rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
: Kardus Coklat dan Bayaran Misterius
Pagi itu, Shadiq keluar dari kamar mandi sempit di rumah kontrakannya, handuk basah masih menempel di bahu. Air mandi dari ember plastik dingin membuat badannya segar, meski kantuk malam tadi masih menempel di mata. Ia menjemur handuk di jendela kamar lantai dua, angin pagi Jakarta Utara menerpa wajahnya yang baru dicukur tipis. Dari sana, ia melirik rumah-rumah tetangga: atap seng berkarat, jemuran bergoyang, suara ibu-ibu menggoreng pisang di gang.
Tiba-tiba, tangan lembut menepuk pundaknya dari belakang. Shadiq tersentak.
“Ehh, sayang kagetin Abang aja!” ucap Shadiq sambil tertawa, langsung mencubit pipi istrinya yang montok.
Arva—wajahnya bulat, rambut diikat ponytail sederhana, celemek dapur masih menempel—mencibir sambil mengelap tangan. “Kamunya!!! Kebanyakan nglamun kali, gitu aja kaget.”
Shadiq tertawa lepas, suaranya menggema di kamar kecil berukuran tiga kali empat meter.
Arva melirik jam dinding plastik retak, lalu menunjuk ke arah Irva yang sudah berseragam TK merah-putih, sedang memakai sepatu hitam kecilnya di depan pintu. “Ada duit nggak, Bang? Irva udah mau berangkat tuh.”
Shadiq mengambil dompet lusuh dari saku celana pendek. “Banyak. Mau duit berapa? Nih, sepuluh ribu aja ya buat jajan.”
Arva mengernyit. “Sekalian aku mau beli pulsa listrik, Bang. Pulang nganter Irva.”
Shadiq mengeluarkan beberapa lembar uang kusut: total sembilan puluh ribu rupiah. “Ini ya. Maaf dikit, kemarin aku cuma kerja setengah hari, soalnya... emm... gada pelanggan.”
Arva mengambil uang itu sambil menggeleng. “Ihh, kamu mah, gausah sok-sok minta maaf kalii. Sembilan puluh ribu udah bagus. Jangan sampai kayak kemarin, dua puluh ribu kerja sampai malam.”
Istrinya mencium pipi Shadiq sekilas, lalu keluar memanggil Irva. Anak perempuan mereka yang masih TK mendekat, bersalaman kecil dengan tangan mungilnya.
Shadiq membungkuk, mencium keningnya. “Belajar yang rajin ya.”
“Iya, Papa,” jawab Irva polos, lalu berlari mengikuti ibunya.
Shadiq duduk di kasur busa tipis, menghela napas panjang. “Huh... Cari kerja kemana lagi coba. Ah, pelabuhan maksiat. Kalo bukan karena orang-orang itu hancurkan keranjang ku kemarin, aku nggak bakal dipecat.”
Ponsel jadulnya bergetar di atas meja kayu reyot. Nama “Farhank” muncul di layar.
Shadiq angkat telepon. “Halo, Bos. Jam segini udah telpon aja? Butuh galon? Nggak bisa, Bos. Sorry, aku habis dipecat. Kemarin gara-gara pelabuhan rusuh, keranjang bos ku rusak lagi, padahal baru.”
Farhank di ujung sana terdengar tergesa. “Buset dahhh, lah aku mau beli dimana kalo bukan ke kamu?”
Shadiq tersenyum tipis. “Galon urusan kecil. Bisa bahas yang penting nggak nih? Ada kerjaan nggak di situ? Kerja apa aja dah, bantuin mantan tukang galon temenmu ini.”
Farhank diam sejenak, suaranya pelan. “Ya nggak tau juga. Kalo kamu mau jadi kuli panggul bisa. Tuh di bagian kargo ada...” Suaranya terhenti, seperti ada yang menginterupsi. “Pokoknya kalo mau? Datang aja malam ini jam sembilan.”
Shadiq langsung semangat. “Gass aja lahhh. Ketemu tempat biasa antar galon ya??”
---
Malam pukul delapan, langit Jakarta gelap gulita, lampu jalan kuning berkedip-kedip. Shadiq berpamitan di depan pintu. Arva memeluknya sebentar, Irva mencium tangannya dengan polos.
