Emma tak pernah menyangka akan mengalami transmigrasi dan terjebak dalam tubuh istri yang tak diinginkan. Pernikahannya dengan Sergey hanya berlandaskan bisnis, hubungan mereka terasa dingin dan hampa.
Tak ingin terus terpuruk, Emma memutuskan untuk menjalani hidupnya sendiri tanpa berharap pada suaminya. Namun, saat ia mulai bersinar dan menarik perhatian banyak orang, Sergey justru mulai terusik.
Apakah Emma akan memilih bertahan atau melangkah pergi dari pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi ini, Eleanor disambut oleh secarik kertas di nakas bersama dengan secangkir kopi dan dua helai roti yang sudah diolesi selai coklat kesukaannya. Namun, alih-alih tersenyum atau menyentuhnya, ia hanya menatap surat itu dengan dingin.
Tanpa membacanya, ia meraih kertas itu dengan ujung jarinya, seolah enggan benar-benar menyentuhnya, lalu menjatuhkannya ke lantai tanpa ekspresi. Kopi yang masih mengepul dan roti yang tertata rapi di piring tak sedikit pun menggugah minatnya.
Tanpa suara, ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Pintu tertutup dengan pelan di belakangnya, menyisakan ruangan yang sunyi, hanya ditemani aroma kopi yang mulai mendingin dan secarik kertas yang tergeletak begitu saja di lantai.
Air dingin mengalir dari pancuran, menghantam kulit Eleanor tanpa ampun. Ia membiarkannya begitu saja, membiarkan suhu rendah itu merayapi tubuhnya, mungkin dengan harapan bisa membekukan apa yang tersisa dari perasaannya.
Tatapannya kosong menelusuri ubin kamar mandi. Entah sudah berapa lama ia berdiri di sana, membiarkan pikirannya mengembara ke tempat yang sebenarnya tak ingin ia datangi. Ke masa lalu, pada kata-kata yang pernah diucapkan, pada janji-janji yang kini terasa hambar.
Akhirnya, ia menghela napas panjang dan memutar keran untuk menghentikan aliran air. Dengan gerakan mekanis, ia meraih handuk dan melilitkannya ke tubuhnya sebelum menatap bayangannya di cermin.
Sepasang mata lelah menatap balik, tak ada amarah, tak ada kesedihan hanya kehampaan yang terpampang di wajahnya.
Saat ia keluar dari kamar mandi, surat itu masih tergeletak di lantai. Eleanor melangkah melewatinya tanpa ragu, seakan itu bukan apa-apa.
Kopi di atas nakas sudah mulai dingin. Roti dengan selai coklat yang dulu begitu ia suka kini tak lebih dari benda mati yang tak memiliki daya tarik sedikit pun.
Ia mengambil ponselnya, membuka layar, membaca sebuah nama yang terpampang di sana. Jemarinya sempat ragu sebelum akhirnya ia mengetik pesan singkat.
"Jangan tinggalkan apa pun lagi untukku, Sergey."
Pesan terkirim. Eleanor meletakkan ponselnya, lalu melangkah menuju lemari, bersiap untuk pergi menuju hotel Amethyst.
***
Mobil Eleanor melaju dalam kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang mulai padat. Di belakang kemudi, Asher tetap fokus, tangannya mantap menggenggam setir, memastikan perjalanan tetap mulus.
"Bagaimana tanggapan Aria untuk pertemuan hari ini? apa dia setuju?" tanya Eleanor, memecah keheningan di dalam mobil.
Asher melirik sekilas ke kaca spion sebelum menjawab, "Sudah dikonfirmasi. Aria setuju. Pertemuan akan berlangsung sesuai rencana Anda, Nona."
Eleanor mengangguk kecil, matanya menerawang ke luar jendela. "Bagus," gumamnya pelan.
Keputusan Aria yang langsung menyetujui membuatnya sedikit terkejut. Ia sempat berpikir wanita itu akan menunda atau bahkan mencoba bernegosiasi lebih jauh. Namun, jika Aria sudah memberikan jawaban pasti, itu berarti semuanya akan segera berjalan seperti yang direncanakan.
"Asher, pastikan semuanya berjalan lancar. Aku tidak mau ada kejutan," tambahnya dengan nada tegas.
"Sudah saya atur, Nona," jawab Asher singkat, tetap fokus pada jalanan di depan mereka.
Eleanor tersenyum tipis, puas dengan jawaban itu. Untuk saat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Mobil terus melaju, membawa mereka menuju pertemuan yang mungkin akan menentukan lebih banyak hal daripada yang mereka duga.
Satu jam kemudian, mobil Eleanor tiba di parkiran hotel. Asher turun lebih dulu, lalu dengan sigap membukakan pintu untuknya. Eleanor melangkah keluar dengan anggun, matanya langsung menelusuri area sekitar sebelum akhirnya menuju pintu masuk hotel.
Di lobi, suasana tampak elegan seperti biasa. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.
Para tamu berlalu-lalang, sebagian besar tenggelam dalam percakapan bisnis atau sekadar menikmati suasana mewah hotel tersebut.
"Aria sudah tiba?" tanya Eleanor tanpa mengalihkan pandangannya.
