Krystal Berliana Zourist, si badgirl bermasalah dengan sejuta kejutan dalam hidupnya yang ia sebut dengan istilah kesialan. Salah satu kesialan yang paling mengejutkan dalam hidupnya adalah terpaksa menikah di usia 18 tahun dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.
Kesialan dalam hidupnya berlanjut ketika ia juga harus di tendang masuk ke Cakrawala High School - sekolah dengan asrama di dalamnya. Dan di tempat itu lah, kisah Krystal yang sesungguhnya baru di mulai.
Bersama cowok tampan berwajah triplek, si kulkas berjalan, si ketua osis menyebalkan. Namun dengan sejuta pesona yang memikat. Dan yang lucunya adalah suami sah Krystal. Devano Sebastian Harvey, putra tunggal dari seorang mafia blasteran Italia.
Wah, bagaimana kisah selanjutnya antara Krystal dan Devano.
Yuk ikuti kisahnya.
Jangan lupa Like, Komen, Subscribe, Vote, dan Hadiah biar Author tambah semangat.
Salam dari Author. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icut Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28 : KRYSTAL VS LENNA
Zoey menyembulkan kepalanya dari balik lorong toilet. Gadis itu memperhatikan sekitar tanpa ada yang terlewatkan. Sekarang jam istirahat jadi koridor akan cukup ramai dengan siswa-siswi yang berlalu lalang.
Lalu menegakkan tubuh, melipat tangan di dada dan merentangkan sebelah kakinya, menghalangi jalan dua orang siswi yang hendak berbelok masuk ke lorong toilet.
"Closet nya meledak! Cari toilet lain!" Ujar Zoey datar.
"Meledak maksudnya?" Tanya seorang siswi itu dengan bingung.
"Itu meledak. Taiknya ngapung-ngapung di closet."
"Ih Zoey! Jorok lo!" Pekik siswi itu jijik.
"Ya makanya! Cari toilet lain sana! Mau lo lihat taik ngapung-ngapung, hah?"
"Iuuuhh!" Keduanya lantas pergi dengan tubuh yang merinding kejijikan.
"Mau aja gue kibulin. Cakrawala High School nih bos, ya kali ada taik ngapung-ngapung." Zoey terkekeh.
Tak lama, Krystal keluar dengan berlari.
"Gimana? Aman?"
Krystal terkikik geli mengacungkan kedua jempolnya.
"Aman dong! Ayo!" Ia lantas menarik tangan Zoey untuk berlari menjauhi lokasi toilet.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seragamnya basah dan sekarang Lenna bingung harus memakai apa. Seragamnya hanya satu. Membeli seragam baru di koperasi? Sangat tidak mungkin, karena seragam Cakrawala High School itu cukup mahal. Tapi tidak mungkin juga ia berkeliaran di sekolah dengan seragam basah seperti ini. Apalagi sebentar lagi ada acara di Aula untuk pemberitahuan acara Summer Camp.
Lenna duduk cukup lama di ruang ganti Cakrawala khusus putri. Hanya tempat ini yang lumayan dekat dengan lokasi toilet tadi. Lenna berjalan di koridor dengan pakaian basah cukup mencuri perhatian banyak orang. Apalagi jika harus berjalan sampai ke asrama yang sudah berbeda gedung. Bisa-bisa ia semakin menjadi pusat perhatian dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan kenapa bisa basah kuyup dan itu cukup annoying untuknya. Di tambah mood nya sedang tidak bagus untuk sekarang.
Melirik jam tangannya gelisah sepuluh menit lagi ia harus ke Aula. Apa ia nekad saja kelar dengan kondisi seperti ini?
"Lenna!"
Mendengar namanya di panggil, Lenna yang baru keluar dari ruang ganti menoleh dan mendapati Krystal berjalan ke arah kanan nya dan melempar sebuah paper bag. Reflek ia menangkapnya, sedikit kaget.
"Itu seragam gue yang pernah gue kecilin. Lo pasti ingat masalah itu. Blazernya nggak ada. Tapi gue rasa lebih baik daripada seragam basah lo itu." Ujar Krystal datar.
