NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH TUJUH

Pagi ini aku melangkah ke kampus dengan hati yang berat, gundah gulana menghantui sejak semalam. Bayangan Althaf dan Yuanita yang kulihat bersama di ruang kerjanya terus berputar di kepalaku, menusuk perasaanku tanpa henti. Setiap kali mengingatnya, dadaku seperti diremas, seolah ada jarum yang menancap dalam-dalam.

Seperti biasa, begitu aku memarkirkan mobil, telingaku kembali disuguhi riuh bisik-bisik dan sindiran dari teman-teman sekeliling. Tatapan penuh penilaian, cibiran samar yang sengaja dikeraskan agar kudengar—semua itu sudah menjadi santapan sehari-hari. Dan anehnya, kali ini aku benar-benar tak peduli. Luka yang kutanggung jauh lebih besar daripada sekadar omongan orang.

Setelah melihat kenyataan dengan mataku sendiri bahwa Althaf masih memiliki hubungan dengan Yuanita, aku akhirnya sadar: tak ada lagi yang bisa kuperjuangkan dalam pernikahan ini. Dari awal, aku seharusnya tahu—pernikahan kami hanyalah kesepakatan, sekadar pion dalam permainan hidupnya. Althaf butuh status untuk menguatkan posisinya di Dirgantara Textile, sementara aku hanya seorang perempuan yang terdesak oleh hutang dan biaya pengobatan ibu. Kami berdua masuk ke dalam ikatan ini dengan tujuan masing-masing, bukan dengan cinta.

Kini aku memilih realistis. Katakan saja aku mata duitan, katakan aku perempuan murahan—aku sudah tak peduli. Selama pernikahan ini berjalan, aku akan kumpulkan sebanyak mungkin yang bisa Althaf berikan. Uang bulanan yang fantastis bahkan tak pernah kusentuh, bahkan mobil yang sekarang kubawa… itu atas namaku, resmi milikku. Dan aku tahu, semua ini akan menjadi bekal ketika hari perceraian tiba.

Aku sudah menyiapkan diri. Saat semuanya berakhir, aku akan kembali menjadi Senjani yang sederhana. Bukan istri dari pewaris konglomerat, bukan penghuni rumah dan apartemen mewah, tapi hanya perempuan biasa yang tinggal bersama ibunya. Aku akan bawa ibu pergi jauh dari kota ini, kembali ke Bandung—kampung halaman ibu. Di sana, aku ingin memulai segalanya dari awal. Membuka usaha kecil, hidup sederhana, dan menata ulang sisa hidupku tanpa bayang-bayang Althaf.

Hidup harus realistis, Senjani. Kamu tak bisa lagi bermimpi tentang cinta atau kebahagiaan dalam pernikahan ini. Yang bisa kamu genggam hanyalah materi. Selain itu, tak ada yang bisa kamu dapatkan dari seorang Althaf Arsakha Dirgantara.

Saat aku masuk kelas, mataku langsung tertuju pada Layla dan Revan yang sudah duduk di kursi paling belakang—tempat favorit kami sejak semester pertama. Aku menarik napas panjang, berusaha menata ekspresi agar tak terlihat berantakan, lalu melangkah menghampiri mereka.

Aku duduk di samping Revan. Ia yang tadinya sibuk menunduk menatap ponselnya, tiba-tiba menoleh. Tatapannya… teduh sekaligus menusuk, seolah bisa menembus dinding yang susah payah kubangun.

“Mata lo sembab, Sen.” Suaranya pelan, tapi penuh tekanan khawatir. “Lo habis nangis, ya?”

Pertanyaannya membuat Layla langsung menoleh cepat. Matanya membesar, menatapku dengan ekspresi tak kalah cemas.

Aku spontan menggigit bibirku, memaksakan senyum kaku. “Oh ini?” ujarku sambil mengusap pelan bawah mataku. “Tadi malam gue begadang, nonton drakor yang sedih banget. Eh kebawa nangis sampai ketiduran, terus paginya bangun… ya udah, jadi kayak gini deh.”

