seorang janda muda yg terpaksa menikah dengan atasannya. dan terlibat cinta segitiga antara dia, suami dan mantan suaminya. siapakah yang akan dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin Aiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
"*M*aaf kak, Kak Senja tidak akan kembali kesana. Ibu minta kak Langit mengembalikan kak Senja pada kami."
Langit sangat terkejut ketika membaca pesan whatsapp Bimo. Ia langsung melakukan panggilan telpon, namun ditolak oleh Bimo. Ia mencoba menebak-nebak apa yang terjadi, namun hanya membuat perasaannya semakin gusar.
Hingga mentari pagi mulai menampakkan cahayanya, Langit masih tetap duduk di sofa. Memikirkan apa yang membuat ibu mertuanya marah menjadikan rasa kantuk tak menghinggap di matanya.
"Apa anda tidak tidur?" tanya Hengky yang barusan masuk kamar Langit.
Langit melempar ponselnya pada Hengky, "Gara-gara itu semalam gue gak bisa tidur"
Hengky membuka ponsel Langit, membaca pesan whatsapp Bimo. "Lo habis ngapain dia Lang!!??" Hengky terkejut.
"ggue gak apa-apain dia, dari semalem gue mikirin ini." Langit berdiri. "Batalain semua jadwal gue hari ini, gue harus ke rumah mertua gue."
"Baik." Hengky tersenyum melihat tingkah Langit.
***********
Sementara itu di rumah Senja.
Senja sedang bersiap untuk berangkat ke kantor ketika Ibu masuk ke kamarnya.
"Kamu mau kemana, Nja?" tanya Ibu.
"Kerja lah, buk." Senja menatap ibunya dari cermin didepannya.
"Kamu cari kerja aja ditempat lain. Mulai hari ini kamu berhenti kerja dari sana."
Senja menghampiri Ibunya yang masih marah, ia memegang kedua tangan ibunya. "Ibuk, Senja mohon jangan seperti ini buk. Bu Alea gak akan berani memperlakukan Senja seperti kemaren lagi."
"Nak, Ibuk khawatir, sangat khawatir. Bagaimana jika orang lain menganggap kamu merebut Langit dari kekasihnya. Kamu yang akan membawa beban besar. Ibuk mohon, nurut sama ibuk." pinta Ibu
"Senja terlalu berat Jika harus meninggalkan pekerjaan Senja buk. Bagaimana dengan keseharian kita nanti? kuliah Bimo?"
Ibu memeluk Senja erat. "maafkan Ibuk nak, kami selalu merepotkan kamu."
"Ibuk, kenapa harus ngomong seperti itu?? ini semua sudah menjadi kewajiban Senja buk." kata Senja. "Senja mohooon, ijinkan Senja untuk tetap Bekerja disana buk."
"Ibuk, Kak." Bimo datang.
"Ya, Bim?" tanya Senja.
"Ada kak Langit dibawah?"
"Hah!! sepagi ini?? mau ngapain??" Senja melihat jam dinding kamarnya.
Bimo hanya mengangkat bahu.
Senja, Ibu dan Bimo turun. Mereka melihat Langit duduk di kursi ruang tamu sendiri. Senja mengintip keluar, melihat dengan siapa ia datang. namun tak ada seorang pun diluar.
Langit meraih tangan ibu mertuanya dan menciumnya. "Maaf bu, pagi-pagi saya datang bertamu."
Ibu duduk berseberangan dengan Langit, wajah Ibu terlihat tidak ramah seperti biasanya. Masih terlihat pipi ibu yang basah karena air mata.
"Kedatangan saya kesini ingin meluruskan, sebenarnya ada masalah apa ya bu sampai Ibu menginginkan saya mengembalikan Senja pada Ibu." tanya Langit.
"Ibuk sangat berterimakasih sekali dengan cara kamu memperlakukan kami selama ini. Walau Ibuk tahu kalau pernikahan kalian hanya diatas kertas, tapi Ibuk selalu mengingatkan Senja untuk selalu berbakti sama kamu, nak. Dimata Allah, pernikahan kalian sah.
kami memang bukan orang kaya, tetapi Senja tulus ikhlas membantu keluargamu, tidak ada sedikitpun dari kami yang mengharapkan imbalan berupa apapun. Tidak ada, Nak.
Tapi, Nak. Walau kami bukan orang berada, bukan berarti kamu bisa mempermainkan kami sesuka hatimu. Kalian boleh menghina ibuk, tapi tolong jangan anak Ibuk. Apalagi Senja, dia sudah terlalu susah sejak kecil membantu Ibuk bekerja mencari nafkah. Ibuk sangat terluka ketika melihat dengan mata Ibuk sendiri pacar kamu memaki maki anak Ibuk.
