Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak pernah punya keinginan sendiri
Ananta masih menggenggam erat ponselnya. Dia masih mematung, padahal sudah beberapa detik berlalu mamanya-Nyonya Prameswari memutuskan lagi komunukasinya secara sepihak.
Mata Ananta masih mengerjap tidak percaya. Belum lama mamanya menyalahkannya atas kegagalannya membuat Arsen tidak memilihnya. Tapi sekarang beliau mengatakan kalo Arsen sudah memilihnya.
Dalam beberapa detik hidupnya diterombang ambingkan.
Awalnya dia lega karena gagal memikat Arsen walaupun terpaksa membuat mamanya kecewa. Karena posisi papanya sudah dia amankan dengan keberhasilannya sebagai guru TK dalam liputan hari ini. Jadi Ananta tidak terlalu merasa bersalah.
Tapi belum lama Ananta menghirup kelegaannya, mamanya menelponnya lagi dan mengatakan Arsen sudah memilihnya disertai puja puji setinggi langit untuknya.
Ananta shock. Otaknya belum siap menerimanya. Tubuhnya agak limbung. Untung ada pilar di dekatnya.
Dia tidak diberi waktu seperti laki laki itu untuk berpikir. Beberapa jam lagi waktu undangan makan malam akan tiba.
Dia yakin Arsen memilihnya karena terpaksa. Obrolan mereka kemarin sudah menjelaskannya. Tapi mengapa harus dia? Bukannya banyak kandidat yang lain? Mereka lebih cantik, lebih kaya, lebih terkenal. Kenapa harus dia?
Pertanyaan pertanyaan itu sangat menohok hatinya.
Ananta mengambil nafas sebanyak yang dia bisa dan menghembuskannya perlahan. Dia mencari kontak laki laki itu.
Kenapa dia tidak mengabarinya kalo memang sudah memilihnya? Batinnya kesal sambil menatap foto profil tanpa wajah milik kontak laki laki itu.
Laki laki itu tidak menyimpan namanya? Batinnya makin kesal.
Apakah mereka tidak perlu bicara lagi? Omelnya lagi dalam hati.
Apakah sudah benar benar dia putuskan untuk menikah?
Apakah laki laki itu tidak akan menyesal?
Ananta menghembuskan nafasnya agak kuat. Dia merasa sangsi.
Lagi pula yang menyesali keputusan ini adalah dirinya sendiri. Ananta tidak tau, apakah setelah ini kewajibannya sebagai anak sudah selesai?
Ponselnya bergetar lagi. Ananta ingin mengacuhkannya. Sudah dia tebak siapa yang menelponnya.
Tante Dita.
Pasti mamanya sudah menghubungj beliau.
Ananta menghembuskan nafas lebih panjang dan dalam.
"Ananta sayang, tante hampir jantungan dapat kabar dari mama kamu. Selamat, ya, sayang. Sukses acara sekolahnya, juga sukses jadi menantu Latif Jafar. Mama kamu sampai teriak teriak tadi ngasih taunya," berondong Tante Dita tanpa henti.
Beliau mengatakan mamanya tadi berteriak teriak, padahal Tante Dita juga melakukan hal yang sama. Mereka memang sahabat sejati, decihnya dalam hati.
"Terimakasih, tante."
"Tapi syukurlah.kamu berhasil di pilih anaknya Latif, sayang. Tante sudah pusing menghibur mamamu yang selalu bersedih dan curhat takut kamu ngga kepilih," lanjutnya lagi, kemudian tertawa.
"Ya, tante." Ananta tersenyum getir.
"Sayang, kamu hebat. Tante salut dengan kamu." Kali ini pujian Tante Dita terdengar tulus.
"Biasa aja, tante."
"Ini, nih, yang tante suka dari kamu. Selalu merendah. Seperti ilmu padi, deh, kamu, sayang." Tante Dita tertawa senang tanpa peka dengan perasaan Ananta yang sesungguhnya.
Ananta berusaha menormalkan suata tawanya, agar Tante Dita tidak menangkap kegetiran di dalamnya.
"Oh ya, sayang, mamamu meminta tante yang uruskan penampilan kamu. Kelihatannya dia percaya dengan sentuhan magic tante." Kembali Tante Dita tertawa.
"Oooh...."
Setelah tawa Tante Dita mereda, dia berkata lagi.
