NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15

****

Waktu melesat laksana titisan embun yang menguap di pucuk dedaunan perbukitan Joglo. Empat purnama telah berlalu sejak malam badai fitnah yang menggoncang kepercayaan di kamar utama. Di dalam benteng jati yang kokoh itu, musim telah berganti menepis sisa-sisa kecanggungan lawas. Ranjang jati raksasa berukir kala makara kini tak lagi menyimpan memori tentang ketakutan seorang gadis tawanan utang, melainkan telah menjelma menjadi saksi bisu bagi jalinan asmara yang kian rapat, intens, dan dipenuhi kerelaan yang membara di setiap malamnya.

Hubungan suami-istri di antara pria kepala empat dan permaisuri mudanya telah berubah total. Tidak ada lagi rintihan perih manis yang mengiris batin seperti malam-malam awal pernikahan mereka. Yang tersisa hanyalah pemenuhan hasrat yang sah, sebuah ritme asmara yang bergelora di mana Larasati telah sepenuhnya memahami bagaimana cara menyambut gelombang gairah suaminya yang kokoh dan tak kenal lelah. Stamina Baskoro yang prima bagai soko guru pendopo tak lagi membuatnya gemetar ketakutan, melainkan membuatnya memasrahkan raga dengan penuh kerinduan.

Namun, jagat asmara tetap memiliki rahasia alamnya sendiri.

Pada suatu malam yang pekat, ketika angin gunung berdesir lirih menggoyang kelambu sutra, Baskoro baru saja menyelesaikan beberapa lembar pembukuan tanah di meja kecilnya. Pria itu bangkit, menyisakan selembar kain jarik yang melilit pinggangnya, memperlihatkan dada bidangnya yang tegap. Ia melangkah mendekati ranjang, menatap Larasati yang sudah berbaring miring. Hawa maskulin yang pekat memancar saat Baskoro merangkak naik ke atas kasur kapuk, mengulurkan lengannya yang besar untuk menarik tubuh istrinya ke dalam kungkungan hangat.

Saat jemari kasar Baskoro mulai merayap lembut menyusuri lekuk pinggang Larasati, bersiap untuk memulai ritual malam mereka, Larasati mendadak menahan tangan suaminya. Tubuh belianya sedikit menegang, dan ia meletakkan telapak tangannya di dada Baskoro, menatap suaminya dengan sorot mata yang sayu dan sayup-sayup pucat.

"Mas... nyuwun sewu," bisik Larasati dengan napas yang agak berat. Kepalanya terasa berputar, dan sebuah gelombang mual yang aneh mendadak menyodok hulu hatinya. "Malam ini... kepala kulo rasanya sangat pusing, Mas. Perut kulo juga rasanya mual dan bergejolak tidak nyaman."

Baskoro seketika menghentikan gerakannya. Alis tebalnya bertaut cemas, dan ia menundukkan wajahnya untuk memeriksa kening Larasati. "Kamu sakit, Nduk? Wajahmu memang agak pucat. Apakah hawa dingin gunung merayap masuk ke selimutmu?"

Larasati menatap wajah paruh baya suaminya yang dipenuhi rasa khawatir. Di dalam hati kecilnya, terselip rasa tidak enak yang teramat besar. Ia tahu betul betapa Mas Baskoro selalu menantikan malam-malam kebersamaan mereka setelah seharian penuh memikul beban berat sebagai juragan tanah di luar rumah. Larasati tidak ingin mengecewakan pria yang telah menjadikannya ratu di rumah megah ini.

"Mboten, Mas... mboten menopo-nopo," ucap Larasati pelan, mencoba mengusir rasa pusingnya dengan memaksakan seulas senyum lembut. Ia menarik tangan Baskoro kembali ke pinggangnya, merapatkan tubuhnya tanpa jarak. "Mungkin kulo hanya kelelahan karena membantu Mbok Sum menjemur gabah siang tadi. Kulo... kulo tetap ingin melayani suami kulo malam ini."

Baskoro menatap mata Larasati yang sarat akan pengabdian murni. "Jangan dipaksa jika ragamu menolak, Laras. Aku bisa menahan diri."

