Di dalam hening dan gelapnya malam, akhirnya Shima mengetahui sebuah rahasia yang akan mengubah seluruh hidupnya bersama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaLibra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia 1
Cello bergegas pergi dari rumah Bu Wariyem sebelum wanita tua itu berubah pikiran. Cello memacu kencang kendaraan roda empatnya membelah jalanan kota. Bagaimana ia bisa nyasar ke rumah tukang sate yang kebetulan punya anak yang namanya sama dengan pujaan hatinya?
Cello mencoba menghubungi Nadia. Panggilan pertama tak dijawab sama sekali. Cello tak putus asa, ia pun kembali men_dial nomor Nadia. Genap dua belas kali Cello mencoba menghubungi tapi tak ada tanda - tanda Nadia menjawab telepon darinya.
Cello menepikan mobilnya di jalanan yang agak sepi. Ia merogoh sebungkus rokok yang ia simpan di dalam dashboard. Ia keluar dari mobil dan duduk di kap depan mobilnya. Ia memantik sebatang rokok yang ia jepit di sela jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya. Jam menunjukkan pukul 20.30, masih terlalu sore jika Nadia tertidur di jam segini.
Lalu kemana Nadia ? Lima menit kemudian ponsel Cello berdering menampilkan nama 'Habibati Qolbi' di layar ponselnya. Ia menggeser ikon hijau di ponselnya dan mulutnya mulai merepet sekuat tenaga seperti petasan.
"Kamu kemana aja sih Nad? Aku tuh malam ini mau ke rumah kamu. Kamu ngirim alamat juga di chat saja, gak kamu kirimi share loc. Aku tuh bingung nyari alamat kamu. Sampai aku nyasar ke rumah orang tahu nggak?" Cello sebal kepada Nadia.
Nadia tidak menjawab sepatah kata pun. Malah kini terdengar suara isakan Nadia. Nadia menangis?
"Loh, kamu kenapa Nad? Apa yang terjadi? Apa ada masalah? Maaf jika aku menyakiti hati kamu. Aku cuma sebel sama kamu gak bermaksud bikin kamu nangis. " Cello mulai khawatir.
"Jemput aku sekarang ya Mas. Aku share loc."
Nadia memutuskan panggilan dan tak lama terdengar suara notifikasi di ponsel Cello. Cello mengintip ponselnya dan tersenyum kala melihat Nadia mengirimkan share loc rumahnya.
Cello membuang putung rokoknya dan segera menuju ke lokasi yang sudah dikirimkan Nadia.
Hampir lima belas menit Cello berpacu dengan kecepatan, akhirnya tiba juga Cello di lokasi yang ia cari - cari sedari sore tadi.
Cello memarkirkan kuda besi kesayangannya di halaman rumah Nadia yang pintu pagarnya sudah terbuka lebar.
"Rupanya Nadia sudah tidak sabar dengan kedatanganku" Cello tersenyum selebar harapan Author.
Belum juga Cello mengetuk pintu, sosok yang ia cintai berdiri membukakan pintu. Nadia dengan gamis abaya berwarna hitam dan mengenakan hijab dan cadar yang senada. Hanya menampilkan mata indahnya saja.
"Ayo masuk Mas" Nadia mempersilakan Cello masuk.
"Iya Nad. Ayah dan Ibu ada kan? " Tanya Cello.
"Ada kok" Jawab Nadia.
Saat Cello menapakkan kakinya di ruang tamu, ia terkejut karena banyak suguhan yang sudah tersedia. Rumah Nadia memang memiliki banyak kursi dan sofa, tapi keluarga ini biasa menyambut tamu dengan duduk lesehan.
Tampak seorang wanita paruh baya , seorang gadis berjilbab dan lelaki yang usianya mungkin menginjak lima puluh tahunan sedang menatapnya tanpa senyum. Yang ada hanya raut wajah khawatir dan sedih. Cello menebak, mereka adalah orang tua dan juga saudara Nadia.
Cello menyalami tangan kedua orang tua Nadia dan mengucapkan salam pada saudara calon istrinya.
"Selamat malam Om dan Tante, perkenalkan nama saya Cello Adrian. Saya teman dekat Nadia. " Ujar Cello saat mulai memperkenalkan dirinya pada calon keluarganya.
"Malam. Silakan duduk. " Tegas Ayah Nadia.
Cello duduk bersila tepat di depan ayah Nadia.
"Kamu sudah lama kenal Nadia? " tanya Pak Hasan.