Lenna terdiam, menatap Krystal. Tadi pagi ia baru saja bersiteru dengan gadis di depannya ini. Tapi sekarang, Krystal lah yang menolongnya. Sementara orang yang di tatap tidak peduli. Krystal melangkah pergi begitu saja.
"Ma...makasih, Krys!" Ujar Lenna, yang hana di balas angkatan jempol oleh Krystal tanpa menoleh dan terus berjalan.
Tanpa curiga, Lenna memakai seragam yang Krystal berikan tersebut. Memang agak kekecilan dan pas body, tapin tidak terlalu masalah untuknya pakai sementara. Soal blazer, bukan masalah yang besar. Cakrawala tidak pernah mempermasalahkan siswa-siswi yang tidak menggunakan blazer, bahkan banyak siswa yang terkadang hanya sekedar menentang blazer tersebut tanpa menggunakannya.
Setelah berganti baju, Lenna langsung menuju ke Aula. Mempercepat langkahnya ketika melihat anggota osis satu persatu sudah mulai masuk, tak terkecuali Devano dkk.
Suasana Aula Cakrawala High School sangat ramai. Jam istirahat sudah berakhir, yang seharusnya siswa-siswi kembali melanjutkan pelajaran di kelas, sekarang justru di kumpulkan di dalam Aula ini. Berbari berdasarkan kelas masing-masing. Hari ini pengumuman tentang Summer Camp dan mereka sudah sangat excited untuk mendengarnya.
"Dari mana lo?" Tanya Zoey, ketika Krystal baru saja bergabung di sampingnya.
"Nggak dari mana-mana." Balas Krystal seadanya.
Zoey mengernyit, menatap Krystal menyelidik.
"Lo lagi ngerencanain apa, hm?"
Melirik Zoey, Krystal hanya mengulas senyum tipis. Mengamit lengan gadis itu, lalu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.
"Osis sudah pada masuk."
Zoey kembali menoleh ke depan saat suara dingin Devano terdengar.
"Seperti agenda Cakrawala High School setiap tahunnya. Kita akan mengadakan Summer Camp yang akan di adakan selama 3 hari. Untuk tahun ini, Summer Camp hanya di khususkan untuk semua murid kelas XII saja. Dan terhitung dua minggu dari sekarang kalian dia minta untuk mempersiapkan diri, baik itu fisik maupun hal lainnya. Untuk detail kegiatan akan dijelaskan oleh Lenna." Devano mengakhiri pengumuman singkatnya. Dan mengalihkannya pada Lenna.
Lenna mengangguk dan mulai mengambil alih untuk menjelaskan. Semua orang mendengarkan dengan khidmat berbagai arahan, aturan maupun persyaratan serta alat-alat yang harus mereka bawa nanti. Lenna menjelaskan dengan begitu baik dan sangat mudah di pahami, di bantu dengan proyektor yang menyala di depan sana.
Beberapa saat kemudian kejadian tidak di inginkan terjadi dan mengejutkan semua orang yang melihatnya. Tepat ketika Lenna membelakangi audience, untuk menatap layar proyektor dengan sedikit tangan yang terangkat. Tiba-tiba seragam tanpa blazer yang Lenna gunakan robek di bagian punggung dan menampakkan punggung putih serta dalaman gadis itu, yang sialnya tidak menggunakan tank top atau semacamnya. Sehingga langsung mempertontonkan tali bra nya.
Menyadari ada kesalahan dengan seragamnya. Lenna segera menoleh dan mengulurkan tangannya ke belakang. Jantungnya berdebar cepat ketika tangannya bersentuhan langsung dengan kulit punggungnya.
"Astaga Len! Kok bisa robek!" Pekik Rara---Sekretaris Osis yang langsung mencoba untuk membantu Lenna menutupi punggungnya. Sial! Ia tidak membawa almamater dalam kondisi seperti ini.
Orang-orang di Aula mulai berbisik, ada juga yang menahan tawa bahkan tertawa dengan terus terang. Ada juga yang merekam dan menggoda Lenna dengan siulan. Sehingga kini Aula itu berubah ribut.
