Anggrek Maharani mendapatkan kejutan yang menyakitkan pada hari ulang tahunnya ke -24.
Sebuah undangan pernikahan dari Kekasihnya dan sahabat Anggrek. Dua orang yang bermain api dibelakang Anggrek selama ini. Dua orang yang tega mengkhianati ketulusan Anggrek.
Anggrek tercampakkan oleh kekasihnya, dikhianati sahabatnya.
Mampukah Anggrek bangkit kembali dari kehancuran hatinya akibat pengkhianatan ini?
Ketika kesedihan dan rasa sakit 'diselamatkan' oleh sebuah video viral. Sebuah keberuntungan yang membuka jalan dalam penyembuhan sakit hati Anggrek.
Keberuntungan tidak terduga untuk Anggrek yang tidak pernah 'dianggap' karena tidak menarik dalam standar masyarakat.
Bisakah Anggrek membuka hati kembali..?
Ikuti kisah Anggrek dalam menjalani kehidupan setelah terpuruk akibat pengkhianatan.
IG : aksara_azuraone
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Mereka Bertemu
Jika seseorang merindukan kita apakah berarti dia menyukai kita?
******
Tepukan lembut di lengan membangunkan ku. Ketika membuka mata, nenek sudah di hadapanku.
"Sudah siang Nggrek makan dulu. Ada teman mu juga datang?."
"Siapa, Nek?." Aku memang memiliki beberapa teman di desa Nenek karena dari kecil kami sering mengunjungi kediaman Kakek dan Nenek jadi sering bermain bersama anak tetangga nenek.
Seiring usia dewasa, aku sudah jarang bertemu mereka karena tidak semuanya masih tinggal disini.
"Nggrek, buruan makan sudah jam satu siang nih?" Mama tiba-tiba muncul di pintu kamar. Aku lekas bangkit sebelum disemprot Mama lagi.
Jantung ku berdegup ketika melihat di meja makan ada Doni. Kok bisa ada Doni sungguh mengejutkan.
"Doni, apa kabar? kamu dari mana?." Aku tidak bisa menutup rasa penasaran akan keberadaan dia di meja makan.
"Aku sedang berkunjung ke rumah saudara yang tidak jauh dari sini. Saat belanja di toko kakek Tarno bertemu dengan ibu mu ternyata dia masih ingat dengan ku dan menawar untuk makan siang"
Aku langsung memahami Doni pasti berat menolak tawaran mama karena mama bukan menawar tetapi memaksa. Kakek ku memang membuka toko kelontong walaupun menurut kakek sekarang tokonya tidak seramai dulu karena sudah banyak minimarket masuk desa.
Mengingat usia kakek dan nenek hal ini tidak menjadi masalah bagi kami karena meringankan pekerjaan mereka di toko.
"Ayo, Anggrek makan yang banyak. Nenek mu sudah memasak khusus buat kamu" kakek menambahkan nasi di piring ku.
"Semua kesukaanmu nenek yang masak." Nenek menambah lodeh di mangkuk kecilku.
Selalu jika bersama orang tua maka diet sering gagal karena mereka tak henti menyuruh makan. Aku dan Doni sudah kepayahan menghabiskan makanan di meja makan walaupun jujur aku menikmati masakan rumahan buatan nenek karena memang lezat.
Aku membantu Mama membereskan dapur setelah selesai makan. Doni duduk di teras rumah bersama kakek, entah mengapa dia tidak langsung pulang.
Hari kedua di rumah nenek, Doni datang lagi kali ini dia membawa berbagai buah-buahan dan sayuran. Aku jadi geli melihatnya seperti gaya orang tua.
"Paman ku baru datang, baru datang dari desa dibawakan lah sayur dan buah.." Aku bersenandung.
"Kamu sudah bisa bercanda lagi, Nggrek." Doni memandang ku dengan tatapan tulus.
Dia menambahkan "Pertama melihatmu di depan club yoga. Kamu tampak berbeda seakan ada beban berat terpancar dari matamu."Aku terdiam tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.
"Doni kenapa diluar saja, Ayo masuk. Paman mu mengirim pesan sama kakek, Dia memesan tabung gas 12kg nanti sekalian dibawa ya."
"Baik kek."
Aku mempersilakan Doni masuk ke rumah. Ruangan belakang kakek luas tanpa sekat jadi ruang menerima tamu di ruangan belakang bersatu dengan ruang nonton televisi. Kami berbincang bersaing dengan suara penyiar berita yang sedang di tonton kakek.
