Reuni, ajang bertemunya kembali dengan kawan lama. Tidak jarang, ajang ini dijadikan momen pamer kekayaan dan kekuasaan. Apakah mungkin, kisah cinta lama dapat bersemi kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Han Datang
Pov : Widya
"Ah, iyakah? Kenapa aku tidak merasa memblokir nomormu ya, Mas?" Aku memang tidak memblokir nomornya, kan?
Tangannya Tompi yang melakukan hal itu. Mas Han tidak membahas lagi hal itu. Dia mengajakku membeli teh hangat di angkringan. Aku melihat ada gorengan dan beberapa macam sate. Kupilih sate bakso pedas untuk ku kunyah.
"Mau makan?" tanya Mas Han lagi.
"Aku sudah makan," selorohku sambil mengunyah sate bakso itu.
"Belikan untuk ibu saja sama sepupumu."
Aku mengangguk, kuminta penjual membuatkan jahe hangat dan teh hangat. Kuambilkan nasi dan beberapa gorengan.
"Kamu sudah makan, Mas?"
Mas Han mengangguk. Aku berusaha mengakrabkan diri dengannya. Seperti yang orang tuaku inginkan. Kuabaikan perasaan sedihku karena telah menghancurkan hati lelaki yang sudah lama menyandang status sebagai sahabat.
Aku bertanya kenapa dia bisa sampai sini. Bukankah dia sedang bertugas? Atau memang libur? Entahlah, aku tidak tahu tentang kehidupannya.
Dia bertanya tentang Gandi. Menceritakan tentang putrinya yang saat ini baru kelas tiga SMP.
"Namanya Alya. Nanti kapan-kapan kita bertemu sekeluarga ya? Boleh kan?" tanya Mas Han.
Aku mengangguk, "Boleh, nanti atur waktu saja, Mas. Jangan sampai mengganggu pekerjaanmu."
"Oh ya, Dek. Menurutmu, bagaimana kalau aku pindah ke Jepara?"
Aku mengernyitkan dahi. Kenapa harus pindah? Apakah disana ada masalah? Aku bertanya alasannya. Mas Han bilang karena ingin lebih dekat denganku. Serius sekali lelaki ini denganku.
Padahal, sampai detik ini sekalipun aku tidak memikirkannya. Disini, aku seperti wanita jahat. Tidak mencintainya, tapi tetap menjalin hubungan ke arah serius.
"Maaf ya membuatmu harus repot-repot pindah ke Jepara." Aku meminta penjual angkringan menghitung semua pesanan kami.
Mas Han mengeluarkan uang dan membayarnya. Kami kembali menapaki jalan menuju ruang rawat inap. Angin sedikit kencang malam itu, membuatku sedikit bergidik merinding.
Mas Han melepas jaketnya dan memakaikannya di pundakku. Aku semakin merasa bersalah jika dia terus baik seperti ini.
Aku melempar senyum canggung padanya, "Makasih, Mas."
"Sama-sama. Mulai besok pakai jaket. Aku tidak mau jika kamu sakit."
"Tenang saja, obat di rumah banyak," jawabku membuatnya tertawa.
Kami masuk ke ruangan abah. Ternyata abah sudah tidur. Kuminta ibu menyantap makanan yang kami beli. Mas Han memilih mengobrol dengan sepupuku di luar. Aku memijat kaki abah.
Ibu memintaku untuk lebih akrab dengan mas Han. Aku mengangguk dan menjawab iya. Sudah kubulatkan tekad untuk tidak egois. Aku teringat hal yang aku katakan pada Tompi.
"Setiap dari kita adalah Ibrahim. Setiap Ibrahim memiliki Ismail. Mungkin, Ismailku adalah keegoisanku."
Ibu menepuk bahuku, ternyata aku melamun dan bicara sendiri. Kuminta sepupuku pulang saja. Kasihan dia, terlalu lama di rumah sakit sampai belum mandi.
Aku menemani Mas Han. Lalu kuceritakan semuanya mulai dari drama penculikan malam itu. Sesekali dia tertawa, tapi aku tahu di dalam hatinya ada rasa kecewa, dan itu terpancar di sudut matanya.
"Wah, berarti aku kemarin diselingkuhi, dong!" candanya padaku.
Aku tidak terima dikatakan berselingkuh darinya. Kemarin kami hanya berkenalan, belum sampai bertunangan. Mas Han tahu aku tidak suka dikatakan begitu, dia minta maaf.
"Lalu sekarang?" tanyanya.
Aku menoleh, "Kami putus."
"Karena orang tua kalian sama-sama tidak setuju itu tadi?"