"Mboten, Mas. Peluk kulo..." bisik Larasati lirih, bibirnya mendekat untuk mengecup rahang tegas suaminya, meruntuhkan sisa pertahanan batin Baskoro.

Malam itu, penyatuan raga kembali terjadi di balik kelambu yang temaram. Kendati tubuh Larasati didera rasa pusing yang samar, sentuhan dan ritme gerakan Baskoro yang disesuaikan dengan kelembutan ekstra justru membakar gairah tersembunyi di antara mereka. Kamar utama kembali dipenuhi oleh desah napas yang saling berkejaran, kepasrahan Larasati yang manis berpadu dengan erangan rendah Baskoro yang sarat akan kepemilikan mutlak. Peluh bercucuran, mengunci sumpah setia mereka dalam untaian kenikmatan yang sah hingga malam melarut kabur.

Keesokan paginya, matahari baru saja merayap naik menembus kisi-kisi jendela jati ketika Larasati terbangun. Rasa pusing semalam telah sedikit berkurang, namun tubuhnya terasa sangat lemas. Di sampingnya, kasur sudah kosong—Baskoro tampaknya sedang mandi atau berada di selasar dalam.

Larasati duduk di tepi ranjang, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Tepat pada saat itu, pintu kamar terbuka perlahan. Baskoro melangkah masuk dengan langkah tegap, namun ada sesuatu yang berbeda. Pria itu sedang menyesap rokok klembak menyan kesukaannya, menguapkan asap putih beraroma cengkih dan kemenyan yang manis ke udara kamar.

Ugh.

Aroma asap rokok yang biasanya terasa akrab dan menenangkan bagi Larasati mendadak berubah menjadi bau yang teramat busuk dan menyengat di indra penciumannya. Perut Larasati seketika jungkir balik. Rasa mual yang luar biasa dahsyat menyodok tenggorokannya tanpa bisa ditahan lagi.

Larasati refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak panik. Tanpa memedulikan kain jariknya yang agak berantakan, ia langsung melompat turun dari ranjang dan berlari kencang menuju wadah air di sudut belakang kamar.

Huekkk... ohhh... huekkk!

Larasati membungkuk dalam-dalam, memuntahkan cairan bening dari perutnya yang kosong ke dalam tempayan pembuangan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, dan dadanya kembang-kempis menahan rasa mual yang terus beruntun menyiksa kerongkongannya.

Baskoro terkejut setengah mati. Melihat istri kecilnya muntah-muntah hebat dengan wajah yang seketika memucat pasi, ia langsung membuang rokok klembak menyannya ke lantai tegel dan menginjaknya hingga padam. Ia berlari mendekati Larasati, merengkuh bahu mungil gadis itu yang kini berusia delapan belas tahun, menahannya agar tidak limbung.

"Laras! Nduk! Ada apa?" suara Baskoro meninggi oleh rasa panik yang luar biasa, sesuatu yang sangat langka terjadi pada sang juragan besar. Tangan besarnya dengan cekatan mengusap tengkuk Larasati, mencoba meredakan gejolak di perut istrinya. "Mbok Sum! Mbok Sum, masuk ke sini sekarang!" teriak Baskoro ke arah luar selasar.

Larasati masih terengah-engah, air mata menetes di sudut matanya karena rasa mual yang menguras tenaga. "Mas... asap itu... kulo mboten kuat... baunya sangat menusuk..." bisik Larasati dengan suara yang teramat lemah, bersandar seutuhnya pada dada bidang Baskoro.

Pintu kamar terbuka dengan cepat, Mbok Sum masuk dengan wajah cemas, membawa semangkuk air hangat. "Wonten menopo, Raden Mas? Gusti Nyai kenapa?"

"Aku tidak tahu, Mbok! Larasati mendadak muntah-muntah hebat setelah mencium asap klembak menyan. Wajahnya pucat sekali," ucap Baskoro, menuntun Larasati kembali duduk di tepi ranjang dengan sangat hati-hati. "Pergi ke desa bawah sekarang, panggil tabib distrik atau siapa pun yang bisa mengobatinya!"

