Amecca Saraswati seorang mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi sedang melakukan kemah bersama teman-teman anggota mapala di kampusnya.
Ia bertemu dengan pria yang sangat tampan di tepi sungai ketika sedang mandi di sungai. karena pada pria tampan itu akhirnya mereka berkenalan. Mulanya Mecca tidak mengetahui siapa sebenarnya pria yang merupakan pangeran dari Siluman harimau yang sedang bertugas menjaga gunung Arjuno bernama Lakeswara Pandita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
"Mecca, aku kembali ke castil kristal sekarang ya, sebelum raja monyet menyerang Castil kita. terimakasih telah membuatku puas dengan pelayananmu tadi, aku benar-benar bersemangat saat ini. Aku berjanji akan segera kembali untuk menjemput kalian disini. jangan pernah keluar dari istana ini apapun alasannya." kata Pandita.
Mecca mengangguk dengan air mata berlinang, istri mana yang senang jika suaminya akan pergi untuk berperang. Meskipun ia yakin suaminya tak terkalahkan, tetap saja sebagai seorang istri Mecca merasakan berat untuk melepas suaminya.
"Janji jangan terluka ya Pandita!" kata Mecca serak.
"Janji sayang, tolong sering-sering susui Harjun agar ia bisa memberikan kekuatan untukku, aku akan mengalahkan raja monyet Barata dan kembali dengan cepat untuk menjemputmu dan Harjun." kata pandita sambil menangkup wajah Mecca.
Mereka berciuman bibir selama beberapa saat untuk memberikan kekuatan satu sama lain, dan mengungkapkan perasaan cinta di hati mereka masing-masing.
Tak mereka pedulikan kehadiran orang tuanya dan juga Teresa dan beberapa dayang yang berada disana.
Setelah beberapa saat mereka melepaskan pagutannya. Pandita mengusap sisa liurnya dari bibir Mecca dan kembali mengecupnya singkat.
"Aku pergi dulu ya sayang, doakan aku agar segera kembali." kata Pandita.
Mecca mengangguk dan mengusap airmatanya. Ia tersenyum dan perlahan melepaskan jemari Pandita yang tubuhnya semakin menjauh.
setelah Pandita pergi, Teresa membawa keluarganya menuju kamar mereka masing-masing.
Teresa memberikan Mecca kamar yang berada di tengah-tengah antara kamarnya dan kamar Rengganis juga Pramudya, agar jika Harjun menangis mereka bisa mendengarnya.
"Mecca, sebaiknya kamu susui Harjun, sepertinya dia haus." kata Teresa.
"Baik bi, payudara ku juga sudah penuh dengan asi jadi sedikit nyeri." Mecca mulai menyusui Harjun. Rasa nyeri dan keras dari payudaranya berangsur-angsur membaik. Mecca merasakan lega sekali saat Harjun menghisap kuat putingnya. Karena payudaranya yang mengeras dan nyeri menjadi lebih ringan dan enteng.
Mecca menatap wajah Harjun yang tenang. "Tampan sekali kamu nak, sama seperti ayahmu. Menyusu lah sampai kenyang dan puas ya, berikan ayahmu kekuatan hingga bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Dan kita bisa kembali berkumpul bertiga." kata mecca sambil mengusap pipi Harjun yang lembut berwarna putih itu.
.
Sementara sekembalinya Pandita dari istana peri, Pandita langsung memakai zirah besi nya kembali. menurut informasi yang di berikan mata-mata kerajaannya.
Barata sedang bersiap untuk menyerang Pandita yang telah membunuh putranya.
"Kerahkan semua prajurit dan budak yang kita miliki, perang kali ini sangat berbeda karena seluruh pasukan siluman monyet dan budak siluman monyet juga ikut andil." kata Pandita.
Pandya mengangguk hormat dan menuju ke tempat dimana castil ini menawan para budak manusia.
Sungguh tragis nasib manusia-manusia yang menjadi budak para siluman itu. Setelah mati pun mereka tidak bisa beristirahat dengan tenang karena sampai hari kiamat mereka akan tetap menjadi budak para siluman-siluman itu.
Mereka akan merasakan kesakitan yang teramat sangat setelah kematian mereka, karena saat ini ruh mereka yang di tawan, meskipun mereka ingin, tapi mereka tidak bisa lagi untuk mati 2 kali. Mereka akan terus tersiksa hingga hari kiamat nanti. Mereka akan terus merasa kesakitan tanpa henti. Berbeda saat mereka masih berada di dunia, jika tidak sanggup menahan sakit, mereka pasti akan tewas. Karena saat ini yang mengalami penyiksaan bukan lagi jasad mereka, melainkan ruh mereka. jasad mereka mungkin sudah membusuk atau sudah menjadi tulang belulang di dalam kuburan. Sementara ruh mereka terus mengalami penyiksaan tiada akhir.
Pandita bersiap menunggangi kuda perangnya. Ia juga sudah memeriksa kain yang di berikan oleh Pramudya.
Setelah semuanya siap, Pandita menarik pelana kudanya dan memerintahkan pasukannya yang berjumlah ribuan menyerbu pasukan siluman monyet yang belawanan arah dengan mereka.
"Serbuuuu!" Pandita berseru dan menarik pelana kudanya agar berlari menerang Barata yang berada di barisan paling depan.
