NovelToon NovelToon
Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Ahli Bela Diri Kuno / Pusaka Ajaib / Tamat
Popularitas:227.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Dalam menghadapi ancaman serangan Negeri Tanduk dari seberang lautan, Prabu Dira Raja Kerajaan Sanggana Kecil, memerlukan benteng di wilayah pesisir dan angkatan laut. Karena kerajaannya berada di tengah daratan, Prabu Dira tidak memiliki angkatan laut dan wilayah kekuasan di pesisir.

Kerajaan Sanggana Kecil merencanakan kerja sama dengan Kerajaan Pasir Langit dan Kerajaan Werang. Langkah pertama Prabu Dira jalankan adalah menjalin kerja sama dengan Kerajaan Pasir Langit.

Namun, raja Kerajaan Pasir Langit menolak proposal kerja sama Prabu Dira mentah-mentah. Raja Kerajaan Pasir Langit merasa sebagai kerajaan yang kuat dengan angkatan laut yang besar, jadi tidak membutuhkan bantuan kerajaan lain.

Prabu Dira pun mencari cara bagaimana supaya bisa memiliki angkatan laut dan membangun benteng pertahanan di sepanjang wilayah pesisir.

Mampukah Prabu Dira menaklukkan Kerajaan Pasir Langit yang merasa hebat? Hanya di novel “Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit” jawabannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemuji 28: Terduga Pembunuh

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

 

“Apa dia ingin membunuhku?” tanya Prabu Galang marah yang tidak bisa dijawab oleh semua Mahapatih Olo Kadita, Rempak Tujuh dan Panglima Istana Banta Ufuk.

Prabu Galang sudah bisa menduga kuat siapa orang yang berada di balik para pembunuh kedua pejabatnya. Dugaan kuat itu berdasarkan dua bukti. Pertama, bukti pedang yang ditinggalkan menancap di bahu Menteri Balelewa. Kedua, bukti jalan lolosnya pembunuh Menteri Balelewa.

Berdasarkan bukti pedang yang merupakan buatan Penempa Busur di wilayah Kerajaan Teluk Busung, Mahapatih Olo Kadita sudah menduga kuat bahwa para pembunuh ada hubungannya dengan Kerajaan Sanggana Kecil.

Akan tetapi, berdasarkan petunjuk kedua, dugaan Mahapatih Olo Kadita dibantah oleh Prabu Galang Digdaya sendiri.

Beberapa waktu yang lalu di sekitar kolam merah, Pasukan Istana kebingungan karena dua pembunuh yang mereka kejar tahu-tahu hilang seperti ditelan angin.

Kehilangan di tempat tersebut membuat Panglima Istana Banta Ufuk mencurigai tanaman merambat yang melapisi dinding batu.

Panglima Banta Ufuk turun dari kudanya dan berjalan mendekati dinding batu. Komandan Talang Karat mengikuti junjungannya.

“Di dinding batu ini ada jalan rahasia, Talang Karat. Kau perlu tahu sekarang,” kata Banta Ufuk sambil menyibak tanaman menjalar yang menutupi dinding batu. Setelah disibak menggunakan tangan, maka terlihatlah dinding batu, tidak ada jalan.

Gredeg!

Namun, ketika Banta Ufuk mendorong dinding batu itu dengan tenaga yang cukup besar, dinding batu itu bergerak membuka sebuah celah batu yang gelap. Sepertinya itu jalan rahasia. Banta Ufuk terus mendorong dinding batu yang kian lebar membuka sebuah pintu.

Para prajurit yang sedang menggeledah area itu, jadi memerhatikan apa yang dilakukan oleh panglima mereka.

“Pintu rahasia ini baru saja dibuka. Para pembunuh itu pasti menghilang karena lewat lorong rahasia ini,” kata Banta Ufuk yang bisa melihat tanda-tanda bahwa pintu batu itu baru saja dibuka dan ditutup kembali. Ada bekas gesekan pada bagian bawah pintu batu.

Memang, Panglima Banta Ufuk tahu bahwa di dinding itu ada pintu rahasia yang tidak diketahui oleh prajurit, termasuk selevel Komandan Talang Karat. Namanya juga pintu rahasia, jadi yang tahu hanya beberapa orang saja, seperti Panglima Istana dan Prabu Galang Digdaya.

Komandan Talang Karat diperintahkan untuk mengejar bersama pasukannya lewat lorong rahasia tersebut. Namun kemudian, mereka kehilangan buruan. Komandan Talang Karat hanya menemukan jejak-jejak baru di beberapa bagian lorong yang ternyata tembus ke laut.

Istana dan ibu kota Digdaya memang berada di pinggir laut, tetapi mereka membelakangi laut. Orang yang berada di Istana dan di Ibu Kota harus pergi ke Muara Jerit untuk bisa melihat lautan. Antara Ibu Kota dan pantai ada hutan kecil yang berujung pada hutan bakau.

Karena pembunuh itu lewat jalan rahasia yang sebelumnya hanya diketahui oleh beberapa orang saja, Prabu Galang Digdaya langsung bisa menerka siapa yang punya perintah kepada para pembunuh itu.

