NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 20 Kontrak Kerjasama

Dering ponsel itu seolah menjadi satu-satunya penghubung antara realita yang kacau di rumah dengan dunia luar yang tak kenal kompromi. Bara menggeser layar dengan jempol yang sedikit gemetar, menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa sempat mengganti baju atau sekadar membasuh wajah.

​"Selamat malam, Pak Bara," suara di seberang sana terdengar formal namun membawa nada urgensi yang kental.

​Bara berdehem, mencoba menetralkan suaranya yang serak akibat emosi. "Iya, malam juga. Dengan siapa ini?"

​"Saya dari divisi legal Central Dirgantara, Pak. Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak, tapi apa Bapak bisa segera datang ke kantor sekarang? Ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda."

​Bara mengernyit, melirik Renata yang masih menatapnya dengan sisa air mata di pipi. "Sekarang? Ini sudah malam. Apa urusannya benar-benar sepenting itu sampai saya harus ke sana?"

​"Betul, Pak. Ini terkait dokumen kontrak kerja sama kita yang baru-baru ini. Dan sekarang ada beberapa poin krusial yang harus Bapak tinjau dan tanda tangani malam ini juga sebelum tenggat waktu besok pagi. Soalnya pihak direksi sudah menunggu," jelas suara itu tanpa memberi celah untuk menawar.

​Bara mengembuskan napas berat, matanya terpejam sesaat memikirkan tumpukan masalah yang seakan tak ada habisnya. "Oke kalau begitu. Tunggu saya sepuluh menit, saya segera ke sana."

​Pip.

​Panggilan itu terputus. Tanpa memberikan penjelasan atau bahkan menatap mata istrinya, Bara berbalik arah. Ia menuruni anak tangga dengan langkah cepat, mengabaikan seruan lirih Renata yang memanggil namanya. Pintu utama rumah terbanting tertutup cukup keras, dan disusul suara raungan mesin mobil yang dipacu meninggalkan pelataran rumah, meninggalkan Renata yang berdiri mematung di koridor lantai atas, sendirian di tengah keheningan yang menyesakkan.

Renata hanya bisa berdiri mematung di puncak tangga, jemarinya mencengkeram erat pegangan kayu hingga kuku-kuku jarinya memutih. Suara deru mobil Bara yang semakin menjauh seolah merobek sisa keberanian yang ia miliki. Di rumah sebesar ini, ia merasa benar-benar terkunci dalam kesunyian yang mencekam.

​Ia menarik napas gemetar, mencoba mencerna semua yang terjadi dalam satu malam. Papah mertuanya di ICU, tuduhan "pembawa sial" dari Mama Sarah, perempuan misterius yang mencari suaminya, dan sekarang... Bara pergi begitu saja demi urusan kontrak pekerjaannya.

​"Mas... kamu bahkan nggak menoleh sedikit pun," bisik Renata pada bayangannya sendiri.

​Lututnya terasa lemas. Ia terduduk di anak tangga teratas, menyembunyikan wajah di balik kedua lututnya. Isakan yang tadi coba ia tahan kini tumpah tanpa kendali. Ia merasa asing di rumahnya sendiri, merasa seperti hiasan yang tidak diinginkan yang hanya akan dipindahkan atau dibuang ketika dianggap mengganggu.

​Di bawah, Bi Sumi yang mendengar suara pintu terbanting hanya bisa mengintip dari balik pintu dapur. Wajah asisten rumah tangga itu penuh iba, namun ia tahu diri untuk tidak ikut campur lebih jauh. Ia hanya bisa mematikan lampu ruang tamu satu per satu, meninggalkan Renata dalam remang cahaya koridor lantai atas yang semakin terasa dingin dan sunyi.

​Sementara itu, di dalam mobil yang melaju kencang, Bara mencengkeram setir dengan sangat kuat. Pikirannya bercabang antara dokumen kontrak yang katanya darurat dan raut wajah Renata yang hancur saat ia bentak tadi. Ada rasa bersalah yang menghimpit, namun egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ia baru saja melampiaskan semua stresnya pada orang yang paling tidak bersalah.

