Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 kecurigaan nadia
Pagi itu suasana firma hukum berjalan seperti biasa. Para staf lalu-lalang membawa berkas, suara mesin kopi terdengar dari pantry, dan beberapa pengacara terlihat sibuk mempersiapkan rapat pagi.
Namun ada satu hal yang membuat Adrian merasa sedikit heran.
Biasanya, meskipun mereka berangkat dari tempat yang berbeda atau memiliki jadwal berbeda, mereka tetap akan bertemu di kantor cepat atau lambat.
Atau sekadar berpapasan di lift.
Namun hingga hampir pukul sembilan pagi, Adrian sama sekali belum melihat istrinya.
Jemarinya mengambil ponsel dari atas meja lalu membuka ruang obrolan Nadia.
"Kamu nggak masuk?"
Pesan itu terkirim.
Tidak lama kemudian balasan masuk.
"Hari ini aku izin."
Adrian membaca pesan itu beberapa kali, Nadia sangat jarang mengambil cuti..Bahkan ketika sedang sakit sekalipun wanita itu sering memaksakan diri datang ke kantor.
Karena itu rasa herannya semakin besar.
"Kenapa?"
Balasan datang beberapa menit kemudian.
"Ibu menelepon. Aku diminta datang ke rumah."
Adrian langsung menghela napas panjang.
Tebakannya benar.
Pasti ada hubungannya dengan keluarganya.
Entah apa lagi yang ingin dibicarakan.
"Kalau Ibu ngomong aneh-aneh nggak usah dipikirin."
Nadia yang sedang duduk di ruang keluarga keluarga Mahendra membaca pesan itu sambil tersenyum tipis.
Meski hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, Adrian masih sesekali menunjukkan perhatian kecil seperti itu.
"Aku tahu."
Hanya itu balasan Nadia.
Namun entah mengapa Adrian merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara Nadia mengetik.
Seolah sedang memikirkan sesuatu.
Saat Adrian masih memandangi layar ponselnya, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat di koridor partner.
Bianca baru saja selesai menghadiri rapat pagi.
Wanita itu berjalan dengan map tipis di tangannya.
Wajahnya terlihat tenang seperti biasa.
Ketika melewati meja Adrian, langkahnya tidak berhenti.
Tidak ada sesuatu yang bisa menarik perhatian orang lain.
Hanya sesaat ketika mereka berpapasan.
Bianca menjatuhkan secarik kertas kecil tepat di samping tangan Adrian.
Begitu cepat hingga hampir tidak terlihat.
Wanita itu tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Adrian menunggu beberapa detik sampai Bianca benar-benar menghilang di ujung koridor.
Barulah ia mengambil kertas kecil tersebut.
Saat dibuka, hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
"Makan malam hari ini. Aku yang traktir."
Di bawahnya terdapat tambahan kecil.
"Tanpa orang tahu."
Jantung Adrian berdetak sedikit lebih cepat.
Tatapannya terpaku pada tulisan itu selama beberapa saat.
Kemudian tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.
Bukan senyum besar.
Namun cukup untuk mengubah ekspresinya yang sejak pagi terlihat muram.
Ia melipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku jas.
Tanpa ada seorang pun yang memperhatikan.
Namun Adrian tidak menyadari bahwa langkah kecil yang tampak tidak berarti itu perlahan sedang membawanya semakin jauh dari batas yang seharusnya tidak pernah ia lewati.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Nadia duduk diam di kursi belakang mobil, menatap kosong ke arah jalanan Jakarta yang ramai. Gedung-gedung tinggi, lampu lalu lintas, dan keramaian kota berlalu begitu saja di depan matanya tanpa benar-benar ia perhatikan.
Pikirannya masih tertinggal di rumah keluarga Mahendra.
Tepatnya pada setiap kalimat yang diucapkan ibu mertuanya.
Dan setiap cerita yang kini terus berputar di kepalanya.
"Adrian sering membelikanmu barang branded."
"Teman-temanku melihat kalian pergi bersama."
"Kamu benar-benar diperlakukan seperti nyonya besar."
Kalimat-kalimat itu terasa seperti duri yang terus menusuk dadanya.
Nadia memejamkan mata perlahan.
Sakit.
Bukan karena sindiran ibu mertuanya.
Melainkan karena ia tahu semua itu bukan tentang dirinya.
Tidak pernah tentang dirinya.
Selama lima tahun menikah, Adrian memang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
Mereka tinggal di apartemen mewah. Memiliki kehidupan yang nyaman.
Namun barang-barang yang disebutkan ibu mertuanya?
Tas branded.
Perhiasan mahal.
Hadiah mewah.
Semuanya terasa asing.
Bahkan Nadia masih ingat beberapa bulan lalu ketika ia berhenti cukup lama di depan etalase sebuah tas yang ia sukai.
Hanya saja saat itu ia bercanda pada Adrian.
"Cantik ya."
Dan Adrian hanya tersenyum sambil berkata,
"Nanti aja."
Nadia menunduk memandangi kedua tangannya.
Entah kenapa dadanya terasa semakin sesak.
