Rezza pria tampan dan mempunyai kehidupan cukup mapan sejak lahir dengan terpaksa harus menerima perjodohan dari ibunya dengan seorang wanita yang bernama Artiya sepupu dari kekasihnya sendiri,yang menurut Rezza wanita itu sama sekali tidak menarik dilihat dari segi manapun juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECELAKAAN
Rezzapun membawa gaun Tiya untuk duduk diatas ranjangnya.
Lama Rezza memeluk gaun itu,ia menciumi gaun itu mencari sisa wangi dari tubuh istrinya yang masih tertinggal.
Setelah beberapa lama, Rezzapun melihat ada sebuah amplop diatas nakas samping tempat tidurnya,diambilnya amplop itu dimana disitu tertulis ,
"teruntuk suamiku tercinta"
Mata Rezza kembali berlinangan air mata,lalu Rezzapun membuka amplop surat tersebut dan membacanya,
"assalamualaikum mas Rezza, suamiku tercinta"
"sebelumnya aku ingin meminta maaf,jika aku pergi hanya meninggalkan sepucuk surat ini untukkmu suamiku.
Aku memutuskan pergi,sebab aku sudah tau tentang pernikahanmu dengan mbak Amel mas,rasanya sungguh sakit sekali.
Apalagi mengetahui ternyata kalian sebentar lagi akan mendapatkan momongan,hatiku sangat hancur mas.
Dia sudah menceritakan semua tentang masa lalu kalian, yang ternyata sudah menjalin kasih sejak setahun lebih hingga mas menikahi aku.
Walopun hatiku ini telah hancur lebur atas penghianatanmu padaku mas,aku juga turut merasa senang dengan kehamilan mbak Amel, dimana harapan ibu untuk segera menimang cucu darimu akan segera terwujut.
Yang aku sesalkan hanyalah kenapa kalian tak berterus terang kepadaku sedari awal mas? jika kalian telah berpacaran sejak lama dan saling mencintai.
Sampai kita menikahpun kalian masih menjalin kasih secara diam diam hingga mbak Amel hamilkan mas?.
Kalo saja dari awal kalian berterus terang kepadaku,tentu aku tak akan menerima perjodohan kita mas.
Pasti aku akan mendukung hubungan kalian hingga kepelaminan.
Tapi apalah arti sebuah penyesalan bagiku mas?,nasi telah menjadi bubur,
semua sudah terjadi.
Sekarang aku harus hadapi cobaan ini,aku tak tau sampai kapan aku akan pergi mas,
aku mohon beri waktu untukku menata hatiku kembali,
Aku ikhlaskan semua mas,
aku ikhlaskan kamu bersama mbak Amel,sebab dialah yang lebih berhak berada disisimu,apalagi sekarang dia memerlukanmu mendampinginya disaat dia sedang mengandung anakmu mas.
Meskkipun sangat berat bagiku,meskipun sangat menyakitkan bagiku,meskipun sangat sulit bagiku,
namun demi kebahagiaanmu dan mbak Amel, juga demi kebaikan calon bayimu kelak,aku rela pergi menjauh darimu mas.
Aku ucapkan ribuan terimakasih padamu atas cintamu yang semu padaku mas,walopun kenyataanya tak seperti yang kuharapkan,
tapi aku tetap bersyukur mas,sebab kamu sudah memberiku kebahagiaan dienam bulan pernikahan kita,walopun diawal banyak kekuranganku dimatamu,walopun kamu pernah menolakku,aku selalu mendo'akanmu agar Allah melembutkan hatimu untukku.
Meskipun masa masa indah kemarin terasa sangat singkat seperti mimpi bagiku.
Bersamamu,pernah berada ditengah tengah kehidupanmu adalah waktu yang paling indah dan berharga bagiku mas.
Taukah kamu mas? aku menaruh hati padamu sejak aku masih SMP dulu, itu adalah rahasiaku dan sekarang kuutarakan padamu.
sedari dulu,diam diam aku mengagumimu mas,tapi aku sadar sejak saat itu kita tak mungkin bersama.