“Pulang jangan kemaleman ya, Bang,” pesan Arva lembut.
Shadiq mengangguk, mencium kening anaknya. “Iya, Sayang. Doain Abang dapat rezeki.”
Ia naik motor bututnya, knalpot berasap hitam, meluncur ke pelabuhan Tanjung Priok yang kini sepi, hanya lampu kontainer menyala redup.
Di tempat biasa—depan kontainer biru pudar tempat Farhank biasa pesan galon—Farhank sudah menunggu. Wajahnya tegang, kaus hitam polos menggantikan kemeja kantor.
“Kamu pindahkan aja,” kata Farhank langsung, menunjuk kontainer biru bertuliskan “Bandung” pudar, lalu ke truk box hitam yang parkir miring. “Barang-barang dari kontainer biru ke mobil hitam itu. Jangan ada yang jatuh atau kebanting. Jangan dibuka, nanti kemasan rusak.”
Shadiq mengangguk, tapi penasaran. “Oalah, oke, Bos. Isinya apa kok sampai nggak boleh kebanting?”
Farhank melirik kiri-kanan, suaranya rendah. “Udah, kamu pindahkan aja. Isi mah bukan urusan mu atau saya.” Ia menyodorkan tumpukan uang tebal—satu juta dua ratus ribu rupiah. “Ini ya. Kamu nanti sekalian turunkan barang juga ya.”
Shadiq melotot, mata membelalak saat menerima uang itu. “Banyak banget! Yang bener aja, ini gaji seminggu saya!”
Farhank mengernyit. “Baranya banyak, kamu cuma sendirian, lokasinya juga jauh. Emang kamu mau cuma saya bayar lima puluh ribu?”
Shadiq cepat menggeleng, memasukkan uang ke saku dalam. “Nggak, nggak! Sip, Bos.”
Ia mendekati kontainer. Pintunya sudah terbuka sedikit, cahaya lampu sorot dari truk menerangi tumpukan kardus coklat dibungkus lakban rapat. Kardus pertama terasa berat saat diangkat—mungkin dua puluh kilo lebih, bentuk kotak sempurna, bunyi logam bergesek pelan di dalam.
Shadiq memindahkan satu per satu, otot kawatnya bekerja keras. Keringat menetes, tapi ia tak berhenti. Truk box hitam mulai penuh.
Setelah selesai memuat, perjalanan dimulai. Shadiq naik di bak truk, duduk di atas kardus-kardus. Truk melaju keluar pelabuhan, melewati tol malam sepi, lalu masuk jalan tanah berbatu di pinggiran. Tiba di tujuan pukul dua dini hari.
Tempat itu sunyi senyap. Jalanan tanah berbatu, pinggir kanan lereng curam, pinggir kiri sungai kecil airnya hitam pekat. Pohon-pohon rimbun menutupi langit, hanya satu bangunan raksasa di depan—gudang tua, dinding beton retak, atap seng bergelombang, tapi masih kokoh. Lampu neon gerbang mati, hanya cahaya bulan samar.
Shadiq turun, mengusap keringat. “Ini diturunkan di gudang kayak gini? Lah, kalo ada yang nyolong gimana? Tuh, security aja nggak ada.”
Seorang pria tubuh tegak keluar dari kabin truk—sopir cadangan, wajah datar, jaket hitam. “Memang di sini tempatnya. Udah turunin aja. Mungkin isinya perabot buat renovasi.”
Shadiq terkekeh sambil mengangkat kardus pertama. “Nggak mungkin kalo barang renovasi kok berat, dibungkus rapat kayak isi bom.”
Ia menurunkan barang satu per satu, membawa ke dalam gerbang gudang yang terbuka lebar. Di dalam, gelap gulita, bau debu dan karat menusuk hidung. Pria satunya lagi—yang tadi di sebelah sopir—masih di truk, sibuk dengan laptop kecil di pangkuan, layar biru menyinari wajahnya.
Shadiq melirik sambil bekerja, napas tersengal. “Kayak HRD aja tuh dua sopir. Pake laptop segala, mentang-mentang bisa beli, kayak pamer,” gumamnya lirih. Tapi matanya tak lepas dari layar—peta digital berkedip, titik merah bergerak pelan, angka-angka koordinat, dan ikon kecil, Ia mengernyit.