Stevi memutuskan untuk melupakan cintanya kepada Alex dengan menerima lamaran dari Thomas, yang tidak lain adalah adik Alex.
Tapi di saat Stevi dan Thomas akan menikah, prahara datang. Stevi di fitnah dan itu membuat Thomas pergi dan meninggalkan Stevi.
Orang tua Thomas yang malu akan kelakuan anak bungsunya, meminta Alex untuk menggantikan adiknya menikahi Stevi.
Alex tidak bisa menolak, namun dalam hatinya Alex sangat marah karena saat ini Alex sudah mempunyai kekasih.
Akankah Stevi bertahan dengan pernikahannya ataukah Stevi memilih untuk pergi dan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 Positif
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa sudah dua Minggu berlalu dari semenjak Stevi menginap di rumah mertuanya, pekerjaan Stevi semakin banyak dan merasa kewalahan.
"Kenapa ya, akhir-akhir ini aku gampang sekali lelah? mana setiap pagi perutku selalu mual lagi, apa jangan-jangan aku kena maag soalnya aku jarang makan," gumam Stevi dengan merentangkan kedua tangannya.
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Bu, ini pesanan Ibu rujak sama es jeruk," seru Lina.
"Terima kasih, Lina."
"Sama-sama, Bu. Oh iya, maaf Bu apa Ibu sedang hamil?" tanya Lina.
Stevi yang baru saja memasukan rujak ke mulutnya langsung tersedak, Lina dengan cepat memberikan es jeruk yang barusan dia belikan.
"Ibu, tidak apa-apa?" tanya Lina panik.
Bukanya menjawab, Stevi malah menatap Lina dengan tatapan serius membuat Lina merasa tidak enak.
"Hamil?" gumam Stevi.
"Maaf Bu, kalau saya salah soalnya Ibu tidak biasanya menyuruh saya belikan rujak," seru Lina dengan menundukkan kepalanya.
"Ah, tidak apa-apa kok. Ya sudah, kamu boleh kembali bekerja."
"Baik, Bu."
Lina pun pergi dari ruangan Stevi, Stevi terdiam memikirkan ucapan Lina barusan lalu Stevi melihat kalender yang ada di atas meja kerjanya itu.
"Astaga, kenapa aku gak sadar? seharusnya aku datang bulan seminggu yang lalu dan ini sudah dua Minggu aku belum datang bulan," gumam Stevi.
Stevi benar-benar kaget, perlahan tangannya mengusap perutnya.
"Tidak, aku tidak mungkin hamil. Masa iya, berhubungan satu kali bisa langsung hamil?" gumam Stevi.
Stevi merasa gelisah, entah kenapa ucapan Lina tadi membuatnya kepikiran terus dan tidak fokus bekerja.
"Apa benar ya kalau aku hamil? soalnya aku juga merasa ada yang aneh dalam diri aku, sepertinya aku harus periksa biar gak penasaran," gumam Stevi.
Stevi segera menyelesaikan pekerjaannya lalu setelah itu, dia dengan cepat pergi dari kantor menuju sebuah rumah sakit. Selama dalam perjalanan, jantungnya berdetak tak karuan.
"Bagaimana kalau aku benar hamil?" seru Stevi.
Stevi bukanya takut tidak bisa membiayai anaknya nanti, tapi Stevi takut kalau nanti anaknya menanyakan Papanya sedangkan sampai saat ini Alex masih menjalani hubungan dengan Maya.
Lagipula Stevi dan Alex sepakat untuk bercerai setelah satu tahun pernikahan.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Stevi sampai di rumah sakit. Stevi langsung menuju ke ruangan dokter kandungan, kebetulan Stevi tadi sudah membuat janji terlebih dahulu biar tidak lama.
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Permisi, dok."
"Mba Stevi, silakan masuk dan silakan duduk."
"Terima kasih, dok."
"Ada apa Mba? ada yang bisa saya bantu?" tanya Dr.Armi ramah.
"Begini dok, seharusnya aku datang bulan itu dua Minggu yang lalu tapi sekarang aku belum ada tanda-tanda untuk datang bulan."
"Apa ada keluhan lain?"
"Iya, aku selalu merasa mual kalau setiap bangun tidur terus aku juga mau makan dan minum yang segar-segar dan kecut-kecut gitu, dok," sahut Stevi.
