NovelToon NovelToon
Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat

Status: tamat
Genre:Komedi / Nikahmuda / Obsesi / Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:20.6M
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

( DALAM TAHAP REVISI)

Bibit, bebet dan bobot seringkali menjadi tolak ukur pernikahan di kalangan Ningrat tanah Jawa. Tapi, apa jadinya jika cewek metal pegawai laundry menjadi istri seorang Ningrat? Akankah dia diterima menjadi bagian dari keluarga darah biru dan sanggup mengenyahkan sifat liarnya demi sang suami tercinta? Ataukah dia hanyalah wanita dengan status yang di pertanyakan?

“Bahkan jika kakiku sampai berdarah-darah, aku tetap akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Mas!” ~ Rinjani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. [ GPL ]

Aku mulai sebal dengan keadaan, dia benar-benar mengacaukan pikiranku. Tega... sekali dia. Apa karena kita sudah terikat. Jadi dia dengan seenaknya mengabaikan, tanpa memberiku kabar, aku memang memiliki nomer HPnya, tapi aku bukanlah gadis yang berani walau hanya mengetik kata, "Hai aku Rinjani. Balas pesanku, GPL." [gak pake lama]

Aku mematikan HPku, menyembunyikan ditempat yang sulit ku lihat. Aku mulai tak peduli dengan notifikasi, atau pesan lain yang masuk ke HPku.

Aku harus terbiasa. Dia memang akan membuat hari-hariku kacau. Pacaran memang menyebalkan, menyebalkan lagi jika tidak ada kabar. Jika dia memang ingin berpacaran secara Old school, baiklah. Aku akan mencobanya. Hakikat pacaran sesungguhnya adalah saat kamu tidak bisa berkirim kabar dan merindukannya dalam jarak. Ah, rindu. Kamu mulai membelenggu hatiku.

*

Sudah tiga hari, terhitung sejak hari Minggu lalu dia tidak menemuiku. Apa iya, harus aku yang mencarinya ke rumah. Huft, aku menghela nafas panjang, Memalukan. Jangan sampai aku yang terlihat mengejarnya. Jangan sampai aku yang terlihat tergila-gila dengannya. Rasanya ingin ku umpat dia, dasar mangga tua gila! Baru tiga hari pacaran sudah membuatku belingsatan dibuatnya.

Aku mengeram. Memasukan dengan asal baju-baju milik pelanggan ke dalam mesin cuci, memberi tag nomer dengan tak berselera. Apalagi selera makanku turun karena kelakuannya. Dia ingin membuatku semakin kurus. Jika bertemu ingin ku cabik-cabik wajahnya. Ingin ku pukul-pukul dadanya yang bidang itu.

Ingin aku tanyakan kenapa mengacuhkan ku. Lebih-lebih, untuk apa kemarin dia minta nomer HPku, jika tidak untuk menghubungiku.

Aku tahu dia pasti sibuk, tapi bukankah sekarang sudah di mudahkan segala cara untuk berkomunikasi. Oh, Tuhan. Apa memang harus aku ke rumahnya, sekedar mencari kabar dari Parto penjaga gerbang.

Aku menggeleng kuat-kuat, Tidak! Hal aneh yang ku lakukan. Dan akan menjadi hal memalukan mencari Kaysan yang tidak ada kabar.

*

Malam harinya aku menghempaskan tubuhku di atas kasur kempis ini. Ingin rasanya aku membuka HPku yang aku simpan di tumpukan koran-koran langganan toko. Dan, hari-hariku kemarin aku isi dengan membaca surat kabar. Banyak berita yang di muat di koran ini. Informasi tentang politik yang baru-baru ini di gelar membuat kegaduhan, salah satu dewan terlihat mencak-mencak, lainnya terlihat tidur memikirkan rakyat, KPK yang menangkap korupsi kelas kakap dan banyaknya berita kriminal lainnya. Namun mataku menangkap berita terbaru berkaitan dengan Kaysan dan keluarga kerajaan.

