NovelToon NovelToon
Adharma

Adharma

Status: tamat
Genre:Action / Tamat / Horror Thriller-Horror / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Saepudin Nurahim

Di Kota Sentral Raya, kejahatan bukan lagi bayangan yang bersembunyi—ia adalah penguasa. Polisi, aparat, hingga pemerintah berlutut pada satu orang: Wali Kota Sentral Raya, dalang di balik bisnis ilegal, korupsi, dan kekacauan yang membelenggu kota ini.

Namun, ada satu sosok yang tidak tunduk. Adharma—pria yang telah kehilangan segalanya. Orang tua, istri, dan anaknya dibantai tanpa belas kasihan oleh rezim korup demi mempertahankan kekuasaan. Dihantui rasa sakit dan dendam, ia kembali bukan sebagai korban, tetapi sebagai algojo.

Dengan dua cerulit berlumuran darah dan shotgun di punggungnya, Adharma tidak mengenal ampun. Setiap luka yang ia terima hanya membuatnya semakin kuat, mengubahnya menjadi monster yang bahkan kriminal pun takut sebut namanya.

Di balik topeng tengkorak yang menyembunyikan wajahnya, ia memiliki satu tujuan: Menumbangkan Damar Kusuma dan membakar sistem busuk yang telah merenggut segalanya darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saepudin Nurahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trik Licik Feny

Rini duduk di sudut ruang tamu, ponselnya ditempelkan ke telinga. Suaranya lirih, penuh kehati-hatian. "Aku butuh informasi. Nama-nama yang kau sebut waktu itu... Aku ingin tahu lebih dalam."

Di meja makan, Darma masih sibuk dengan kopi hitamnya. Asap rokok melayang pelan di udara, sementara di pangkuannya, Bima duduk sambil bermain dengan mobil-mobilan kecil.

"Om Darma, mobilnya nabrak!" seru Bima sambil mendorong mobil mainannya ke tangan Darma.

Darma tersenyum kecil. Ia menyesap kopinya, lalu mengambil mobil itu dan menjalankannya kembali di meja. "Tenang, mobil ini bisa jalan lagi," katanya dengan suara yang lebih lembut daripada biasanya.

Bima tertawa kecil, lalu mengambil mobilnya dan mulai bermain sendiri.

Darma memandangnya sebentar. Ada sesuatu dalam wajah bocah itu yang mengingatkannya pada Dwi. Cara Bima tertawa, cara matanya berbinar setiap kali ia menemukan sesuatu yang menarik.

Tapi kenangan itu hanya menambah luka di dadanya.

Di sudut ruangan, Rini menutup teleponnya dan kembali ke meja. "Orangku bilang, dia bisa dapatkan daftar lengkapnya. Tapi kita harus menunggu sampai malam ini," ucapnya, menuangkan teh ke cangkirnya sendiri.

Darma mengangguk pelan, membuang abu rokoknya ke asbak. "Bagus. Malam ini, kita mulai cari target berikutnya."

Rini menghela napas. "Darma..."

Darma menoleh.

"Apa kau benar-benar yakin ingin melanjutkan ini?" tanya Rini pelan. "Aku tahu mereka semua kotor, tapi... kau sudah jadi buronan. Semakin dalam kau masuk, semakin sulit untuk keluar."

Darma menghembuskan asap rokoknya perlahan. Matanya menatap kosong ke arah luar jendela.

"Aku sudah mati sejak malam itu, Rini," jawabnya datar. "Yang tersisa sekarang hanya seseorang yang harus menyelesaikan sesuatu. Kota ini harus dibersihkan, entah bagaimana caranya."

Rini terdiam. Ia tahu tak ada gunanya membujuk Darma lagi. Lelaki itu sudah memutuskan jalannya sendiri.

Di pangkuannya, Bima masih bermain dengan mobil-mobilannya, tak menyadari bahwa ruangan itu dipenuhi oleh keheningan yang berat dan rasa kehilangan yang mendalam.

Di sebuah kafe kecil yang tersembunyi di sudut Kota Sentral Raya, Feny duduk di sudut ruangan, menyesap kopinya sambil menunggu. Tak lama, seorang pria berusia sekitar lima puluhan masuk dan duduk di depannya. Wajahnya penuh wibawa, dengan sorot mata tajam yang selalu memancarkan kehati-hatian.

Kepala Intel Kepolisian Sentral Raya, Komisaris Besar Rachmat Darmawan.

"Jadi, ada apa, Feny?" tanyanya sambil mengaduk kopinya.

Feny menarik napas, lalu meletakkan ponselnya di meja. "Aku ingin berbicara soal Adharma."

Mata Rachmat menyipit. "Kau tahu betul dia buronan utama sekarang, kan?"

"Aku tahu," jawab Feny mantap. "Tapi dia tidak bersalah. Semua yang terjadi... semuanya sudah dirancang oleh mereka yang berkuasa."