"Apa." Ini untuk sekian kalinya aku bertanya karena volume suara televisi kakek menggema di ruangan.
"Aku sedang menenangkan diri di sini Nggrek. Pasca perceraian sudah diputuskan rasanya ada sesuatu yang melegakan."
"Usia pernikahan mu hanya bertahan empat tahun. Jadi kamu menikah ketika berusia 21 tahun?"
"Iya waktu itu yang dipikirkan kita saling mencintai seakan cinta cukup mengawali pernikahan padahal itu modal awal, masih banyak yang harus dilengkapi dalam rumah tangga. Seiring waktu berjalan baru terasa cinta harus dipupuk, dirawat agar bertahan dan tidak menghilang."
"Iya." Aku melihat Doni menundukkan kepalanya. Kedua tangan saling berkaitan di pahanya. Sepertinya dia menahan tangis pasti sesak di dadanya.
"Kamu belum bisa melupakan istri mu?." Doni mengangkat kepalanya, Aku bisa melihat matanya dan hidungnya memerah.
"Aku sudah lama melupakan dia karena putusan pengadilan hanya mengesahkan status kami di mata hukum. Kenyataannya perasaan ini sudah bukan untuknya lagi ketika mengetahui dia selingkuh."
Aku menarik napas lalu menghembuskan perlahan. Posisi kami sama hanya saja aku belum menikah dengan Adiwarna.
"Lembaran baru dimulai ya, Don. Ambil hikmahnya saja. Oh ya anakmu bagaimana?" Aku berkata tulus belajar dari membangun lembaran baru setelah pengkhianatan Adi dan Cahya.
"Saat ini masih bersama mantan istriku, kemungkinan putra kami akan berada dalam pengasuhan ku karena calon mantan istriku keberatan jika putra kami mengikuti mereka"
Aku mengangguk kecil tidak tahu harus menanggapi apa karena itu berarti Doni akan menjadi single parent dalam usia 25 tahun.
Aku belum pernah menjadi seorang Ibu tapi seorang wanita yang memilih pria lain daripada anak yang di kandung dan dirawatnya menurut ku wanita egois tapi tentu saja aku tidak berhak menghakimi seseorang yang tidak ku kenal.
Doni lalu berpamitan pulang, Nenek membawa bungkusan kue bolu kukus untuk keluarga paman Doni. Keluarga paman Doni baru pindah ke sini tiga tahun lalu. Pantas saja aku tidak mengenal pamannya karena sewaktu aku kecil, Mereka belum tinggal disini.
Lingkungan sosial di desa kakek memang dekat satu sama lain. Suasana kekeluargaan masih kental. Hal ini lah yang membuat kakek dan nenek enggan tinggal bersama anak-anaknya.
********
Hari ketiga aku dan Mama akan pulang ke rumah. Mama memutuskan kami berangkat setelah makan siang. Pagi harinya kami menghabiskan waktu berjalan-jalan mengendarai motor bersama Mama. Aku merekam video serta mengambil foto untuk keperluan feed instagram.
Ketika memanaskan mobil, Doni dan seorang laki-laki setengah baya datang. Kakek, Nenek dan Mama menyambut mereka. Aku segera keluar dari dalam mobil untuk menyapa.
"Nah itu Anggrek datang, Doni yang akan menyetir mobil kita pulang nanti." Mama berkata nyaring menunjuk ke arah ku.
"Lho merepotkan Doni, Ma."
"Doni aja tidak keberatan ya, Nak?." Doni mengangguk sopan, Itulah kalau Mama ditinggal sebentar dengan teman ku. Ada saja yang dilakukan atau bicarakan.
"Maaf ya nak Anggrek, kami jadi merepotkan seharusnya mengantar Doni itu tugas Saya karena Saya lah yang mengajak dia untuk mampir ke rumah." Paman Doni menimpali pembicaraan Aku dan Mama.
Selanjutnya terjadi basa-basi merebutkan siapa yang paling merepotkan. Aku dan Doni saling pandang sambil melempar senyum. Keluarga Kakek dan Paman Doni ternyata sama-sama tidak enakan orangnya.
Sepanjang perjalanan Mama dan Doni berbincang akrab. Apakah karena Doni pernah menikah sehingga dia tidak mengalami kesulitan berbincang dengan orangtua seperti Mama.