Di koran itu, terungkap bahwa dua tahun lagi Tahta kerajaan akan jatuh ke tangan pewaris Tahta ke tujuh. Yaitu anak dari Sultan Agung Adiguna Pangarep dan permaisuri Juwita Ningrat. Tak lain dan tak bukan adalah Kaysan Adiguna Pangarep.

Aku memikirkan dalam-dalam, apa karena dua tahun lagi Tahta akan jatuh ditangannya dan dia sekarang sedang memburu calon permaisuri untuk mendampinginya.

Apa iya, Raja harus didampingi seorang Ratu.

Bukannya dua tahun lagi bukan waktu yang singkat, jika itu bagiku. Entah untuk Kaysan.

Aku membolak-balik halaman koran, mencari sesuatu untuk di baca. Kini mataku menangkap cerita-cerita horor di balut dengan cerita dewasa.

Bulu kuduk ku berdiri, ini ceritanya mau menakut-nakuti orang atau mau membuat orang jadi meremang. Aneh sekali batinku.

Tapi mata batinku terus membaca kalimat dan kalimat yang terhubung, hingga tamat.

Aku mengelus dadaku, menutup kembali lembaran koran itu dan mengembalikan ke tempatnya.

Cerita rakyat memang penuh misteri, termasuk banyaknya sesuatu yang tak kasat mata dan sejarah yang masih tertutup oleh mata dan telinga.

Malam harinya aku lebih memilih untuk memejamkan mataku. Menenangkan pikiranku sejenak dari penatnya dunia-Kaysan.

*

Enam jam, setelah tidur malamku. Aku terbangun saat adzan subuh berkumandang.

Aku mengambil handuk dan menyampirkan di pundak ku. Menguap lebar dan mengusap wajahku berkali-kali.

Ku buka pintu belakang toko, tiba-tiba udara dingin menerpa wajahku. Begitu dingin dari biasanya, niatku untuk mandi menjadi setengah hati, "Adem banget." kataku pelan sambil menguap lagi. Tubuhku menggigil menahan dingin. Sekuat mungkin aku mengumpulkan niatku untuk mandi dan wudhu sebelum waktu subuh habis digantikan cahaya mentari yang perlahan menghiasi langit pagi.

Ku sampirkan handuk di gantungan baju, menyiapkan mental ku kuat-kuat dengan satu guyuran air bak.

Brrrrrr, dingin... Hanya butuh lima menit untuk mandi. Mentalku harus ku ajari untuk sekuat baja dan setebal karang sejak dini. Agar nantinya, aku tidak mudah menjadi gadis yang cengeng.

Lima belas menit kemudian, aku sudah menyelesaikan tugasku dengan Tuhan. Menyampaikan keluh kesahku dan Do'a-Do'aku. Waktu masih menunjukan pukul setengah enam pagi. Aku mengangkat keranjang pakaian untuk di jemur, karena semalam sudah aku keringkan.

Acaraku hari ini masih sama, tapi setelah selesai menjemur baju. Aku ingin pergi ke pasar. Menemui Broto Dimejo dan mencari sarapan.

Untuk Kaysan, si mangga tua itu. Aku sudah menyerah, jika hari ini dia tidak menemuiku. Aku pastikan, mungkin aku akan marah karena rindu. Biarkan saja aku dibilang kekanak-kanakan, biarkan saja. Salahkan saja rindu, dan kamu!

Jam menunjukkan pukul 6.20 menit, mentari sudah menghiasi pagi ini dengan cerahnya. Aku bergegas pergi ke pasar setelah mengunci lagi pintu rolling door.

Berjalan lagi melalui trotoar yang sama.