Rachmat tidak segera menanggapi. Ia menyesap kopinya, matanya tetap menatap lurus ke arah Feny.

"Kau percaya dia?" tanyanya akhirnya.

Feny mengangguk. "Ya. Aku melihat langsung bagaimana sistem ini bekerja. Bagaimana hukum hanya menjadi alat bagi mereka yang berkuasa. Darma... Adharma... dia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh hukum."

Rachmat tersenyum kecil, lalu menggeleng. "Kau tahu, Feny... aku sudah bekerja dalam sistem ini lebih lama dari yang bisa kau bayangkan. Aku sudah melihat terlalu banyak kejahatan, terlalu banyak permainan kotor. Dan aku juga sudah lama sadar... bahwa tidak semua yang kita sebut 'hukum' adalah keadilan."

Feny terdiam, menunggu kelanjutannya.

"Aku tidak bisa membantumu, Feny. Tidak secara langsung," lanjut Rachmat. "Tapi aku juga tidak akan menghalangimu. Aku akan menutup mata untuk kali ini."

Feny mengepalkan tangannya di atas meja. "Pak... saya tidak butuh izin untuk membantu Adharma. Saya hanya ingin tahu... di pihak mana Anda berdiri?"

Rachmat menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab. "Aku berdiri di pihak yang percaya bahwa Kota Sentral Raya sudah terlalu lama dikuasai para bajingan. Tapi aku juga tahu bahwa menentang mereka secara langsung adalah bunuh diri."

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Feny serius.

"Dengar baik-baik, Feny. Aku menyukai semangatmu. Tapi berhenti di sini. Jangan ikut campur lebih dalam. Jika kau terus maju... kau akan mati. Mereka tidak akan membiarkanmu hidup jika tahu kau membantu Adharma."

Feny tetap diam, tapi matanya menunjukkan bahwa ia sudah mengambil keputusan.

Rachmat mendesah, lalu berdiri. "Aku sudah bilang bagianku. Selebihnya, terserah kau."

Ia merogoh kantongnya, meletakkan beberapa lembar uang di meja untuk membayar kopi, lalu berjalan keluar tanpa melihat ke belakang.

Feny tetap duduk, menatap kopinya yang sudah mulai dingin.

Ia tahu risikonya.

Tapi ia juga tahu, jalan yang dipilih Darma adalah satu-satunya jalan yang tersisa untuk menghancurkan kebusukan di kota ini.

Dan ia sudah bertekad untuk ikut dalam perjuangan ini—bagaimanapun akhirnya nanti.

Bab Ini (Lanjutan)

Feny berdiri di depan kantor kepolisian pusat Sentral Raya. Matanya menyapu setiap sudut gedung dengan cermat. Ini bukan penjagaan biasa.

Dulu, hanya ada beberapa polisi bersenjata yang berjaga di gerbang utama. Sekarang, yang berdiri di sana adalah pasukan berseragam hitam dengan emblem khusus di dada mereka. Gerakan mereka terlatih, disiplin, dan jelas bukan polisi biasa.

"Mereka sudah mulai bergerak lebih serius," gumam Feny.

Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi Darma.

Di tempat persembunyiannya, Darma sedang membersihkan cerulitnya ketika ponselnya bergetar. Ia melihat nama Feny di layar dan langsung mengangkatnya.

"Ada apa?" tanyanya.

"Aku baru saja mengunjungi kantor kepolisian pusat," jawab Feny dengan suara serius. "Mereka sudah meningkatkan keamanan. Bukan hanya polisi korup yang berjaga, tapi juga pasukan militer bayaran. Mereka bukan main-main, Darma. Ini bukan hanya tentang menangkapmu, tapi mereka siap membunuhmu jika perlu."

Darma terdiam sejenak, lalu bertanya, "Apa kau punya rencana?"

"Aku akan mengambil sesuatu untukmu."

"Maksudmu?"

Feny menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang memperhatikannya sebelum melanjutkan. "Senjata. Aku akan mencuri senjata dari bisnis ilegal yang mereka jalankan."

Darma menyeringai tipis. "Kedengarannya berbahaya."

"Segalanya sudah berbahaya sejak awal," balas Feny. "Jika kita ingin menumbangkan mereka, kita butuh persenjataan yang cukup. Aku tahu di mana mereka menyimpannya, dan aku tahu bagaimana cara mencurinya."

Darma menghela napas. "Aku butuh senjata berat, Feny. Shotgun, peluru armor-piercing, bahan peledak jika perlu."

Feny tersenyum kecil. "Tenang saja. Aku akan mengambil yang terbaik. Kau siapkan dirimu. Setelah ini, kita akan mulai perang yang sebenarnya."

Sambungan telepon terputus.

Darma meletakkan ponselnya dan mengencangkan genggaman pada cerulitnya.

Jika sebelumnya ia hanya bertarung dalam bayang-bayang, kini pertarungan itu akan berubah menjadi perang terbuka. Dan ia tidak akan mundur—tidak sampai Kota Sentral Raya bersih dari orang-orang busuk yang telah merusaknya.

