Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 - HASRAT HIDUP MACAN PUTIH
Malam itu, kediaman Panglima di jantung Provinsi Kedaton begitu sunyi. Cahaya lentera tembus dari balik tirai tipis, jatuh di atas meja kayu yang dipenuhi gulungan peta dan laporan perbatasan, sementara angin malam berdesir pelan di antara tiang-tiang penyangga yang tinggi menjulang.
Rangga duduk di balik meja itu, menekuri satu gulungan peta dengan alis nyaris tak bergerak. Sejak sore ia kembali dari lapangan latihan, dan belum sepatah kata pun keluar dari mulutnya — seperti biasa, ia lebih banyak diam daripada berbicara, bahkan di hadapan ajudan yang setia menunggu di samping pintu. Di pangkal meja tersandar sebilah pedang panjang, sementara dari balik jendela, lampu-lampu ibu kota berkelip seperti lautan kunang-kunang di malam hari.
Dari dalam Gelang Lentera di pergelangan tangannya, terdengar gumaman yang tak sabar. Guruh, roh pendamping yang selama ini menyimpan segala pengetahuan militer untuknya, mondar-mandir di dalam cermin kecilnya sambil merapal kalimat yang sama berulang-ulang seperti anak kecil yang tidak sabar menunggu hadiah.
"Cakra, kau bisa atau tidak?" dengkurnya. "Urusan sekecil ini seharusnya tidak menyulitkan Arsip Agung sepertimu. Kenapa belum ada hasilnya juga? Catatan langitmu itu sebaiknya segera diganti, biar aku saja yang memegangnya!"
Sesaat tidak ada jawaban. Lalu suara Cakra yang kering dan berwibawa menyambar dari kejauhan, "Kau tahu siapa yang selama ini kau paksa untuk kuperiksa?"
"Bicara yang masuk akal!" sahut Guruh tak mau kalah. "Kalau aku sudah tahu, kenapa aku perlu repot-repot memintamu mencarikannya? Yang penting cepat selesaikan urusan kecil ini!"
Cakra — roh penjaga catatan langit yang jarang sekali memperlihatkan emosi — kali ini tampak menahan kesal. "Baiklah. Namanya Kirana Paramitha. Dan nama pasangan yang tercatat di dalam ikrar sumpahnya adalah Rangga Adinata. Panglimamu sendiri. Kau sengaja mempermainkan aku, bukan?"
Belum sempat Guruh menjawab, sambungan itu telah diputus oleh Cakra dengan kasar, meninggalkan dengungan kosong di cermin kecil miliknya.
Mata gema Guruh perlahan membelalak, membesar sampai-sampai nyaris memenuhi seluruh cermin tempat ia berdiam.
"Sialan!" pekiknya tanpa sadar.
Karena terlalu kaget, ia lupa mematikan saluran yang menghubungkannya dengan tuan rumah. Maka seluruh pekikan itu terdengar jelas oleh Rangga, yang sedang menekuri peta di balik meja.
Rangga menatapnya tanpa ekspresi. Ia mengulurkan tangan ke arah Gelang Lentera, berniat mematikan paksa roh pendamping yang berisik itu sebelum ia sempat mengoceh lebih panjang.
Dan pada detik itulah hasrat hidup Guruh meledak sepenuhnya. "Nyonya, Tuan! Itu Nyonya!"
Tangan Rangga berhenti di udara.
Guruh segera menghela napas — sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh roh — sambil bersyukur masih sempat berbicara. Untunglah ia tidak perlu mengatur napas, sehingga seluruh kalimat itu sanggup diucapkannya dalam satu tarikan tanpa tersendat.
"Tuan, pendongeng suara yang tadi Tuan tanyakan itu bernama Kinanti. Dan yang bersuara semerdu itu adalah Nyonya Kirana sendiri! Ternyata Nyonya pandai bernyanyi, Tuan. Rezeki Tuan beruntung sekali!" Semua kata itu meluncur deras seperti air bah.
Untuk sesaat Rangga hanya diam. Kemudian sudut matanya bergerak halus, dan seulas lengkung kecil muncul di ujung bibirnya — pemandangan yang sangat langka bagi siapa pun yang mengenalnya.
Ia bangkit dari kursinya, berjalan ke meja kecil di sudut ruangan, dan menuang segelas anggur untuk dirinya. Setelah menyesapnya sebentar, ia menoleh ke arah Gelang Lentera. "Masih siaran?"