"HUUU SO SEXY!! TERNYATA WAKIL KETUA OSIS CAKRAWALA HIGH SCHOOL BISA SE HOT INI IYA!!" Suara teriakan itu semakin menambah kehebohan Aula.
"Ya ampun Lenna! Makanya baju yang udah kekecilan itu jangan di pakai lagi!"
"Mana nggak pakai tank top lagi di dalamnya! Kan tali bra lo jadi kelihatan!"
"Mau pamer badan kali!"
Hampir semua orang di Aula menertawakan Lenna. Menganggap hal memalukan itu adalah lelucon tanpa memikirkan bagaimana perasaan dan traumanya orang yang sedang mereka tertawakan dan di permalukan itu. Beberapa anggota osis mencoba untuk menghentikan, namun jumlah mereka kurang banyak. Terlebih ketika orang yang paling di takuti di sekolah ini justru tidak bergeming untuk membantu. Devano maksudnya.
"Krys, lo yang..." Zoey menatap Krystal tidak percaya. Sementara Krystal hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Gue cuma minjemin baju gue yang kekecilan. Mana gue tahu bakalan sobek." Balas Krystal santai.
Zoey menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata Krystal lebih gila dan nekad dari yang ia kenal.
"Lo gila sih, Krys." Kekeh Zoey.
PLAK!
PLAK!
Aula akan tetap ribut, kalau saja suara tamparan keras tidak terdengar meggelegar setelahnya. Yang mengejutkan dan membuat Aula berubah hening adalah siapa yang baru saja di tampar.
Krystal Berliana Zourist yang baru saja di tampar oleh Lenna Sabita.
Apa yang Lenna lakukan secara tidak terduga itu jelas saja mengagetkan untuk semua orang tanpa terkecuali. Bagaimana tidak untuk pertama kalinya seorang Lenna yang di kenal sangat lembut berbuat sekasar itu. Tandanya ada yang tidak beres bukan? Terlebih Lenna melakukannya pada Krystal, di depan Devano yang seakan juga ikut terpaku dengan sorot mata tajamnya.
Oh come on! Drama apa lagi ini? Kenapa orang-orang suka sekali membuat masalah yang berhubungan dengan pangeran iblis satu itu. Semua orang takut jika ketegangan seperti malam dimana masalah ponsel Metta itu terulang kembali hari ini. Terlebih tatapan Devano sungguh mencekam sekarang.
Krystal menyentuh pipinya yang memanas karena tamparan kerasa tersebut. Sedikit kaget, namun tetap bersikap santai seakan tidak terjadi apa-apa. Bahkan ia tidak menunjukkan raut kesakitan sama sekali. Menatap datar pada Lenna.
"Gue salah apa sih sama lo, Krys? Gue alah apa sampai lo tega ngelakuin hal memalukan kayak gini ke gue? Gue tetap diam dan pura-pura nggak tahu saat lo nyiram gue dengan seember air dingin di toilet tadi! Tapi sekarang, apa yang lo lakuin ini udah keterlaluan, Krys. Gue pikir lo tulus ketika minjemin baju ke gue. Tapi ternyata lo malah mempermalukan gue, lo ngelecehin gue di depan banyak orang!" Lenna mulai mengeluarkan air matanya.
Atensi semua orang yang tertuju akan tangis pilu Lenna sekarang. Membuat mereka mulai bersimpati dan menyesal karena telah tertawa tadi.
Krystal menatap datar pada Lenna yang menangis di hadapannya. Kasihan? Tentu saja tidak, sejak kapan seorang Krystal Berliana Zourist terlahir dengan mempunyai simpati pada orang lain?
"Nggak usah drama, Lenna. Drama lo nggak kemakan buat gue. Murahan." Krystal berucap datar. Mengalihkan atensi semua orang.
"Lo yang murahan di sini, Krystal!" Rara angkat suara. Awalnya ia tidak ingin ikut campur. Tapi jika memang Krystal yang merencanakan ini untuk Lenna. Ini sungguh keterlaluan.
"LO NGGAK MALU, HM? LO SAMA-SAMA PEREMPUAN. ANDAIKAN LO YANG DILECEHKAN DI DEPAN BANYAK ORANG KAYAK GINI GIMANA, HAH? APA LO NGGAK AKAN MALU?!" Bentak Rara.