Mbok Sum meletakkan mangkuk air hangat di meja rias, lalu berjalan mendekati ranjang. Wanita tua berpengalaman itu tidak tampak panik. Matanya yang jeli menatap wajah Larasati yang sayu, lalu beralih menatap Baskoro yang mondar-mandir cemas. Sebuah pemahaman mendadak melintas di benak Mbok Sum.

"Nyuwun sewu, Raden Mas... Gusti Nyai," ucap Mbok Sum dengan suara yang mendadak melembut dan dipenuhi binar haru. "Apakah... apakah Gusti Nyai juga tidak datang bulan dalam dua siklus terakhir?"

Larasati tertegun di atas ranjang. Jiwa mudanya sempat melupakan hal itu karena sibuk mengurus lumbung. Ia menghitung hari dalam benaknya, lalu menatap Mbok Sum dengan mata membelalak kecil. "Kulo... inggih, Mbok. Kulo sudah lama mboten datang bulan."

Baskoro menghentikan langkahnya, menatap Mbok Sum dan Larasati bergantian dengan alis bertaut bingung. "Apa maksudmu, Mbok? Jangan berbelit-belit saat istriku sedang sakit!"

Mbok Sum langsung menjatuhkan lututnya ke lantai tegel, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan air mata yang mulai berkaca-kaca di sudut matanya yang keriput. "Raden Mas... ini bukan penyakit biasa. Hamba bertaruh dengan seluruh sisa umur hamba... rahim Gusti Nyai Larasati tidak lagi kosong. Benih Anda... benih keluarga bangsawan Joglo telah tumbuh di dalam rahim suci permaisuri Anda, Raden Mas."

Jleg.

Bagai disambar petir di siang bolong, Raden Mas Baskoro mematung seketika di tengah kamar. Seluruh wibawa angkuh dan kekakuan juragan tanah yang selama puluhan tahun ia pertahankan seolah runtuh, menguap ke udara fajar. Tangannya yang besar bergetar samar. Pria empat puluh tahun itu menatap perut Larasati yang masih rata di balik kain luriknya, lalu menatap wajah istrinya yang kini juga tampak terkejut namun dipenuhi rona bahagia yang baru.

Baskoro melangkah mendekat dengan lutut yang terasa lemas. Pria ditakuti seluruh distrik itu perlahan menjatuhkan dirinya, berlutut di lantai tegel tepat di depan lutut Larasati. Ia meraih kedua tangan kecil Larasati, menciuminya berulang kali dengan napas yang memburu menahan gejolak emosi yang teramat membuncah.

"Laras... Larasati..." bisik Baskoro. Suaranya bergetar hebat, serak, dan matanya yang sedalam sumur tua kini tampak berkaca-kaca menahan air mata haru yang tak lagi mampu ia bendung. "Apakah... apakah itu benar, Nduk? Anak kita?"

Larasati menundukkan wajahnya, air mata kebahagiaan mengalir deras melewati pipinya. Ia melepaskan satu tangannya, lalu menuntun tangan besar Baskoro yang kasar untuk menempel tepat di atas perut ratanya. "Inggih, Mas Baskoro... Mas suamiku. Penyatuan kita selama ini... raga kulo yang Anda dekap setiap malam... telah melahirkan tunas baru di sini. Ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahim kulo."

Baskoro memejamkan matanya rapat-rapat, menempelkan keningnya yang berkerut di atas pangkuan Larasati. Bahu kekarnya yang tegap tampak terguncang pelan karena tangis haru yang akhirnya pecah. Setelah belasan tahun hidup dalam kesepian dan kegelapan tradisi feodal yang dingin di rumah joglo yang angkuh ini, fajar sesungguhnya telah tiba. Keintiman yang penuh kerelaan di atas ranjang jati itu telah resmi mengunci takdir luhur mereka, melahirkan benih keturunan yang kelak akan mengubah seluruh garis hidup keluarga mereka di masa depan.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!