Layla mendengus kecil, tak puas dengan jawabanku. “Oh my God, Senja sayang… jangan bikin gue panik gitu. Lo yakin cuma gara-gara drakor? Bukan karena lo lagi ada masalah serius?”

Aku buru-buru menggeleng, meski dadaku terasa sesak oleh kebohongan itu. “Beneran, gue aman kok. Sumpah. Nggak usah khawatir.”

Tapi Revan tidak mudah percaya. Tatapannya tak bergeser sedikit pun, menusuk lebih dalam. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, lipatan alisnya menandakan keresahan. “Sen,” suaranya berat, lirih tapi tegas, “gue udah sering bilang kan… kalau ada masalah, cerita sama gue. Jangan ditahan sendirian. Gue tahu lo orang kuat, tapi bukan berarti lo harus selalu pura-pura baik-baik aja.”

Kata-katanya membuat dadaku nyaris meledak. Aku menelan ludah, berusaha menahan air mata yang tiba-tiba mendesak keluar. Senyum yang kupaksakan makin terasa getir. “Gue tahu, Van… gue tahu. Tapi serius, kali ini nggak ada apa-apa. Nggak ada masalah.”

Revan menatapku lama, seakan mencari celah dalam mataku. Sementara Layla mengelus pelan lenganku, seolah memberi kekuatan. Di dalam hati, aku ingin sekali berteriak dan jujur pada mereka. Ingin menceritakan segalanya, rasa sakit, rasa kehilangan, juga kenyataan pahit yang harus kutelan.

Tapi bibirku terkunci rapat. Aku hanya bisa tersenyum tipis, pura-pura seolah kebohongan kecilku cukup meyakinkan.

Pak Aris masuk ke kelas dengan wajah serius, kemeja biru muda yang selalu rapi itu membuatnya terlihat segar meski umurnya sudah tak muda lagi. Begitu ia berdiri di depan, kelas langsung lebih tenang. Aku meletakkan pulpen di atas buku catatanku, mencoba fokus walau pikiranku masih penuh oleh bayangan yang tidak seharusnya.

Pak Aris mengajar English for Tourism, salah satu mata kuliah yang katanya paling menantang tapi juga paling menyenangkan. Seperti biasa, Pak Aris menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana menghadapi turis asing di lapangan—mulai dari cara membuka percakapan, memilih kosakata yang tepat, sampai sikap tubuh yang bisa membuat orang merasa nyaman.

“Remember, confidence is the key,” katanya sambil menatap kami satu per satu. “Bahasa kalian mungkin belum sempurna, tapi kalau kalian percaya diri, turis akan lebih respect dan nyaman diajak bicara.”

Aku berusaha menulis, meski otakku tak sepenuhnya di sini.

Hingga akhirnya, Pak Aris menepuk mejanya pelan. “Oke, sebelum kelas selesai, bapak mau ingatkan lagi. Sabtu malam ini kita berangkat ke Yogyakarta untuk kegiatan study tour. Di sana kalian akan melakukan wawancara langsung dengan turis asing di tempat wisata. Ingat, ini bagian dari tugas akhir mata kuliah English for Tourism. Nilainya besar, jadi jangan dianggap sepele.”

Kelas langsung riuh. Ada yang bersorak senang, ada yang langsung mengeluh. Aku mendengar teman di sebelahku bergumam, “Ya ampun, grogi banget pasti nanti.”

Pak Aris tersenyum kecil, seolah sudah hafal reaksi kami. “Grogi itu wajar. Justru di situlah kalian belajar. Kalian tidak akan pernah siap kalau hanya teori di kelas. Kalian harus terjun langsung.”

Seorang mahasiswa di depan mengangkat tangan. “Pak, kumpulnya jam berapa?”