"Lebih ke arah kami harus menjaga amanah dari Allah. Dulu, kita kecil mereka banting tulang untuk kita, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Panas hujan juga tetap diterjang, supaya kami terjamin hidupnya." Aku menghela napas lega setelah bercerita pada Mas Han.
Ternyata dia tidak marah, malah ingin tahu ceritaku. Atau memang mas Han tidak menunjukkan rasa kecewanya padaku?
Mas Han manggut-manggut mendengarku, "Kamu dewasa sekali."
"Lhah, memang aku sudah tua kali, Mas."
"Bukan itu maksudnya, banyak di luar sana meski umur sudah tua kelakuan masih seperti anak-anak. Aku nggak bisa memaksa rasa sayang dan cinta hadir diantara kita." Mata Mas Han begitu menampakkan pengharapan yang besar dariku.
"Aku sadar hal itu. Tapi, apa kamu mau memberiku kesempatan? Mungkin saja rasa sayang dan cinta bisa hadir seiring perjalanan pendekatan kita," lanjutnya.
Sesaat aku mematung, begitu besar hati sekali lelaki ini. Tidak ada unsur pemaksaan dalam ucapannya. Dia hanya ingin kesempatan.
Ini adalah janjiku pada abah. Aku akan mencoba mendekatkan diri pada lelaki pilihan orang tuaku.
"Kita coba jalani saja dulu, Mas."
Dia mengangguk. Mas Han menyandarkan bahunya di punggung kursi. Lalu menoleh ke arahku.
"Kira-kira aku mampu atau tidak membuatmu jatuh cinta padaku? Bahkan saat aku di dekatmu, akulah yang tidak berdaya. Daya tarikmu sungguh luar biasa, Wid."
Aku tertawa mendengarnya. Wanita di luar sana masih banyak yang lebih dariku. Bisa-bisanya bicara begitu.
Mas Han berdecak, "Malah tertawa. Aku serius, Dek. Sejak pertama kita kenalan, kamu tahu? Aku itu gemetaran saat kamu datang. Tanganku dingin sekali waktu itu."
"Masa, sih?" Aku sama sekali tidak mengingat kejadian waktu itu.
Mas Han mengangguk, "Karisma yang ada dalam dirimu itu memancar keluar. Aku beruntung bisa mengenalmu. Kamu baik, pengertian, perhatian, sayang sama orang tua. Bagiku kamu sempurna, Dek."
Aku memintanya berhenti menyangjungku. Bisa jatuh nanti diriku ini. Kubiarkan malam ini berlalu dengan candaan dari Mas Han. Lelaki ini bisa menghibur hatiku, meski otakku sedari tadi mengingatnya terus menerus, tanpa henti.
Aku ingin memeriksa ponselku, melihat statusnya. Tapi kutahan. Tidak, aku tidak bisa egois begini. Aku sudah berjanji pada orang tuaku.
"Mas Han kalau mau pulang nggak papa." Aku sudah mengantuk.
"Mas jaga disini saja. Besok masih libur, kok. Kamu sudah mengantuk?"
Aku mengangguk. Beberapa kali menguap. Mataku juga sudah pedih.
"Tidurlah. Biar Mas disini. Nanti kalau sudah mengantuk baru Mas ke dalam."
Aku mengangguk. Terserah mas Han saja bagaimana maunya. Aku sudah ingin memejamkan mata. Kutinggalkan dia seorang diri.
Ibu sudah tidur di kursi. Aku mengecek terlebih dahulu infus abah. Lalu menyusul ibu untuk tidur.
Entah bagaiman ceritanya, saat aku terbangun di sebelahku sudah ada mas Han. Kepalaku bersandar di bahunya. Tubuhku berselimut jaketnya.
Ibu menatap kami diiringi senyuman. Segera kutarik tubuhku menjauh dari sisinya. Adzan subuh mulai berkumandang. Kubangunkan Mas Han untuk salat berjamaah.
"Mau sarapan apa? Mas belikan," ucapnya saat kembali dari mushola rumah sakit.
"Nggak usah repot-repot, Mas Han. Kamu pulang saja dulu ke rumah." Aku menolaknya.
"Mas tidak repot, Dek. Bubur ayam mau?" tanyanya.
Terpaksa aku menganggukan kepalaku. Dia berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Kuantarkan dia sampai parkiran mobil dan kami berpisah disana.
alhamdulillah...
pinus kaliiikkkkk
wkwkwk
ini mmg abangnya yg gimanaaaa gituh
bikes!!
bikin kesel!!!
fighting!!!!!
wkwkwk
kereeeen!!!!?