Setibanya di kantor, lampu-lampu setiap ruangan masih menyala terang, kontras dengan kegelapan malam yang menyelimuti kota. Bara melangkah masuk dengan setelan yang sedikit kusut, namun wajahnya sudah kembali segar. Terlihat di ruang rapat utama, seseorang sudah menunggunya dengan tumpukan berkas di meja kaca yang berkilat.

​Begitu pintu terbuka, sosok itu berdiri. "Pak Bara, terima kasih sudah bersedia datang di jam seperti ini," sapanya sambil mengulurkan tangan.

​Bara menyambut jabatan tangan itu dengan erat. "Sama-sama. Mari langsung ke intinya saja, saya tidak punya banyak waktu malam ini."

​Keduanya duduk berhadapan, dipisahkan oleh dokumen kontrak yang menjadi penentu masa depan kerja sama mereka. Percakapan pun mengalir, awalnya kaku dengan poin-poin hukum yang saling berbenturan. Bara mengernyitkan dahi, memberikan argumen tajam mengenai pembagian keuntungan dan risiko operasional yang menurutnya terlalu timpang.

​"Saya rasa poin pasal 7 ini terlalu memojokkan pihak kami, terutama dalam kondisi pasar yang tidak menentu seperti sekarang," ujar Bara sambil mengetukkan pulpennya ke atas kertas.

​Lawan bicaranya mengangguk, memahami ketegasan Bara. "Saya mengerti kekhawatiran Anda. Bagaimana jika kita melakukan penyesuaian pada klausul jangka waktunya? Kita beri ruang untuk evaluasi setiap enam bulan."

​Bara terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran tersebut dalam benaknya. Ia memutar otak, mencari titik temu di mana kedua belah pihak merasa aman namun tetap ambisius. Setelah hampir satu jam saling bertukar pendapat dan membedah detail teknis, ketegangan di antara mereka perlahan mencair.

​"Jika begitu kesepakatannya, saya rasa ini bisa diterima," ucap Bara akhirnya, menarik napas lega saat draf revisi terakhir disodorkan.

Namun, tepat saat Bara hendak meraih pulpen untuk melakukan tanda tangan, pihak yang di ajak kerjasama itu tiba menarik kembali berkas itu sedikit ke arahnya. Pria itu tampak ragu, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kaca dengan irama yang gelisah.

​"Mohon maaf, Pak Bara," ucapnya dengan suara yang tiba-tiba merendah. "Setelah saya pikirkan kembali, ada satu hal yang mengganjal di benak saya. Terutama mengenai kestabilan kepemimpinan di perusahaan Bapak untuk beberapa bulan ke depan."

​Bara menghentikan gerakannya, matanya menyipit tajam. "Maksud Anda apa? Kita sudah membahas ini selama satu jam terakhir."

​Pria itu berdehem pelan, tampak tidak enak hati namun merasa harus mengatakannya. "Saya mendengar kabar burung mengenai kondisi kesehatan Kepala Adiwangsa Group, Bapak Baskoro. Kita semua tahu beliau adalah pilar utama di balik kesepakatan ini sejak awal. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan... apakah Bapak Bara bisa menjamin operasional ini tidak akan terganggu oleh urusan keluarga?"

​Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin. Bara merasakan rahangnya mengeras. Pertanyaan itu menghantam titik paling sensitifnya malam ini—mengingatkannya pada ruang ICU, pada makian ibunya, dan pada perdebatan panasnya dengan Renata.

​"Saya berdiri di sini sebagai profesional," jawab Bara dengan suara yang ditekan, berusaha menjaga wibawanya. "Kondisi pribadi keluarga saya tidak akan pernah saya biarkan menyentuh integritas kontrak ini. Jika itu yang Anda ragukan, maka Anda meragukan kemampuan saya memimpin perusahaan ini."

​Lawan bicaranya terdiam, menatap Bara dengan intens, mencoba mencari celah keraguan di mata pria itu. Keheningan yang tercipta di ruang rapat tersebut terasa begitu tegang, seolah masa depan perusahaan kini bergantung pada jawaban yang akan keluar berikutnya.