“Jam tujuh malam sudah harus kumpul di kampus. Bus berangkat maksimal jam delapan. Jangan ada yang telat, ini rombongan, bukan jalan sendiri-sendiri jadi jangan egois dengan membuat orang lain menunggu.”

Kelas langsung meledak dengan tawa, apalagi saat beberapa orang serempak menoleh ke teman kami yang terkenal paling sering datang telat.

Pak Aris hanya menggeleng sambil tersenyum. “Oke, itu saja. Siapkan diri kalian sebaik mungkin—alat tulis, recorder, kamera, apapun yang bisa membantu wawancara. Dan yang paling penting: practice your English. Sampai ketemu Sabtu malam.”

Begitu beliau keluar, kelas langsung gaduh lagi. Ada yang sudah heboh merencanakan akan wawancara di Malioboro, ada yang kepikiran pantai, ada yang sibuk membayangkan belanja oleh-oleh.

Aku hanya menarik napas dalam-dalam, menggenggam pulpen erat. Semoga perjalanan ini bisa jadi alasan untuk aku melupakan sejenak masalah yang sedang menghantui…

Begitu Pak Aris keluar dari kelas, suasana langsung berubah gaduh. Suara kursi bergeser, tawa, dan bisik-bisik memenuhi ruangan.

Layla yang duduk di sampingku langsung menepuk lenganku dengan antusias.

“Sen! Study tour ke Jogja! Gila, gue udah lama banget nggak ke sana. Kebayang nggak sih? Belanja di Malioboro, makan gudeg, terus—”

Aku menatapnya sambil tersenyum tipis. “Kita ke sana bukan buat jalan-jalan, Lay. Tugas wawancara, ingat?”

Dia cengar-cengir. “Ya jelas tahu lah. Tapi masa kita ke Jogja cuma nanya-nanya bule doang? Sekalian lah refreshing.”

Revan yang duduk di sebelahku, masih memegang sendok dari bekalnya, ikut menimpali dengan nada santainya. “Kalau refreshing sih oke, tapi lo siap nggak wawancara? Bahasa Inggris lo sering nyampur sama bahasa Jaksel.”

Layla langsung manyun. “Halah, sok banget lo Van. Kayak lo paling jago aja.”

Revan menoleh padaku, matanya serius seperti biasa. “Kalau lo gimana, Sen? Siap?”

Aku sempat terdiam beberapa detik, jantungku berdegup tak wajar karena tatapan itu. Aku memaksa tersenyum. “Ya… siap nggak siap harus siap, kan? Kalau nggak, nilainya bisa ancur.”

Revan mengangguk pelan, masih menatapku. “Kalau lo gugup, latihan aja sama gue. Biar nanti di lapangan lo nggak blank.”

Layla langsung menyikutnya. “Ih, modus banget, Van. Belajar bahasa Inggris aja ngajaknya Senjani doang. Gue nggak dianggep.”

Revan menatapnya dengan wajah datar. “Lo? Bahasa Inggris lo tiap kali ngomong ‘sorry’ aja aksennya kayak lagi ngajak ribut.”

Kelas pun pecah dengan tawa teman-teman lain yang ikut mendengar. Aku ikut tertawa, tapi di dalam hati terasa hangat. Entah kenapa perhatian kecil dari Revan itu selalu bisa membuatku merasa… diperhatikan.

Namun, di balik semua canda tawa itu, ada satu suara lirih di kepalaku.

Bisakah aku benar-benar fokus dengan study tour ini… sementara pikiranku masih dipenuhi oleh Althaf?

1
alter
lovyu.. ❤️
alter
tidak ada pelakor disini.. 🌚
alter
lagi 🌚
alter
jangan ada konflik lagi 🥺
alter
jangan ada konflik lagi ya 🥺
alter
apdet banyak2 🦖
alter
semoga ga ada perselingkuhan
alter: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!