Feny berdiri di dalam sebuah lorong gelap di kawasan industri pinggiran Kota Sentral Raya. Ini adalah tempat di mana bisnis gelap berlangsung tanpa gangguan. Gudang besar di depannya adalah salah satu pusat distribusi senjata ilegal yang dijalankan oleh jaringan kriminal yang berafiliasi dengan wali kota.

Dia menatap jam tangannya. Sudah waktunya.

Dengan langkah tenang, ia berjalan ke arah dua pria berbadan besar yang berjaga di depan pintu besi.

"Heh, siapa kau?" salah satu penjaga menatapnya curiga.

Feny menyeringai, lalu merogoh sakunya, mengeluarkan sesuatu yang membuat kedua pria itu langsung menegang. Sebuah lencana polisi.

"Aku datang atas nama Pak Kapolres," kata Feny santai. "Aku diutus untuk memeriksa barang baru kalian."

Kedua penjaga saling pandang. Salah satu dari mereka mengangkat teleponnya, menghubungi seseorang di dalam.

"Ya... ada polisi di sini. Dia bilang dari Kapolres."

Sejenak, suasana hening. Lalu, dari dalam terdengar suara di speaker telepon.

"Biarkan dia masuk."

Pintu besi itu terbuka, dan Feny melangkah masuk dengan percaya diri.

Di dalam gudang, tumpukan peti kayu berjajar rapi, masing-masing bertuliskan kode angka dan huruf. Bau minyak senjata dan besi memenuhi udara. Beberapa pria bersenjata lengkap berjaga, memperhatikan setiap gerak-gerik orang asing yang masuk.

Seorang pria berkemeja merah dengan rantai emas tebal mendekati Feny.

"Aku tak pernah dengar polisi ikut campur urusan kami," katanya dengan nada waspada.

Feny tersenyum tipis. "Kalian pikir Kapolres benar-benar bisa melindungi kalian tanpa tahu persis apa yang kalian simpan di sini?" Dia berjalan santai, mengetuk salah satu peti kayu dengan jarinya. "Kami hanya ingin memastikan tidak ada yang aneh."

Pria itu tertawa kecil. "Kami sudah membayar perlindungan mahal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Tentu," jawab Feny. "Aku hanya perlu melihat beberapa barang. Formalitas."

Pria berkemeja merah itu menghela napas. "Baiklah. Tapi cepat."

Feny mengikuti pria itu melewati lorong peti-peti kayu. Matanya mencatat setiap detail: letak kamera pengawas, jumlah penjaga, dan lokasi jalan keluar.

Mereka berhenti di sebuah peti besar.

Pria itu membuka tutupnya.

Di dalam, tergeletak berbagai senjata: shotgun, rifle, pistol otomatis, bahkan beberapa granat.

Feny pura-pura mengamati dengan serius, lalu mengangguk. "Barang bagus. Tapi aku harus memeriksa satu hal lagi."

"Apa?"

Feny tersenyum licik. "Keamanan kalian."

Tanpa peringatan, ia mencabut pistol dari sarungnya dan menembakkan peluru ke arah lampu utama di langit-langit.

Gedung itu langsung gelap.

Suasana berubah kacau. Para penjaga berteriak dan mengangkat senjata, tetapi Feny sudah bergerak cepat. Ia menghindar ke balik peti, melepaskan beberapa tembakan ke arah generator listrik. Seketika, semua kamera keamanan mati.

"SIAPA DIA?! TANGKAP DIA!" teriak salah satu penjaga.

Tapi Feny sudah menghilang di balik bayangan. Dengan lincah, ia melompat ke atas rak besi, merayap di antara peti-peti, dan mengamati situasi.

Dalam hitungan detik, ia melihat targetnya: sebuah truk besar di pojok gudang.

"Itu dia," gumamnya.

Feny melemparkan granat asap yang diselipkannya di balik jaket. Begitu asap memenuhi ruangan, ia melompat turun, berlari ke arah truk, dan menembak mati dua penjaga yang berjaga di sana.

Tanpa membuang waktu, ia naik ke dalam truk, menyalakan mesinnya, dan menginjak pedal gas sekuat tenaga.

Brakkk!!

Truk itu menerobos pintu gudang, menghancurkan penghalang di depannya.

Di belakangnya, tembakan beruntun meledak di udara. Tapi Feny sudah melesat pergi, membawa seluruh senjata yang dibutuhkan Darma.

Malam ini, ia berhasil.

Perang baru saja dimulai.

1
NBU NOVEL
jadi baper ya wkwkwkk
Xratala
keluarga Cemara ini mah /Smirk/
NBU NOVEL: wkwkwkwk versi dark ny
NBU NOVEL: wkwkwkwk versi dark ny
total 3 replies
Xratala
waduh ngena banget /Chuckle/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!