Tujuan pertamaku kini adalah Broto Dimejo! Bandot tua sialan itu, ah aku harus berterima kasih kepada preman suruhannya. Jika tidak dikejar-kejar mereka dan nabrak tiang listrik. Mungkin aku tidak akan bertemu dengan pangeran mangga tuaku. Manis, eh.

"Rinjani, Rinjani, Rinjani."

Aku mendengus kesal, Broto Dimejo tahu aku berjalan mendekati tempat kerjanya.

"Bapak kesini tidak?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Bapakmu, Herman?" Dia tertawa, menghina. Perut tambunnya terlihat naik turun bergelombang, "Bapakmu tidak pernah kesini. Paling mati ditelan bumi!"

"Jika bapak mati, apa dia masih memiliki hutang denganmu?" tanyaku menyelidiki, jika memang iya aku akan lari sekencang mungkin. Aku mana ada di duit sekarang.

"Bapakmu pergi dengan kenalan barunya, keluar kota. Hutang-hutang bapakmu sudah lunas. Di bayar teman barunya." Aku mengangguk paham, siapa teman baru bapak. Siapa yang mengajak laki-laki tua itu, apa bapak berguna nanti disana atau malah merepotkannya.

Aku pamit kepada Broto Dimejo, senyumnya masih terlihat ganjen untuk usianya. Langkah kakiku ku bawa ke dalam pasar, mencari bahan masakan. Hari ini aku ingin masak, yang awet sampai nanti malam. Rica-rica ayam daun kemangi pilihanku. Belum memasaknya air liurku sudah menetes-netes. Hmm, nikmat mana yang kamu dustakan Rinjani.

Selesai membeli bahan masakan, aku kembali ke toko. Waktu masih menunjukan pukul tujuh lebih sedikit, belum waktunya untuk buka toko. Tapi aku sudah membuka pintu rolling door, membiarkan toko terlihat sudah beroperasi.

Tanganku sudah berkutat dengan bahan masakan di dapur belakang, aku sedikit bisa memasak karena ibu sering mengajariku dulu. Sambil menunggu matang, aku memilih-milah baju yang sudah kering dari jemuran, lalu membawanya masuk ke dalam toko. Mataku menangkap sosok itu, berdiri membelakangi pintu.

*

Bantu like ya silent reader, semoga sehat selalu 💚🙏

1
Rila Finka
🤣🤣🤣Pintu oh pintu beruntungnya kamu di jaga 2 cowok kembar yg ganteng2 🤣🤣🤣
Rila Finka
dasar indy
Rila Finka
ihuyyy😍😍
mams dimas
Kecewa
mams dimas
Buruk
mams dimas
sampe kalian jadi kakek nenek dan mas kay meninggal...pokok nya panjannnnng buanget😁😁😁
Alif Refalino Refalino
Banyak paket yg hilang ya min ,dlu baca novel ini puanjang bgt
Alif Refalino Refalino
Nanang emang kyk baskara ekspektasi ku khayalan
Alif Refalino Refalino
Ayahnda di rumah bu sasmita kyk menemukan jati dirinya sndri kepada keluarga kecilnya
Ulil Baba
emang kuda lumping kesurupan kok kembang sajen
Ulil Baba
atu tenan lek Podo menungsone,, seng bedakne Lanang wedok e
may
Aku tetep nangis di part ini walaupun udah berulang kali baca
may
Hai mas nanang🤭
may
Hai rinjani dan mas kaysan, aku kembali lagi kesini, aku sudah 3x membaca kisah kalian, terimakasih mbk selvi sudah menciptakan karya sebaguss ini❤️
may
Luar biasa
may
Aku langganan sumber selamat bun😭
mom SRA
Luar biasa
mom SRA
ini novel ke 2 otor yg ku baca,liat babnya sampai ratusan bikin pala pening tp penasaran 😁😁
Partini Minok Nur Maesa
band dr jogja thor bkn solo
Partini Minok Nur Maesa
santosa mlh mikirin nina.klo langsinv bisa mirip nina zatulini san
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!