" Menikahlah dengan Nev". Kata-kata itu sangat mengejutkan Nara, bagaimana bisa Ia menikahi Nev yang notabenenya adalah kakak iparnya. " Ini adalah permintaan kakak yang terakhir". Nara semakin bingung dengan permintaan kakaknya ini. Di tengah kebingungannya ini, Ia teringat akan sosok kecil mungil Deril, anak Nev dan kakaknya Kamira. Sosok yang Ia sangat sayangi.
Apakah Nara akan akan memenuhi semua keinginan kakaknya? Apakah Ia harus memutuskan hubungannya dengan kekasihnya?.
Semua keputusan yang ia ambil akan menjadi masa depannya kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Nev membuka matanya perlahan. Terlihat sesosok bayangan seseorang yang sedang tidur disampingnya. Nev mencoba membuka matanya lebar dan apa yang dilihatnya sangat membuatnya terkejut karena orang yang tidur disampingnya adalah Nara. Ditambah dia juga harus mendapati dirinya dan juga Nara hanya beralaskan selimut.
Ia merutuki dirinya begitu mengingat kejadian malam itu. Ia sudah menyentuh wanita yang menjadi istrinya ini. Hal yang ia pikirkan tidak akan pernah dilakukannya.
Pergerakan Nev yang ingin bangkit dari tempat tidur membuat Nara berekasi. Nev mengurungkan niatnya untuk bangkit dan buru-buru menutup matanya kembali. Nara berbalik dan melihat Nev yang ia kira masih tertidur. Ia cepat-cepat mengambil pakaiannya yang berserakan dan bergegas keluar untuk membersihkan dirinya.
Mendengar suara pintu tertutup, Nev membuka matanya kembali. Ia ingat betul apa yang terjadi dengannya semalam. Walaupun ia terbebas dari jebakan Rindi, tapi kini ia harus berurusan dengan Nara.
Nev bangkit dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri.
Ia pun keluar dari kamarnya, terlihat Nara sedang sibuk didapur bersama dengan Deril yang asik bermain sendiri. Sesekali Nara meringgis kesakitan dan memegang bagian bawah perutnya.
Nara meletakkan makanan diatas meja. Nev membawa Deril untuk sarapan. Suasana canggung itu jelas terasa saat ini. Mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat menyantap makanan itu.
Nara dan Deril mengantar kepergiaan Nev. Nev yang mencium Deril tidak sengaja menyentuh tangan Nara. Seketika Nara terperanjat dan membuat Nev kaget. Nara memalingkan wajahnya, bukan karena ia benci dengan Nev, tapi karena ia masih shock dan tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.
Nara mengunci pintu sesaat Nev pergi. Terdengar suara ponselnya berbunyi. Ia mengambilnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Terpampanglah nama Ergi di layar ponselnya itu.
" Halo dokter Ergi", sapa Nara.
" Apa Nev sudah pergi?".
" Sudah dokter".
" Kamu tidak ada jadwal kuliah hari ini?".
" Hari ini tidak ada".
" Hmm. Oh ya Nara soal semalam, aku ingin menjelaskannya padamu. Sebagian memang sudah aku ceritakan padamu. Aku juga tidak habis pikir kenapa dokter Rindi melakukan itu. Satu yang pasti dia ingin pernikahan kalian hancur. Ia menyukai Nev sejak dulu, tapi Nev tidak pernah membalas rasa sukanya. Hingga Nev menikah dengan Kamira lalu menikah denganmu, dia tidak pernah berubah sama sekali. Malam itu begitu aku menemukannya, dia memintaku untuk membawanya pulang karena dia tahu hanya kamulah orang yang bisa membantunya dengan hasratnya yang tidak terkendali itu. Jika aku terlambat saja mungkin sesuatu akan terjadi padanya".
" Terima kasih dokter sudah menjaga kak Nev. Kalau saja dokter tidak ada disana, mungkin akan menjadi permasalahan yang besar nantinya. Tapi dokter, apa kejadian ini tidak bisa dilaporkan, bukankah ini sudah termasuk kejahatan. ".
" Tidak bisa Nara, walaupun kita tahu siapa pelakunya tapi kita tidak punya bukti".
" Dia sudah mencelakai kak Nev dokter, bagaimana kalau itu benar terjadi, bukankah akan mempersulit kak Nev. Tapi kita sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa karena kita tidak punya bukti. Apa itu adil".
" Nara, aku tahu perasaanmu. Tapi memang seperti itulah prosedurnya. Kita tidak bisa melakukan apa-apa selain kita harus lebih waspada. Kamu jangan khawatir, Nev tahu apa yang harus dilakukannya".
" Iya dokter, aku mengerti".
" Tapi, keadaanmu baik-baik sajakan?".
" Aku baik dokter".
" Nara jangan marah padanya karena kejadian itu".
