NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Bukan Wanita Biasa

Pandangannya langsung tertahan oleh kehadiran seorang wanita muda yang berdiri di ujung lorong. Rambut hitam panjangnya jatuh bergelombang melewati bahu, menunjukkan garis keturunan Korea yang kental di wajahnya. Mengenakan blazer abu-abu serta celana kain hitam, wanita yang jelas cantik itu tampak profesional sembari mendekap tas selempang yang terlihat penuh oleh tumpukan dokumen-dokumen.

Dia sedang terlibat percakapan serius dengan seorang perawat. Logat bicaranya saat menggunakan bahasa Indonesia terasa sedikit kaku, layaknya orang asing yang sudah menghabiskan waktu cukup lama di negeri ini. Darren sendiri berniat mengabaikan kehadiran orang asing itu, tepat sebelum notifikasi sistem muncul tanpa diundang.

Target terdeteksi. Nama Han Seo yeon. Utang Keberuntungan Rp0. Utang Umur 0 tahun. Status penyelidik ekonomi lepas. Sedang mengumpulkan data untuk laporan.

Merasa tertarik, Darren memilih berhenti. Penyelidik ekonomi? Tapi yang lebih mengejutkan, angka itu menunjukkan nol besar. Wanita itu bersih dari segala utang karma yang biasanya melekat pada orang-orang di sekelilingnya. Seakan menyadari ada yang sedang memperhatikannya, Seo yeon pun menoleh. Mata mereka saling mengunci selama satu detik, sebelum akhirnya dia kembali memusatkan perhatian pada catatan yang dipegang perawat itu.

Darren sendiri memutuskan untuk menghempaskan pantatnya ke kursi ruang tunggu. Pikirannya belum bisa lepas dari wanita Korea bernama Han Seo yeon itu. Sistem miliknya tidak pernah memberikan informasi yang meleset. Jika angka utangnya nol, berarti wanita itu bukanlah ancaman yang didorong oleh niat buruk atau karma negatif. Kendati demikian, muncul pertanyaan besar tentang alasan kehadirannya di rumah sakit umum Bekasi saat malam sudah selarut ini.

Setelah beberapa lama kemudian, Seo yeon akhirnya keluar dari ruang perawat, berjalan melewati Darren dengan santai sebelum mendadak berhenti tepat di depan Darren.

“Maaf Pak,” sapa wanita itu. “Boleh saya bertanya sesuatu sebentar?”

Darren sedikit mengangkat alis, mencoba menjaga raut wajahnya agar tetap datar. “Boleh, tentang apa?”

“Saya sedang mendalami kasus kebangkrutan beberapa pengusaha properti besar di Jakarta baru-baru ini. Salah satunya adalah Andre Gunawan,” kata Seo yeon sembari membuka buku catatan kecil dari dalam tasnya. “Menurut informasi dan data yang saya peroleh menyebutkan bahwa Bapak adalah orang terakhir yang terlihat bertemu dengannya sebelum kerajaan bisnis itu runtuh. Apakah Bapak bersedia jika saya wawancarai Anda sebentar? Bapak juga boleh mengoreksi saya kalau saya salah orang.”

Darren terdiam kala itu. “Apakah aku setua itu sampai dipanggil bapak? Tapi wanita ini benar-benar jeli. Dia tidak tahu bahwa dia sedang berbicara dengan orang yang menarik paksa keberuntungan targetnya sampai ludes," pikirnya sembari menatap mata Seo yeon yang tajam.

“Aku tidak tahu menahu soal urusan bisnis milik Andre Gunawan,” jawab Darren sedingin mungkin.

Seo yeon hanya menyunggingkan senyuman tipis penuh arti. Sementara tatapannya menunjukkan bahwa dirinya tidak akan langsung percaya begitu saja pada jawaban barusan. “Baiklah kalau begitu. Tapi, jika suatu saat Bapak berubah pikiran atau mungkin memiliki informasi lain yang relevan, mohon hubungi saya.”

