NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terang Yang Kembali Redup

#23

“B-bantuan, bantuan apa, Bu?” 

Raut wajah Ayu semakin dibuat heran akibat ucapan Giana yang ambigu. 

“Jika kau mau, aku akan mengajukan peninjauan kembali kasus kematian suamimu.” 

Sejenak Ayu coba mencerna ucapan Bu Giana, dan lagi, Ayu pun tak paham soal peninjauan kembali, karena masih belum sepenuhnya paham masalah hukum. 

Bibir Ayu bergerak gelisah, “Maaf, Bu. Tapi saya benar-benar tak faham maksud kalimat Bu Giana.” 

“Sebenarnya— aku sudah lama mencari kau, Ayu. Wanita yang harus mendekam di penjara, padahal seharusnya kau tak salah.” 

“T-tapi … dari mana Bu Giana tahu tentang diriku?” 

Kini Bu Giana yang terdiam, antara ragu dan malu berlomba. Ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, dan terlalu malu kala harus mengaku bahwa Gunawan adalah mantan suaminya. 

“Aku—” Bu Giana berhenti sejenak, “adalah mantan istri Gunawan.”

Kedua mata Ayu terbelalak sempurna, kedua tangannya secara reflek menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. “M-maksud Ibu?” tanya Ayu terbata. 

Sesudah Ayu bertanya, mengalirlah jawaban Bu Giana, tentang dugaan asal muasal Gunawan mengkhianati klien, sekaligus mengkhianati istrinya. “Seandainya dia berkata baik-baik, aku ikhlas berpisah,” kata Bu Giana, dengan tatapan kosong. 

“Tapi manusia tak punya nurani itu tega menukar nasib kliennya, dengan imbalan berkubang di lembah dosa dan penuh laknat Yang Maha Kuasa.”

Bu Giana mengepalkan kedua tangannya, geram ketika mengingat kembali, betapa nistanya perbuatan suaminya. 

Kini tak hanya Bu Giana yang geram, tapi Ayu ribuan kali lipat lebih marah ketimbang Bu Giana. Sanksi moral tak seberapa bila dibandingkan dengan perasaan merana seorang ibu yang dipaksa lepas dari buah hati yang dikandung dan dilahirkan dengan taruhan nyawa. 

“Ketika Aku tahu, semua telah terlambat. Vonismu sudah dijatuhkan, serta perceraianku baru saja di legalkan.” 

“Lantas, apa hubungannya perceraian Anda dengan kasus yang menimpa saya, kenapa Anda begitu peduli pada saya yang bukan siapa-siapa bagi Anda?” 

Bu Giana menangkup kedua tangan Ayu dalam genggamannya, tak ada rasa jijik kendati kedua tangan Ayu masih bekubang tanah liat usai mencampur pupuk kompos dengan sebagai media tanam. “Kita balas mereka, kau punya kawan senasib, aku tak berniat membuat Gunawan kembali. Tapi setidaknya aku, dan kau, harus membalas perbuatan keji mereka.” 

Barulah Ayu paham arah pembicaraan Bu Giana, dan dadanya penuh dengan gemuruh bahagia, karena ada sedikit cahaya, semoga sanggup menerangi jalan hidupnya kelak. 

Ayu mengangguk tanpa ragu, bila tak sekarang menyambut uluran tangan Bu Giana, kapan lagi ada kesempatan? 

•••

Setelah mendapat persetujuan dari Ayu, Bu Giana tak perlu menunggu lama, segera ia berkonsultasi dengan pakar hukum, serta mencari pengacara dengan biaya tak sedikit demi menolong Ayu. 

Tapi ternyata, langkah yang ia tempuh tidaklah mudah, satu jalan terasa pelik ketika Bu Giana tahu, bahwa Gunawan kini sudah punya penyokong yang mendukung kecemerlangan karier nya. 

Dan hal itu membuat Anjani makin besar kepala, ketika tanpa sengaja ia bertemu dengan Bu Giana di salah satu mall Ibu Kota. Keduanya sedang menghadiri acara yang diadakan Asosiasi Perancang Busana, dan Anjani kini boleh berbangga karena ia sudah punya titel seorang desainer, setelah mendapatkan ijazah resmi dari salah satu universitas ternama. 

