NovelToon NovelToon
My Ice CEO Is A Tante

My Ice CEO Is A Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miko J

Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan Larut Malam

Jarum jam dinding di ruang tengah penthouse sudah menunjuk angka sebelas malam saat pintu depan akhirnya terbuka dengan suara cklek yang pelan.

Tiffany melangkah masuk dengan bahu yang merosot . Kepalanya berdenyut hebat setelah melewati rapat maraton selama hampir delapan jam berturut-turut di Chen Corp. Sejak pagi, ia harus berpindah dari satu ruang rapat ke ruang rapat lainnya, menghadapi presentasi, laporan keuangan, hingga perdebatan panjang dengan para direktur senior yang sama keras kepalanya.

Sepatu hak tingginya langsung ia lepaskan begitu memasuki ruang tamu. Sepasang sepatu itu mendarat begitu saja di dekat rak, memperlihatkan kedua kakinya yang memerah dan sedikit lecet di bagian tumit akibat seharian berdiri dan berjalan. Jas blazer yang sejak pagi terasa rapi kini sudah sedikit kusut, sementara sanggul rambutnya mulai berantakan dengan beberapa helai rambut jatuh membingkai wajah lelahnya.

Tiffany mengembuskan napas panjang.

Ia mengira apartemen akan gelap gulita dan sunyi. Pelayan Zhang dan Gavin pasti sudah beristirahat sejak beberapa jam lalu.

Namun, dugaannya ternyata keliru.

Pendar lampu kuning hangat dari arah meja makan kecil masih menyala, membuat suasana penthouse terasa jauh lebih hidup daripada biasanya. Aroma kaldu sapi yang samar masih menggantung di udara, seolah sengaja menyambut kepulangannya.

Lebih mengejutkan lagi, Gavin sedang duduk santai di kursi makan sambil menopang dagunya. Tatapannya tertuju pada layar ponsel, sesekali menguap karena kantuk. Di atas meja telah tersusun beberapa tudung saji yang masih tertutup rapi.

Begitu mendengar suara langkah kaki Tiffany, Gavin langsung mematikan layar ponselnya.

"Eh, Tante. Tante kok pulang selarut ini?" sapanya dengan wajah polos.

Tiffany mengernyit pelan.

"Kenapa kamu belum tidur, Gavin?"

Gavin berdiri sambil meregangkan tubuhnya hingga terdengar bunyi kecil dari persendiannya.

"Ya habisnya, Pelayan Zhang memasak sup iga sapi yang enak sekali sore tadi. Kalau aku makan semuanya, nanti gakbada makanan trus Tante kelaparan lalu pingsan. Ujung-ujungnya nanti aku yang repot harus merawat Tante."

Tiffany terdiam beberapa detik.

Kalimat itu terdengar begitu sederhana, bahkan konyol. Namun, entah mengapa, ada sesuatu yang mengusik hatinya.

Selama ini, Gavin selalu terlihat ceroboh, banyak bicara, dan sering membuatnya ingin menjitak kepala pria itu. Akan tetapi, di balik semua tingkah menyebalkannya, pria itu ternyata masih menyisakan perhatian kecil yang sama sekali tidak ia duga.

Perhatian yang bahkan tidak diucapkan dengan nada serius.

"Duduklah. Biar aku panaskan dulu supnya di microwave," ujar Gavin sambil berjalan mendekat.

Tanpa menunggu persetujuan, ia mengambil tas kerja Tiffany dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas sofa agar tidak menghalangi jalan. Setelah itu, Gavin melangkah menuju dapur dengan gerakan yang sudah cukup terbiasa, membuka tudung saji, menuangkan sup ke mangkuk, lalu memanaskannya.

Suara dengungan microwave memenuhi dapur selama beberapa menit.

Tiffany hanya memperhatikannya dalam diam.

Tidak lama kemudian, Gavin kembali membawa semangkuk sup iga sapi yang masih mengepulkan uap hangat, lengkap dengan semangkuk nasi putih dan secangkir teh krisan madu.

"Nih, makan dulu. Kata Gavin, sup begini paling enak  pas hangat."

Tiffany mengangguk pelan.

Perutnya memang sudah keroncongan sejak dua jam yang lalu. Karena rapat yang terus berlanjut, ia bahkan tidak sempat menikmati makan malam.

Suapan pertama langsung membuat tubuhnya sedikit mengendur.

Kuah kaldunya begitu gurih, hangat, dan kaya rasa. Potongan iga sapi yang dimasak berjam-jam nyaris terlepas sendiri dari tulangnya. Kehangatan sup itu perlahan mengalir ke seluruh tubuhnya, mengusir rasa dingin akibat pendingin ruangan kantor yang seharian menyala.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Tiffany merasa benar-benar bisa bernapas lega.

Ia menyeruput teh krisan madu setelah menghabiskan beberapa suap. Aroma bunga krisan yang lembut berpadu dengan rasa manis madu membuat kepalanya yang semula berdenyut mulai terasa jauh lebih ringan.

Saat Tiffany sedang menikmati tehnya, Gavin tiba-tiba berdiri dari kursinya.

