NovelToon NovelToon
Pergi Untuk Melupa

Pergi Untuk Melupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Persahabatan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rohid Been

Ada duka ada cinta begitulah, yang dirasakan pria bernama Raihan Bachtiar. Berkali-kali dia dipatahkan oleh seorang wanita, yang selama ini dia sebut cinta. Ada cita-cita serta cinta dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah pria yang optimis hanya saja sedikit skeptis. Dia meninggalkan segala karirnya, hanya untuk wanita yang pada akhirnya menyia-nyiakan cintanya. Patah hati membuatnya berubah menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya rapat-rapat. Akankah dia menemukan wanita yang mampu mengembalikan perasaannya yang telah lama hilang? Ayo, simak ceritanya ... dan selamat melupakan.

follow ig: @rohidbee07

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Been, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyatakan Bukan Berarti Pelarian

Jika yang tulus tidak membuatmu luluh, mengapa yang menyakitkan membuatmu bertahan. Pertanyaan itu sedikit mengganggu pikiranmu Alinda, entah kenapa pernyataanku itu justru membuatmu semakin penasaran sampai detik ini. Mengapa aku berbicara itu kepadamu, aku sedang bertanya ke dalam hatiku yang paling dalam. Apa maksud dari ucapanku saat itu, jelas itu mengganggu perasaanmu juga. Aku takut jika perkataanku hanya melindungiku dari kesedihanku dan kamu menganggap itu hanya untuk pelarian saja.

Aku tahu kamu pernah dikecewakan seseorang pria berkali-kali dan anehnya kamu masih saja bertahan. Aku memberikanmu sebuah kode perihal perasaanku selama ini, tetapi kamu tidak menyadari itu secara nyata. Sungguh, aku telah memproyeksikan perasaanku kali ini, aku tidak ingin merasa gagal lagi mendapatkan hatimu Alinda. Aku memahami sekali, bahwasanya kamu sangat menginginkan yang terbaik sebagai pendamping hidupmu kelak. Tapi, bukankan memantaskan itu pekerjaan bersama, kita ini makhluk sosial bukanlah individu.

Aku tidak sempurna, tidak baik dan tidak sejahat itu sama halnya denganmu. Bukankah dengan seperti itu kita bisa menjadi seorang kekasih yang saling mengisi kekurangan dan saling melengkapi. Aku harap kita tidak lagi terlambat untuk menanyakan perasaan masing-masing. Namanya juga kita sedang di fase mencintai dalam diam, aku dengan keraguanmu dan kamu masih bertahan dengan ketidaktahuanmu. Semoga tidak ada kesia-siaan yang menjumpaiku, saat aku terlambat menyatakan perasaan kepadamu Alinda.

***

"Kamu biasanya jualan setiap hari apa aja, Han?" ucap Alinda membuka obrolan di sela-sela perjalanan kita ke toko buku.

"Senin—kamis aja, Alinda. Aku libur biasanya nulis novel kedua dan quality time dengan keluarga."

"Keren, Han. Kapan-kapan aku ikut kamu jualan, ya!"

"Hah ... gimana Alinda?"

"Aku i—ikut jualan bareng kamu, Han."

"Yakin kamu, Alinda? Nanti, kamu item loh, jualan panas tahu!"

"Enggak apa-apalah, Han. Lagian aku bisa make sunblok, aku pengen tahu capeknya cari uang."

"Iya, sudah kalau itu keinginanmu, Alinda. Kapan-kapan aku ajak jualan."

"Benaran enggak nih, Han?"

"Bener Alinda. Oh, ya kamu mau beli buku apa? Kalau aku sih mau beli buku genre romance—comedy buat referensi nulisku."

"Asyik nih, Han. Aku sih suka genre fantasi—romance, tapi suka sad—romance juga sih, Han," ucap Alinea sambil memilih buku yang bagus di rak toko buku.

"Oh begitu, Alinda. Nanti malam kamu sibuk enggak?"

"Kayanya sih e—enggak deh, Han. Memang kenapa?"

"Nanti malam jalan yuk! Aku mau ngomong empat mata sama kamu."

"Ja—jalan ... Han? Mau ngomong tentang apa, kayanya serius banget."

