Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pilihan di tengah puing
Debu kayu dan asap ozon membumbung di dalam kedai yang beberapa menit lalu begitu hangat. Dua prajurit Dewan terkapar di dekat konter kopi—hasil dari gerakan cepat dan mematikan Maya yang memanfaatkan ruang sempit. Namun, Komandan Vane masih berdiri kokoh. Senjata pemicu gelombang kejut di tangannya terarah lurus ke dada Maya yang terdesak di sudut meja kayu.
"Kau selalu menjadi gangguan yang merepotkan, Maya," kata Vane dingin, jarinya mulai menekan pelatuk. "Idealismu hanya akan membawa kota ini kembali ke kemiskinan dan kekacauan."
*Brak!*
Sebuah pipa besi berat menghantam pergelangan tangan Vane dari samping dengan presisi yang mengejutkan. Senjata itu terlempar, mendarat di lantai kayu dan meledak secara tak sengaja, menghancurkan sisa-sisa cangkir kopi di atas meja.
Vane meringis kesakitan, terhuyung ke belakang. Di depannya, Rian berdiri dengan posisi siap tempur—sebuah refleks tubuh yang bahkan tidak disadari oleh pikirannya sendiri. Matanya yang biasa memancarkan kehangatan kini memancarkan fokus yang tajam dan dingin.
"Rian...?" gumam Maya terperanjat.
"Ambil Evan dan pergi ke pintu belakang, Maya," ujar Rian tanpa mengalihkan pandangannya dari Vane. Suaranya tenang, namun memiliki nada otoritas yang asing.
Vane menyapu darah dari bibirnya yang robek lalu tertawa sinis. "Luar biasa. Dokter terbaik kita... pencipta sistem pencabut jiwa paling mematikan, kini berpura-pura menjadi pahlawan dengan pipa besi. Kau pikir amnesia itu membuatmu suci, Dr. Rian?"
Rian gemetar mendengar sebutan itu. Nama "Dr. Rian" terasa seperti beban tonan besi yang tiba-tiba menimpa dadanya. Namun, ia tidak mundur.
"Aku tidak tahu siapa 'Dr. Rian' yang kau maksud," sahut Rian dengan suara mantap. "Tapi aku tahu siapa diriku *sekarang*. Dan aku tidak akan membiarkanmu menyakiti siapapun di kota ini lagi."
Dengan gerak cepat, Vane menarik pisau taktis dari pinggangnya dan menerjang maju. Rian menangkis sabetan pertama menggunakan pipa besi, menimbulkan denting logam yang memekakkan telinga. Pertarungan berlangsung sengit di antara mereka . Meskipun Vane memiliki pelatihan militer, pergerakan Rian sangat efisien—seolah tubuhnya telah terlatih puluhan tahun untuk membaca momentum serangan lawan.
Dengan satu putaran cepat, Rian menghantamkan pipa besi ke lutut Vane, membuat komandan itu berlutut. Rian menyusulkan pukulan keras ke rahang Vane, menghempaskan pria itu ke lantai hingga tak sadarkan diri.
Napas Rian terengah-engah. Ia menatap tangannya yang memegang pipa besi—tangan yang sama yang pernah merancang kode *Oblivion Prime*, kini bernoda darah dan debu.
Maya mendekatinya perlahan, meletakkan tangannya di bahu Rian. "Rian... kau tidak apa-apa?"
Rian membalikkan badan, menatap Maya dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku mengingat cara bertarung ini, Maya. Aku ingat koordinat fasilitas bawah tanah itu. Pikiranku mungkin lupa, tapi tubuh dan pengetahuanku... mereka masih menyimpan monster itu."
"Kau bukan monster, Rian," tegas Maya, menatapnya lurus tanpa ragu. "Masa lalu adalah apa yang kau buat dulu. Tapi tindakanmu hari ini—pilihanmu detik ini—itulah siapa dirimu yang sebenarnya."
Dari luar kedai, suara sirene balasan terdengar kian mendekat. Evan muncul dari balik dapur dengan wajah pucat. "Pasukan cadangan mereka mendekati Distrik 4. Kita harus pergi sekarang!"
Rian merogoh sakunya, menggenggam inti data *Oblivion Prime* yang kini berpendar biru di dalam telapak tangannya. Ia melihat sekeliling kedainya yang hancur—tempat yang sempat memberinya kedamaian singkat, fajar yang sempat ia nikmati.
"Kita tidak hanya lari," kata Rian pelan namun penuh tekad, menatap Maya dan Evan. "Kita turun ke Distrik 9. Kita selesaikan apa yang seharusnya kubakar habis bertahun-tahun lalu."
Maya tersenyum tipis, mengangguk mantap. Ia menarik senjatanya dari lantai dan berdiri di samping Rian. Kedai memori mereka mungkin telah hancur, namun pertarungan demi masa depan Neo-Veridia baru saja memasuki babak terakhirnya.