ini adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang mencari jawaban atas keberadaannya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Ari menurunkan tangannya.
Dalam sekejap, tombak rantai itu melesat ke arahku—cepat, mematikan.
Namun entah kenapa, pada detik yang sama, rantai merah muda yang mengikat tubuhku mengendur.
Tidak sepenuhnya lepas.
Tapi cukup.
Instingku bereaksi dengan cepat. Aku memutar tubuh, memaksakan diri menghindar.
Jleb.
Rasa panas menyayat menembus bahu kananku. Tombak rantai itu tetap mengenai sasaran—darah menyembur, rasa sakit meledak dari satu titik hingga ke seluruh lenganku.
“Urgh–!”
Tubuhku terhuyung, tapi aku masih berdiri.
Semua orang terdiam.
Adelia membeku.
Kelvin dan Luna membelalak.
Keheningan itu pecah oleh teriakan penuh amarah.
“Apa yang kau lakukan, Ari?!” bentak Julian.
Dengan tombak rantai masih menembus bahuku, aku mengangkat kepala—menatap Ari.
Wajahnya pucat.
Matanya bergetar.
Tubuhnya menegang seolah sedang ditarik dari dua arah yang berlawanan.
Ia terlihat… kesakitan.
Bukan karena luka.
Melainkan karena melawan kendali.
Julian menyeringai—urat di pelipisnya menegang. Dengan langkah perlahan dan penuh tekanan, ia mendekati Ari.
Buk!
Tinju Julian menghantam wajah Ari.
Tubuh Ari terlempar dan jatuh menghantam aspal.
“Apa kau berani menentangku?” umpat Julian dengan suara rendah penuh kebencian.
“Dasar jalang sialan.”
Ari menggigil. Tangannya gemetar saat menyentuh pipinya yang memar. Perlahan, ia mendongak—menatap Julian dengan ekspresi syok dan ketakutan yang telanjang.
“Ti-tidak… aku hanya…” suaranya pecah, nyaris tak terdengar.
“Diam!” bentak Julian. “Dasar pelacur!”
Buk!
Tendangan menghantam wajah Ari, membuatnya tersungkur kembali ke aspal. Lalu—Julian menginjaknya.
Buk. Buk. Buk.
Setiap injakan terdengar berat, kejam, tanpa ragu.
“Ma-maafkan saya, tuan!” Ari menggigil, melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Tubuhnya meringkuk, suaranya serak oleh ketakutan.
Meski ia adalah kutukan tingkat 4—di hadapan Julian, pengendalinya, ia tak lebih dari boneka yang tak bisa melawan.
“Kau memberontak hanya karena pria rendahan itu?” teriak Julian, suaranya bergetar oleh amarah dan posesif yang busuk.
“Kau lebih memilih dia daripada aku?!”
Buk. Buk.
Aku, Adelia, Kelvin, dan Luna hanya bisa terpaku. Bukan karena kami tidak peduli.
Tapi karena kami tahu, rasa iba tidak akan menyelamatkan siapa pun di sini.
Ari tidak akan membiarkan kami pergi.
Dan Julian… tidak akan berhenti.
Akhirnya, suara injakan itu berhenti. Julian terengah-engah. Dadanya naik turun kasar.
Ari tergeletak di atas aspal, tubuhnya gemetar hebat, bibirnya terus bergumam meminta maaf—kata yang sama, berulang-ulang, seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan.
Perlahan, kabut merah muda di sekelilingnya memudar. Rantai-rantai itu menghilang, larut menjadi asap tipis.
Dan—
aku bebas.
Julian merapikan pakaiannya, seolah baru saja selesai melakukan hal sepele. Tanpa ragu lagi, aku meraih pisau dapur yang sejak tadi kusembunyikan di balik pakaian.
Lalu—
aku melesat ke arahnya.
“Baiklah! Aku sendiri yang ak—”
Kalimat Julian terputus.
Dalam satu kedipan mata, aku sudah berada tepat di hadapannya.
Pisau itu menancap lurus ke perutnya.
“Urgh—! Hoek—!”
Julian muntah darah, semburannya mengenai wajahku. Suara benturan tubuhnya terdengar berat ketika ia terhuyung ke belakang. Aku menarik pisauku, dan dia langsung berlutut di atas aspal, satu tangannya mencengkram perutnya yang berdarah.
“…Kau… kau ba—”
Nafasnya terputus-putus.
“…—jingan!”