"Sorry, Dev. Tapi Krystal keterlaluan kali ini." Ujar Rara pada Devano. Tanpa takut.
Rara akan merangkul Lenna untuk di bawa pergi dari Aula. Merasa sudah cukup gadis itu di permalukan.
"Lo tanya salah lo apa, kan?"
Sampai suara Krystal kembali terdengar. Rara melirik sinis, akan angkat suara saat tangan Krystal yang terangkat untuk membungkam gadis itu.
"Gue nggak ngomong sama lo! Jadi lo diam, nggak usah ngebacot!" Peringat Krystal tajam.
Rara bungkam.
Krystal melangkah mendekati Lenna, menyentak gadis itu agar berhadapan dengannya. Tetap mencengkram lengan Lenna dengan kuat, hingga si empunya merintih kesakitan.
"Iya, gue yang nyiram lo dengan air dingin di toilet tadi."
Pengakuan Krystal mengejutkan semua orang. Termasuk Devano dkk. Sementara Zoey hanya menghela nafas perlahan.
"Dan gue juga yang sengaja ngasih lo baju kekecilan yang lebih dulu sudah gue sobek sedikit bagian punggungnya."
Semua orang semakin terkejut. Krystal mengakuinya dengan begitu lancar, santai, tenang tanpa beban bahkan tanpa rasa bersalah.
Krystal menyeringai.
"Gue mempermalukan seorang yang di sebut Ibu Peri yang di agungkan di sekolah ini. Tapi gimana jadinya, kalau seorang Ibu Peri bak malaikat di hadapan gue ini ternyata seorang iblis yang nyaris membuat gue mati beberapa hari yang lalu!" Desis Krystal, menekan kata iblis.
Di tengah orang-orang mulai saling berbisik. Lenna menatap Krystal dengan menggeleng-gelengkan tidak percaya mendengar ucapan Krystal.
"Lo ngomong apa sih, Krys? Gue nggak ngerti lo..."
"NGGAK USAH PURA-PURA POLOS! GUE ENEK TAHU NGGAK NGELIHAT MUKA LO! GUE EMANG SETENGAH SADAR PADA SAAT KEJADIAN! TAPI LO PIKIR GUE BEGO APA, HAH?! LO YANG NYELAKAIN GUE! BUKAN METTA!!" Bentak Krystal.
Kalimat yang keluar dari mulut Krystal sukses membuat suasana semakin menegangkan. Lenna? Mencelakai Krystal? Bagaimana mungkin?
Aula mulai kembali heboh, saling membicarakan.
"Setelah mempermalukan gue, sekarang lo juga memfitnah gue dai depan semua orang."
Krystal tertawa sarkas. Ternyata gadis lugu di hadapannya ini begitu jago mempermainkan peran.
Cuih. Krystal meludah tepat di dekat kaki Lenna. Beruntunglah karena Krystal tidak meludah di wajah lugu sok polos itu.
"Lo, sama kayak ludah gue ini, Lenna. Menjijikkan!" Desis Krystal, tepat di depan wajah Lenna.
Mata keduanya kembali bertemu, saling memandang. Sorot mata Krystal yang tajam. Dengan sorot mata Lenna yang sendu.
"Apa bukti kalau gue emang ngelakuin itu ke lo?" Tanya Lenna lirih.
Krystal tersenyum miring. Lenna menanyakan bukti padanya. Karena gadis itu sadar betul bahwa Krystal tidak memilikinya. Yang Krystal miliki hanyalah bukti tidak langsung pada goresan lengan kiri Lenna yang jelas sekali Krystal ingat adalah bekas cakarannya malam itu. Dan Krystal sudah menyadari bekas cakaran itu sejak ia tidak sengaja menyenggol mangkuk bakso Lenna di kantin di hari di keluarnya Metta dari sekolah.
Lenna, sekarang ingin membuat Krystal terpojok. Namun, sayangnya Krystal tidak sebodoh itu. Silahkan Lenna bersikap manipulatif sesuka nya, tapi jangan salahkan Krystal jika ia juga punya cara caranya sendiri untuk menjatuhkan lawan.