Mereka asyik bicara sehingga mengabaikan keberadaan ku di kursi belakang. Aku meraih gawai dan melihat pesan masuk. Selama di rumah kakek dan nenek, ia memang nyaris tidak tersentuh.
Ada puluhan chat dari Bian juga berapa kali panggilan telpon tidak terjawab. Aku membaca pesan Bian ternyata dia mengetahui aku dan Mama berkunjung ke rumah kakek dan nenek. Pasti dia bertanya dengan Dewo.
"Maaf ya Bian baru balas sekarang karena selama disini selalu berkumpul dengan kakek dan nenek jadi jarang pegang HP. Gak enak sama orang tua ngobrol sambil main HP"
"Iya tidak apa-apa, Anggrek kapan pulang?."
"Hari ini."
"Jam berapa ,Nggrek?"
Aku tidak membalas pesan Bian lagi. Mataku terasa berat, Kantuk sudah menyerang dalam hitungan menit Aku sudah terlelap. Aku terjaga dari tidur ketika pipi ku terasa ditepuk seseorang ternyata Mama.
"Anggrek bangun, kita sudah sampai di rumah. Itu kardusnya kok kamu pakai senderan tidur nanti isinya rusak?." Aku yang menjadikan kardus sebagai sandaran segera bangkit. Bisa-bisanya Mama mementingkan kardus daripada anaknya.
Ketika baru mau menurunkan kardus yang isinya alpukat. Pintu mobil sebelah kardus terbuka. Doni sudah sigap mengambil kardus.
"Biar aku saja, Anggrek". Dalam hitungan detik kardus itu sudah berhasil dikeluarkan Doni.
Aku keluar dalam mobil dan hal yang pertama aku lihat adalah Bian yang berdiri di teras dengan wajah tidak bersahabat. Matanya menatap ku tajam.
"Nah kebetulan ada teman Anggrek. Siapa namanya, Nak. Rian, Tian, Dian?"
"Bian, Tante". Bian terpaksa mengalihkan pandangan dari ku ke Mama.
"Kamu tolong antar Doni ya. Kasihan dia capek nyetirin kita dari rumah kakeknya Anggrek." Oh My God, Aku ingin nyungsep masuk kardus mendengarkan perkataan Mama.
Doni tampak gelagapan sedangkan Bian terperangah mendengar perkataan Mama.
"Suruh Dewo saja, Ma." Aku menunjuk Dewo yang asyik membongkar oleh-oleh dari kakek dan nenek.
"Motor Dewo lagi di bengkel, Kak"
"Eh tidak usah tante, Doni bisa pesan taksi online." Dengan cepat Doni mengambil gawai di tas sandangnya.
"Jangan naik taksi online, Don. Tante kan gak enak sama paman kamu. Paman Doni ini sering membantu kakek dan nenek Anggrek di desa." Mama menjelaskan kepada Bian.
Aku meneguk saliva, ini hutang budi siapa yang balas siapa. Wajah Bian tampak memerah, ekspresi Doni pun kecut menampakkan wajah enggannya.
"Ini Don buat orangtua mu". Sekardus alpukat sudah berpindah tangan ke Doni. Tidak lama kemudian Mama memberikan sebungkus sayuran dan satu tandan pisang kepada Bian.
"Ini juga untukmu." Bian memegang satu tandan pisang yang kelihatan berat dibawa olehnya.
"Eh mobil kamu yang itu ya? Dewo bantuin bawa bungkusan sayur.! Aduh mobil antik, ini mobil jaman tante waktu masih SD." Mama memberi instruksi pada Dewo sambil mengagumi mobil antik Bian
"Doni pamit dulu ya Anggrek, Tante dan Dewo." Tampang terpaksa tampak jelas di wajah Doni.
Bian melewati ku dengan lirikan mata siap menerkam. Angker, Aku mengkeret segera mundur memberi jalan lebih luas untuk Bian beserta satu tandan pisang dari Mama lewat.
"Terimakasih ya Tian eh Dian sudah mau bantu tante. Hati-hati di jalan." Mama melenggang santai bersama Dewo masuk kedalam rumah sambil menenteng segala isi kebun belakang kakek dan nenek.
Mama.. Mama kemarin Dewo sekarang Mama. Aku berdoa semoga besok bukan Papa bertingkah aneh-aneh lagi.
*******
plus lah enjoy , fokuss sama usaha .kalo udah ada mAh jodoh g kemanaaa
good job👍👍