin saja!" Ucap Maya dengan nada tinggi. Kemudian ia pergi meninggalkan Mirna.

Mirna masih terisak, ia pun mematikan kompor dan nggak selera lagi untuk melanjutkan masak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!