Pria itu menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi sembari menatap draf di hadapannya dengan bimbang. "Saya tidak meragukan kemampuan Anda, Pak Bara. Saya tahu reputasi Anda sangat bagus, bahkan jauh melampaui saya pribadi. Tapi, urusan keluarga yang tidak stabil bisa saja merusak jam kerja. Nah itu dia risiko yang membuat direksi kami merasa khawatir."

​Bara terdiam sejenak, memutar otak mencari jalan tengah agar negosiasi ini tidak berakhir sia-sia. Ia tidak boleh membiarkan masalah pribadinya menghancurkan peluang emas ini.

​"Begini saja," ujar Bara, suaranya tenang namun penuh penekanan. "Kita jalankan kontrak ini sebagai proyek percontohan dalam jangka pendek dulu. Mari kita lihat perkembangannya dalam tiga sampai enam bulan ke depan. Jika Anda merasa puas dengan kinerja saya dan hasilnya sesuai ekspektasi, kita bisa memperpanjangnya menjadi kontrak permanen. Bagaimana? Anda tidak perlu mengambil risiko jangka panjang sekarang."

​Pria itu tampak menimbang-nimbang. Keraguan masih membekas di wajahnya, namun tawaran Bara terlalu logis untuk ditolak. Setelah beberapa saat hening, ia akhirnya mengangguk pelan.

​"Baiklah, Pak Bara. Penawaran yang cukup adil. Saya setuju," ucapnya sembari menarik pulpen dari saku jasnya.

​Suasana yang tadinya tegang mendadak mencair saat keduanya membubuhkan tanda tangan di atas materai. Kesepakatan resmi tercapai. Pria itu menjabat tangan Bara dengan lebih mantap sekarang.

​"Karena saya sudah melihat komitmen Anda malam ini, Pak Bara. Saya akan langsung memasukkan investasi sebesar 25% sebagai modal awal pengembangan divisi baru ini. Saya harap suntikan dana ini bisa mempercepat progres kita sebelum laporan kuartal pertama keluar," lanjut pria itu.

​Bara mengangguk, merasa sedikit beban di pundaknya terangkat. "Terima kasih atas kepercayaannya. Saya pastikan modal itu akan berputar di tempat yang tepat."

​Namun, di tengah kesuksesan profesional yang baru saja ia raih, ponsel di saku Bara kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk, kemudian Bara merogoh ponselnya, matanya menyipit saat membaca nama pengirim pesan di layar yang menyala redup.

"​Mas kamu di mana? Aku di rumah sakit sekarang," pesan itu dari Maya.

​Jari Bara bergerak cepat membalas singkat, "Aku lagi ada urusan kerja."

​Ia sempat terdiam sejenak, ada rasa tidak tenang yang tiba-tiba menyelinap. Ia mengetik lagi, "Dari kapan kamu di rumah sakit?"

​Tak butuh waktu lama bagi Maya untuk membalas, "Barusan aku sampai, ini aku bawain makanan kesukaan kamu."

​Bara hanya menatap layar itu dengan datar. "Oh... yaudah, kayaknya aku nggak bisa ke situ deh," balasnya menutup percakapan sebelum memasukkan kembali ponselnya ke saku jas. Ia segera berdiri dan berjabat tangan dengan rekan bisnisnya untuk mengakhiri pertemuan malam yang cukup melelahkan itu.

​"Terima kasih atas kerja samanya, Pak," ucap pria itu sembari melangkah menuju pintu keluar.

​Tepat saat sosok pria itu menghilang di balik pintu, ponsel Bara kembali bergetar hebat. Kali ini bukan pesan singkat, melainkan sebuah panggilan suara. Nama sepupunya berkedip di layar, memaksa Bara untuk menghela napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol hijau.

"Iya halo, kenapa Ren?" tanya Bara begitu sambungan terhubung.

​"Oh ya, lo udah ketemu sama klien dari Central Dirgantara?" suara Reno terdengar agak terburu-buru di seberang sana.

​Bara mendengus tipis, ada nada kemenangan sekaligus lelah di suaranya. "Telat ngabarinnya lo. Barusan udah beres tanda tangan kontrak."