Beberapa dari siluman monyet melemparkan obor untuk membakar Castil kristal, Pandita terbakar amarah karena mereka berusaha membakar kerajaan yang di bangun ayahnya.
Pandita menghunuskan pedangnya pada kuda yang di tunggangi Barata hingga kuda itu tersungkur dengan darah yang mengucur.
"Dasar bocah sialan. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, gigi di balas gigi, nyawa di balas nyawa." ujar Barata dengan wajah bengis.
"Sebelum kau membunuhku, aku yang akan terlebih dahulu membunuhmu tua Bangka!" ujar Pandita tak kalah bengis.
"Dasar bocah keparat! Cuiih. Menyesal aku pernah meminta kemerdekaan dari kalian. Tau begitu, sejak dulu aku membunuh Pramudya dengan tanganku sendiri." kata Barata.
"Langkahi dulu mayatku jika kau ingin membunuh ayahku!" kata Pandita tak terima. Ia lalu menyerang Barata terlebih dahulu dengan menyabet lengan Barata menggunakan pedangnya.
Barata lalu kembali mnyerang Pandita. Pedang mereka saling berdenting untuk melukai satu sama lain, Pandita bukan lah tandingan Barata saat ini. Karena Pandita memiliki kekuatan yang sangat tak tertandingi.
Di istana peri, Mecca terus menerus makan dan menyusui Harju, entah mengapa Harjun terus merengek dan tak ingin melepaskan bibirnya dari puting Mecca.
Sementara Pandita di kepung oleh beberapa prajurit tangguh milik siluman monyet, sansik dan beberapa prajurit tangguh milik siluman Harimau sangat sulit untuk bisa menembus pertahanan yang mengepung Pandita.
Pandita berterimakasih di dalam hatinya pada anak dan istrinya karena telah memberinya kekuatan yang tak tertandingi.
Jika bukan karena mereka, mungkin saat ini dirinya sudah tewas di penggal oleh Barata.
"Dasar bocah keparat. Aku akan menculik putra dan istrimu dan memberikan kepala mereka padamu!" kata Barata karena kesal, Pandita sama sekali tidak bisa di kalahkan, bahkan beberapa anak buahnya sudah tewas di penggal oleh Pandita.
Mereka semua sangat mengenal Pandita, Pandita tidak segan memenggal kepala musuhnya. Pandita selalu mengincar kepala musuhnya saat berperang. Jika siluman lainnya akan membunuh dengan cara apapun, tidak dengan Pandita. Ia akan memenggal kepala musuh-musuhnya. Karena ia akan merasa puas jika melihat kepala musuh nya menggelinding di bawah kakinya.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan melindungi mereka berdua dari siluman sepertimu." kata Pandita sambil terus mengayunkan pedangnya.
"Ha ha ha, tidak salah ucapanmu itu! bukan kau yang melindungi mereka Pandita! Tapi mereka yang melindungi mu! Jika bukan kekuatan mereka yang tertransfer padamu, aku yakin jika aku pasti sudah membunuhmu sejak tadi." kata Barata.
Pandita merenungi perkataan Barata barusan Hingga ia lengah, saat Pandita lengah, Barata langsung menyerang Pandita dan Pandita jatuh tersungkur diatas tanah. Barata menindih tubuh Pandita dan menarik kain hitam yang melilit pinggang Pandita.
Pandita berusaha memberontak namun tangannya di cekal oleh beberapa prajurit monyet.
"Aku sudah tau, sejak tadi tubuh mu tidak terluka saat terkena sabetan pedang anak buahku. Rupanya ayahmu memberikan ini padamu. Kau lihat ini nak, lihat kain warisan ayahmu ini." Barata mengangkat kain hitam itu dan membakarnya. Pandita menangis menatap kain milik ayah nya di bakar.
"Barata bajingan! Aku akan membunuhmu!" teriak Pandita dan berteriak sekencang-kencangnya. Hingga angin berhembus dan menerbangkan semuanya. Pandita berubah menjadi seekor harimau yang sangat besar dan gagah dan menabrak tubuh Barata.
Barata melukai kaki Pandita karena mengoyak tubuhnya. Namun Pandita sama sekali tidak perduli, meskipun merasakan sakit, namun ia tetap mencabik tubuh Barata hingga Barata bisa tewas karena di terkam.
Beberapa prajurit siluman monyet melemparkan anak panah pada tubuh pandita dan juga melukainya menggunakan pedang.
Saat Barata tewas, barulah prajurit monyet di kepung oleh prajurit siluman harimau. Pandita kembali berubah menjadi manusia. Bagian punggung tubuhnya sudah banyak sekali darah yang mengalir karena terluka parah.
Sansik dan Pandya membawa Pandita ke castil mereka yang juga hancur karena siluman monyet itu membakar kastil mereka. Hanya tersisa bagian belakang castil yang masih aman.
Sansik dan Pandya meminta tabib untuk mengobati luka Pada Pandita. Sementara itu, Adipala menuju istana peri untuk melaporkan kondisi Pandita pada Pramudya dan Rengganis.
Harjun terus menangis sejak semalam dan tidak tidur sama sekali karena bisa merasakan ayahnya sedang sekarat saat ini. Mecca dan yang lainnya sampai lelah membujuk Harjun agar tidak menangis.
"Sayang, please. Berhenti ya menangisnya. Percaya lah, ayahmu pasti akan baik-baik saja!" kata Mecca sambil terus mengayun Harjun.