Aku sadar diri, siapalah aku ini dimatamu mas.
Aku sadar diri,orang sepertimu tak mungkin membalas perasaanku.
dan sejak saat itu aku sudah merasa puas,dan merasa sangat senang bisa melihatmu dari jauh, apalagi bisa bertegur sapa denganmu mas.
Hingga tibalah saat kita dijodohkan, ternyata kamu mau menerimanya,aku sangat sangat bahagia saat itu mas,aku sama sekali tak menyangka seorang Arezza Sastradinata mau dijodohkan dengan wanita sepertiku.
Saat aku tau kamu menerima perjodohan itu, aku pikir kamupun mempunyai rasa padaku mas,walopun hanya seujung kuku,itu sudah cukup bagiku mas.
Tapi perasaanku yang telah melambung tinggi ternyata harus terhempaskan, disaat malam pertama kita,kamu dengan jujur mengakui bahwa hatimu sudah ada yang memiliki,dan sekarang aku sudah tau siapa wanita itu,dia adalah sodara sepupuku sendiri yang telah resmi menjadi istri keduamu mas.
Aku hanya bisa mengucapkan selamat untukmu dan mbak Amel wàlopun sedikit terlambat,semoga kalian berbahagia ya mas,menjadi satu keluarga yang sebenarnya,tak perlu lagi kalian bersembunyi dibelakangku.
aku harap kamu tak perlu mencariku ataupun merasa bersalah padaku mas,yang aku mau hanyalah melihatmu bahagia,itu sudah cukup bagiku.
Do'aku akan selalu bersamamu mas Rezza, suamiku tercinta.
aku pamit dulu ya mas.
Dariku Tiya."
Rezza meraung setelah membaca surat dari istrinya,lalu iapun keluar dari kamarnya dengan berderai air matanya.
Rezza mengambil kunci mobilnya lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah pak Sudiman,dia tak menghiraukan waktu yang sudah menginjak pukul sebelas malam,yang ada dipikirkan Rezza adalah menemukan istrinya dimanapun dia berada,Rezza ingin sekali memeluknya,dan menyatakan rasa cintanya yang mendalam pada Tiya,Rezza ingin meluruskan kesahapahaman yang terjadi antara dia dan istrinya.
Rasa sesal Rezza,kepedihan hati Rezza,karinduannya kepada istrinya bertambah setelah ia membaca surat dari istri tercintanya.
Bayangan Tiya selalu berada didalam benaknya,sepanjang perjalanan mata Rezza dikaburkan oleh derai air mata yang tak bisa berhenti mengalir,pikirannya kacau balau.
Rezza tak bisa berkonsentrasi dalam menyetir,sebelum sampai ditujuannya mobil Rezzapun berdau keras dengan pembatas jalan,saat ia berada dipersimpangan jalan dan ingin berbelok kearah daerah pak Sudiman.
Mobil Rezza terpelanting kesamping,kepala Rezza terbentur keras kejendela kaca lalu dadanya terhantuk kebagian setering mobil,darah mengucur deras dari pelipis dan kening Rezza,mata Rezza terasa berkunang kunang,kepalanyapun terasa berat.
Pengelihatan Rezza semakin melemah dan berat, sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya, dibibirnya hanya terucap kata,
"Tiya...."
"sayang..."
"maafkan....aku...",
"aku sangat merindukanmu...".
Di kota J dibagian kampung, Tiya yang sudah terlelap dalam tidurnya terlonjak kaget,lalu ia menjerit memanggil nama suaminya "mas Rezza" keringat dingin mengucur diseluruh tubuhnya.
Tiya baru sadar, ternyata dia baru saja mengalami mimpi buruk,dimana suaminya telah mengalami kecelakaan yang cukup parah,Tiyapun mengucap istigfar berkali kali kemudian mendo'akan untuk keselamatan suaminya.