"Masih, Tuan! Kidung yang dinanti-nanti itu sebentar lagi dimulai!" jawab Guruh sigap.
"Arahkan ke sini."
"Siap, Panglima!"
Rangga menyesap anggurnya lagi. Di dalam dadanya tumbuh sesuatu yang belum sempat ia kenali — harapan yang datang senyap, muncul begitu saja tanpa pernah ia undang sepanjang hidupnya. Ada kehangatan ganjil yang merayap di dada, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun menanggung beban nama Panglima Kabut.
Ketika cermin gema berputar, yang pertama terlihat bukanlah wajah. Sepasang tangan muncul di hadapannya — putih, ramping, dan sangat indah — tengah memetik senar kecapi dengan lembut, seolah jari-jari itu sedang menari di atas kayu tua. Dari balik tangan itu meluncur nada-nada yang membuai, mengalir seperti sungai kecil di malam yang sunyi.
Kirana tidak tahu bahwa malam itu, di antara puluhan juta pendengar, ada satu pendengar istimewa yang sedang memperhatikannya dengan saksama: suaminya sendiri, orang yang selama ini ingin ia sembunyikan dari dunia.
Ia baru saja menuntaskan bait pembuka kidungnya ketika seorang pendengar bertanya, "Kinanti, kidung yang tadi kau janjikan itu, sebenarnya untuk siapa?"
Kirana tersenyum lembut. "Untuk keluargaku."
Rangga di seberang cermin tahu betul bahwa Kirana selalu menyamarkan suaranya ketika tampil sebagai Kinanti. Namun begitu mendengar kalimat "untuk keluargaku" itu, ujung bibirnya kembali terangkat lebih tinggi dari sebelumnya.
"Berapa hadiah terbesar yang bisa dikirim untuk sebuah siaran?" tanyanya pelan, seakan sedang membicarakan sesuatu yang biasa saja.
Guruh menjawab sigap, "Perahu Awan, Tuan. Satu perahu senilai seribu Keping Surya."
"Kirim seratus."
"Siap!"
Guruh beranjak melaksanakannya dengan girang, hampir sambil bersiul-siul. Selama ini tuannya dingin bagai batu — bahkan roh pendamping pun terasa lebih hangat daripadanya. Kini tuannya mulai tahu cara menyenangkan Nyonya. Sungguh kemajuan yang mengagumkan, pikirnya dalam hati.
Di pihak Kirana, menghadapi hadiah Perahu Awan sudah menjadi pemandangan yang biasa. Ia mengucapkan terima kasih dengan tenang kepada setiap pendengar yang berbaik hati mengirimkan hadiah, tanpa sedikit pun nada terkejut.
Namun pada saat itulah nama "Tuan Rembulan" tiba-tiba muncul di antara jajaran pendengar, dan seratus Perahu Awan meluncur masuk sekaligus, membanjiri cermin gema di hadapannya.
Seratus ribu Keping Surya dalam sekejap mata. Sungguh pendatang baru yang kaya raya, begitu pikir banyak orang yang sedang menonton.
"Terima kasih kepada Tuan Rembulan atas seratus Perahu Awan!" ucap Kinanti cepat, dengan nada yang tetap sopan.
Para pendengar lain ikut berdecak kagum. "Uang sebanyak itu bisa memesan beribu-ribu kidung, kan?"
"Kinanti, persembahkan saja kidung itu untuk Tuan Rembulan!"
Kinanti tersenyum sopan. "Kidung boleh kurekam dan kukirimkan kepada Tuan Rembulan. Tetapi harus kuingatkan, rekaman tidak akan pernah sehangat siaran langsung. Jika Tuan Rembulan berkenan meninggalkan alamat, akan kukirimkan cakram gema berisi kidung yang sama." Sebuah batu gema kecil itu kelak akan menghantarkan suaranya kepada sang penderma, meskipun menempuh perjalanan yang panjang melewati provinsi.
Tak lama kemudian jawaban itu datang, singkat dan berwibawa. "Baik. Alamat sudah kukirimkan kepadamu."
Sesaat para pendengar kebingungan, tidak tahu harus iri kepada penyanyi yang menerima seratus Perahu Awan dalam sekali kirim, atau kepada sang penderma yang akan menerima kiriman dari tangan Kinanti.
Banyak yang merengek beramai-ramai. "Kinanti, bukalah panggung! Aku pasti datang mendengarkanmu!" "Aku juga! Aku juga! Asal ada satu kesempatan, rela aku mengantre sepanjang hari!"