BIANCA DEALOVA, gadis tengil yang suka sekali dengan tantangan,ia menjadi pusat perhatian di SMA Karya Bakti semua murid cowok pasti mengenalinya.Hingga pada akhirnya, dia ditantang oleh teman-temannya untuk menaklukkan hati seorang siswa baru, EDGAR GRISSHAM pemuda berwajah dingin dan misterius.
"apakah Allexa berhasil menaklukkan hati seorang pemuda dingin itu atau tidak.yuk, Kepoin kisah mereka selanjutnya!!"👋🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 Days Of Chasing Love
Brak
"Bianca, Lo di mana!!" teriak Edgar saat membuka pintu apartemen, tapi tidak ada sahutan dari Bianca.
"Ca, Bianca!!" panggil Edgar mencari dari kamar dapur dan kamar mandi, suaranya semakin keras dan penuh dengan kekhawatiran.
Edgar pemuda itu kini seperti orang gila, mencari Bianca ke segala arah dengan mata yang liar dan wajah yang pucat. Ia membuka lemari, mengecek di bawah tempat tidur, dan bahkan memeriksa balkon, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Bianca.
"Bianca, jawab gue!!" teriak Edgar lagi, suaranya sudah parau dan penuh dengan ketakutan. Ia merasa seperti kehilangan akal, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menemukan Bianca.
"ngak cukup, cukup! Cukup Ailiy, Bianca jangan Tuhan!" teriak Edgar, duduk di sofa dengan tangan yang meremas rambutnya, wajahnya penuh dengan kesedihan dan ketakutan.
"Tuhan, tolong aku! Jangan ambil mereka dariku!" Edgar berdoa, suaranya lirih dan penuh dengan harapan. Ia merasa seperti berada di ujung tanduk, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ed!" panggil Bianca dari ambang pintu, lalu berlari menghampiri Edgar dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
"Ca," lirih Edgar, suaranya lembut dan penuh dengan kelegaan saat melihat Bianca. Ia langsung memeluk Bianca dengan erat, seperti tidak ingin melepaskannya lagi.
"Lo kenapa ?" tanya Bianca, suaranya penuh dengan kepedulian.
Edgar tidak menjawab, ia hanya terus memeluk Bianca, menikmati kehangatan dan keamanan yang diberikan oleh kehadiran Bianca. Ia merasa seperti telah menemukan kembali sebagian dari dirinya yang hilang.
Setelah beberapa saat, Edgar melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bianca dengan mata yang masih merah. "lo dari mana, gue mohon jangan tinggalin gue ,"
"Gue dari cafe," ujar Bianca, masih mencoba memahami situasi yang terjadi.
"Mulai hari ini, detik ini, Lo nggak boleh pergi ke mana pun tanpa gue," ujar Edgar, kembali memeluk Bianca dengan erat. Ia seperti tidak ingin melepaskan Bianca lagi.
"Ha? Lo kenapa sih?" tanya Bianca, heran dan sedikit kesal karena Edgar terlalu posesif. Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Edgar, tapi Edgar tidak melepaskannya.
"Mulai sekarang, Lo jauhin Aksara," ujar Edgar, suaranya tegas dan penuh dengan ketegasan. Ia tidak ingin Bianca berada di dekat Aksara lagi, takut sesuatu yang buruk terjadi.
"Apa? Kenapa? Aksara baik kok," tanya Bianca, rasa ingin tahunya muncul. Ia tidak mengerti mengapa Edgar begitu membenci Aksara.
"Dia nggak sebaik apa yang Lo kira, Ca," ujar Edgar, suaranya penuh dengan keyakinan. Ia seperti telah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Bianca.
"Ha? Dia baik kok sama gue," ujar Bianca, sedikit defensif. Ia merasa bahwa Aksara memang benar-benar baik padanya.
"Dia jahat, Ca! Dia bunuh Ailiy, dia pembunuh!!" Teriak Edgar, wajahnya merah karena kemarahan.
"Pe-pembunuh?" ulang Bianca, terkejut dan tidak percaya. Ia tak bisa membayangkan Aksara melakukan sesuatu yang begitu kejam.
Edgar mengangguk, matanya dipenuhi air mata. "Gue tahu, Ca. Gue punya bukti. Aksara ngak seperti yang Lo pikir," ujarnya, suaranya penuh dengan emosi.
"Lo karena Lo dekat sama gue, makanya dia incar Lo," ujar Edgar, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
"Ha? Padahal kita nggak sedekat itu kok, Lo. Kalo gue dekatin, selalu kasar," ujar Bianca, sedikit tersinggung.
"Huh, ah, mulu Lo," kesal Edgar, menggigit bibirnya karena frustrasi. "Lo nggak ngerti, Ca. Aksara itu licik. Dia bisa pura-pura baik, tapi sebenarnya dia punya agenda sendiri," ujarnya, suaranya penuh dengan ketegasan.
Bianca mengerutkan keningnya, "Tapi gue nggak pernah lihat dia berbuat jahat sama gue. Malah dia selalu baik dan ramah," ujarnya, masih tidak percaya.
Edgar menggelengkan kepalanya, "Itu karena dia sedang memainkan perannya, Ca. Gue tahu apa yang gue lihat. Dan gue nggak akan biarkan dia yakiti Lo," ujarnya, suaranya penuh dengan tekad.
"Tunggu, tunggu, Lo nggak bikin gue sebagai pancingan kan?" tanya Bianca, mata lebar dengan rasa curiga.
"Ga-gak," jawab Edgar, suaranya ambigu
Bianca memandang Edgar dengan skeptis, "Lo yakin? Gue nggak mau jadi umpan buat Lo," ujarnya, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
Edgar menghela napas, "Ca, gue janji. Gue nggak akan biarin Lo jadi korban. " ujarnya, suaranya penuh dengan ketulusan.
Bianca memandang Edgar, mencoba membaca ekspresi wajahnya. "Gue percaya Lo, tapi gue juga nggak mau jadi beban buat Lo," ujarnya, suaranya lembut.
Edgar tersenyum, "Lo bukan beban, Ca. Lo adalah alasan gue untuk terus berjuang,"
krucuk ......krucuk