NovelToon NovelToon
HOPELESS

HOPELESS

Status: tamat
Genre:Suami Tak Berguna / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:62.9k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Ini bukan pernikahan menuju surga, tapi neraka.

-Kinan Anggraini-

Namanya Kinanti. Gadis biasa yang hidup di tengah keluarga yang kurang harmonis. Bukan juga keluarga yang agamanya sangat paten. Kinan tumbuh dan berkembang jauh dari ajaran agama.

Di usia senja, Kinan sudah menyaksikan pernikahan ayah dan ibunya yang buruk. Sempat terlintas di benaknya bahwa ia tidak akan menikah.

Prinsipnya itu berubah begitu ia bertemu dengan Beni. Pria yang perlakuannya sangat manis yang seolah menyatakan bahwa Kinan adalah dunia Beni. Siapa tidak luluh dengan perhatian lembut dan kata-kata memuja yang selalu terlontar dari mulut Beni.

Doanya pun berubah, ia ingin menikah dengan Beni. Doanya terkabul. Namun, setelah menikah Beni berubah drastis. Jauh dari harapan dan angan-angannya. Kinan seakan melihat ayahnya dalam versi Beni. Bahkan jauh lebih buruk.

Mampu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hancur

^^^•Mau sampai kapan kamu menghindar dari Abang? ^^^

^^^•Kinan, kita perlu bicara. Tolong balas pesan Abang. ^^^

^^^•Sayang, please.^^^

^^^•Kinan, Abang ada masalah. Tidak tahu mau cerita pada siapa?^^^

^^^•Ini sudah sudah hampir tiga minggu, Sayang, kamu kemana?^^^

^^^•Tolong, Kinan, tolong jangan seperti ini.^^^

^^^•Kamu dimana, Sayang, tidak ada di rumah, tidak masuk kampus juga. Sayang, baik-baik saja 'kan?^^^

^^^•Abang dipecat, satu minggu tidak masuk kerja.^^^

^^^•Kinanti Anggraini, ini Abang, Beni Samudera teramat merindukanmu.^^^

^^^•Kinan ingin melihat Abang mati?^^^

^^^•Abang mohon dengan sangat, jangan seperti ini.^^^

Tidak satu pun dari ratusan pesannya dijawab oleh Kinan. Dibaca juga tidak. Ya, nomor kekasihnya itu memang tidak aktif sama sekali. Beni menebak jika Kinan sedang bersembunyi di rumah salah satu kerabatnya yang tidak diketahui Beni di mana alamatnya. Beni mendatangi Nuri, berharap mendapat informasi tentang Kinan, tapi nyatanya Nuri tidak tahu apa-apa. Kemudian Beni menemui Bintang dan wanita itu pun tidak bisa menebak dimana Kinan. Kinan benar-benar menghilang. Membuat hidup Beni semakin kacau. Beni sadar tindakan Kinan memilih untuk bersembunyi pasti karena ulahnya yang tetap bersikukuh untuk datang setiap hari ke rumah Kinan.

Tetapi, bagaimana jika Kinan memilih untuk tidak kembali? Beni diserang rasa takut yang luar bisa. Matanya sudah dibutakan oleh cinta terhadap Kinan. Sungguh ia juga tidak menyangka jika perasaannya akan sebesar ini kepada Kinan, sampai-sampai ia hampir gila rasanya. Tepatnya sudah setengah gila.

Sudah dua minggu ia tidak pulang ke rumah. Mengabaikan panggilan keluarganya. Sekarang, ia sedang menikmati minuman keras bersama teman SD-nya yang tidak sengaja bertemu satu minggu yang lalu. Namanya, Jefri (Nama pemberian si Hania😑). Anak berandalan yang selalu berbuat ulah. Keluar masuk penjara dengan berbagai kasus kriminal, seperti mencuri motor, berkelahi, menghisap ganja dan bahkan sabu.

Jefri menawarkan barang-barang haram tersebut kepada Beni dengan iming-iming, pikirannya yang kacau akan tenang seketika.