Semua orang terpaku. Tak satu pun bergerak.
Aku mengusap darah di wajahku dengan punggung tangan, lalu menatapnya—Julian yang kini menunduk, tubuhnya gemetar menahan sakit.
“BAJINGAN!” teriaknya parau. “Aku akan membunuhmu!”
Heh.
Aku menyeringai.
“Apa kau tidak menyadari situasinya?”
Julian mendongak, wajahnya pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Apa?” tanyanya, bingung dan marah.
“Apa kau tahu dari mana sumber kekuatan manusia berasal?”
“Hah?”
“Kebanyakan orang akan bilang jantung. Atau otak,” lanjutku santai. “Dan itu tidak salah. Tapi ada satu tempat lagi—di bawah pusar, di tengah perut bagian bawah. Tempat orang-orang zaman dulu menyebutnya pusat tenaga. Tempat napas, emosi, dan keseimbangan tubuh bertumpu.”
Julian menggeram. Ia mencoba bangkit, tapi lututnya kembali menghantam aspal. Darah menetes dari sela jemarinya.
“Omong kosong apa yang kau katakan?!”
“Aku tidak tahu pasti,” kataku sambil menatap langsung ke matanya. “Aku bukan penyihir. Aku tidak bisa melihat energi apa pun.”
Aku menyeringai tipis.
“Tapi aku menebak… kalau teknikmu membutuhkan suplai energi dari tubuhmu sendiri. Dan kalau harus ada satu titik yang paling masuk akal sebagai sumbernya—tempat tenaga dikumpulkan sebelum dialirkan—maka itu dantian bawah.”
“Jadi kau mau bilang,” Julian tertawa singkat, penuh penghinaan, “kalau itu kelemahan teknik keluargaku?”
Ia menggeleng pelan.
“Tidak mungkin. Teknik keluarga Adikara tidak punya kelemahan”
Ia mengayunkan tinjunya ke arahku. Namun pukulan itu terhenti di udara. Sebuah rantai berwarna merah muda melilit lengannya, menahannya sebelum menyentuhku.
“A-apa…?” desis Julian.
Adelia, Kelvin, dan Luna sama-sama membeku. Tak satupun dari mereka tampak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Aku tetap berdiri di tempat.
“Teknik berbasis jiwa tidak mungkin bekerja tanpa suplai energi yang stabil,” ucapku pelan. “Baji itu pasti butuh aliran terus-menerus dari tubuhmu. Dan aliran terkuat manusia… selalu berhubungan dengan bagian tubuh yang paling vital.”
Julian menoleh perlahan. Pandangan matanya tertuju pada Ari. Ari berdiri dengan kepala tertunduk. Tangan kirinya menutupi wajahnya, sementara tangan kanannya terulur ke arah Julian—diam, tapi menekan.
Aku tidak bisa melihat apa pun. Tapi aku bisa merasakannya. Udara di sekeliling kami terasa berat. Nafasku tercekat tanpa alasan jelas. Semua penyihir di tempat itu menegang, seolah sesuatu yang besar sedang bangkit.
“Kalau aku sederhanakan,” lanjutku, “saat suplai energimu terganggu… baji itu goyah. Kendalimu turun. Dan kutukan yang kau kendalikan—Ari—bisa mulai melawan dari dalam.”
Mata Julian membelalak. Untuk pertama kalinya, keyakinannya runtuh.
Ari perlahan mengangkat kepalanya. Kabut berwarna merah muda muncul di sekeliling Julian—aku tidak tahu dari mana asalnya, hanya melihatnya tiba-tiba ada. Dari dalam kabut itu, tombak-tombak berbentuk rantai melesat keluar dan menusuk tubuh Julian dari berbagai arah.
“Aaagh!!” Jeritannya memecah udara.
Adelia, Kelvin, dan Luna mundur refleks, wajah mereka penuh keterkejutan.
“Ka… kau…” Julian terengah, tubuhnya tak lagi bisa bergerak bebas.
Aku melangkah mendekat, berhenti di samping Ari.
“Terlebih lagi,” kataku dingin, “Ari adalah kutukan tingkat 4. Dan kau… hanya penyihir tingkat 7.”
Aku menatap Julian yang kini hampir tak berdaya.
“Dengan suplai energimu yang sudah rusak… dan perbedaan tingkat sebesar itu…”
Aku berhenti sejenak.
“...akan sangat mudah bagi Ari untuk melepaskan diri dari kendali teknikmu.”