Pria itu berjalan memutari meja hingga berada tepat di belakang Tiffany.

Sebelum Tiffany sempat bertanya ataupun menepis tangannya, sepasang telapak tangan Gavin sudah mendarat perlahan di kedua bahunya.

"Jangan bergerak," katanya santai. "Bahu Tante itu kaku sekali. Ini bahu apa papan kayu?"

Tiffany refleks ingin memprotes.

Namun, sebelum kata-kata itu keluar, jemari Gavin sudah mulai bergerak perlahan.

Tekanannya pas.

Tidak terlalu kuat hingga terasa sakit, tetapi juga tidak terlalu pelan. Jari-jarinya dengan terampil menemukan titik-titik tegang di sekitar bahu dan leher Tiffany, lalu memijatnya dengan ritme yang stabil.

Sentuhannya terasa profesional.

Tidak ada gerakan berlebihan ataupun niat iseng seperti yang sempat Tiffany khawatirkan. Semua dilakukan dengan hati-hati, seolah Gavin memang benar-benar hanya ingin mengurangi rasa pegal yang ia rasakan.

Tanpa disadari, sisa-sisa kebiasaan Gavin yang dahulu gemar memanjakan para wanita kini muncul dalam bentuk perhatian yang jauh lebih tulus.

Tiffany perlahan memejamkan matanya.

Rasa pegal yang sejak tadi menumpuk sedikit demi sedikit mulai menghilang. Otot-otot bahunya yang kaku menjadi jauh lebih rileks, sementara denyutan di kepalanya ikut mereda.

Tanpa mereka sadari, momen sederhana seperti ini perlahan berubah menjadi kebiasaan kecil.

Tidak ada kata-kata manis.

Tidak ada adegan romantis.

Hanya seorang pria yang menunggu seseorang pulang larut malam, menghangatkan makanannya, lalu memijat bahunya yang kelelahan.

Aneh.

Sangat asing bagi Tiffany.

Namun, diam-diam, ia mulai merasa nyaman.

"Bagaimana, Tante?" bisik Gavin dari belakang dengan nada penuh percaya diri. "Pijatanku enak, kan? Oh ya... Tante bisa membayarnya dengan memotong utangku sedikit."

Dalam sekejap, suasana hening yang baru saja tercipta langsung hancur.

Tiffany membuka matanya sambil mendengus pelan.

"Cukup. Pijatanmu lumayan. Tapi jangan harap aku akan memotong saldo utang pribadimu hanya karena hal ini."

"Hah? Masa segitunya? Sedikit saja, lima persen juga boleh."

"Tidak."

"Tiga persen?"

"Tidak."

"Satu persen?"

"Tetap tidak."

Gavin langsung mengembuskan napas panjang dengan wajah dramatis.

"Pelit sekali."

Ia melangkah mundur sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Ya sudah. Aku tidur duluan, ya, Tante. Selamat malam."

"Selamat malam."

Gavin melambaikan tangan sekilas sebelum menghilang ke balik koridor menuju kamar.

Ruangan kembali sunyi.

Tiffany menatap punggung pria itu hingga pintu kamar tertutup perlahan.

Beberapa detik kemudian, ia menunduk menatap cangkir teh krisan madu yang masih mengepulkan uap tipis di hadapannya.

Tangannya tanpa sadar menyentuh bahunya sendiri.

Entah sejak kapan, apartemen yang dulunya hanya terasa seperti tempat singgah kini perlahan mulai memiliki suasana yang berbeda. Selalu ada lampu yang menyala menunggunya pulang. Selalu ada makanan hangat yang tersisa di meja. Dan entah mengapa, selalu ada seorang pria konyol yang membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.

Tanpa disadarinya, seulas senyum tipis terukir di sudut bibir Tiffany.

Sebuah  keseharian  sederhana tetapi perlahan terasa begitu menenangkan.

Ritme kecil yang kelak akan menjadi awal dari perubahan-perubahan besar, menguji batas kontrak yang selama ini mereka anggap hanya sekadar formalitas.

1
helena
ada batas teritorial nya🤣
helena
tante🤣
helena
kursi panas/Doge/
helena
jari jemari tim kevin /Proud/
Zed Analytical Number Nine
ngga bener nih, si Gavin
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Lasa Hardianti
WKWKWK Gavin langsung semangat banget pas dengar kartu kredit tanpa limit🤣 Lanjut baca dulu ah, penasaran rumah tangga kontraknya bakal seseru apa🤣😍
white star ⭐: "Terima kasih kak, dah mampir 😆"
total 1 replies
Lasa Hardianti
Premisnya unik Kak. dari awal udah bikin penasaran gimana Gavin bisa berubah jadi TKI di Taiwan. Semangat update😁
Cilia
Lanjutin terus kak! Kepo sama kelanjutan cerita Gavinnn
white star ⭐: trimakasih kak, jadi semakin semangat buat nulis kelanjutan cerita ini
total 1 replies
helena
lanjut thorr💪
helena
😇
yugi chan 👧
lanjuuttt ....
white star ⭐: siap kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!