Awalnya Beni menolak, tapi tidak dengan minuman keras. Ia kerap mabuk. Namun, Jefri tak gentar untuk menghasutnya, dan pada akhirnya ia menang. Beni mulai terpengaruh. Ia mencoba menghisap apa yang disodorkan Jefri kepadanya. Rasa pening yang luar biasa menyerang kepalanya. Mula-mula ia kapok, tapi lambat laun ia mulai ketagihan. Apa yang dikatakan Jefri benar adanya, pikirannya mulai terasa tenang. Pemberian Jefri yang mulanya hanya cuma-cuma alias gratis, Beni mulai membelinya kepada pria itu. Ya, ternyata Jefri seorang kurir.

Kehidupannya semakin kacau. Mandi tidak mandi, makan tidak teratur, tidur pun tidak jelas. Yang ia tahu, hanya bermain judi bersama Jefri dan teman-temannya jika malam sudah tiba, karena siangnya ia sibuk mencari keberadaan Kinan.

Sementara Kinan yang memang memilih pergi ke kampung Ibunya, akhirnya memutuskan pulang karena sudah tiga minggu ia tidak masuk ke kampus. Kehadiran akan mempengaruhi nilai. Suasana hatinya juga sudah sedikit tenang.

"Kemana saja kamu? Ya ampun, liburan tak ngajak-ngajak." Bintang dan Novi mengunjunginya ke rumah.

"Ada acara keluarga di kampung Ibu." Kinan berbohong. Ia tidak ingin membagi kisahnya dengan siapa pun. Membahas masalahnya hanya akan membuat suasana hatinya tidak mood.

"Kamu ada masalah dengan Beni?"

"Tidak," sahut Kinan berpura-pura tidak acuh. Ia menyembunyikan raut wajahnya dengan berpura-pura sibuk melipat kain, memindahkan barang-barangnya dari tas. "Aku pinjam catatanmu, ya." Kinan mengubah topik sebelum pembahasan Beni semakin berlanjut.

"Ya, aku sudah menyalinnya tadi. Beni datang terus ke kampus, bahkan pernah datang ke rumah. Dia kira aku menyembunyikanmu di sana. Kamu ada masalah, ya, sama dia?"

"Kita sudah putus," Akhirnya Kinan mengatakan yang sejujurnya dengan harapan agar temannya tidak membahas hal itu lagi.

"Hah, putus, kenapa?" Kali ini Novi yang bersuara. Kinan tidak langsung menjawab. Dia beranjak dari tempatnya, memindahkan pakaian yang ia lipat ke dalam lemari.

"Beda agama."

"Hah? Apa? Kamu dan Beni? Maksudmu, Beni....?"

"Ya, pantas saja Novi mengatakan kenal dekat. Satu gereja ternyata." Kinan tersenyum samar.

"Ya ampun, bukannya kamu sudah tahu sejak awal bahwa kamu dan Beni berbeda keyakinan?" Novi bertanya dengan mimik bingung.

"Aku tidak tahu." Kinan tertawa kecil, matanya menyorotkan kesedihan. "Naif, ya?"

"Ya ampun, kok bisa?" Bintang benar-benar terkejut, tidak menyangka dengan problema yang dihadapi oleh temannya itu.

"Ya, begitulah."

"Kalau memang beda agama memang tidak ada solusi kecuali ada yang mengalah," cicit Bintang. Tidak enak melanjutkan kalimatnya yang hendak mengatakan kepada Kinan agar jangan mau berkorban karena ada Novi di sana. Bisa-bisa Novi salah faham dan menganggap mereka egois.

"Aku dan dia sudah berakhir. Tidak akan ada yang berkorban dan menggadaikan Tuhannya." Ucap Kinan dengan bijak. "Lebih baik berpisah karena Tuhan, daripada bersama tapi meninggalkan Tuhan," imbuhnya kemudian.

"Ya, kamu benar," sahut Novi singkat.

"Bagaimana ceritanya kamu bisa tahu?" Bintang masih saja penasaran.

"Aku diajak ke rumahnya, bertemu emak, bapaknya."

"Terus? Bagaimana respon orang tuanya mengetahui fakta bahwa kamu dan Beni berbeda."

Bintang sudah seperti wartawan yang mewawancarainya secara detail. Benar-benar sangat kepo.