" Tidak doker, aku tidak marah padanya, hanya saja aku masih sedikit shock. Walaupun itu sebuah incident tapi lebih baik daripada kak Nev celaka disana".
" Terima kasih sudah memahami situasi ini. Tapi apa boleh aku bertanya".
" Dokter mau bertanya apa?".
" Apa kamu tidak punya perasaan pada Nev. Maksudku kalian menikah sudah hampir setahun, apa perasaan itu tidak ada?. Maaf kalau aku bertanya hal pribadi padamu".
" Aku tidak tahu harus berkata apa dokter. Aku tidak punya hak, aku hanya berusaha menekan perasaan yang terkadang muncul".
" Apa ini karena Kamira?". Nara diam, tapi diamnya ini memberi asumsi kalau yang dikatakannya benar adanya. " Apa kamu sudah melupakan mantanmu itu".
" Sedikit demi sedikit aku mulai melupakannya. Aku berusaha untuk tidak berhubungan lagi dengannya, hanya sesekali bertanya pada ibu bagaimana kabarnya disana. Aku tidak mungkin memutuskan hubungan yang sudah lama terjalin begitu saja, sejak dulu dialah orang yang selalu ada untukku walaupun kami harus berakhir seperti ini, paling tidak hubungan baik sebagai teman dan keluarga harus tetap terjaga".
" Aku minta maaf kalau terlalu banyak bertanya padamu".
" Tidak dokter, tidak apa-apa. Aku senang dokter bertanya padaku".
" Aku sudah menganggapmu seperti adik, sama seperti aku menganggap Kamira. Aku tidak ingin kalian terus berada dibawah bayang-bayangannya. Jangan hanya perasaan tidak enak padanya kalian harus seperti ini selamanya. Kamira juga tidak suka kalian seperti itu".
" Bukankah kak Nev tidak bisa melupakan kak Kamira. Dia selalu mengatakan itu".
" Aku tahu". Ergi menghela nafasnya. " Nara sudah dulu ya, Nev sudah sampai disini". Ergi cepat-cepat mematikan ponselnya.
" Aku ingin bicara denganmu", ujar Nev begitu melihat Ergi. Ergi ikut masuk ke ruangannya. Nev terlihat cemas.
" Ada apa denganmu".
" Aku dan Nara.......". Nev menghentikan ucapannya.
" Bukankah itu wajar kalian lakukan", sambar Ergi. " Apapun situasinya itu wajar kalian lakukan". Ergi menekankan ucapannya.
" Tapi aku memaksanya karena tidak sadar".
" Lalu apa kamu mau melakukannya dengan sadar".
" Bukan begitu maksudku".
" Nev, sampai kapan kalian seperti ini. Jangan jadikan Kamira sebagai penghalang kalian. Kamira tidak suka kalian seperti ini".
" Kamu tidak mengerti Ergi".
" Ya, aku memang tidak mengerti. Anggap saja aku seperti itu. Tapi lihatlah bagaimana dokter Rindi bisa melakukan hal kejam padamu. Apa kita bisa melaporkannya, tidakkan. Lalu bagaimana kalau rencananya malam itu berhasil, pernikahan dan karirmu pasti hancur. Sekarang apa yang akan kamu lakukan".
" Sampai saat ini aku belum memikirkan apa-apa. Aku masih memikirkan Nara, sepertinya dia takut padaku".
" Takut?".
" Tadi saat aku tidak sengaja menyetuh tangannya, tubuhnya bergetar dan dia sangat terkejut. Reaksinya itu membuatku merasa bersalah".
" Dia tidak takut padamu".
" Bagaimana kamu bisa tahu".
" Kamu tidak perlu tahu bagaimana aku bisa tahu.Tapi yang jelas dia tidak takut, marah atau apapun itu. Dia hanya perlu waktu untuk memahami situasi ini. Kamu sudah bicara dengannya?"
" Belum".
" Ayolah Nev, kamu bukan anak kecil lagi. Kamu lebih dewasa darinya. Seharusnya kamu memulai pembicaraan".
" Aku tahu, tapi aku juga masih shock".
" Shock???", ujar Ergi. " Asal kamu tahu ya, sesaat sampai dirumah, kamu langsung memeluknya sangat erat lalu menciumnya. Kamu ini membuatku seperti menonton film dewasa secara live". Nev langsung melotot pada Ergi. " Apa!!", ujar Ergi menantang. " Kamu kira aku berbohong. Seharusnya malam itu aku rekam saja adegan kalian".
" Sudah selesai bicaranya".
" Belum". Nev melongo. " Dan bilang saja kalau kamu juga menikmatinya".
" Mulutmu itu apa tidak bisa diam ya".
" Tidak".
" Kalau aku menikmatinya, memangnya kenapa".
" Baguslah kalau begitu". Ergi tersenyum puas karena sudah berhasil menggoda temannya ini.
cerita nya besttt
semangat author 🌹🌹🌹🌹🌹