Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: KEDATANGAN ORANG-ORANG ANEH
Hari demi hari berlalu, dan kehidupan di Desa Kapas seolah kembali ke rutinitas yang tenang. Namun, ketenangan itu hanyalah permukaan danau yang tenang, sementara di dasarnya, arus deras sudah mulai bergerak tak terlihat.
Sejak malam di mana Wu Ye menunjukkan kotak kayu cendana itu, sesuatu di dalam diri Liu Si telah berubah. Matanya kini sering kali terlihat lebih tajam, lebih dalam. Ia tidak lagi hanya belajar tentang tanaman dan cara meramu, tetapi ia mulai memahami makna di baliknya. Ia merasa ada sebuah panggilan samar, sebuah suara yang berbisik dari dalam darahnya sendiri, mendesaknya untuk menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan lebih bijaksana.
Setiap pagi sebelum fajar, di bawah bimbingan Wu Ye, Liu Si berlatih Jade Body Art—seni bela diri kuno yang diajarkan turun-temurun di klan Chen. Latihan ini tidak hanya menguatkan otot dan tulang, tetapi juga memoles aliran Qi di dalam tubuh.
Wush! Wush! Brak!
Di halaman belakang rumah, Liu Si memukul sebuah batang pohon kelapa yang sangat keras. Tangannya tidak menggunakan senjata, hanya telapak tangan kosong. Setiap kali tinjunya mendarat, terdengar suara benturan keras seperti palu besi menghantam batu. Batang pohon itu bergetar hebat, daun-daunnya berjatuhan rontok, namun kulit tangan Liu Si tidak lecet sedikitpun. Justru, kulitnya tampak memancarkan cahaya putih samar yang sangat halus.
"Bagus! Fokuskan energi ke titik Laogong di telapak tangan! Salurkan semua kekuatan ke satu titik!" seru Wu Ye sambil duduk bersila meminum teh. Walaupun suaranya santai, matanya mengawasi setiap gerakan muridnya dengan penuh perhatian.
Liu Si menghembuskan napas panjang. Cahaya di tangannya meredup. Ia menatap tangannya sendiri dengan heran. "Kakek, kenapa setiap kali aku memukul, aku merasa seperti bisa merasakan getaran di dalam kayu itu? Seolah-olah aku tahu di mana bagian yang paling kuat dan paling lemah?"
Wu Ye tersenyum bangga. "Itu karena mata hati dan tanganmu sudah mulai selaras. Seorang Alkemis tidak hanya meramu obat, tapi juga memahami struktur segala sesuatu di dunia ini. Kau bisa melihat 'jalur' yang tidak bisa dilihat orang biasa. Gunakan itu. Itu adalah anugerah terbesar dari leluhurmu."
Namun, kedamaian ini tidak bertahan lama. Awan gelap mulai menutupi langit Desa Kapas, bukan hanya secara kiasan, tapi juga secara nyata.
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan udara mulai terasa sejuk, sekelompok orang asing memasuki desa. Mereka bukan pedagang biasa, bukan pula pengembara.
Ada sekitar sepuluh orang. Mereka semua mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu gelap yang menutupi tubuh mereka hingga ke pergelangan kaki. Wajah mereka tertutup topi lebar dan syal, sehingga hanya terlihat mata mereka yang tajam dan dingin. Mereka berjalan berbaris rapi, langkah mereka serempak dan berat, meninggalkan kesan menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya.
Penduduk desa yang biasanya ramah, kini hanya bisa menunduk dan menyingkir ke pinggir jalan. Ada aura yang berat dan tidak menyenangkan yang mengelilingi kelompok orang itu. Aura darah dan kematian.
Mereka berhenti tepat di alun-alun desa, di mana banyak warga sedang berjualan.
Seorang pria tinggi besar yang berjalan di paling depan perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya kasar, dengan bekas luka memanjang dari alis hingga rahang. Matanya menyapu seluruh penjuru desa dengan tatapan merendahkan dan penuh selidik.
"Dengar, kalian penduduk desa yang bodoh!" teriak pria itu dengan suara seperti gemuruh guntur. Suaranya tidak terlalu keras, namun bisa terdengar sampai ke ujung desa karena ditenun dengan energi dalam. "Kami datang dari Sekte Awan Hitam! Kami sedang mencari buronan dan benda curian! Siapa pun yang bisa memberikan informasi atau menyembunyikan orang yang kami cari, akan mendapat hadiah emas! Tapi... siapa pun yang berani menyembunyikan atau berbohong kepada kami..."
Pria itu menatap tajam ke sekeliling. "Desa ini akan kami hapus dari peta!"
Warga desa gemetar ketakutan. Mereka adalah orang-orang biasa yang hanya tahu bertani dan menenun. Bagaimana mungkin mereka berani melawan orang-orang yang memiliki kekuatan seperti dewa itu?
Kepala desa Badu—ayah dari anak yang dulu mengganggu Liu Si—cepat-cepat datang dengan wajah pucat pasi. "Tuan-tuan yang terhormat... Desa kami kecil dan miskin. Tidak ada orang asing yang bersembunyi di sini. Kami semua orang baik-baik saja..."
