NovelToon NovelToon
Sistem Eror : Aku Adalah Antagonis

Sistem Eror : Aku Adalah Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Antagonis / Perjodohan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Seorang mahasiswi yang marah dengan akhir cerita novel yang baru dibelinya. Dalam novel diceritakan tokoh antagonis di novel, disalahpahami tunangan dan keluarganya sendiri gara-gara hasutan dan trik licik tokoh utama wanita, Audrey Hepburn.
Tapi sungguh sial saat sedang menancapkan charger laptop ke stop kontak, dirinya malah tersetrum dan bertransmigrasi menjadi Eleanor Sinclair. Dengan tekad bulat, ia memilih menjadi antagonis yang sesungguhnya, ia memilih target meningkatkan rasa kebencian semua tokoh hingga 100%. Hadiah dari pencapaian target misi dari sistem ini adalah uang senilai 100 juta dollar dan izin kembali ke dunia nyata. Namun, semuanya malah jadi kacau, tingkat kebencian tokoh utama pria dan keluarganya justru berkurang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia bisa menyelesaikan misi, mendapatkan hadiah, dan kembali ke dunia nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Keluarga Malah Bangga

Setelah penentuan hukuman kelima siswa itu, Eleanor berpisah dengan Liam dan ikut pulang ke kediaman keluarga Sinclair bersama Alistair.

Roll royce mewah itu meluncur membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Di kursi belakang, Eleanor duduk yang duduk bersebelahan dengan Alistair tidak bisa menyembunyikan senyumannya.

Tangannya terus melihat layar ponselnya lebih tepatnya aplikasi mobile bankingnya. Uang instan yang baru saja ia dapat dari keluarga Kelidon dan lainnya sangat memuaskannya.

Namun, di sampingnya, Alistair Sinclair hanya terdiam. Tatapannya sesekali jatuh pada adiknya. Pikirannya berkecamuk.

Alistair bertanya-tanya dalam hati, "Siapa sebenarnya sosok yang duduk di sampingku ini? Apa dia benar-benar Eleanor? Setahuku Eleanor tidak bisa bela diri. Apa mungkin ini memang Eleanor yang sebenarnya?"

Ia mengingat kembali saat Eleanor pertama kali kembali ke kediaman Sinclair. Saat itu, Eleanor adalah gadis yang sangat suram, pendiam, canggung, dan tampak selalu ketakutan. Ia bersikap terlalu sopan berhati-hati, bahkan cenderung merendahkan diri sendiri seperti seorang pelayan di hadapan keluarganya sendiri.

Lalu, semua itu berubah. Eleanor mulai bergaul dengan Poppy, dan kepribadiannya berbalik 180 derajat. Ia menjadi arogan, boros, dan berani membentak orang tua mereka. Alistair mengira itulah sifat asli Eleanor. Namun, begitu kartu kredit tanpa batasnya dicabut sebagai hukuman, Eleanor kembali meredup. Ia kembali menjadi sosok yang rapuh. Ia juga lebih kurus dari sebelumnya dan tampak sangat menderita.

"Aku benar-benar bukan kakak yang baik," batin Alistair pedih. "Aku baru tahu dia dibully di sekolah selama ini. Pantas saja dia tampak sekarat setiap kali pulang sekolah. Aku bahkan sempat mengira dia hanya pura-pura sakit untuk mencari perhatian."

"Tapi sekarang? Eleanor tampak berbeda lagi. Meski baru saja mengalami insiden pengeroyokan yang brutal, ia bisa menanganinya sendiri. Ia tidak menangis. Ia tidak memohon perlindungan. Ia terlihat... senang dan bersemangat. Dan yang paling mengherankan bagi Alistair adalah meski Eleanor kini memegang uang dalam jumlah besar, ia tidak langsung membelanjakannya seperti dulu. Apa jangan-jangan... dia masih berpikir kami akan mengusirnya? Apa dia sedang mengumpulkan modal untuk melarikan diri?" Pemikiran itu membuat dada Alistair terasa sesak oleh rasa bersalah.

Keheningan itu bertahan hingga mobil berhenti di depan kediaman mewah keluarga Sinclair. Begitu melangkah masuk, Eleanor langsung disambut oleh atmosfer yang berat. Di ruang tengah, Gideon dan Evangeline Sinclair sudah duduk tegak. Wajah mereka tampak tegang, garis-garis kemarahan terlihat jelas di kening mereka.

Eleanor berpikir, "Nah, ini dia. Apakah ini waktunya aku dimarahi? Pihak sekolah pasti sudah melaporkan kelakuanku pada orang tuaku. Alistair juga diam saja sepanjang jalan, pasti dia juga marah kan? Apa yang harus aku lakukan? Berlutut dan menangis? Tidak bisa, aku adalah seorang tokoh antagonis!"

Eleanor sudah menarik napas panjang, menyiapkan kata-kata kasar dan umpatan untuk membela diri sekaligus memancing kemarahan orang tuanya. Ia ingin mereka membencinya agar misinya berjalan lancar. Namun, sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya, sebuah kejutan terjadi.

Gideon dan Evangeline serentak berdiri dan menerjang ke arahnya. Bukan untuk menampar, melainkan untuk mendekapnya dalam pelukan yang menyesakkan.