"Nanti, juga kamu tahu Alinda. Jadi, kamu mau enggak nih?"

"I—iya deh mau, Han. Mau ke mana?"

"Tempat biasa aku kunjungi tiap hari, tetapi sebelum itu aku mau ajak makan di luar."

"Baiklah, Han. Nanti jemput aja di rumah!"

"O—oke, Alinda."

***

Hari ini, untuk ke sekian kalinya, aku kehilangan kata-kata Alinda. Rasanya tidak baik-baik saja—saat perasaanku tumbuh kembali sejak dekat denganmu. Rumit sekali bukan Alinda, bisa jadi itu bentuk kagumku terhadapmu. Bagiku kamu wanita yang sederhana dan sangat menarik untuk kutelusuri setiap saat. Seperti pendapat orang terdekatku yaitu Rohid, saat tahu aku begitu mencintaimu padahal mengatakannya padamu saja tidak pernah. Mungkin, hanya aku yang memiliki keyakinan, bahwa mencintai tidak semestinya melalui sebuah pengungkapan cukup dengan tindakan saja.

Bila suatu hari nanti Tuhan mengizinkan aku dan kamu bersama, jangan pernah mengeluh bila aku sering mencuri-curi tatap padamu. Jangan marah bila lelahku, aku terus memandangimu penuh senyuman. Aku hanya ingin kamu tahu Alinda, bahwa Tuhan telah memberiku satu kesempatan  yang takkan kusesali selamanya. Karena, yang kucintai darimu hanya segala kesederhanaan, yang ada padamu dan bukan atas kemewahan-kemewahan kamu tunjukan selama ini.

Alinda ketahui dan dengarkanlah baik-baik ucapan yang keluar dari mulutku. Sungguh, aku tidak akan pernah mau merasakan kehilangan berlarut-larut sekalipun. Terlebih dengan orang yang tidak tepat dan pedihnya pernah bersamanya. Maka kamu jangan pernah ragu untuk menerimaku, tidak ada sekalipun terbesit di kepalaku untuk menjadikanmu objek pelarianku. Bagiku itu sama saja, aku menghianati perasaanku sendiri dan bagaimana bisa aku membuka hati lagi Alinda, jika di hatiku masih ada masa lalu di dalamnya. Aku tidak ingin kamu menjadi bagian dari masa laluku, yang aku ingin kamu selalu di bagian masa depanku.

Tidak banyak orang di luar sana yang dapat membuatmu membentuk ikatan yang mendalam denganku Alinda. Jelas itu menempatkan ke dalam perspektif betapa istimewanya koneksi-koneksi itu terasa sekali feel—nya ketika kamu menemukanku. Butuh waktu lama bagi kita untuk sampai ke tempat, di mana kita membiarkan diri kita menginginkan hubungan yang lebih menyehatkan tanpa merasa seperti kita sedang meminta atau berharap terlalu banyak. Memaksa apa yang tidak sejajar hanya membuat aku dan kamu tetap terjebak. Jadi aku memutuskan siklus dan mendefinisikan ulang apa yang akrab dari bagian terkecil kita.

***

"Kamu mau makan apa, Alinda?" tanyaku dia atas motor berhenti sejenak di alun-alun kota.

"Aku apa aja, Han. Mungkin, makan nasi Padang atau bakso jadi pilihanku saat ini, yang jelas enggak bikin kantongmu kering he he!"

"Maaf, ya, Alinda. Aku enggak bisa ajak kamu makan di tempat yang mewah."

"Santai aja, Han! Lagian aku suka yang sederhana aja, yang penting kenyang dan makanannya enak. Hmmm ... apa aku yang traktir aja, Han? Lagian kamu sudah ajak aku keliling kota dari tadi, kita patungan bareng-bareng aja gimana?"

"Ja—janganlah, Alinda! Aku jadi enggak enak malahan."

"Hmmm ... enggak apa-apa, Han. Jadi mau makan nasi Padang atau bakso?"

"Bebas aku mah, Yang. Eh, salah Alinda maksudnya he he."

"Dasar kamu ini, Han! Iya udah, kita makan nasi Padang terus bakso dan patungan biar hemat," balas dengan wajahmu merah merona, terlihat sekali salah tingkah kupanggil Sayang.