Waktu sudah menunjukkan jam 12malam lebih 35menit,telpon rumah bu Sanusipun berdering dengan tergopoh gopoh mbok Sugipun mengangkatnya,
"halo...selamat malam"
"iya selamat malam pak" jawab mbok Sugi penasaran,
"apa benar ini keluarga dari bapak Arezza Sastradinata?"
"iya betul pak!", "ada apa ya pak?"
"begini bu,setengah jam yang lalu bapak Arezza baru saja mengalami kecelakaan tunggal di persimpangan menuju kota K"
"sekarang beliau sudah dibawa kerumah sakit H", "kami harap pihak keluarga segera datang kesana ya bu"
mendengar kabar kecelakaan Rezza mbok Sugipun langsung mengetuk pintu kamar bu Sanusi dan memberitahkan kabar tersebut.
Bagai disambar petir bu Sanusi mendengar Rezza yang mengalami kecelakaan,dadanyapun terasa sesak kembal.
Mbok Sugi menyadari keadaan bu Sanusi yang terlihat kesulitan bernafas,lalu mbok Sugipun dengan cepat mengambil obat bu Sanusi yang diletakkan diatas nakas lalu segera meminumkannya.
Pak Jono yang sudah dihubungi mbok Sugipun mengantar dan menemani bu Sanusi ke rumah sakit H untuk mengetahui keadaan Rezza.
Sesampainya dirumah sakit dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh pak Jono dan melihat keadaan Rezza yang terluka parah dikepala dan sekujur tubuhnya,hati bu Sanusipun merasa hancur.
Penyesalan yang telah mediamkan putranya tersebut merasuki hati bu Sanusi,kini rasa amarah yang ada didadanya menghilang sudah setelah melihat keadaan anak laki lakinya yang memprihatinkan itu,namu untuk rasa kecewa atas perbuatan putranya bu Sanusi masih belum bisa menghilangkannya.
Bu Sanusi mengesampingkan semua rasa egonya untuk tetap fokus pada perawatan Rezza.
Dokter yang menangani Rezzapun memanggil bu Sanusi,kemudian menjelaskan keadaan Rezza.
Rezza saat ini mengalami gagarotak sehingga ada pembekuan darah diotak sebelah kanan dan harus segera dioperasi,begitupun juga dibagian dada Rezza, tulang dadanya ada yang patah, terdapat gumpalan darah disana.
Dokter menjelaskan agar Rezza segera dioperasi untuk mengeluarkan gumpalan darah diotak maupun dada Rezza sebab jika tidak segera ditangani akan berakibat fatal,tanpa pikir panjang bu Sanusi langsung menyetujuinya.
Malam itu juga Rezza dibawa keruang operasi,saat menunggui putranya bu Sanusipun menghubungi Roni,beliau meminta Roni datang kerumah sakit untuk menemaninya,sebab Ana masih dalam penerbangan kembali keindonesia,dan Ajipun masih dalam perjalanan dari Bandung kebandara sukarno hata,dia mendapat tiket penerbangan dipagi hari.
Tak perlu waktu yang lama Roni sudah berada dirumah sakit H,kemudian dia mencari keberadaan bu Sanusi.
Setelah mendapati bu Sanusi yang sedang duduk diruang tunggu,Ronipun menghampiri beliau lalu memeluknya dengan erat.
Tubuh bu Sanusipun bergetar, air matanya tak berhenti mengalir,kemudian bu Sanusi menceritakan dari awal saat dirinya mencari Rezza dikota M dan mendapati kenyataan ternyata Rezza telah menikahi Amel,dan sebab terlalu kecewanya kepada Rezza bu Sanusipun harus opnam selama tiga hari.Hingga tentang kepergian Tiya saat ini yang sudah mengetahui pernikahan Rezza dan Amel.
Ronipun mencoba menenangkan bu Sanusi,menghiburnya dan menguatkan hati bu Sanusi,setelah bu Sanusi merasa tenang dan lega,Ronipun mulai menceritakan hal yang sebenarnya kenapa Rezza menikahi Amel kepada bu Sanusi.