"Apa ada yang terluka? Eleanor, katakan pada Ibu, di mana yang sakit?" suara Evangeline bergetar hebat, tangannya dengan gemetar memeriksa bahu dan wajah putrinya.

"Jason Kelidon! Anak kurang ajar itu!" Gideon menggeram, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Beraninya dia menyentuh putriku! Aku akan memberi pelajaran pada keluarga Kelidon! Mereka pikir mereka siapa?!"

"Jangan lupakan empat keluarga lainnya, Gideon!" timpal Evangeline dengan mata menyala-nyala. "Mereka semua harus membayar atas perbuatan mereka pada putri kita!"

Eleanor terpaku. Lidahnya kelu. "Eh... itu... Aku baik-baik saja... Hanya sedikit memar di tangan..."

Evangeline meraih tangan Eleanor, mengelusnya seolah itu adalah porselen yang nyaris hancur. "Tanganmu pasti sakit sekali. Mereka itu atlet, tubuh mereka pasti keras! Eleanor, dengar Ibu, lain kali jangan gunakan tanganmu sendiri. Pakai saja tongkat atau benda lainnya untuk memukul mereka! Jangan pikirkan konsekuensi, ibu pasti melindungimu!"

"Benar!" Gideon mengangguk setuju dengan semangat yang mengerikan. "Apa perlu Ayah bawakan tranquilizer untuk kamu bawa kemana-mana mulai besok? Biar kamu bisa langsung menumbangkan siapapun yang berani macam-macam!"

Alistair, yang berdiri di belakang, akhirnya menghela napas. "Ayah, Ibu, sudah hentikan. Kalian mengejutkan Eleanor. Eleanor pasti lelah, biarkan dia istirahat."

"Oh, benar!" Evangeline mencium kening Eleanor. "Mandilah dengan air hangat, lalu tidur. Ibu akan membangunkanmu saat makan malam sudah siap. Ibu akan memasakkan semua makanan favoritmu."

Gideon menepuk bahu Eleanor dengan bangga. "Ayah sangat bangga padamu, Putriku! Pembullyan memang tidak bisa dibiarkan. Kamu sangat mirip dengan Ayah yang tak kenal takut ini! Dulu, Ayah juga menghajar para pengganggu ibumu dengan tangan kosong! Darah Sinclair memang tidak pernah bohong. Istirahatlah."

"Iya, tapi akan lebih baik kalau lain kali kamu mengatakannya pada kami daripada mengotori tanganmu sendiri," tambah Evangeline sebelum melepaskan Eleanor.

Eleanor berjalan menuju kamarnya dengan langkah lunglai, otaknya seolah berhenti berfungsi. Begitu pintu kamar tertutup, ia menyandarkan punggungnya di pintu dan merosot jatuh ke lantai.

"Apa yang baru saja terjadi?" batinnya frustrasi. "Apa alur ceritanya eror? Bukankah di novel aslinya keluarga Sinclair dikatakan sangat membenciku? Mereka seharusnya dingin, acuh tak acuh, dan akhirnya membuangku! Tapi tadi... itu tadi apa?!"

Ia merasa dunianya terbalik. Bagaimana ia bisa menyelesaikan misinya jika target yang seharusnya membencinya justru berubah menjadi pelindung yang posesif? Eleanor mengacak rambutnya, merasa malas berpikir lebih jauh. Ia memutuskan untuk mandi dan menenggelamkan diri di bawah selimut, berharap saat bangun nanti, alur ceritanya kembali "normal".

Di ruang tengah, suasana hangat tadi seketika lenyap begitu Eleanor naik ke lantai atas. Wajah Gideon kembali mengeras sekeras batu karang.

"Jadi," Evangeline memulai, suaranya kini sedingin es. "Apa kelima anak itu sudah dikeluarkan dari sekolah?"

Alistair menggeleng pelan. "Tidak. Eleanor memaafkan mereka. Eleanor hanya meminta permintaan maaf dan uang kompensasi"

"Apa?!" Evangeline terbelalak. "Kenapa? Anakku ini memang terlalu baik, pantas saja anak-anak itu berani membullynya. Tapi kita tidak bisa diam saja!"

Alistair kemudian menceritakan detail kejadian di ruang kepala sekolah tadi.

Gideon mendengus. "Tidak bisa seperti ini. Aku tidak puas dengan hasil itu. Eleanor mungkin bisa memaafkan karena dia masih terlalu baik hati, tapi aku tidak bisa."

"Benar!" Evangeline berdiri, melipat tangannya di dada. "Alistair, lakukan sesuatu pada kelima keluarga itu."

Alistair memperbaiki letak kacamatanya, sebuah senyum tipis yang mematikan muncul di bibirnya. "Tenang saja Ayah, Ibu. Aku sudah mulai bergerak sebelum kami sampai di rumah tadi. Aku akan memutus semua jalur bisnis mereka. Aku akan menendang mereka keluar dari lingkaran kelas atas. Dalam waktu satu bulan, mereka tidak akan bisa lagi bergabung di kalangan elit mana pun. Mereka akan segera tahu balasan karena berani menyentuh seorang Sinclair."

1
Yuyun Suprapti
kapan up nya lg thor
est
lanjut thor suka 👍
Yuyun Suprapti
crazy up kk💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!