Dr.Armi tersenyum. "Itu sudah kelihatan kalau Mba Stevi sedang mengandung, tapi untuk meyakinkan saya periksa dulu ya. Silakan Mba Stevi rebahan di sini."
Stevi pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Dr.Armi, dan Dr.Armi mulai memeriksa Stevi.
"Lihatlah Mba, Mba saat ini memang sedang hamil dan diperkirakan baru dua Minggu jadi Mba Stevi harus jaga pola makan dan jangan terlalu capek juga karena lagi rentan-rentannya kalau usia kandungannya baru berusia segitu," seru Dr.Armi.
Stevi benar-benar kaget dengan ucapan Dr.Armi, dia bingung harus bahagia atau sedih.
Dr.Armi selesai memeriksa Stevi dan Dr.Armi pun menyuruh Stevi untuk duduk kembali.
"Saya berikan resep vitamin dan penambah darah juga biar janinnya kuat ya," seru Dr.Armi.
"Dok, dua Minggu lagi aku ada perjalanan bisnis ke Singapura, bagaimana apa tidak akan apa-apa dengan kandunganku?" tanya Stevi.
"Sebenarnya batas aman bagi Ibu hamil untuk bepergian jauh itu kandungannya harus berusia empat belas Minggu sampai dua puluh delapan Minggu, kalau masih empat Minggu rasanya sangat berbahaya, Mba."
"Aduh, tapi aku harus pergi dok, soalnya itu pekerjaan penting banget dan aku harus hadir di sana," seru Stevi.
"Maaf Mba, sepertinya Mba belum bisa kalau harus bepergian jauh dulu takutnya janinnya belum kuat."
Stevi tampak sedih, setelah melakukan pemeriksaan Stevi pun memutuskan untuk pulang dan tidak kembali ke kantor. Stevi terdiam sebentar di dalam mobil, dan mengusap perutnya.
"Ya Allah, ternyata di dalam perut aku sudah tumbuh calon anaknya Kak Alex. Aku gak tahu harus bahagia atau sedih karena posisi aku saat ini bukanlah istri yang diinginkan oleh Kak Alex. Sayang, kamu sehat-sehat ya di dalam perut Mommy, kamu harus kuat seperti Mommy, dan kamu jangan khawatir karena Mommy akan selalu jagain kamu," gumam Stevi dengan mengelus perutnya.
Tidak terasa air mata Stevi menetes, Stevi memutuskan tidak akan memberi tahukan kehamilannya kepada Alex karena Stevi berpikir, Alex tidak akan menginginkan anak itu.
Stevi mulai melajukan mobilnya, dan tidak lupa Stevi mampir ke mini market membeli semua makanan yang dianggapnya akan bisa mengobati rasa mualnya.
***
Malam pun tiba...
Alex baru pulang jam sembilan malam, karena di kantor Alex sedang banyak sekali pekerjaan.
Di saat Alex hendak naik ke lantai dua, Alex melihat kalau di dapur ada Stevi entah sedang apa.
"Itu kan, Stevi? ngapain malam-malam dia ada di dapur?" gumam Alex.
Alex mengurungkan niatnya untuk naik ke lantai dua, dia menghampiri Stevi di dapur. Stevi belum sadar kalau Alex ada di belakangnya, saat ini Stevi sedang membuat lemon tea hangat karena perutnya kembali mual dan dia ingin minum yang segar-segar.
"Kamu sedang apa?" tanya Alex.
Stevi tersentak kaget, sampai-sampai sendok yang dia pegang jatuh.
"Astagfirullah, ngagetin aja," seru Stevi sembari memegang dadanya.
"Kamu lagi buat apa itu?" tanya Alex.
"Apaan sih kepo banget," kesal Stevi.
"Harum sekali, aku mau dong."
"Idih, buat aja sendiri," ketus Stevi.
Stevi pun dengan cepat pergi meninggalkan Alex dengan membawa satu gelas lemon tea hangat ke kamarnya, dan lagi-lagi Alex harus menerima kekecewaan karena sampai saat ini Alex belum bisa meluluhkan hati Stevi.
Akhirnya dengan langkah gontai, Alex pun memilih masuk ke dalam kamarnya karena saat ini dia sudah sangat kelelahan.
Stevi duduk di ujung ranjang dengan menyesap lemon tea hangat buatannya. "Pokoknya Kak Alex jangan sampai tahu kalau saat ini aku sedang mengandung anaknya, aku yakin dia tidak akan mau menganggap janin ini sebagai anaknya," batin Stevi.