Setelah mendengar penjelasan dari Roni,bu Sanusi baru menyadari kesalah pahaman yang terjadi antara dia dan putra bungsunya itu,
beliau baru tau Rezza terpaksa harus menikahi Amel sebab Amel saat itu sedang depresi dan ingin bunuh diri,alasan Rezza yang laen adalah sebab merasa tak tega dengan keadaan pak Sudiman kala itu.
Bu Sanusi merasa menyesal sebab telah mendiamkan anak bungsunya tersebut tanpa meminta penjelasan darinya,kemudian bu Sanusipun meminta bantuan Roni untuk mencari dimana keberadaan Tiya sekarang.
Ronipun langsung mengiyakan permintaan dari ibu sahabat baiknya itu untuk mencari dimana Tiya sekarang.
Hampir sepuluh jam Rezza berada diruang operasi,dan operasi Rezza dinyatakan berhasil ,kini Rezza sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Rezza belum sadarkan diri sewaktu dipindahkan,dia masih tergolek lemah, tubuh Rezza dipenuhi dengan selang selang yang membuat bu Sanusi tak tega melihatnya.
Bu Sanusipun selalu mendampingi putra bungsunya,tak henti hentinya bu Sanusi berdo'a untuk kesembuhan Rezza,Roni selalu setia menemani dan membantu bu Sanusi mengurusi Rezza.
Seminggu telah berlalu,namun Rezza masih belum sadarkan diri,dirumah sakit Analah yang menjaga Rezza sejak kedatangannya,dan bu Sanusi diminta Ana untuk beristirahat dirumah sebab beliau masih dalam pemulihan juga.
Bu Sanusi sudah meminta Aji menghandle perusahaan Rezza yang tak terurusi semenjak dia sakit,dan Roni ditugasi bu Sanusi untuk mencari keberadaan Tiya.
Pak Sudimanpun telah menjelaskan kebenaran pernikahan Rezza dan Amel yang hanya sementara saja,beliau juga meminta maaf pada bu Sanusi sebab semua peristiwa yang terjadi adalah disebabkan oleh kesalah pahaman.
Pak Sudiman dan bu Suriyah juga berjanji kepada bu Sanusi untuk membantu mencari keberadaan Tiya.
Sepulang dari menjenguk Rezza,pak Sudimanpun menceritakan semua yang telah terjadi dari awal hingga akhir kepada bu Suriyah,
betapa terkejut dan kecewanya bu Suriyah mengetahui jika putri semata wayangnya telah dihamili orang di kota M,namun cinta kasih seorang ibu tetaplah ada untuk putrinya sehingga dengan pertimbangan yang matang pak Sudiman dan bu Suriyahpun menjemput Amel untuk kembali ke rumahnya.
Tak terasa waktupun telah berlalu,sudah hampir sebulan Rezza tak bangun dari tidur pulasnya.
Rezza masih pulas dialam mimpi indahnya.Setelah operasi dinyatakan berhasil sebulan yang lalu,seharusnya Rezza sudah tersadar dari obat biusnya maksimal tiga hari setelah operasi.
Namun sekarang sudah sebulan lebih lamanya Rezza masih belum mau membuka mata juga,tiga hari setelah operasi Rezza dibawa ke ruang ICU untuk penangannan lebih lanjut,dokter menyatakan bahwa Rezza mengalami koma.
Sebab tidak ada perubahan sama sekali pada Rezza,bu Sanusi dan Anapun memutuskan membawa Rezza berobat keSingpura.
Dan keberadaan Tiya di kampung kakung dan utinya masih belum diketahui oleh siapapun.
Roni yang sebelumnya ditugasi bu Sanusi untuk mencari Tiya,terpaksa harus pergi keJakarta tempat asal istrinya,untuk menemani istrinya yang sudah waktunya melahirkan.
bagi yang suka cerita ini,tolong tinggalin jempol/komen kalian ya..supaya diriku semangat nulisnya oke...mohon dimaafkan jika ada salah penulisan kata sebab diriku ini masih penulis pemula,harap dimaklumi ya,love you bagi yang sudah ninggalin jejak/ngasih komen utk cerita ini.