Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Waktu seperti berhenti di ambang pintu itu.
Kenzy tidak bergerak.
Kakek Jo yang mendengar suara dari ruang tamu ikut melangkah mendekat.
Dan saat ia melihat wajah gadis itu.
Wajahnya yang biasanya tenang langsung kehilangan warna.
“Mustahil…” bisiknya lirih.
Zara berdiri beberapa langkah di belakang Kenzy.
Ia tidak tahu siapa perempuan itu.
Tapi ia tahu satu hal.
Tatapan Kenzy bukan tatapan biasa.
Itu bukan tatapan sopan.
Bukan tatapan profesional.
Bukan tatapan pada orang asing.
Itu tatapan seseorang yang sedang melihat masa lalunya bangkit dari kubur.
“Ken…” suara gadis itu pecah, hampir seperti angin.
Air matanya jatuh.
Tubuhnya bergoyang.
Zara baru sempat melihat jelas wajahnya.
Cantik.
Tapi penuh luka lebam.
Lebam di sudut mata.
Bibir pecah.
Kulit pucat.
Tulang pipi menonjol karena kurus.
Dan sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa—
Brukkk.
Tubuh itu jatuh lunglai.
Kenzy refleks menangkapnya.
“EVE!”
Untuk pertama kalinya Zara mendengar Kenzy berteriak seperti itu.
Penuh panik.
Penuh ketakutan.
Penuh… rasa memiliki.
Tubuh Aveline terkulai di pelukannya.
Ringan.
Terlalu ringan.
Seperti tidak bernyawa.
Kenzy gemetar saat mengangkat wajahnya.
“Napasnya… masih ada…”
Kakek Jo sudah bergerak cepat.
“Bawa masuk! Cepat!”
Kenzy tidak berpikir dua kali.
Ia mengangkat tubuh kurus penuh luka itu ke dalam pelukannya.
Seperti dulu.
Seperti kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Zara berdiri mematung sepersekian detik.
Lalu mengikuti mereka masuk.
Langkah Kenzy cepat menaiki tangga.
Zara mengikutinya.
Dan baru ketika mereka masuk ke sebuah ruangan besar di lantai atas.
Zara sadar.
Itu kamar Kenzy.
Ia belum pernah masuk ke sana.
Selama berbulan-bulan menjadi tunangan.
Selama menjadi pasangan.
Ia selalu menjaga batas.
Dan sekarang.
Ia masuk untuk pertama kalinya.
Tapi bukan sebagai satu-satunya perempuan.
Kenzy membaringkan Aveline di atas tempat tidurnya.
Tempat yang biasanya rapi, bersih, lembut
Dan sekarang….
Dihuni oleh seorang perempuan lain.
Kenzy berlutut di samping ranjang.
Tangannya gemetar saat menyentuh wajah Aveline.
“Eve… dengarkan aku… Eve…”
Suara itu berbeda.
Zara berdiri di ujung ruangan.
Dadanya terasa sesak.
Nama itu.
Eve.
Nama yang tidak pernah Kenzy sebut padanya.
Kakek Jo masuk sambil menelpon.
“Dokter akan segera datang.”
Suaranya tegas.
Tapi matanya.
Tidak kalah terkejut.
“Bagaimana ini bisa terjadi…” gumamnya.
Zara menatap Kakek.
Lalu Kenzy.
Lalu perempuan itu lagi.
Kepalanya penuh tanda tanya.
“Siapa dia…?” bisiknya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Kenzy membuka jaket tipis Aveline dengan hati-hati.
Dan saat lengan kurus itu terlihat,
Zara terhenyak.
Lebam di pergelangan tangan.
Bekas seperti… diikat.
Lengan yang memar…bekas di cambuk.
Luka lama dan baru bercampur.
Kenzy menegang.
Rahangnya mengeras.
“Siapa yang melakukan ini…”
Itu bukan pertanyaan lembut.
Itu kesedihan.
Zara belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajahnya.
Bukan cemburu.
Bukan dingin.
Tapi kesedihan yang sangat dalam.
Tangannya memegang tangan Aveline dengan hati-hati.
Seolah takut menyakitinya lebih jauh.
Dan itu,
Menyakiti Zara tanpa menyentuhnya sedikit pun.
Karena cara Kenzy memandang perempuan itu…
Adalah cara seseorang memandang cinta pertamanya.
30 menit kemudian…
Dokter pribadi Maheswara tiba dalam waktu singkat.
Memeriksa.
Memberi infus.
Membersihkan luka.
“Tubuhnya lemah sekali. Kekurangan gizi. Ada tanda-tanda trauma fisik.”
Kenzy berdiri tak jauh.
Matanya tak pernah lepas.
“Dia akan sadar?” tanyanya pelan.
“Jika istirahat cukup...Dia akan sadar, Tapi secara mental… perlu waktu.”
Dokter pergi.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya suara tetesan air infus.
Dan napas pelan Aveline.
Zara masih berdiri di sana.
Tak tahu harus di mana.
Tak tahu perannya apa.
Tunangan?
Pacar?
Atau hanya penonton di kamar yang bukan miliknya?
Kakek Jo akhirnya berbicara.
“Ken…bukankah kau bilang, kalau dia meniggal dalam kecelakaan.”
Kenzy tidak menoleh.
Suara Kakek berat.
“Orang tuanya yang bilang begitu.”
Kenzy akhirnya berdiri perlahan.
Ia menatap Aveline.
“Dia belum meninggal, lalu makam siapa yang orang tuanya tunjukkan pada ku dulu.”
Zara merasakan sesuatu runtuh di dalam dadanya.
Kenzy menoleh,
Baru menyadari Zara ada di sana.
Mata mereka bertemu.
Untuk sepersekian detik.
Ada rasa bersalah di sana.
Dan itu lebih menyakitkan dari apa pun.
“Zara…”
Suaranya serak.
Zara memaksakan senyum kecil.
“Dia siapa?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Hening panjang.
Kakek Jo menutup mata sejenak.
Kenzy menelan ludah.
“Dia…”
Kalimatnya terasa berat.
“Dia adalah Aveline, seseorang yang dulu mengisi ruang kosong itu.”
Sunyi.
Zara merasa napasnya tercekat.
Namun ia tidak menangis.
Belum.
Ia hanya mengangguk pelan.
“Oh.”
Hanya satu kata.
Tapi di dalamnya.
Ada ribuan perasaan yang berusaha ia tahan.
Aveline bergerak sedikit di atas ranjang.
Kenzy langsung mendekat lagi.
Refleks.
Tanpa pikir.
Zara melihat itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi Bersama.
Ia merasa kecil.
Sangat kecil.
Kamar itu terasa sempit.
Terlalu penuh kenangan yang bukan miliknya.
Dan malam itu…
Di tempat tidur Kenzy,
Yang terbaring bukanlah Zara.
Melainkan masa lalu yang belum benar-benar pergi.