Karena untuk pertama kalinya ia mulai menyusun semua kejanggalan yang selama ini berusaha ia abaikan.
Apakah selama ini hanya dirinya yang terus berjuang mempertahankan pernikahan mereka?
Sesampainya di apartemen, Nadia langsung masuk ke kamar tanpa menyalakan lampu.
Ruangan yang biasanya terasa nyaman kini terasa begitu sepi.
Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap foto pernikahan mereka yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Di foto itu Adrian tersenyum begitu bahagia.
Matanya hanya tertuju padanya.
Seolah tidak ada orang lain di dunia selain dirinya.
Nadia merasakan tenggorokannya mengencang.
Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Nadia tidak lagi bertanya apakah ada sesuatu yang disembunyikan Adrian.
Karena jauh di dalam hatinya...
Ia mulai yakin memang ada seseorang.
Seseorang yang cukup dekat hingga orang lain mengira wanita itu adalah dirinya.
Seseorang yang menerima waktu, perhatian, dan perlakuan yang selama ini Nadia rindukan dari suaminya sendiri.
Dan yang paling menyakitkan...
Nadia bahkan belum tahu siapa wanita itu. Namun bayangannya sudah berhasil membuat hatinya terasa retak sedikit demi sedikit.
Apartemen yang biasanya terasa dingin kini berubah hangat oleh cahaya lilin dan lampu-lampu dekorasi kecil yang Nadia pasang sendiri sejak siang tadi.
Meja makan yang menghadap jendela kota telah ditata rapi.
Bunga favorit Adrian berada di tengah meja.
Kue anniversary tersusun cantik di sampingnya.
Bahkan Nadia telah mengganti taplak meja, memilih piring terbaik, dan menyiapkan makan malam yang selama ini menjadi kesukaan suaminya.
Mereka bisa menghabiskan malam anniversary pernikahan bersama.
Namun kini, sambil berdiri di depan meja yang telah dihias dengan susah payah, Nadia hanya menatap layar ponselnya.
Pesan terakhir dari Adrian masih terbuka.
"Maaf. Aku pulang malam. Ada urusan."
Singkat.
Datar.
Dan bahkan tidak ada pertanyaan tentang alasan Nadia memintanya pulang lebih cepat.
Seolah permintaan Nadia hanyalah pesan biasa yang bisa diabaikan begitu saja.
Nadia menggenggam ponselnya erat.
Sakit.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan kekecewaan yang sulit ditahan.
Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka.
Lima tahun.
Lima tahun yang tidak mudah.
Lima tahun perjuangan, pengorbanan, air mata, dan cinta yang ia pertahankan mati-matian.
Dan suaminya memilih pulang larut malam.
Ia berjalan perlahan mengelilingi ruang makan.
Tatapannya jatuh pada buket bunga yang baru saja diantar beberapa jam lalu.
Pada gaun yang masih tergantung di kursi.
Pada lilin-lilin yang belum dinyalakan.
Semua terlihat begitu menyedihkan sekarang.
Karena tidak ada seorang pun yang akan melihatnya.
Tidak ada seorang pun yang akan menghargai usaha itu.
Pikirannya kembali pada ucapan ibu mertuanya siang tadi.
Tentang wanita yang dikira dirinya.
Tentang hadiah-hadiah mewah.
Tentang perhatian yang tidak pernah ia rasakan.
Dan untuk pertama kalinya, Nadia mulai melihat orang-orang di sekeliling Adrian dengan cara berbeda.
Bukan hanya Adrian, tetapi juga rekan-rekan kerjanya.
Orang-orang yang selama ini berada dekat dengannya setiap hari.
Siapa wanita itu?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Apakah seseorang dari kantor?
Klien?
Atau bahkan salah satu partner firma hukum?
Karena semakin Nadia memikirkannya, semakin masuk akal jika wanita tersebut berasal dari lingkungan kerja Adrian.
Seseorang yang memiliki waktu bersama Adrian ketika dirinya sibuk dengan sidang dan kasus.
Nadia duduk perlahan di kursi makan.
Tatapannya kosong mengarah ke kursi kosong di depannya.
Kursi yang seharusnya ditempati Adrian malam ini.
Tanpa sadar jemarinya menyentuh cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
Dulu cincin itu membuatnya merasa aman.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya sejak menikah, Nadia merasa cincin itu begitu dingin.
Di sisi lain kota, Adrian sama sekali tidak mengetahui bahwa istrinya sedang duduk sendirian di tengah dekorasi anniversary yang ia siapkan dengan penuh cinta.
Tidak mengetahui bahwa Nadia mulai mencurigainya.
Mulai menghubungkan satu per satu kejanggalan yang selama ini ia sembunyikan.
Dan yang paling berbahaya...
Nadia bukan hanya seorang istri.
Ia adalah pengacara.
Seseorang yang terbiasa menyusun potongan-potongan fakta hingga menjadi sebuah kebenaran.
Dan begitu Nadia memutuskan untuk mencari jawaban...
Mungkin tidak ada lagi yang bisa menghentikannya menemukan siapa wanita yang selama ini berada di dekat suaminya.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah