NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Poligami / Dijodohkan Orang Tua / Cerai / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:794.2k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Cinta bertepuk sebelah tangan sungguh menyakitkan hati Nadila Putri. Nyatanya Abdullah cinta pertamanya justru mencintai wanita lain yaitu Silfia Anwar.
Nadila pun memilih pergi meninggalkan mereka demi persahabatan.

Nadila memilih bekerja di UEA menjadi tkw, tetapi belum ada satu tahun kedua orang tuanya menyuruhnya pulang. Namun, tidak Nadila sangka ketika tiba di Indonesia justru dijodohkan dengan Abdullah.

Apakah Abdullah akan menerima Nadila? Lalu bagaimana nasib Silfia. Kita ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

"Dila..." Abdullah segera bangkit dari duduknya ketika Dila berjalan penuh semangat ke arah Abdullah. "Aku yakin kamu akan datang ke tempat ini sayang..." Abdullah percaya diri, jika kedatangan Dila sudah merubah pikiran dan ingin merajuk cinta yang telah terkoyak.

Dila yang sudah berdiri di hadapan Abdullah ingin muntah mendengar panggilan sayang. "Jangan terlalu percaya diri, saya datang kemari hanya ingin mengembalikan ini" Dila pegang telapak tangan Abdullah untuk yang pertama kali selama menjadi suami, kemudian meletakkan kotak perhiasan yang berisi mas kawin.

"Dila!" Abdullah memekik, hatinya sakit karena mas kawin pun Dila kembalikan.

"Silfia yang berhak menerima perhiasan ini Kak, bukan saya" Dila sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk mengembalikan mas kawin seperangkat perhiasan itu.

"Dila, apa kurang banyak perhiasan ini, jika iya, aku bersedia menambah berapapun yang kamu minta" Abdullah memberi penawaran asalkan Dila berjanji tidak akan pergi dari hidupnya.

"Lain kali jangan menilai orang dari materi Kak, karena saya bukan wanita yang silau akan harta. Tolong sampaikan kepada Tuan Ahmad, tidak usah memikirkan pengobatan bapak. Jika bapak pernah donor ginjal untuk Tuan Ahmad, beliu sudah ikhlas untuk ladang amal, karena keluarga saya bukan menjual organ tubuh."

Dila hendak meninggalkan tempat itu, tapi Abdullah menahan tangan Dila. "Dila... aku mencintaimu, lebih baik aku menceraikan Silfia daripada kamu" Abdullah berkata enteng.

"Jangan mempermainkan perasaan wanita Kak, cukup saya yang menjadi korban. Seburuk apapun sikap Silfia, bukankah wanita itu pilihan kamu? Dengar Kak, permohonan batal nikah di KUA sudah disetujui, sekarang berikan mas kawin itu untuk Silfia" Dila pun akhirnya benar-benar pergi.

"Dilaaa..." Abdullah berteriak kencang, menjatuhkan lututnya di tanah. Ia memandangi langkah Dila dengan perasaan sedih. Tidak menyangka jika cinta Dila kepadanya berubah menjadi kebencian. Andai bisa memutar waktu, Abdullah ingin menikahi Dila satu tahun yang lalu ketika belum ada Silfia di hatinya.

***************

Bulan berlalu, enam bulan kemudian, Dila yang sudah bukan lagi istri Abdullah fokus mencari uang untuk berobat sang bapak. Selama itu, Dila melarang keluarganya agar jangan menerima sepeserpun biaya berobat dari Ahmad. Dila tidak ingin niat baik sang bapak yang sudah merelakan ginjalnya untuk orang lain tidak lagi mendapat pahala jika masih mendapat imbalan.

Dila saat ini tinggal di kost, namun selama itu tidak pernah lagi bertemu pria yang membantunya mencari kost tersebut. Entah kemana perginya Tristan, dia sama sekali tidak pernah memberi kabar. Pernah juga awal-awal tinggal di kost, Dila menghubungi Tristan, tapi nomernya tidak aktif hingga saat ini. Bukan mau apa-apa, Dila hanya ingin mengembalikan uang untuk biaya rumah sakit dan juga mengucapkan terima kasih, tapi Tristan benar-benar menghilang.

Walaupun hanya bekerja di catering, tapi gaji Dila cukup untuk mengirim orang tua, sekolah adik, membayar kost dan masih juga bisa menyisihkan sedikit untuk tabungan. Untuk kebutuhan sehari-hari, uang tip pun sudah cukup.

"Humaira... aku bantu" Seru Imam ketika Dila tengah kesulitan mengikat kardus besar yang sudah berisi makanan di atas motor.