​"Apa?! Kok... lo nggak nungguin gue sih, Bar?" Reno terdengar cukup kesal. Sebagai partner sekaligus sepupu, ia merasa dilewati dalam momen krusial ini. "Gue kan yang pegang data auditnya!"

​"Alah, kelamaan nungguin lo. Mending ke ruangan gue sekarang, ada yang mau dibahas," potong Bara tak mau didebat.

​"Oke deh, ini gue bentar lagi sampai. Kayaknya yang mau lo omongin serius banget," sahut Reno.

​"Udah, nanti aja dibahasnya," tutup Bara singkat sebelum mematikan sambungan.

Setelah panggilan berakhir, ​Bara bangkit dari kursi ruang rapat yang empuk, langkah kakinya bergema di lorong kantor yang sunyi. Setibanya di ruang pribadinya, ia langsung mengempaskan tubuh di kursi empuknya. Tangan kanannya meraih remote di meja, menekan tombol hingga terdengar bunyi tit yang halus, mengatur suhu AC agar lebih dingin untuk meredam kepalanya yang terasa mendidih sejak tadi sore. Di tengah kesunyian ruangan yang mulai mendingin itu, ia menyandarkan kepala, menatap langit-langit sambil menunggu ketukan pintu dari Reno.

Sementara di dapur yang sunyi, Renata bergerak dalam diam, mencoba mengalihkan gemuruh di dadanya dengan kesibukan tangan. Ia mengeluarkan rantang susun berbahan stainless steel dari lemari, lalu mulai mengisinya dengan hati-hati.

​Ia tahu suaminya belum menyentuh makanan sejak kekacauan di rumah sakit tadi siang. Ego dan rasa sakit hatinya memang masih berdenyut, namun pengabdiannya sebagai istri seolah memanggil dirinya. Ia tidak bisa membiarkan suaminya tumbang di tengah tekanan yang bertubi-tubi, apalagi sekarang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.

​Dengan telaten, Renata menata nasi hangat, lauk pauk, dan sedikit sayuran ke dalam wadah tersebut. Ia memastikan porsinya cukup untuk membuat tenaga Bara pulih. Meski kata-kata kasar Bara masih terngiang jelas di telinganya, tangan Renata tetap bergerak lembut saat menutup setiap susunan rantang tersebut.

​"Bi," panggil Renata pelan pada Bi Sumi yang masih terjaga. "Tolong siapkan tas kainnya ya. Saya mau antar ini ke kantor Mas Bara."

​Renata memandang rantang itu dengan tatapan nanar. Ia hanya berharap, makanan ini bisa menjadi jembatan untuk mencairkan ketegangan di antara mereka, atau setidaknya, memastikan bahwa Bara tidak menghadapi masalahnya dengan perut kosong.

Setelah siap, Renata melangkah keluar dari pintu utama, sambil menenteng rantang yang terasa cukup berat di tangannya. Udara malam yang lembap menyapa wajahnya yang masih sedikit sembap, namun ia berusaha menegakkan bahu. Di tengah remang lampu teras, ia berdiri mematung di pinggir halaman, menatap lurus ke arah gerbang yang tertutup rapat.

​Rumah besar itu terasa begitu sunyi di belakangnya, kontras dengan gemuruh pikiran yang masih menghantui. Sambil menunggu jemputan yang sudah ia pesan melalui aplikasi, Renata sesekali melirik ke arah rantang di tangannya. Ada keraguan yang menyelinap; apakah kedatangannya ke kantor justru akan memicu amarah Bara lagi? Ataukah pria itu akan sedikit melunak setelah melihat perhatiannya?

Tepat ​sebuah mobil dengan lampu depan yang menyilaukan perlahan melambat dan berhenti tepat di depan gerbang. Renata menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa cemas yang menghimpit dadanya. Ia memberikan isyarat singkat kepada penjaga gerbang untuk membukakan jalan, lalu melangkah keluar dengan mantap. Ia hanya ingin memastikan suaminya makan, meskipun saat ini hatinya sendiri masih terasa hancur berkeping-keping.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!