"O—oke kita meluncur ke rumah makan nasi Padang, Alinda!"

***

Mungkin, aku memang tidak pernah tahu seperti apa kamu memulai harimu Alinda. Tidak pernah tahu apa makanan kesukaanmu, minuman yang sering kamu pesan untuk menemanimu mengerjakan tugas kuliah, ataupun pakaian favoritmu. Barangkali, jarak yang menjadi dinding di antara kita, membuatku belum sempat menciptakan langkah untuk mencari tahu semua tentangmu. Tentu jelas, aku tidak mengetahui semua hal itu, tetapi tentang mengagumimu tiap detik aku tidak pernah mau melewatkan. Entah bagaimana nantinya cepat atau lambat, biarkanlah perasaan kita berjalan dengan tanpa sebuah paksaan.

Alinda bukankah itu benar adanya, perasaan lahir karena adanya keterikatan. Maka sebab itu izinkanlah aku menolakmu untuk berpaling dariku, sebab kamu telah berkeliaran di dalam pikiranku. Rasanya aku seperti menemukan bagian diriku yang baru, setelah beberapa waktu lalu aku hancur tak tersisa setelah belum bertemu denganmu. Maka janganlah pergi Alinda, kita terlalu dini untuk menanggalkan perasaan yang masih tumbuh seperti kecambah. Lagipula, kita masih searah dalam pikiran dan semoga soal perasaan aku tidak terlambat menyatakan.

***

"Han ... kamu sebenarnya kamu mau ngomong apa? Sedari tadi aku memikirkan itu," ucapmu memecahkan keheningan malam di tempat favoritku.

"Alinda lihat deh bintangnya di sana bagus banget, ya!" balasku menunjuk ke arah rasi bintang.

"Ish, Raihan. Aku tuh ngomong serius, kenapa kamu mengalihkan pembicaraan?" balasmu sedikit protes dengan sikapku.

"Ma—maaf, Alinda. Sebaiknya kita duduk dulu! Aku agak gugup dan gagap bilang ini," ucapku mengajakmu duduk di sampingku.

"Baiklah, Han. Sekarang katakan saja, apa yang ingin kamu bicarakan di sini."

"Se—sebenarnya ...."

"Sebenarnya apa, Han?"

"A—aku suka sama kamu, Alinda. Sejak di bangku SMA dulu aku sudah lama memendam perasaan ini kepadamu, aku ingin mengatakan sebagai pria gentleman. Aku enggak peduli tentang penolakan atau penerimaan yang kuterima."

"Kamu lagi enggak bercandakan, Han? Kamu itu lagi patah hati, terus mau jadikan aku objek pelarian, Han?"

"Sama sekali tidak, Alinda. Mungkin, menurutmu ini lelucon dan terlalu tergesa-gesa, aku dalam menyatakan perasaanku kepadamu. Aku tahu ini mendadak sekali, aku takut kedekatan kita hanya membuatku menyesal jika aku terlambat menyatakan dan mengatakan perasaanku kepadamu, Alinda."

"Hmmm ... baiklah, Han. Sebelum aku menjawab, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?"

"I—iya boleh, Alinda. Katakan saja!"

"Apa kamu yakin memilihku? Apakah kamu sudah sepenuhnya melupakan masa lalumu? Jujur, aku muak dan tidak menyukai jika bersama seseorang yang masih terjebak dengan masa lalunya."

"Tentu jelas aku yakin, Alinda. Aku yakin kamu wanita yang baik secara personanya juga, kamu sangat menarik untuk aku kukagumi. Aku pun sudah sepenuhnya melupakan Andira. Lagipula, untuk apa aku membuka perasaan lagi, jika masih mengingat dan masih terjebak dengan kenangan masa laluku. Jelas sama saja aku menghianati diriku sendiri dan juga orang yang sama sekali tidak bersalah. Tentu itu akan menyakiti perasaan dia, jika aku masih mencintai masa laluku."

"Baiklah, Han. Setelah pertimbangan yang matang dan sudah mendengar isi hatimu dan semoga itu tulus dari dasar hatimu. Aku juga sebenarnya diam-diam menyukaimu, walaupun aku enggan mengatakan. Sebab, aku menghargai pasanganmu waktu itu. Tolong kembalikan kepercayaanku terhadap stigma buruk pria, Han! Aku capek jatuh hati berkali-kali, aku tidak ingin patah hati berulang-ulang."