“Namun bagaimanapun, keamanan Istana dan Ibu Kota harus lebih ditingkatkan sampai situasi benar-benar aman. Sebar Pasukan Kaki Gunung di Istana dan Ibu Kota!” perintah Prabu Galang Digdaya.

“Baik, Gusti,” ucap Mahapatih Olo Kadita dan Panglima Banta Ufuk.

“Mohon maaf, Gusti,” ucap Rempak Tujuh sembari menjura hormat. “Jika Gusti Prabu sudah yakin siapa pelakunya, apakah keluarga mendiang Menteri Aduh Mantang lebih baik dibebaskan?”

“Lakukan saja sandiwara pertanyaan dan siksaan ringan. Jika kita membebaskan mereka begitu saja, mereka akan berkesimpulan bahwa Istana sudah mengetahui siapa pembunuhnya. Mereka akan menagih nama pelakunya,” jawab Prabu Galang Digdaya.

“Baik, Gusti,” ucap Rempak Tujuh yang sebenarnya tidak setuju dengan cara itu karena dia adalah seorang profesionalisme. Namun, di depan sang raja dia tetap harus terlihat patuh.

“Menteri Keuangan datang menghadaaap!” teriak prajurit penjaga di luar.

Menteri Kuangan Badaragi datang dengan langkah yang cepat. Wajahnya begitu kentara menunjukkan ketegangan.

“Sembah hormat hamba, Gusti Prabu,” ucap Badaragi sembari berlutut menghormat.

“Bangunlah, Badaragi!” perintah Prabu Galang Digdaya.

“Gusti,” sebut Badaragi selagi dia belum bangkit berdiri.

“Apakah ada kabar pembunuhan lagi?” terka Prabu Galang lebih dulu.

“Hamba juga menjadi target pembunuhan, Gusti!” lapor Badaragi.

Terkejut Prabu Galang Digdaya dan ketiga penjabatnya mendengar itu.

“Kau mendapat serangan juga di dalam Istana? Bukankah tadi kau baik-baik saja?” terka Prabu Galang lagi.

“Tidak, Gusti. Namun, Menteri Aduh Mantang dan Balelewa adalah dua menteri yang dekat dengan Gusti Putri. Itu berarti hamba juga akan menjadi sasaran. hamba juga dekat dengan Gusti Putri, Gusti,” jawab Badaragi.

Terkesiap Mahapatih Olo Kadita, Rempak Tujuh dan Banta Ufuk. Bagi mereka, dasar Badaragi masuk akal.

“Aduh Mantang dan Balelewa memang dekat dengan putriku, tetapi belum tentu kareda dasar kedekatan dengan putriku mereka ditargetkan dan dibunuh,” sangkal Prabu Galang Digdaya.

“Kesimpulan itu karena Gusti Putri juga mendapat serangan,” tandas Badaragi.

“Apa?!” pekik Prabu Galang Digdaya dan kedua pejabatnya. Lalu dia memaki dngan marah, “Anak tidak tahu diri!”

Ptak!

Tangan kursi kayu jati yang diduduki oleh Prabu Galang Digdaya patah oleh kuatnya cengkeramannya karena menahan amarah.

“Mo-mo-mohon maaf, Gusti!” ucap Badaragi tergagap, efek dari syok karena kemarahan sang prabu. “Gusti Putri tidak bersalah, Gusti. Justru Gusti Putri yang ingin dibunuh.”

“Aku tidak marah kepada putriku Ani, tapi aku marah kepada anakku yang lain!” teriak Prabu Galang sambil berdiri kesal. “Siapa yang memberimu kabar bahwa Putri Ani diserang?”

“Ronda Galo diberi tahu oleh Rincing Kila, Gusti. Dia juga memperingatkan hamba untuk berhati-hati karena kemungkinan besar hamba juga menjadi target,” jawab Badaragi.

“Kucari!” panggil Prabu Galang Digdaya.

“Hamba, Gusti Prabu,” ucap wanita berpakaian pendekar yang merupakan tangan kiri Prabu Galang Digdaya, sembari menjura hormat.

“Sampaikan perintahku kepada Komandan Ati Urat untuk membawa pasukannya pergi mencari Gusti Putri dan membawanya pulang. Aku tidak mau terjadi apa-apa terhadap putriku!” perintah Prabu Galang Digdaya.

“Baik, Gusti Prabu,” jawab tangan kiri sang prabu yang bernama Kucari. Maksudnya tangan kirinya yang bernama Kucari, bukan sang prabunya.

Maka pergilah wanita berpenampilan pendekar itu. Dia tidak perlu surat perintah atau surat izin mengemudi untuk menyampaikan perintah. Kedudukannya sebagai Tangan Kiri Raja sudah memberi legalitas kepada apa yang akan dia sampaikan.

“Mahapatih, turunkan perintah kepada Empat Jangkar Maut untuk mengawal Menteri Keuangan sampai kondisi benar-benar aman!” perintah Prabu Galang.

