NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Wajah yang Kembali

Tetapi untuk pertama kalinya, keheningan mereka tidak terasa seperti jarak.

Pagi berikutnya, Ning bangun lebih dulu dari suara burung di halaman.

Kakinya masih berat di bawah gips. Lehernya masih sedikit tertarik saat menoleh. Tetapi kamar utama Menteng Enclave terasa berbeda. Mungkin karena semalam, dari balik dinding, ia mendengar dua laki-laki yang paling ia cintai akhirnya menemukan satu kata yang hilang selama enam belas tahun.

Papa.

Ning tersenyum sendiri, lalu pelan-pelan memindahkan tubuh ke kursi roda kecil di samping ranjang. Perawat pribadi sudah mengajarinya cara pindah tanpa menekan kaki kiri. Ia melakukannya hati-hati, menggigit bibir saat nyeri menusuk sebentar.

Ia masuk ke kamar mandi utama untuk mencuci muka.

Air dingin menyentuh kulitnya.

Ning menunduk, membasuh wajah sekali, dua kali. Saat ia mengangkat kepala dan melihat cermin, tangannya berhenti di tepi wastafel.

Perempuan di cermin itu bukan lagi wajah kurus pucat yang ia lihat saat pertama kali membuka mata di kehidupan ini.

Alisnya melengkung lembut. Matanya hitam jernih dengan sudut yang dulu sering diejek Yenni terlalu mudah menangis. Bibirnya, garis rahangnya, lekuk pipi yang selama ini berubah sedikit demi sedikit, semuanya kini berhenti pada satu bentuk yang ia kenal sampai ke tulang.

Itu wajahnya.

Wajah Ning Tju enam belas tahun lalu.

Ning menatap cermin lama sekali.

Tidak ada rasa takut.

Yang datang justru napas panjang, seperti seseorang akhirnya pulang ke rumah yang namanya sudah lama ia hafal.

"Aku kembali," bisiknya.

Ia menunduk, lalu melihat pergelangan tangannya.

Bekas luka tipis yang selama ini seperti bayangan di kulitnya sudah hilang.

Ning mengusap tempat itu dengan ujung jari. Kulitnya mulus. Tidak ada garis putih. Tidak ada jejak putus asa milik perempuan muda yang dulu terlalu lelah hidup di rumah Hartono.

Dadanya terasa penuh.

"Terima kasih," katanya sangat pelan, entah kepada siapa.

Ia pernah takut tubuh ini akan selalu terasa seperti rumah sewa. Dihuni, dirapikan, dicintai, tetapi tetap menyimpan bau luka orang lain di dindingnya. Selama beberapa minggu terakhir, setiap perubahan wajah membuatnya bahagia sekaligus bersalah.

Bagaimana kalau ia mengambil terlalu banyak?

Bagaimana kalau perempuan muda yang dulu menyerah itu masih tersisa di suatu sudut, menunggu Ning lengah?

Namun pagi ini, saat melihat kulit pergelangan tangannya bersih, Ning tidak merasakan penolakan. Tidak ada dorongan asing di dadanya. Tidak ada sedih yang bukan miliknya.

Hanya tenang.

Seperti seseorang sudah menutup pintu dari dalam dan meninggalkan kunci di tangannya.

Pintu kamar mandi diketuk.

"Ning?"

Kevin masuk setelah ia mengizinkan. Langkahnya berhenti di ambang pintu.

Ia tidak bicara.

Ning melihat wajah Kevin di cermin. Laki-laki itu berdiri kaku, satu tangan masih memegang kusen. Matanya tertancap pada wajahnya, tetapi tidak ada keterkejutan yang kasar. Hanya sunyi yang panjang, dalam, dan hampir menyakitkan.

"Kevin," panggil Ning.

Baru saat itu Kevin bergerak.

Ia berjalan mendekat, berlutut di depan kursi roda agar sejajar dengannya, lalu mengangkat kedua tangan ke wajah Ning. Telapak tangannya menyentuh pipi Ning dengan sangat hati-hati, seperti takut cermin itu pecah.

Tidak ada kata.

Ning menunggu.

Kevin tetap diam.

Namun ibu jarinya bergerak pelan di bawah mata Ning, menyentuh garis yang ia kenali dari foto, dari video, dari mimpi, dan kini dari hidup yang nyata.

"Aku terlihat seperti dulu?" tanya Ning.