Pria bertubuh besar itu mendengus dingin. Ia tidak peduli dengan kepala desa. Matanya yang tajam tiba-tiba terfokus ke satu arah.
Ke arah pasar kecil di mana Liu Si sedang duduk di samping meja obat-obatannya.
Seketika, jantung Liu Si berdegup kencang. Dug... dug... dug... Jantungnya berdetak sangat cepat, bukan karena takut, tapi karena sebuah insting bahaya yang tajam. Ia merasa seolah-olah sedang ditatap oleh seekor ular berbisa besar.
Pria itu berjalan perlahan mendekati meja Liu Si. Langkah kakinya berat, membuat tanah di bawahnya terasa bergetar.
"Heh, bocah," sapa pria itu dingin. "Kau terlihat tidak seperti penduduk desa sini. Dari mana asalmu?"
Udara di sekitar mereka seakan membeku. Warga lain sudah menjauh, takut terkena imbas kemarahan orang kuat itu.
Liu Si menelan ludah. Ia ingat pesan Wu Ye: "Jika bertemu orang kuat, jangan lawan, jangan tunjukkan keanehan. Jadilah air, mengalir lembut."
"Paman... Saya tinggal di sini sejak kecil bersama Kakek saya," jawab Liu Si dengan suara tenang, meski di dalam hati ia waspada penuh. Ia menundukkan kepalanya sedikit, berusaha terlihat seperti anak desa biasa yang penakut.
Namun, pria itu tidak berhenti. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah tangan Liu Si yang sedang membersihkan gelas obat.
"Kau seorang tabib? Atau alkemis?" tanya pria itu lagi, nadanya penuh tekanan. Energi gelap mulai menguar dari tubuhnya, menekan Liu Si hingga ia merasa sulit bernapas.
'Ini buruk. Mereka mencari Alkemis. Mereka tahu tanda-tandanya,' batin Liu Si.
Tepat saat pria itu hendak mengulurkan tangannya untuk mencengkeram kerah Liu Si, sebuah suara tua namun sangat tenang terdengar dari belakang kerumunan.
"Wahai tamu agung... Janganlah terlalu keras pada anakku. Dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa."
Semua mata beralih. Wu Ye muncul dengan langkah santai. Ia berjalan tertatih-tatih seolah-olah orang tua renta yang lemah, memegang tongkat kayu di tangannya. Namun, saat ia melangkah maju, tekanan energi yang dikeluarkan oleh pria bertubuh besar itu seketika pecah dan lenyap seolah-olah tertiup angin.
Wu Ye berdiri di depan Liu Si, melindunginya dengan punggungnya yang tampak kurus namun kokoh.
"Oh? Jadi kau kakeknya?" tanya pria besar itu sinis. "Kedengaran suaramu berani sekali. Beranikah kau berbohong padaku? Aku bisa merasakan ada aroma obat-obatan kuno yang sangat kuat di sekitar sini. Aroma yang hanya dimiliki oleh klan tertentu..."
Pria itu melangkah maju, dan Qi berwarna hitam pekat mulai mengepul dari tubuhnya, membuat rumput di sekitarnya layu dan mati seketika.
"Kau... Apakah kau bagian dari sisa-sisa klan Chen? Atau mungkin... bocah itu?"
Situasi menjadi sangat genting. Jika pertarungan pecah di sini, Desa Kapas pasti akan hancur lebur. Wu Ye tahu ia bisa melawan pria ini, tapi ada sembilan orang lainnya di belakang. Lagipula, ia berjanji pada Chen Wei untuk melindungi anaknya dan tidak menampakkan diri sebelum waktunya.
Wu Ye tersenyum tipis, senyuman yang sangat misterius.
"Tuan besar salah duga saja. Kami ini cuma orang tua dan anak yang menjual obat gatal dan sakit perut. Apa hubungannya dengan klan hebat yang Tuan sebutkan?" Wu Ye lalu mengambil sebuah toples kecil dari meja, membukanya, dan mengeluarkan asap harum. "Ini cuma minyak gosok biasa. Kalau Tuan mau, saya berikan gratis untuk meredakan pegal linu di badan Tuan yang gagah itu."
Asap itu menyebar. Para pengikut Sekte Awan Hitam itu sedikit mengernyit. Aromanya memang wangi, tapi terasa biasa saja, tidak ada energi spiritual di dalamnya.
Pria besar itu menatap mata Wu Ye lekat-lekat. Ia mencoba mencari kebohongan, namun apa yang ia lihat hanyalah mata yang tenang seperti danau tua, tak berdasar dan tak terbaca.
'Orang tua ini aneh...' batin pria itu. 'Apakah aku salah sangka? Atau dia benar-benar menyembunyikan kekuatannya dengan sempurna?'
"Hmph!" Pria itu mendengus kasar. Ia tidak ingin membuat keributan terlalu besar sebelum menemukan target utamanya. "Awas saja kalau aku tahu kalian berbohong. Aku akan mengulitimu hidup-hidup!"