Asher yang berjalan di sampingnya langsung mengecek ponselnya. "Ya, dia sudah menunggu di ruang pertemuan di lantai atas."
Eleanor mengangguk, langkahnya tetap tenang namun penuh wibawa. Dia sudah terbiasa dengan pertemuan semacam ini, di mana setiap kata dan gestur memiliki makna yang lebih dalam dari yang terlihat di permukaan.
Lift terbuka di depan mereka, dan tanpa menunggu lama, Eleanor melangkah masuk, diikuti oleh Asher. Dalam beberapa detik, pintu lift tertutup, membawa mereka naik ke ruangan di mana segalanya akan ditentukan.
Saat pintu lift kembali terbuka, Eleanor melangkah keluar, siap menghadapi pertemuan yang bisa mengubah banyak hal.
Netra Eleanor terpaku pada sosok wanita berambut pirang yang mengenakan mini dress berwarna ungu, ia melangkah mendekati Aria.
"Selamat pagi, Nona Aria." Sapa Eleanor sopan.
Aria menoleh, ia menelisik pakaian Eleanor dari atas sampai bawah. Wanita itu mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan potongan rapi, dipadukan dengan blus putih yang memberikan kesan profesional namun tetap elegan. Sepatu hak tinggi yang dikenakannya menambah aura dominan yang sudah terpancar dari cara bicaranya.
Aria menyilangkan tangan di depan dada, sudut bibirnya terangkat tipis. "Selalu tampil sempurna, seperti biasa,"
Komentar Aria dengan nada yang sulit ditebak, entah itu pujian atau sekadar basa-basi sebagai formalitas.
Eleanor hanya tersenyum kecil, tidak tergoda untuk menanggapi permainan kata Aria. "Terima kasih sudah menyetujui pertemuan ini. Aku yakin kita bisa mencapai kesepakatan yang menguntungkan untuk kedua belah pihak."
Aria mendudukkan dirinya di kursi yang sudah disediakan, menyilangkan kakinya dengan anggun.
"Kamu terdengar sangat yakin, Eleanor," katanya, menatap Eleanor dengan penuh selidik.
Eleanor mengambil tempat duduk di hadapannya, meletakkan dokumen di atas meja dengan gerakan terukur.
"Aku selalu memastikan segalanya berjalan sesuai rencana," ucapnya mantap.
Aria menghela napas pelan, tangannya mengambil cangkir kopi yang sudah tersaji di depannya. "Baiklah, Eleanor. Buat aku tertarik."
Ruangan itu mendadak dipenuhi ketegangan halus, seperti dua pemain catur yang siap memulai langkah pertama dalam permainan yang lebih besar dari sekadar kesepakatan bisnis.
Eleanor tersenyum tipis sebelum dengan tenang mendorong dokumen di atas meja ke arah Aria. Wanita berambut pirang itu melirik sekilas sebelum akhirnya mengambilnya dan mulai membaca.
Awalnya, ekspresinya tetap tenang. Namun, begitu matanya menelusuri halaman kedua, alisnya sedikit berkerut. Lalu, di halaman ketiga, ekspresi keterkejutannya tak bisa lagi disembunyikan.
Ia meletakkan dokumen itu dengan sedikit hentakan. "Kamu ingin aku menjual tanah di pesisir Sesilia kepadamu?"
Eleanor tetap tenang, tangannya bertaut di atas meja. "Bukan sekadar ingin, Aria. Aku menawarkan harga yang jauh lebih tinggi dari nilai pasar. Kesepakatan ini akan menguntungkan untukmu."
Aria menatap Eleanor tajam. "Kamu tahu tanah itu bukan sekadar properti bagiku."
Eleanor mengangguk. "Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak hanya menawarkan uang, tapi juga kemitraan dalam proyek yang akan dibangun di sana. Kamu tidak kehilangan apa pun, justru mendapatkan lebih."
Aria menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya masih menatap Eleanor seolah mencoba mencari celah dalam niatnya. "Mengapa tanah itu? dari semua tempat, kenapa harus Sesilia?"
Eleanor tersenyum, kali ini lebih dalam, seolah ia sudah memperkirakan pertanyaan itu akan muncul. "Karena aku melihat potensi yang mungkin tidak semua orang bisa lihat. Dan karena aku tidak suka melewatkan peluang yang bagus."
Aria terdiam, matanya kembali menatap dokumen di depannya. Ada sesuatu dalam tatapan Eleanor yang membuatnya ragu-ragu, sesuatu yang membuatnya berpikir bahwa ini bukan sekadar transaksi biasa.
Suasana dalam ruangan menjadi lebih dingin. Eleanor tetap menunggu dengan sabar, tahu bahwa saat ini, semua keputusan ada di tangan Aria.
Setelah beberapa detik hening, Aria menarik napas panjang. "Aku perlu hal yang lebih besar dari pada uang."
Eleanor mengangguk, seolah sudah menduga jawaban itu. "Apa yang kamu inginkan?"
Aria menatapnya sekali lagi, seringai terbit di bibir Aria. "Aku menginginkan Sergey."
Degh.
Eleanor terdiam, ia tidak menduga bahwa wanita di hadapannya ini akan meminta suaminya? sungguh kejutan yang tidak terduga baginya.
thor 😄😄😄😄😄😄