Dia merogoh saku blazernya untuk mengambil selembar kartu nama, lalu menyodorkannya kepada Darren.

“Nama saya Han Seo yeon. Saya seorang jurnalis lepas yang saat ini sedang meneliti praktik bisnis ilegal di sektor properti serta pusaran pinjaman online,” jelasnya dengan tenang.

Adapun Darren menerima kartu itu dan membaca barisan teks yang tercetak di sana. Nomor telepon, alamat surel, serta logo sebuah media daring yang namanya cukup dikenal. Seo yeon kemudian menambahkan bahwa dirinya mengetahui perihal Darren yang baru saja membawa putranya ke rumah sakit ini. Dia berjanji tidak akan mengganggu waktu istirahat mereka, namun memberikan tawaran kerja sama jika Darren membutuhkan koneksi atau informasi tertentu untuk urusan bisnis di masa depan.

“Bagaimana dia bisa tahu namaku dan kondisi anakku? Risetnya benar-benar mendalam atau dia memang sudah mengincarku sejak awal?” Jelas sekali Darren merasa terkejut dengan tingkat ketelitian perempuan di depannya. Seo yeon kemudian berbalik badan dan melangkah pergi. Sebelum sosoknya menghilang di ujung lorong, dia berucap tanpa menoleh kembali.

“Selamat malam, Pak Darren. Saya harap putra Bapak lekas sembuh.”

Darren memandangi kartu nama di tangannya untuk waktu yang cukup lama. Identitas sebagai peneliti ekonomi serta jurnalis lepas memang selaras dengan status bersih yang ditampilkan oleh sistem. Walau begitu, Darren menyadari bahwa dirinya tidak boleh sembarangan menaruh kepercayaan, apalagi saat menyangkut profesi penyelidik yang baru saja membahas kebangkrutan Andre.

Tetapi, tawaran mengenai koneksi itu terus berputar dalam kepalanya. Darren menyadari bahwa untuk membangun kembali sebuah bisnis dari nol, dirinya memang membutuhkan jaringan yang luas. Barangkali kehadiran perempuan ini merupakan pintu yang memang sengaja terbuka untuknya. Alhasil, dirinya memutuskan untuk menyimpan kartu itu ke dalam saku celana. Keputusan untuk menghubungi atau tidak belum dia ambil, namun nomor telepon itu akan tetap dia simpan sebagai cadangan.

Malam semakin larut saat Darren melangkah kembali masuk ke dalam ruang rawat Cello. Rina masih setia duduk di samping ranjang, menampakkan mata yang bengkak akibat tangisan yang belum sepenuhnya reda.

“Mas, tadi siapa perempuan yang kamu ajak bicara di luar?” tanya Rina meski dia menyesali pertanyaannya.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Darren.

Dia mendekati ranjang tempat putranya berbaring. Cello masih terlelap, tetapi pola napasnya kini terasa jauh lebih stabil dibandingkan saat pertama kali tiba. Darren menarik sebuah kursi dan duduk di sisi lain tempat tidur, tepat berseberangan dengan Rina. Jarak fisik yang memisahkan mereka di antara ranjang anak itu terasa seperti simbol nyata bagi hubungan mereka yang telah retak. Berada di dalam satu ruangan yang sama, namun tidak lagi memiliki tujuan yang sama.

Dia pun melirik ke arah Rina sekilas. Wanita yang dulu pernah dia percayai sebagai tempat berlabuh, kini justru duduk di hadapannya tanpa ada satupun kata yang mampu mencairkan suasana. Secara naluriah, tangan Darren menyentuh permukaan kartu nama di dalam sakunya. Nama Han Seo yeon seolah menjadi pengingat bahwa di luar sana, dunia baru yang penuh dengan peluang sekaligus risiko sedang menantinya untuk melangkah. Suatu saat nanti, nomor itu mungkin akan menjadi titik balik yang dia butuhkan. Atau mungkin besok?

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!