"Terima kasih, Alinda. Aku sangat menghargai keputusanmu dan menjaga perasaanmu sebaik-baiknya. Lagipula, untuk apa kita jatuh hati berkali-kali itu sangat tidak menarik dibahas dan dilakukan. Bagaimana kalau kita membangun hati saja, yang telah lama hancur. Karena patah hati disengaja mencintai orang yang salah."

"Coba saja sejak dulu kita bertemu, Han. Bagaimana bisa pria sebaik kamu disia-siakan oleh Andira. Aku terharu mendengar ucapanmu yang sangat puitis dan romantis. Boleh aku memanggilmu 'sayang' dan memelukmu?"

"Tentu dengan senang hati, Sayang! Aku mencintaimu sekarang dan sampai kamu jenuh mendengarnya, Alinda."

"Aku juga mulai mencintaimu sejak kamu menyatakan dan sampai kamu benar-benar lelah, Han.  Aku harap hubungan ini ke jenjang lebih serius dan tidak didasari main-main.”

“Aku pun ingin menikah denganmu, Alinda. Semoga dipermudahkan jalan kita, ya.”

“Iya, Han. Terima kasih, aku akan nunggu momen itu di mana kamu membawa keluargamu ke rumahku untuk melamarku. “

“Tentu saja, Alinda. Aku sedang berusaha menabung dari hasil kerja kerasku selama ini.”

“Semoga Tuhan mempermudah apa yang kamu usahakan, Sayang.”

“Aamiin, Alinda. Terima kasih selalu percaya mimpiku.”

***

Sejujur ada banyak hal yang nanti akan kuceritakan kepadamu Alinda. Perihal betapa lamanya aku menunggu momentum ini terjadi kepada kita, yang tidak akan terjadi kedua kali. Aku selalu memikirkanmu di setiap tarikan nafasku, mungkin ini sedikit menjijikkan jika orang tahu. Tapi, pada kenyataannya memang benar adanya. Setiap manusia yang sedang jatuh hati, dia terkesan berlebihan padahal kenyataannya tidak Alinda. Setelah memilih menjadi bagian dari hidupmu, aku sudah melupakan segalanya tentang Andira dan sungguh demi Tuhan aku bahkan sudah jauh pergi melupakannya sejak mengenalmu sejauh ini. Walaupun, aku telah putus dengannya bukan keinginanku, tetapi itulah pilihannya dan aku harus menghargai itu dan sekarang aku harus lebih menghargai perasaanmu.

Bisa jadi banyak orang yang belum siap menjalani hubungan ini, ditambah keadaan diperparah oleh trauma di masa lalu. Namun, untukmu Alinda aku terus mencoba dan mengajakmu untuk melakukan hal baru di dunia ini. Kamu sekarang harus memahami ini baik-baik, bahwasanya apa yang kita sepakati bersama sudah sepatutnya kita perjuangkan bersama. Sebagai manusia kita tidak bisa melawan takdir Tuhan, tetapi setidaknya kita telah berusaha menjaga dan memperjuangkan. Jatuh cinta adalah anugerah dari-Nya, sudah selayaknya kita tidak membuangnya dengan percuma. Sekarang yang kita lakukan adalah saling menguatkan satu sama lain, saat cinta di antara kita mulai melemah setiap kali kita merasa bosan. Coba ingat pertama kali, kita merasakan perasaan itu pertama kalinya Alinda.

Alinda tolong beri aku waktu yang cukup lama untuk bisa memahami lebih dalam. Supaya jika suatu saat terjadi gesekan kecil dalam hubungan kita, tidak ada niat untuk saling meninggalkan. Mungkin, terlalu awal aku mengatakan ini kepadamu Alinda, tetapi sejak memilihmu untuk memutuskan membuka hati aku sudah mempersiapkan ini dengan matang. Aku sudah belajar dari pengalaman, yang justru membawaku lebih dewasa untuk bisa terus menjaga koneksi sebuah hubungan. Jika, aku salah kamu jangan terlalu dini untuk marah, sebab aku takut menghadapi raut wajahmu yang berubah ketika sedang tersenyum. Kamu tetaplah cantik jika sedang tersenyum bahagia, aku tidak siap bagaimana mengatur ritme nafasku saat menghadapi marahmu.