"Jam berapa kamu akan datang? Waktu kita sepertinya sedikit sekali, karena mamamu meminta agar kamu dilulur dulu."
Ananta melirik jam tangannya.
"Acaranya baru selesai dua jam-an lagi, tante."
"Waduh, ngga bakal cukup waktunya, Ananta. Sebentar, ya, tante akan hubungi mama kamu dulu, biar dia aja yang minta ijin sama Juli."
Sudah Ananta tebak. Dan pasti Tante Juli akan mengabulkannya dengan mudah.
"Ya, tante. Ananta tunggu kabar selanjutnya."
"Oke, sayang. Tante do'a in kamu selalu sukses."
"Makasih, Tante."
Ananta menyimpan ponselnya dengan lunglai. Dia tau, sebentar lagi Tante Juli pasti akan menelponnya. Mamanya memang memiliki teman teman baik yang selalu mendukungnya.
Ananta memperhatikan panggung yang jaraknya beberapa meter dari tempatnya berada. Salah satu anak didiknya sedang menari balet.
Huffhh .... Ananta jadi merindukan masa kecilnya. Dulu dia sempat les menari balet, tapi mamanya hanya menginginkan dia melakukan itu untuk memperluas koneksinya. Jadilah kegiatan itu tidak dilakukan dalam waktu lama. Karena kemudian ketika mama dan papanya mendapat relasi yang baru, yang mana bosnya mempunyai anak yang dileskan piano, Ananta juga harus dikutsertakan. Jadi kes baletnya ditinggalkan. Padahal beberapa bulan lagi akan diadakan pertunjukan balet dan Ananta juga ikut dipilih. Tapi demi ambisi orang tuanya, Ananta membuang kesempatan itu begitu saja.
Teman temannya yang satu angkatan dengannya, bahkan masih sering menari dan melakukan pertunjukan di negara negara Asia dan Eropa.
Ananta kadang iri dengan pencapaian teman temannya yang bisa melakukan apa aja.
Helaan nafasnya terdengar pelan.
Les piano cukup lama dia tekuni karena hubungan bisnis orang tuanya yang terjadi dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya berhenti setelah proyek mereka selesai.
Setelahnya Ananta berkonsentrasi dengan sekolah dan dileskan matematika dan bahasa inggris.
Sampai setua ini, bahkan untuk memilih calon suami juga, Ananta tidak pernah punya keinginannya sendiri.
Ananta bertepuk tangan ketika pertunjukan tarian balet itu usai. Senyumnya terukir manis melihat wajah bahagia anak didiknya. Ananta yakin, anak didiknya memang menyukai balet dan tidak merasa dipaksa oleh orang tuanya.
"Ananta."
Ananta agak kaget ketika mendengar suara sapaan Tante Juli.
"Bagus, ya, pertunjukannya," puji Tante Juli, mengikuti arah tatapan Ananta.
"Iya, tante."
Hening.
"Tadi mamamu menelpon minta tante mengijinkan kamu pulang untuk mempersiapkan diri bertemu Arsen nanti malam." Wajah Tante Juli sangat sumringah.
Ananta masih mengekalkan senyumnya.
"Tante merasa bahagia karena kamu yang dipilih Arsen," ucapnya lagi.
Ananta ngga mengubah ekspresinya. Pura pura bahagia.
Ngenas sekali nasibnya, batinnya.
"Ayo, pulang sekarang aja. Supir tante yang akan mengantarkan kamu ke tempat Tante Dita." Tante Juli meraih tangannya.
"Ngga apa apa ditinggal, nih, tante?" Ananta kadang merasa sungkan dengan rekan rekan pengajar yang lain. Dia ngga mau diistimewakan.
"Ngga apa, Ananta. Mereka semua pasti bisa memakluminya," senyum Tante Juli menenangkan.
Ananta menatap ke arah panggung lagi. Padahal masih ada dua siswanya lagi yang akan tampil.
Maafin, Bu Ananta, ya, batinnya ketika terpaksa mengikuti langkah Tante Juli untuk meninggalkan acara yang belum selesai ini.
"Masih ada hari esok, Nanta. Besok penutupannya," hibur Tante Juli.yang paham dengan kegamangan hati Ananta
"Iya, tante." Apalagi yang bisa dia lakukan untuk menolaknya. Dia ngga mungkin mendebat Tante Juli yang pastinya akan menghasilkan kekalahan di pihaknya juga.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?