Kondisi semakin memanas, ketika Krystal secara tiba-tiba mencekik leher Lenna. Mendorong gadis itu lalu menekannya ke pilar Aula. Hal itu mengundang jeritan semua orang.
"Eghh...Krys. Le...lepas..." Tubuh Lenna tersudut pada tembok, tekanan tangan Krystal pada lehernya terasa sangat berat seakan bisa menghentikan pernapasannya.
Lenna menahan tangan Krystal yang mencekiknya. Mencoba untuk menyentaknya, namun tenaganya jelas kalah besar dari Krystal. lama kelamaan ia mulai merasa pasokan udara berkurang, wajahnya memerah karena cekikan tersebut.
"Krys udah! Krys! Lo bisa ngebunuh Lenna! Krystal!" Ujar Zoey mencoba menghentikan kegilaan Krystal. Begitu pun dengan Rara dan anggota osis lain, mencoba untuk menyelamatkan Lenna dari cekikan mematikan Krystal.
Tapi Krystal tidak peduli, ia terus dan semakin menekan leher Lenna tidak peduli jika gadis itu mulai kehabisan nafas dan hampir terkulai lemas. Cih! Berakting nya luar biasa. Krystal tahu persis, Lenna sedang berusaha menahan dirinya untuk tidak menyerang balik.
"Krystal! Cukup! Krystal! Ya Tuhan!" Zoey mulai mengerang frustasi.
Sampai kemudian, Devano mendekat dan menarik Krystal menjauh dari Lenna yang langsung terkulai setelah cekikan tangan Krystal terlepas. Seakan tidak puas, Krystal berusaha memberontak ingin mendekati Lenna yang terbatuk dengan wajah memerah di sana.
"LEPAS! LEPASIN AKU, DEV! GUE BUNUH LO SIALAN! SOK POLOS! SOK LUGU! SOK MALAIKAT! TAPI NYATA LO IBLIS WANITA MURAHAN! NAJIS LO BANGSAT!"
Krystal tidak menyerah, untuk melepaskan diri dari Devano.
"Krystal udah!"
"LEPASIN!"
"Aku bilang berhenti ya berhenti!" Suara tegas Devano mampu membuat Krystal berhenti memberontak.
"Cukup, Krys! Kamu keterlaluan!" Desis Devano tajam, mencengkram lengan Krystal erat saat raut kesakitan Lenna terlihat, memegang lehernya yang meninggalkan bekas tangan Krystal di sana. Bahkan Lenna sudah mulai menangis.
"Aku? Keterlaluan? Dev! Dia yang udah nyelakain aku malam itu! Dia yang udah bikin aku celaka dan nyaris mati! Bukan Metta! Aku..."
"Mana buktinya? Mana buktinya kalau Lenna yang melakukan itu, hm? Kamu punya bukti?" Devano menyela tajam.
"Luka di tangan kirinya itu bekas cakaran aku, Dev! Aku ingat betul!" Krystal terus menatap Devano tanpa goyah dan takut.
"Itu nggak bisa dijadikan bukti, Krys! Lenna terluka karena goresan pintu kantin saat mengkoor..."
"DIA BOHONG, DEV! DIA BOHONGIN KAMU! AKU INGAT ITU BEKAS CAKARAN AKU, DEV! DIA INI MANIPULATIF! DIA CUMA MAU NGAMBIL SIMPATI KAMU DOANG! DIA MURAHAN TAHU NGGAK! DIA..."
"CUKUP KRYSTAL!" Bentakan Devano menggema di Aula.
"Cukup! Berhenti berbicara omong kosong! Aku mengenak Lenna lebih dulu daripada kamu mengenalnya! Jadi aku tahu persis seperti apa dia! Dia nggak mungkin ngelakuin hal sehina itu! Dan satu lagi, pelaku nya sudah jelas-jelas di keluarkan dari sekolah ini! Jadi berhentilah bicara omong kosong!" Sambung Devano.
"Dev..." Krystal menatap suaminya tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut suaminya itu.
