Lasmini adalah seorang gadis desa yang polos dan lugu, Ketenangannya terusik oleh kedatangan Hartawan, seorang pria kota yang bekerja di proyek pertambangan. Dengan janji manis dan rayuan maut, Hartawan berhasil memikat hati Lasmini dan menikahinya. Kebahagiaan semu itu hancur saat Lasmini mengandung tiga bulan. Hartawan, yang sudah merasa bosan dan memiliki istri di kota, pergi meninggalkan Lasmini.
Bara, sahabat Hartawan yang diam-diam menginginkan Lasmini. Alih-alih melindungi, Hartawan malah dengan keji "menghadiahkan" Lasmini kepada Bara, pengkhianatan ini menjadi awal dari malapetaka yang jauh lebih kejam bagi Lasmini.
Bara dan kelima temannya menculik Lasmini dan membawanya ke perkebunan karet. Di sana, Lasmini diperkosa secara bergiliran oleh keenam pria itu hingga tak berdaya. Dalam upaya menghilangkan jejak, mereka mengubur Lasmini hidup-hidup di dalam tanah.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya terhadap Lasmini?
Mungkinkah Lasmini selamat dan bangkit dari kuburannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menembus alam ghaib untuk menyelamatkan Lasmini
Malam itu, langit di atas Goa Hutan Keramat berubah menjadi merah darah. Fenomena Gerhana Bulan Merah mencapai puncaknya. Di dalam goa, suasana terasa begitu sakral dan mencekam.
Nyai Kencana Dewi tampak bersandar lemah di dinding batu. Sosoknya yang biasa angkuh kini terlihat pucat; separuh kekuatannya telah menyatu dengan Prabu Sakha Kumbara dalam penyatuan energi leluhur mereka. Kini, sang Prabu Sakha-lah yang berdiri gagah di tengah lingkaran ritual.
"Waktunya tiba, Titisan ku," suara Prabu Sakha Kumbara bergema, menggetarkan udara. "Aku akan meminjamkan sukmaku padamu untuk menembus batas. Ingat, kau hanya punya waktu sampai gerhana ini berakhir. Jika kau tidak kembali sebelum bulan kembali putih, kau akan terjebak di sana selamanya."
Prabu Sanjaya mengangguk mantap. "Aku siap, Gusti Prabu. Nyawa adalah harga yang murah untuk membawa Suci kembali."
Dengan bantuan sisa energi Nyai Kencana Dewi dan kekuatan penuh Prabu Sakha, sebuah gerbang cahaya hitam keunguan terbuka di depan mata Sanjaya. Tanpa ragu, ia melangkah masuk.
Prabu Sanjaya mendarat di atas tanah yang terasa seperti abu. Langit di sana tidak memiliki bintang, hanya kabut kelabu yang bergerak lambat. Bau busuk mayat dan wangi bunga kantil silih berganti menusuk penciumannya.
"Suci! Lasmini!" teriaknya, namun suaranya seolah diredam oleh pepohonan tua.
Ia berlari menembus hutan yang dipenuhi pohon beringin raksasa berumur ratusan tahun. Akar-akarnya menjuntai seperti lengan manusia yang mencoba menggapainya. Di kejauhan, ia melihat pemandangan yang menyayat hati.
Di bawah pohon beringin terbesar, Lasmini terikat erat. Tubuhnya yang mengenakan kebaya merah kontras dengan pucat kulitnya. Tali kuning keemasan yang melilitnya mengeluarkan cahaya redup, seolah perlahan menghisap sisa-sisa kesadaran wanita itu.
"Lasmini!" Sanjaya berteriak dan berlari kencang.
GRRRRRAAAAAAAHHH!
Langkah Sanjaya terhenti. Tanah bergetar hebat saat sebuah sosok raksasa setinggi tiga meter melompat turun dari dahan pohon. Kulitnya hijau gelap, berlendir, dengan taring yang mencuat keluar dari mulut yang berbau bangkai. Buto Ijo.
"Manusia busuk... beraninya kau mengusik tawanan alam ini!" geram Buto Ijo itu, suaranya seperti guntur.
Sanjaya mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. Ia hanya seorang pria dengan kemampuan bela diri biasa, sementara di hadapannya adalah iblis penjaga. Namun, melihat Lasmini yang mulai membuka mata dengan lemah, keberaniannya bangkit.
"Lepaskan dia, makhluk terkutuk!" seru Sanjaya, memasang kuda-kuda silat.
Lasmini yang terikat di pohon terbelalak. Bibirnya yang biru bergetar. "P...Prabu...? Pergi... ini bukan tempatmu..." bisiknya dengan tenaga terakhir.
Pertarungan Nyawa dan Cinta
Buto Ijo itu mengayunkan gada kayunya yang besar. Sanjaya berguling ke samping, menghindari hantaman yang menghancurkan batu di belakangnya. Dengan kecepatan yang luar biasa yang ia sendiri tidak sadari berasal dari bimbingan gaib Prabu Sakha Kumbara, Sanjaya melompat dan melayangkan tendangan telak ke arah rahang raksasa itu.
DUAK!
Buto Ijo itu hanya terhuyung sedikit, namun amarahnya memuncak. Ia mencengkeram leher Sanjaya, mengangkatnya ke udara.
"Kau akan menjadi santapanku malam ini!" raksasa itu tertawa mengejek.
"TIDAK AKAN!" teriak Sanjaya. Dalam keadaan tercekik, ia mengingat pesan leluhurnya. Ia memusatkan seluruh rasa cintanya pada Suci menjadi energi murni. Tiba-tiba, tangan Sanjaya mengeluarkan cahaya putih keemasan yang panas.
"AAARRGGHHH!" Buto Ijo itu melepaskan cengkeramannya karena tangannya terasa terbakar oleh energi titisan sang Prabu.
Sanjaya mendarat dengan tangkas. Ia tahu ia tidak bisa menang hanya dengan kekuatan fisik. Ia harus mencapai Lasmini. Sambil terus menghindar dari serangan Buto Ijo, Sanjaya memungut sebuah ranting pohon beringin yang telah dialiri energi sucinya, menjadikannya senjata darurat.
"Suci, bertahanlah! Aku datang menjemputmu!" teriak Sanjaya sambil kembali menerjang sang raksasa.
Lasmini meneteskan air mata. Di tengah penderitaannya, ia melihat pria yang selalu tulus menolongnya kini bertarung nyawa demi dirinya yang telah penuh dosa.
Bersambung...