"Ya begitulah," Kinan menjawab sekenanya saja. Masalah orang tua Beni, ia tidak akan membahasnya dengan siapa pun. Itu momen paling menyakitkan di dalam kisah ceritanya bersama Beni. Kata-kata orang tuanya yang jelas meremehkan Ayahnya.

"Ya sudah, kamu jangan sedih-sedih terus, dong. Kampus sepi tanpa kamu." Novi mengusap lengannya, memberi semangat dan dukungan.

"Kamu kangen aku, ya?" Kinan menggoda seraya mengerling.

"Ya, kangen lah. Aku dan Bintang malas mengikuti mata kuliah. Sering bolos kami."

"Besok aku akan masuk. Dan hari ini aku mesti kerja rodi menyalin ketinggalan selama tiga minggu. Dimohon pengertiannya untuk kedua temanku yang baik hati agar segera pulang dan memberikan waktu kepadaku untuk mengejar ketinggalanku."

"Kami diusir?" Protes Bintang dengan wajah cemberut. "Tega amat sama kita."

"Aku harus fokus," Kinan beralasan, padahal ia hanya ingin sendiri dulu.

"Ya sudah, kami pamit pulang, ya. Sampai bertemu besok di kampus." Novi segera berdiri dan memaksa Bintang agar ikut beranjak.

"Makasih, ya, atas kunjungannya." Kinan mengantar kedua temannya hingga ke depan gang sampai keduanya masuk ke dalam angkot.

Saat Kinan hendak berbalik, sebuah motor berhenti di hadapannya.

"Akhirnya kamu muncul juga di permukaan."

Kinan terkejut, jantungnya berdegup tidak karuan melihat sosok Beni yang tidak ia pungkiri ia rindukan. Hatinya juga berdenyut nyeri melihat penampilan Beni yang kacau. Rambut berantakan, wajah mulai ditumbuhi cambang-cambang halus. Maniknya merah menunjukkan keletihan yang luar biasa. Wajahnya lesu, pucat, menatap Kina dengan tatapan memohon dan memelas.

Suara Beni terdengar serak."Kita perlu bicara. Terserah mau di mana. Di sini, di rumahmu atau di tempat lain."

1
Reksa Nanta
lanjutkan
Reksa Nanta
bertengkar hebat di jalanan kenapa tidak ada yang menolong ?
Reksa Nanta
tidak bisa disalahkan juga karena kondisi Kinan sedang depresi di tengah tengah ketidakstabilan emosi akibat hormon kehamilan.
Reksa Nanta
ini bukti bahwa cinta buta tidak cukup untuk dijadikan modal pernikahan.
Reksa Nanta
tindakan Kinan memang sudah sesuai dengan karakternya yang naif.
Reksa Nanta
hahahaha ...
Reksa Nanta
ular berbisa mematuk temannya sendiri.
Reksa Nanta
sebuah hubungan yang dimulai dengan kebohongan, selanjutnya akan diisi dengan kebohongan lainnya.
Reksa Nanta
hadeeehhh .. Beni. hal sekrusial itu kenapa dirahasiakan ?
Reksa Nanta
kamu di mana ? dengan siapa ? semalam berbuat apa ?
Reksa Nanta
gimana sih Beni, mosok nembak cewek lewat ponsel. 😅
Reksa Nanta
authornya punya ingatan yang luar biasa.
Reksa Nanta
memang ada ya ukuran 28 ? 🤔
Reksa Nanta
heleh .. perempuan juga sama serakahnya kok.😅
Reksa Nanta
kalau memang belum mau pacaran, lebih baik dipendam saja perasaannya, dan jaga jarak dengan perempuan. jangan memberi harapan palsu.
Reksa Nanta
Hahaha

cinta kanguru melompat lompat kesana kemari
Reksa Nanta
sesuai namanya ya, Nuri sangat pandai berkicau. hahaha.
Reksa Nanta
aku punya teman namanya Chandra, putih tinggi tampan
Reksa Nanta
bahasa gaul tahun 90 an bertebaran di mana mana. ketika aku masih pakai seragam putih merah.
Reksa Nanta
hahaha ... astaga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!