"Apa yang kamu lakukan hari ini, sudah di luar batas kewajaran. Apa nggak ada hal yang bisa kamu lakukan di dunia ini selain membuat masalah, hm?"
Dan lanjutan ucapan Devano setelahnya sukes membuat Krystal kehilangan kata-katanya. Ia terdiam dengan mata yang tidak berkedip menatap Devano. Tangannya yang tadi masih memberikan perlawanan pada cengkraman Devano, perlahan mulai melemas.
Tersenyum getir, Krystal menuduk sejenak. Ada luka yang tergores, namun tidak bisa terlihat oleh mata. Tapi rasa sakitnya sungguh nyata, hingga rasanya sulit untuk bernafas.
Sepanjang hidupnya, Krystal sudah pernah mendengar kalimat itu. Tapi kenapa rasa sakitnya kali ini terasa begitu berbeda. Krystal seakan tercekik di tenggorokan. Apa karena yang mengatakannya adalah orang yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
Krystal pikir, paling tidak ada satu orang yang percaya dengannya tanpa syarat di dunia ini. Ternyata tetap saja. Krystal akan selalu berakhir seperti ini menyedihkan.
Menarik tangannya perlahan dari pegangan Devano. Krystal membawa langkahnya pergi meninggalkan Aula. Merasa begitu menyedihkan ketika semua pasang mata memandanginya layaknya seorang pecundang.
Terkekeh pelan, air mata Krystal tak lagi terbendung. Sebelumnya Krystal sudah pernah berulang kali di buang dan dikucilkan oleh dunia, bahkan orang tuanya sendiri. Tapi rasa sakitnya entah kenapa tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan sekarang.
Lebih sakit daripada saat sang Papa memukulinya.
"*Dulu, saya berharap kembar laki-laki perempuan. Saya hanya butuh satu anak perempuan saja. Dan itu sudah saya dapatkan dari Keyzia*."
Kata-kata itu selalu terngiang di kepala Krystal.
Bibir Krystal bergetar, ia duduk termenung di balik pintu kamar asramanya. Memandang kosong tidak tentu arah. Air matanya tidak ingin berhenti mengalir. Kesekian kalinya senyuman miris hadir di wajah cantik Krystal yang kini terlihat sangat menyedihkan.
"Lucu, gue di ciptakan di dunia. Tapi buat kayak gini doang. Harusnya di kecelakaan itu gue mati saja. Nggak guna banget!" Ia tertawa, namun juga terisak.
Entah sejak kapan, Krystal mendial nomor itu.
"*Halo, Krys*..."
Suara di seberang sana membuat tangis Krystal semakin tidak terbendung.
"Krys, kenapa? Gue lagi praktikum. Kalau nggak penting. Nanti gue..."
"*Carl hiks*..."
Carletta di seberang sana menegang. Tangannya yang memegang pisau, siap untuk membelah tikus di atas meja terhenti mendengar isak tangis di seberang telepon.
"Krys, lo nggak papa kan?" Tanya Carletta dengan cepat, ada kekhawatiran.
Sasa yang berdiri dua meja di depan Carletta ikut menoleh. Mengernyit melihat ekspresi tegang Carletta.
"*Argghh hiks, gue mau mati. Tapi gue takut hiks*..."
"LO KENAPA?!" Bentak Carletta, mengundang tatapan satu lab.
Sasa yang melihat kepergian Carletta yang terburu-buru seperti itu, lantas saja berlari mengejar.
"*Carl kenapa? Krystal kenapa?" Tanya Sasa cepat, berusaha menyejajarkan dengan langkah lebar Carletta*.
Sasa lantas merebut ponsel di tangan Carletta dan mendengar suara isakan keras Krystal di sana, kenapa?
"Krystal! Tunggu di situ! Jangan ngelakuin hal aneh-aneh! Dosa lo masih banyak! Gue sama Carl ke sana sekarang!" Ujar Sasa menekankan.
Dengan cepat naik ke boncengan motor Carletta, yang langsung melaju kencang setelahnya yang meninggalkan Panca Dharma.
Selama perjalanan suara isak tangis Krystal masih terdengar. Sebelum akhirnya mulai redup dan hilang. Carletta menaikkan laju motornya.