Seharusnya kamu jujur pada kami, jika kamu sudah mempunyai calon sendiri agar kejadian seperti ini tidak terjadi. Dengan begini kamu menempatkan anak ibuk di posisi yang tidak benar, bagaimana jika semua orang menganggap anak ibuk bukan wanita baik-baik nak? karena itulah, Ibu mohon biarkan Senja kembali pada Ibuk."
Langit hanya diam mendengar penjelasan Ibuk, ia sudah tahu betul ini karena ulah Alea.
"Ibu, maafkan Langit karena sebelumnya tidak jujur tentang Alea ke keluarga Ibu. Selama ini saya terlalu percaya diri bahwa Alea tidak akan tahu tentang Senja. Ini benar-benar diluar perkiraan saya Bu. Saya mohon, beri saya kesempatan sekali lagi. biarkan Senja kembali dengan saya." pinta Langit.
"Maaf, nak Langit. Ibuk gak bisa. Ibuk gak ingin anak ibuk terluka." tolak Ibu.
"Saya janji akan mengurus Alea agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Saya mohon bu, biarkan Senja berada disisi saya. Saya sungguh tidak ingin berpisah dari keluarga ini. " pinta Langit, wajahnya terlihat serius.
Senja dan Bimo yang melihat Langit juga merasa kasihan. Ibu juga melihat ketulusan dimata Langit, membuat hati Ibu sedikit melunak.
"Pak Langit benar-benar memperlakukan Senja dengan baik buk. Bahkan ketika Senja sakit, pak Langit sendiri yang merawat Senja. Senja mohon, Ibuk bisa kasih kesempatan lagi." pinta Senja.
Entah mengapa ia sangat terasa berat jika harus kembali tinggal dirumah ini. Semalam saja ia merasa asing tinggal dikamarnya sendiri. Walau tidur dikasur yang empuk, tapi tidurnya tak senyenyak di sofa kamar Langit.
"Ibu masih terasa berat mengembalikan anak ibu ke kamu. Tapi ibuk mohon, tolong jangan sakiti anak ibuk. Dia sudah terlalu banyak menderita nak." pinta Ibu, air matanya mengalir lagi.
Langit menghampiri Ibu mertuanya, duduk disampingnya memegang erat kedua tangan ibu mertuanya"Terimakasih Ibu sudah memberikan kesempatan untuk saya. Saya akan pastikan tidak akan membuat Senja terluka."
Ibu mengangguk, lalu memeluk menantunya. Langit terkejut ketika ibu mertuanya memeluk. Terasa nyaman dan damai, terlalu lama ia tak merasakan pelukan seorang ibu, membuatnya tak ingin melepaskan pelukan itu.
"Pak, mau berapa lama peluk ibu saya?" tanya Senja.
"Sebentar lagi sebentar aja. Biarkan aku seperti ini ya bu." pinta Langit.
Ibu Senja tersenyum, ia membelai lembut rambut Langit.
"iiih, aku juga pengeeeen." Bimo ikut memeluk ibunya dari belakang
"Sana sana.. " Langit menjauhkan tangan Bimo dari ibunya.
"Gak mau!!" Bimo semakin erat memeluk ibu dan Langit.
Entah kenapa Senja sangat senang sekali melihat pemandangan itu, melihat ibunya tak lagi marah pada Langit.
"Bim, kamu gak berangkat sekolah??" tanya Senja.
"Duh, kenapa harus sekolah sih. Seharusnya ini kan masa masa tenang nunggu hasil kelulusan." gerutu Bimo, ia mengambil tasnya, berpamitan dengan ibu, Senja dan Langit lalu berangkat.
"Senja berangkat Kerja juga ya, buk." kata Senja.
"Gak gak, lo temenin gue aja. Gue udah terlanjur batalin semua jadwal gue hari ini." kata Langit.
"Gak mau lah, pak. Kerjaan saya bisa makin numpuk kalo bolos terus. Berapa gaji yang saya terima bulan ini. saya udah kebanyakan libur." tolak Senja.
"Nanti gue transfer kurangnya."
"gak ah, saya masuk kerja aja. Bu monic cerewetnya minta ampun."
"Lo lebih takut bu Monic daripada gue?? gue lebih bos daripada bu Monic lhoo.." tanya Langit.
"Ya iyalah, bu Monic lebih tua dari anda." jawab Senja
"Sudah-sudah, ibuk pusing denger kalian. Udah ayo, sarapan dulu baru kalian berangkat." Ibu melerai perdebatan Langit dan Senja.
-bersambung-
HHEEHH BAPAK LANGIT YANG TERHORMAT., AKU INI DEWI PENOLONG ANDA JADI PERLAKUKAN SAYA DENGAN BAIK KLO TIDAK MAU SAYA MEMBATALKAN INI SEMUA
🤣🤣🤣😆😆😆😆
ini pertama kali baca karya'mu rekomendasi dari Kak NingNong...