“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Olo Kadita.

“Kirim Pendekar Rantai Cantik dan Pasukan Kaki Gunung sebagai utusan untuk memanggil pulang Pangeran Tirta Gambang. Aku khawatir dia tidak mau pulang!” perintah Prabu Galang Digdaya lagi.

“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Olo Kadita lagi.

“Mahapatih, Rempak Tujuh, Banta Ufuk, kalian boleh pergi!” perintah Prabu Galang Digdaya.

“Baik, Gusti,” ucap ketiga pejabat yang disebut.

Keduanya lalu menjura hormat dan pergi meninggalkan ruangan besar itu. Tinggallah Prabu Galang Digdaya, Badaragi dan tangan kanan sang prabu.

“Badaragi, apakah kau melihat Putri Ani memiliki ambisi kepada tahta?” tanya Prabu Galang.

“Mohon maaf, Gusti. Sejauh ini perhatian Gusti Putri banyak tercurahkan kepada budidaya ikannya. Dia hampir tidak pernah menyinggung perkara tahta. Hanya sesekali dia mengungkapkan bahwa dirinya masih mendendam kepada Gusti Prabu karena kematian Agi Lodya. Gusti Prabu tentu mengetahui bahwa Gusti Putri tidak suka dikawal oleh pasukan. Dia ingin bebas. Menurut hamba, itu menunjukkan bahwa Gusti Putri tidak tertarik dengan tahta, terlebih Gusti Prabu masih sangat perkasa,” jawab Badaragi cukup panjang.

“Dia adalah calon penerusku. Awalnya aku menaruh harapan kepada Tirta karena dia berambisi untuk menjadi yang terkuat. Namun belum apa-apa, dia sudah membunuh dua menteri, bahkan ingin membunuh Putri Ani. Apa jadinya kalau Permaisuri tahu tentang ini. Namun aku pun khawatir, jika Putri Ani berambisi kepada tahta, kepalaku yang akan dia penggal,” kata Prabu Galang Digdaya curhat. (RH)

\=\=\=\=\=\=\=\=

CATATAN:

Mohon maaf jika banyak komentar dari readers yang tidak Author balas karena kesibukan Author yang padat.🙏🙏😀

1
Idrus Salam
Kekaguman seorang raja atas wanita menimbulkan rasa yang baru di hatinya akankah berdampak pada kebijakannya. Sementara pada ujung yang lain ada pembatasan yang diminta oleh salah satu permaisurinya.

Bukannya pada beberapa episode yang telah lalu Ratu Tirana sebagai lalu lintas perjalanan cinta sang prabu...
Idrus Salam
Kelancangan memang tidak baik untuk dibiarkan karena akibat lainnya akan datang jika kurang mendapat suatu tindakan yang membuat jera pelakunya. Siapa sangka hal ihwal kurang ajar sering berlalu dalam sendi penyelewengan buat akibat yang mungkin terabaikan.

lam
Idrus Salam: Hehe
terlalu yah Om
"paralun" Gusti
total 2 replies
Idrus Salam
Sungguh tindakan terlalu berani meminta istri seseorang yang memiliki segalanya, tapi bukankah yang terlalu itu tidak dianjurkan, bahkan sebaiknya layak untuk dihindari...
Idrus Salam: lebih baik pertengahan, iya kan Om
total 2 replies
Bimo
Luar biasa
asta guna
pinjam dulu seratus
asta guna
anjay ... sama emak2 usia seabad jg Ayuk aja nih si perempuan berjakun
Om Rudi: tergantung kebutuhan Kakak/Smile/
total 1 replies
🏡s⃝ˢ⍣⃟ₛ🇸𝗘𝗧𝗜𝗔𝗡𝗔ᴰᴱᵂᴵ🌀🖌
aku pingin mendekati tapi tak berdaya
🏡s⃝ˢ⍣⃟ₛ🇸𝗘𝗧𝗜𝗔𝗡𝗔ᴰᴱᵂᴵ🌀🖌: wkwkwk🤣🤣🤣
total 2 replies
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Kak Dewi Bunga? wah wahh pasti cantik e😍😍😍
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
bukan KW dong ya, bersertifikat halal dan BPPom juga gak Om?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini prabu yang bini nya buanyak kmrn ya Om?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
nah leluhur saya pula itu, emak2 Ghibah Generation 🤣🤣🤣
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
welah sangar dari LN ceritanya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
hadehh tanggal lahir gimana mau janjian , kecuali caecar om pas hari brojolnya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
nah kan kalkulator beraksi
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
yang dibersihkan memang yg ter penting itu wajah+ketiak, anggap aja udah mandi
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
btw sering ditemukan jubah berwarna ungu, ini khas banget loh
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Assalamualaikum hadir Om
❀∂я🤎AnitaPraditaM⃟3💋
selamat ya sangka Buana akhirnya km dpt menikahi salah satu permaisuri dari delapan Dewi bunga ya 🤭
Tabah P
kecewa berat bg....🙏🙏🙏😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!