"Dih, panggilnya tidak usah lebay kali..." Dila sering kali dibuat malu oleh Imam karena memanggilnya demikian.

"Kok lebay, coba kamu ngaca, pipi kamu ini putih kemerahan" Imam terkekeh, sembari menarik tambang hendak mengaitkan dari besi pinggir jok ke atas kardus, tapi kurang panjang.

"Kan, kurang panjang" Dila mengamati Imam. Karena kardus terlalu besar, tambang yang biasa Dila pakai pun tidak sampai.

"Tunggu sebentar" Imam berlari ke dalam, tidak lama kemudian kembali, sudah membawa tambang berwarna biru.

"Hati-hati humaira..." ucap Imam ketika ia sudah berhasil mengikat kardus. Dila pun sudah naik ke atas motor, kadang geli dengan panggilan Imam itu.

Motor Matic melaju hati-hati menuju alamat yang di tuju, hingga sepuluh menit kemudian Dila berhenti di depan pagar tinggi menjulang. Ia mencari letak bel rumah itu di sudut-sudut pagar tapi tidak menemukan.

Tidak kehilangan cara, Dila memungut batu lalu mengetuk-ngetuk besi pagar. Tidak lama kemudian muncul wanita berseragam mendorong pagar.

"Siapa ya?" Tanya wanita dilihat dari seragamnya adalah ART.

"Saya mau mengantar pesanan Mbak" ucap Dila, sembari membuka ikatan kardus.

"Oh, butuh bantuan?" ART mendekati motor.

"Boleh, jika tidak keberatan" Dila tersenyum. Tentu saja bukan mengangkat kardus tersebut karena tidak mungkin kuat walaupun berdua, dengan akalnya Dila mengeluarkan kotak makanan satu persatu lalu dibawa ART mengantar ke dalam.

Dila mengikuti ART itu, meletakkan lauk di salah satu meja yang sudah ditata buah-buahan. Tentu saja tidak cukup sekali dua orang wanita itu membawa makanan ke dalam.

"Mau ada acara Mbak?" Dila sebenarnya tidak kaget jika kebiasaan orang kaya sering kali menyediakan makanan berlebihan, padahal ketika makan hanya sedikit. Kerap kali makanan tersebut mubazir.

"Putra Nyonya mau pulang dari luar negeri Dek."

"Oh..."

Tin-tiin... tiiinnn...

Klakson di luar pagar terdengar nyaring, Dila berlari keluar rumah. Dia membayangkan jika pemilik rumah hendak masuk halaman.

Benar saja, motor Dila menghalangi mobil mewah itu, secepatnya menarik motor ke pinggir.

"Kamu Dila kan?" Tanya seseorang dari dalam mobil tersebut.

...~Bersambung~...

1
Evy
Tanpa sadar Dila mungkin sudah hamil...berat badan sampai naik 2 kilo...Pas USG nanti sudah ada janin diperut.syukur2 dapat kembar...
Evy
Dila dan Najwa kakak adek punya wajah yang mirip begitu juga dengan sifat nya yang juga baik hati...
Lonafx: halo kak... ikuti juga yukk karyaku "SUAMI KARISMATIK MILIK CEO CANTIK" atau bisa klik profil aku ya🥰
total 1 replies
Evy
Silfi dapat zonk...
Evy
Apa mantan bini Si Dul itu yang mengikuti nya...
Evy
Pak itu Pak Abdul yang masih gagal move on..
Evy
Pasti itu mantan istri Abdullah yang bikin ulah...
Evy
Nanti Tony ketemu Najwa..
Evy
Masa sih baruvrau pagi nya kalo istri nya masih perawan...kan .. pas mau mulai juga pasti bisa membedakan mana yang masih Orisinil atau sudah Doll... sensasi nya kan beda...
Evy
Imam alias Tony kah yang datang?
Evy
Biar cepat Move on...Tony sama Najwa saja...kan mirip ..
Evy
mau makan saja kok cincin dilepas...ngak banget...
Evy
Bisa berkelahi ini adek Abang hanya karena berebut satu cewek...
Evy
Apa Imam alias Toni itu adiknya Tristan ya?
Evy
Pelit amat... orang kaya ..cuma ngasih tip 20 ribu doang..
Evy
Ketemu lagi akhirnya...
Evy
Apa tidak bisa pembatalan pernikahan saja gitu...
Evy
Astaga... astaga...
Evy
Bucin nanti baru tau rasa tuh..
Evy
Walaupun sopirnya tidak mau menerima uang karena sudah mendonorkan ginjal nya.. setidaknya perbaiki rumahnya yang telah bobrok...
Nur Wahyuni
seneng dapat cerita yg terus bersambung kaya gini👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!