Anjani termasuk dalam deretan perancang busana yang baru saja menetaskan merk pakaian baru yang sukses menjadi perbincangan di beberapa majalah mode. Tentu saja wanita itu memanfaatkan uang sang suami sebaik-baiknya, hingga bisa ada di posisi saat ini. 

“Silahkan duduk, Bu Anjani.” Sang ketua penyelenggara mempersilahkan Anjani duduk di salah satu kursi kehormatan. 

Anjani duduk kemudian melepas kacamata hitamnya dengan gaya yang modis. 

“Selamat, Bu Anjani, saya dengar MiJa Fashion akan meluncurkan model terbarunya.” 

Tak jauh dari tempat Anjani, Bu Giana mendengar pernyataan itu dengan cukup santai. Karena ia tahu apa yang sesungguhnya terjadi di belakang layar. 

“Terima kasih,” ucap Anjani, tak lupa ia melirik dengan pandangan mengejek pada Bu Giana. “Tentu saja, kami juga akan terus berinovasi serta terus melangkah maju.” 

Salah seorang peserta yang hadir ikut mendekat ke arah Anjani, “Oh, iya. Dengar-dengar kini Tuan Gunawan juga mendirikan firma hukum sendiri?”

Anjani tersenyum bangga, “Itu keinginan beliau sejak lama, dan sebagai istri saya hanya mendoakan.”

“Tidak disangka, ya, Jeng. Setelah berganti istri rezeki Tuan Gunawan juga mengikuti.” Seseorang yang sejak lama merasa tak suka dengan kesuksesan Bu Giana pun ikut-ikutan menyindir. 

Semakin tinggi sanjungan, Anjani semakin pongah. “Kan beda istri, pasti beda rezeki, iya, toh?” 

Ketiga orang itu tertawa, sementara Bu Giana terdiam. “Tapi, setahuku, rezeki yang diperoleh dari jalan yang tidak benar. Maka suatu saat akan menjadi boomerang.” 

Setelah berhasil melempar bom, di tempat yang tepat, Bu Giana pun pergi meninggalkan ruang pertemuan. Karena terlalu malas mendengarkan sindiran, lagi pula Bu Giana tak akan membiarkan hatinya diselimuti kedengkian sama seperti orang-orang yang sengaja menyindirnya beberapa saat lalu. 

Tiba di luar ruangan, asisten Bu Giana menyambutnya dengan berita kurang sedap. 

“Tuan, Dandi mengatakan, akan cukup sulit jika harus kembali membuka kembali kasus Bu Ayu.” 

Bu Giana terdiam, memejamkan kedua matanya, sejenak membayangkan betapa perjuangan Ayu masih akan sangat lama bila benar apa yang Tuan Dandi sampaikan. Dan semakin jauh harapan Ayu untuk bisa berkumpul dengan Biru putranya. 

•••

Beberapa hari sebelumnya. 

Di sebuah restoran Jepang, dua orang penting di kejaksaan di tambah Gunawan, sedang berbincang dengan diselingi canda tawa. 

Mereka Adalah Gunawan, Pak Rudi, serta Pak Narko. Tiga orang yang kini seiya sekata demi rupiah, dan demi jabatan dunia yang tak seberapa. 

Ting! 

Ting! 

Denting gelas minuman ketika mereka bersulang, karena baru saja menerima uang hasil memperdayai seorang wanita yang tak berdosa. 

“Mari, silahkan dinikmati,” kata Pak Narko mempersilahkan. Pria ini adalah atasan Pak Rudi di kejaksaan. 

Gunawan dan Pak Rudi segera menyantap apa yang terhidang di hadapan mereka. “Saya yakin di rezim baru nanti, Anda lah yang terpilih, Pak,” sanjung Gunawan. 

“Karena itulah, pastikan kalian mengawalku. Setelah aku diatas, maka kalian tak perlu mengkhawatirkan apa-apa.” 

“Pasti, Pak.” Pak Rudi kembali mengangkat gelas minumannya. “Lobi-lobi politik, sudah saya pastikan, aman,” kata Pak Rudi dengan suara nyaris berbisik. 

“Hahahaha.”

Tawa mereka semakin keras menggema, meredupkan cahaya terang dalam hidup Ayu.

Sementara di tempat tersembunyi, seseorang tengah memotret kebersamaan mereka. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!