Alinda kamu juga jangan terlalu khawatir denganku. Tetaplah kejar cita-citamu, barulah kamu kejar cintaku tiap harinya. Lagipula, aku telah mengikuti dan mengagumimu sejak lama, aku tidak akan tergoda dengan wanita lain selain dirimu. Bagiku kehilangan orang yang mencintaiku adalah pukulan telak, daripada kehilangan orang yang kucintai Alinda. Aku tidak ingin melepaskanmu begitu saja dan mengabaikan tujuan hubungan kita ke depannya. Maka coba dengarkan ini baik-baik, aku hanya ingin membersamaimu Alinda. Sebab, saat nanti aku tak mampu berlari, aku ingin kamu bersedia berjalan menemani langkah kakiku yang mulai melemah. Aku sadar hanya kamu satu-satunya wanita yang paham, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kamu tidak ingin menuntutku lebih, karena dirimu sadar banyak kurangnya.

Sekarang izinkanlah aku menulismu dalam ceritaku. Sekarang potongan-potongan kisahku sudah lengkap Alinda. Semenjak kamu datang ideku semakin luas dan sudut pandangku dalam memahami seseorang juga bertambah. Terima kasih Alinda telah hadir walau sedikit telat, tetapi perasaanmu kepadaku tidak pernah kamu ralat. Mungkin, kamu terasa asing mendengar ini. Karya bukuku yang selama ini aku ciptakan, telah aku mantapkan sebagai hadiah mahar tambahan dariku. Ketika aku sudah memantapkan hati untuk menikah denganmu, aku tidak bercanda ini bisa menuju buku keduaku dan bisa jadi lebih dari itu. Menuliskanmu dalam buku adalah cara unik seorang pria meng-implementasikan perasaannya, melalui diksi yang cukup rumit orang lain pahami dan hanya kamu yang mampu memahaminya.

 

 

"Jika nanti aku secara impulsif membuat batas antara duniamu dan duniaku. Semoga diksi-diksi ini, tidak akan tertuju siapa pun selain untukmu. Sangat menyenangkan akhirnya, ketika aku menyembunyikanmu di sebuah metafora dan hanya kamulah yang mampu memahami maknanya."

-Rohid Bachtiar

1
Cita Anastasya
Impian anak ingin membahagiakan ortunya thorrr
Cita Anastasya
raihan bucin parah sama alinda wkwkwk 😁
Penulis Buku
Semangat updatenya ceritanya bagus;(
Penulis Buku
👍👍👍
Penulis Buku
semangat berimijansi!!!!!!!
Penulis Buku
Rekomendasi buat yang diksi puitis😅
Penulis Buku
lega jika di utarakan ⚡🔨
Penulis Buku
mantap ceritanya😀
Penulis Buku
nicee
Penulis Buku
sendu
Penulis Buku
Keren thor
Penulis Buku
keren diksinya, thorr
Cita Anastasya
quotesnya bgs!
Cita Anastasya
semangat Thor ceritanya kerennnn!
Cita Anastasya: Sama-sama
total 2 replies
Cita Anastasya
Yuhu bahagaia ending.
Cita Anastasya: hehe iya kk
total 2 replies
Bintun Arief
benaaaar, alangkah mengerikannya menjadi dewasa. Andaaaiiii waktu bisa berhenti saat aku masih bersama ayah dan kakak laki2ku thor, alahai jadi curhat 🤣
hm, dibagian ini ada satu pertanyaan apa aku melewatkan sesuatu thor? rehan kuliah jurusan apa? apa tidak ada hubungannya sama sekali dengan "penulis" ?
Rohid Bee: ada sdkit Kak hhe
total 1 replies
Cita Anastasya
😉😉😉
Rohid Bee: /Smile/
total 1 replies
Cita Anastasya
😔😔
Rohid Bee: /Chuckle/
total 1 replies
Cita Anastasya
✍😂
Rohid Bee: /Applaud/
total 1 replies
Cita Anastasya
next ⚡🔨
Rohid Bee: 👌ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!