Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 28
Setelah pertemuannya dengan Karina tadi pagi. Membuat Alexis termenung memikirkan Karina.
"Aku menginginkan wanita itu, sangat menginginkannya." Batin Alexis menyandarkan tubuhnya di kursi. Membayangkan wajah Karina.
"Aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya." Kemudian ia merogoh saku bajunya mengambil ponsel. "Widia."
Kemudian Alexis menghubungi Widia untuk segera datang menemuinya saat ini juga. Setelah selesai menghubungi Widia. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Lalu menyandarkan tubuhnya memikirkan wajah Karina. Membayangkan kalau wanita itu menjadi miliknya.
"Karina..."
Tiga puluh menit berlalu Alexis menunggu, akhirnya Widia datang menemuinya.
"Tuan memanggil saya?" tanya Widia mulai gelisah karena ia belum mampu membayar hutang.
"Duduklah!"
Widia duduk di kursi berhadapan dengan Alexis dengan gelisah.
"Kapan kau membayar hutangmu? ini sudah jatuh tempo yang kau janjikan." Alexis menatap tajam Widia.
"Tuan, beri saya waktu lagi. Uang yang saya pinjam terbakar bersama rumah saya sebelum uang itu di pergunakan." Widia menjelaskan.
Namun Alexis tidak mau tahu kesulitan yang tengah Widia hadapi.
"Aku tidak mau mendengar apa yang tidak ingin kudengar." Tatapan dingin Alexis membuat Widia kelu untuk bicara.
"Tuan, Saya-?"
"Atau begini saja." Alexis memotong ucapan Widia.
"Apa Tuan?" tanya Widia.
"Kau bawa putrimu ke sini, biar kubawa dia ke negara asalku untuk pengobatan. Atau kau harus melunasi hutangmu dalam dua hari beserta bunganya."
"Ta, tapi tuan-?"
"Aku tidak mau mendengar apapun lagi, silahkan kau pikirkan dan pilih salah satu pilihan yang aku berikan. Sekarang silahkan kau pergi."
"Ta, tapi-?"
Alexis mengulurkan tangan mempersilahkan Widia untuk meninggalkan ruangannya tanpa memberikan kesempatan Widia untuk bicara lagi. Widia menarik napas panjang, lalu terburu buru meninggalkan ruangan.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Widia lalu ia kembali pulang menemui Ava untuk meminta pertimbangan atas nasalah yang tengah ia hadapi.
Sesampainya di rumah, Widia langsung menemui Ava yang baru saja pulang. Lalu menceritakan yang selama ini ia sembunyikan dari Karina juga Ava.
"Apa?? Alexis??" ucap Ava terkejut mendengar penuturan Widia.
"Kau kenal dia Nak?" tanya Widia balik.
Ava mengusap wajahnya kasar, ia tahu betul bagaimana Alexis.
"Bu, selama ini aku terpaksa bekerja padanya untuk membantu pengobatan Karina."
"Apa?" Widia sama terkejutnya, akhirnya keduanya sama sama terdiam berpikir keras mencari jalan keluar. Ava tidak rela jika Karina di serahkan pada Alexis.
"Dad..."
Ava teringat Ayahnya, kali ini ia benar benar membutuhkan bantuan Yong Ma. Akhirnya Ava menghubungi sang ayah untuk memberikannya sejumlah uang.
Tak lama kemudian Ava menghubungi Yong Ma. Lagi lagi Ava harus kecewa, karena Ayahnya masih enggan untuk memberikan bantuan. Meski Ava sudah menjelaskan, tapi tetap saja tidak mampu meruntuhkan ketegasan sikap Yong Ma.
"Apa yang harus aku lakukan?" desah Ava kecewa. "Tidak, tidak, pasti ada jalan keluarnya, aku tidak boleh menyerah."
***
Sementara itu, Pramudya yang baru saja di bebaskan Zahra setelah di tahan Polisi beberapa jam karena telah mengganggu ketertiban umum atas laporan anak buah Alexis.
"Sampai kapan kau akan begini mas!" pekik Zahra kesal bercampur rasa cemburu yang meledak ledak di dalam dadanya.
"Ibu benar benar kecewa, Pram." Sela Sumarni.
"Semua ini terjadi gara gara Ibu! potong Pramudya membentak Sumarni.
"Kenapa Ibu yang harus kau salahkan? wanita buta itu yang pembawa sial!" sela Sumarni tidak terima tuduhan Pram.
"Ibu selama ini selalu ikut campur dalam rumah tanggaku dengan Karina!
" Mas Pram! kau tidak perlu menyalahkan orang lain. Coba sedikit kau lihat putrimu mas. Jangan kau pikirkan Karina terus." Pinta Zahra.
Namun Pramudya tidak mau mendengarkan mereka berdua lagi. Kali ini Pram sudah gila, gila karena Karina yang telah ia sia siakan dan tak pernah ia hargai keberadaannya.
moga tidak ya klu iya gk semangat lagi baca nya