Ia lalu berbalik ke arah anak buahnya. "Cari di setiap rumah! Periksa setiap sudut! Cari benda berbentuk kotak kayu ukiran naga! Siapa pun yang menemukannya, bunuh saja pemiliknya!"
"Siap, Pemimpin!"
Kelompok itu mulai menyebar, menggeledah rumah-rumah warga dengan kasar. Mereka memecahkan barang-barang, mengacak-acak tempat tidur, membuat kekacauan di mana-man. Warga desa hanya bisa menangis dan pasrah.
Liu Si mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik lipatan bajunya. Ia melihat rumah-rumah tetangganya dirusak. Ia melihat ketakutan di mata teman-temannya. Api kemarahan mulai membara di dadanya.
'Kenapa mereka sewenang-wenang seperti ini? Apa karena mereka kuat, maka mereka bisa menindas yang lemah?'
"Jangan melihat, Si. Jangan mendengarkan," bisik Wu Ye pelan, suaranya hanya bisa didengar oleh Liu Si. "Tahan amarahmu. Hari ini kita kalah dalam kekuatan fisik, tapi kita menang dalam kesabaran. Ingat rasa sakit dan ketidakadilan ini. Simpan itu di dalam hatimu. Jadikan itu bahan bakar untuk belajarmu."
Liu Si menatap punggung Wu Ye. Ia mengerti. Ia mengerti bahwa saat ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jika mereka bertarung sekarang, mereka akan mati sia-sia dan desa ini ikut hancur.
Beberapa jam kemudian, matahari sudah terbenam. Langit berwarna merah darah.
Orang-orang dari Sekte Awan Hitam itu kembali berkumpul di alun-alun. Wajah mereka penuh kekesalan karena tidak menemukan apa yang mereka cari.
"Goblok! Desa sampah ini tidak ada apa-apanya!" teriak pemimpin itu. Ia lalu menatap tajam ke arah Wu Ye dan Liu Si yang masih berdiri di dekat meja obat mereka.
"Kita pindah ke desa sebelah! Pastikan tidak ada celah yang terlewat!"
Setelah meneror warga sekali lagi, kelompok orang aneh itu akhirnya pergi meninggalkan Desa Kapas, meninggalkan kekacauan dan ketakutan di belakang mereka.
Saat bayangan mereka menghilang di ujung jalan, barulah penduduk desa bisa bernapas lega. Banyak yang langsung duduk lemas, bahkan ada yang pingsan karena ketakutan.
Liu Si menghembuskan napas yang ia tahan sejak tadi. Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya.
Wu Ye perlahan berbalik menatap Liu Si. Wajahnya kini sangat serius, tidak ada sedikitpun senyuman.
"Kau melihatnya, Si? Kau merasakannya?" tanya Wu Ye pelan.
Liu Si mengangguk pelan. "Ya, Kakek. Mereka jahat. Mereka kuat. Dan... mereka mencari kita. Mereka mencari kotak itu."
"Benar. Mereka adalah antek-antek dari organisasi yang membunuh orang tuamu," kata Wu Ye tegas. "Mereka belum menemukan kita hari ini karena aku sudah menyamarkan aura kita dan menyembunyikan kotak itu dengan teknik khusus. Tapi lain kali... lain kali mereka datang, mereka tidak akan pergi begitu saja."
Wu Ye meletakkan tangannya di bahu Liu Si. Genggamannya kuat dan menenangkan.
"Ketenangan kita sudah berakhir, Nak. Dunia luar sudah mulai menemukan jejak kita. Desa Kapas tidak lagi aman."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kek? Lari lagi?" tanya Liu Si. Matanya berkilat, bukan lagi ketakutan, tapi ada api tekad di sana.
Wu Ye menggeleng. "Lari tidak akan menyelesaikan masalah. Musuh akan terus mengejar sampai kiamat. Mulai hari ini... latihan kita akan berubah menjadi seratus kali lebih berat."
"Mulai besok, kau tidak hanya belajar meramu dan memukul kayu. Kau akan belajar cara membunuh. Kau akan belajar cara menggunakan energi untuk terbang, untuk menghancurkan batu, untuk melawan orang-orang seperti tadi."
Mata Liu Si membelalak. "Tapi... Kakek bilang kekuatan tanpa kebijaksanaan adalah bencana?"
"Benar," jawab Wu Ye mantap. "Tapi kebijaksanaan tanpa kekuatan hanyalah omong kosong di hadapan orang jahat! Kau butuh kekuatan untuk melindungi apa yang benar! Kau butuh kekuatan agar suatu hari nanti, kau bisa berdiri di puncak dunia dan berkata: 'AKU CHEN SI, DAN INI DUNIAKU!'"
Malam itu, di bawah langit yang gelap dan mencekam, sebuah tekad bulat terbentuk. Liu Si tahu, masa kecilnya yang bahagia sudah berakhir. Jalan di depannya adalah jalan berdarah, penuh duri dan bahaya. Namun ia tidak akan mundur.
Ia akan menjadi kuat. Ia akan menjadi Alkemis Terhebat!