"Beberapa bulan yang lalu Om. Kurang lebih setahun yang lalu saya bertemu dengan Nadia. Saya bertukar nomor dengannya, dan pada akhirnya saya berniat serius kepada putri Om untuk menjadikannya istri. "
"Setahun? " Pak Hasan mengernyitkan dahinya dan melirik ke arah Nadia. Sedangkan yang dilirik hanya menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya sama sekali.
"Iya Om. Dan maaf Om jika kedatangan saya mendadak. Saya sebenarnya punya niat baik kepada Nadia sudah dari lama Om. " Terang Cello.
"Apa kamu yakin dengan Nadia? Kamu serius dengan Nadia? "
"Saya yakin Om. Saya akan membahagiakan Nadia. Saya akan bertanggung jawab dan saya juga menerima Nadia apa adanya karena saya yakin Nadia adalah perempuan yang baik" Tegas Cello. Nada bicaranya sudah persis seperti orang yang sedang nyaleg.
"Kalau begitu, nikahi Nadia malam ini juga"
Cello tersentak. Ia harus menikahi Nadia malam ini juga.? Bukan ia tak suka tapi ia sungguh belum siap.
"Tapi saya belum menyiapkan apapun Om. Saya ingin menciptakan pernikahan yang megah untuk wanita yang menurut saya spesial. "
"Yang terpenting kalian menikah dulu. Tapi saya mau tanya sekali lagi? Apa kamu yakin dengan Nadia? Meskipun Nadia punya masa lalu yang buruk?" Tanya Pak Hasan memastikan.
"Saya yakin Om. Saya akan menerima Nadia apapun masa lalunya. Sebenarnya saya ini juga seorang duda Om, dan Nadia sudah tahu hal ini. Istri saya pergi dengan laki - laki lain dan bahkan dia hamil anak laki - laki itu Om. Saya sudah ikhlas tapi saya tidak akan memaafkannya sampai kapanpun. Jadi Om, apapun keadaan dan masa lalu Nadia, saya akan terima asalkan bukan hamil dengan laki - laki lain."
Saudari Nadia tersenyum smirk.
"Kalau begitu, saya akan persiapkan malam ini juga. Saya akan panggil Ustadz yang akan menikahkan kalian berdua. Kamu mau kasih mahar berapa? " Tanya Pak Hasan.
"Maaf Om, tadi saya kecopetan. Saya tidak memiliki uang tunai malam ini. Tapi, saya punya ini" Cello menunjukkan cincin berlian yang untungnya tidak di rampas sekalian oleh Bu Wariyem.
Cello tidak akan pernah menceritakan kesialan yang terjadi sebelum ia sampai di rumah Nadia pada siapapun dan sampai kapanpun. Biarlah akan menjadi kenangannya saja, yang ia simpan sendiri seumur hidupnya.
*
*
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadia Munira binti Muslih Hasan dengan mas kawin cincin berlian 22 karat dibayar tunai"
Dua kali Cello mengucapkan ijab kabul dan kali ini rasanya berbeda. Ia sungguh sangat berbunga - bunga.
Ia menyalami perempuan cantik di sebelahnya dan mencium keningnya. Sedangkan Nadia hanya tersipu malu dengan tindakan Cello. Mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri malam ini, dan untuk surat menyurat lainnya, akan Pak Hasan urus besok pagi.
Setelah acara usai, Ustadz serta para saksi berpamitan. Pak Hasan dan Ibu Siti kembali berkumpul dengan pengantin baru tersebut juga saudari Nadia di ruang keluarga.
"Sekarang Nadia adalah tanggung jawabmu Mas. Panggil kami Ayah dan Ibu seperti Nadia memanggil kami. Dan perkenalkan ini Umi Hanifah, adik Nadia. Setelah ini, kalian boleh tinggal disini atau di rumah kamu juga tidak apa - apa. Karena rumah ini akan kosong jika aku dan ibumu kembali ke Dubai dan Umi kembali ke kontrakannya. Kalian hiduplah yang rukun, dan kamu Nadia, Ayah harap ini kali terakhir kamu mempermalukan keluarga. " Pak Hasan memberi peringatan pada Nadia.
"Nadia kenapa Yah? " Tanya Cello.
"Jadi, kamu belum menceritakan masalahmu dengan calon suamimu, meskipun kalian sudah lama kenal dan berniat melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan? " Pak Hasan mengangkat alis kirinya dan menatap tajam pada Nadia.
Nadia hanya tertunduk lemah. Ia tak berani menatap Cello yang sedari tadi menatapnya dengan bingung.