Kevin menggeleng pelan.

Hati Ning turun.

"Tidak?"

"Lebih hidup."

Air mata Ning langsung memenuhi mata.

Kevin menunduk dan mencium keningnya.

"Jangan menangis. Kasa di lehermu nanti basah."

"Kamu merusak momen."

"Aku menjaga pasien."

Ning tertawa kecil.

Dari luar kamar, langkah cepat terdengar.

"Mama? Papa? Bi Ruan bilang sarapan..."

Kian berhenti di pintu kamar mandi.

Ning dan Kevin sama-sama menoleh.

Kian menatap wajah Ning.

Satu detik.

Dua detik.

Mulutnya terbuka.

"Gila."

"Kian," tegur Kevin.

Kian tidak peduli. Ia masuk, mengeluarkan ponsel dari saku, lalu membuka folder foto yang jelas sudah ia simpan lama. Ia memperbesar satu foto lama: Ning muda berdiri di taman, rambutnya tertiup angin, tangan di atas perut hamil.

Kian mengangkat ponsel di samping wajah Ning.

Ia melihat layar, lalu wajah Ning, lalu layar lagi.

"Sama."

Ning menggigit bibir. "Sama sekali?"

"Sama." Mata Kian mendadak cerah dengan cara yang membuatnya terlihat lebih muda. "Akhirnya aku gak perlu pura-pura bilang miripnya cuma sedikit."

Ia memperbesar foto itu lagi, jari telunjuknya berhenti di senyum Ning yang lama.

"Foto ini dari mana?" tanya Ning.

"Folder lama." Kian menunduk, pura-pura sibuk mengatur layar. "Aku simpan beberapa. Yang ini Mama lagi di taman, katanya waktu itu aku nendang dari dalam perut."

Kevin menatap foto itu.

"Kamu punya foto itu?"

"Ci Yenni kirim waktu aku SMP. Aku bilang buat tugas keluarga."

"Padahal?"

"Buat lihat." Kian mengangkat bahu. "Sekarang gak perlu cuma lihat foto."

Kalimat sederhana itu membuat Ning kembali ingin menangis.

Kevin menoleh padanya.

"Kamu selama ini pura-pura?"

Kian memasukkan ponsel ke saku. "Semua orang pura-pura. Capek juga."

Ning tertawa sambil menangis.

Kian mendekat, lalu berjongkok di sisi kursi roda. Ia menatap pergelangan tangan Ning yang sedang digenggamnya sendiri.

"Bekas lukanya?"

"Hilang."

Kian menyentuh kulit itu dengan satu jari, sangat pelan.

"Berarti selesai?"

Ning tahu maksudnya.

Selesai dengan tubuh yang terasa dipinjam.

Selesai dengan bayangan luka yang bukan miliknya tetapi ikut ia bawa.

Selesai dengan rasa bersalah karena hidup di tempat seseorang pernah menyerah.

"Sepertinya begitu," jawab Ning.

Kian menunduk sedikit. "Bagus."

Kevin berdiri, lalu mengambil handuk kecil untuk Ning. Gerakannya tenang, tetapi matanya belum benar-benar lepas dari wajahnya.

Ning menyipitkan mata. "Kalau kamu terus menatap begitu, aku akan malu."

"Aku sudah menatapmu selama enam belas tahun lewat foto. Sekarang boleh lebih lama."

Kian langsung berdiri. "Aku keluar dulu. Ini mulai tidak cocok untuk anak di bawah umur."

"Kian!"

"Sarapan lima menit lagi."

Ia pergi dengan telinga merah.

Ning dan Kevin saling menatap, lalu sama-sama tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak semua luka terbuka, pagi itu terasa ringan.

Namun suara bel rumah tiba-tiba memotongnya.

Tidak lama kemudian, Bi Ruan muncul di pintu kamar dengan wajah tegang.

"Nyonya," katanya hati-hati, "di depan ada tiga orang. Seorang laki-laki mabuk, terus berteriak di gerbang. Dia bilang dia bapak Nyonya."

Senyum Ning memudar.

Di belakang Bi Ruan, Kian yang baru kembali dari koridor langsung mengangkat wajah.

Kevin menatap Ning.

Ning memegang pergelangan tangannya yang kini tanpa bekas luka.

Hartono datang.

Udara pagi langsung membeku.

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!