Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesaksian dari 30 tahun lalu
Ruang tamu rumah Arga dipenuhi keheningan. Camilan dan minuman yang disiapkan ibu Arga hampir tak tersentuh. Semua mata kini tertuju kepada Bima yang duduk dengan kedua tangan saling menggenggam di atas lututnya.
Rizal memandangnya penuh rasa penasaran.
"Mas..."
"Kalau nggak keberatan..."
"...sebenarnya apa yang terjadi?"
Bima mengembuskan napas panjang. Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya.
"Sejujurnya..."
"...sampai sekarang aku juga belum benar-benar mengerti."
Ruangan kembali hening. Bima mulai bercerita.
"Waktu itu..."
"Usiaku dua puluh dua tahun."
"Aku ikut mendaki bersama beberapa teman."
"Jumlah kami enam orang."
Awalnya perjalanan berlangsung biasa saja. Mereka mendirikan tenda. Memasak. Bercanda. Mengabadikan pemandangan dengan kamera analog yang saat itu masih menjadi barang mewah.
Semuanya berjalan normal.
"Sampai hari terakhir."
"Kami mulai turun gunung."
Bima menundukkan kepala.
"Aku berjalan paling belakang."
"Karena salah satu tali sepatuku lepas."
"Aku berhenti sebentar buat mengikatnya."
"Cuma beberapa menit."
"Setelah selesai..."
"...mereka sudah nggak kelihatan."
Rizal mengangguk pelan.
"Itu masih wajar."
"Iya."
"Aku juga pikir begitu."
Bima sempat berteriak memanggil teman-temannya. Namun tak ada jawaban. Ia mempercepat langkah. Menyusuri jalur yang menurutnya benar.
Tetapi...
Semakin lama...
Jalur itu terasa semakin asing.
"Pohon-pohonnya..."
"...rasanya belum pernah kulihat."
"Aku mulai sadar..."
"...aku tersesat."
Hari pertama...
Bima masih tenang. Ia yakin teman-temannya akan kembali mencarinya. Bekal makanan masih cukup. Air minum juga masih tersedia. Namun hari berganti. Tak ada seorang pun datang. Jalur yang ia lewati selalu berakhir di tempat yang tak dikenalnya. Ia mencoba mengikuti arah matahari. Mencoba menggunakan kompas. Tetapi arah jarumnya berputar tidak menentu.
"Aku mulai panik."
Suara Bima perlahan mengecil.
"Aku jalan terus."
"Terus."
"Dan terus."
"Aku memutuskan mendirikan tenda setiap malam datang."
"Bahkan aku sengaja meletakkan beberapa bungkus makanan sebagai petunjuk."
"Sampai akhirnya..."
"...aku mendengar suara."
Semua orang di ruang tamu langsung memperhatikan.
"Suara apa, Mas?"
tanya salah seorang anggota Mapala.
Bima menggeleng pelan.
"Aku nggak tahu."
"Kadang seperti orang manggil."
"Kadang seperti suara langkah kaki."
"Kadang seperti ada yang sedang menebang kayu."
"Aku pikir..."
"...akhirnya ada orang."
Karena terlalu berharap bertemu manusia, Bima langsung mengejar suara itu. Ia berlari menembus semak. Melewati pepohonan.
Tanpa sadar...
Tas carrier yang sejak tadi dipanggul terasa sangat berat.
"Akhirnya..."
"...aku menaruh tas di bawah pohon."
"Aku pikir cuma sebentar."
"Nanti setelah ketemu orang..."
"...aku balik lagi."
Ia terus mengejar suara itu. Namun suara tersebut semakin jauh.
Dan akhirnya...
Hilang begitu saja.
"Aku baru sadar."
"...aku bahkan nggak ingat lagi jalan kembali."
Butuh waktu lama hingga akhirnya Bima berhasil menemukan tasnya lagi.
Namun...
Begitu menemukan dan membuka tas itu...
Ia langsung terpaku.
"Aku yakin..."
"...isi tasku berubah."
Semua saling berpandangan.
"Berubah gimana?"
Rizal bertanya pelan.
"Makanan yang sebelumnya tinggal sedikit..."
"...jadi lebih banyak."
"Ada beberapa bungkus mi instan."
"Biskuit."
"Dan..."
Bima berhenti sejenak.
"Botol air minumku."
"Yang tadi hampir habis..."
"...penuh lagi."
Ruangan mendadak sunyi. Tak seorang pun menyela.
"Aku sampai berpikir..."
"...apa aku salah ambil tas."
"Tapi..."
"Semua barang pribadiku masih ada."
"Kamera."
"Dompet."
"Jaket."
"Semuanya milikku."
"Hanya..."
"...bekalnya bertambah."
Arga yang sejak tadi diam perlahan menundukkan kepala. Ia langsung teringat pada ransel yang pernah ia temukan di hutan. Ransel yang ia isi kembali dengan makanan sebelum ditinggalkan.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Mungkinkah...
Hari berikutnya terus berlalu.
Bima kembali berjalan tanpa arah.
Ia tidak tahu sudah berapa lama berada di dalam hutan.
Sampai suatu hari...
Ia menemukan sesuatu yang berbeda.
"Sebuah hutan bambu."
Bukan rumpun bambu kecil.
Melainkan hamparan bambu yang sangat panjang.
Rapat.
Tinggi.
Dan membentuk lorong alami.
"Aku nggak tahu kenapa."
"Tapi waktu melihatnya..."
"...aku merasa harus masuk."
Langkahnya menyusuri lorong bambu itu.
Semakin jauh.
Suara dedaunan bergesekan tertiup angin menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
Entah berapa lama ia berjalan.
Hingga tiba-tiba...
Pepohonan di depannya habis.
Yang terlihat justru...
Jalan aspal.
Lebar.
Dengan marka jalan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Aku berdiri lama di pinggir jalan."
"Aku benar-benar bingung."
"Karena semuanya terasa asing."
Tidak ada satupun mobil yang melintas.
Suaranya berbeda.
"Aku bingung antara lanjut ke seberang jalan atau tetap menunggu kendaraan apapun melintas disitu."
Beberapa anggota Mapala mulai menahan napas.
Lalu Bima tersenyum kecil.
"Beberapa menit kemudian..."
"...datang sebuah mobil logistik."
"Mobil itu berhenti."
"Orang-orang di dalamnya turun."
"Mereka melihatku seperti melihat orang yang baru keluar dari tempat yang sangat jauh."
Bima menoleh kepada Arga.
"Dan..."
"...di dalam mobil itulah aku bertemu Arga."
Arga tersenyum tipis. Ia masih ingat jelas pertemuan itu. Sosok lelaki dengan pakaian lusuh. Wajah dipenuhi kebingungan. Namun tatapannya masih menyimpan harapan.
Bima melanjutkan dengan suara lirih.
"Kalau saja mobil itu tidak berhenti..."
"...mungkin aku masih berdiri di pinggir jalan sampai sekarang."
Ruangan kembali diliputi keheningan. Tak ada yang berbicara. Semua mencoba mencerna cerita yang baru saja mereka dengar. Sebuah kisah yang terdengar mustahil. Namun diceritakan dengan begitu jujur hingga sulit untuk dianggap sebagai kebohongan.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun...
Potongan-potongan misteri itu mulai saling menyambung.
Bekal yang bertambah.
Tas yang pernah diisi kembali oleh seseorang.
Lorong bambu.
Jalan aspal.
Seolah ada tangan tak terlihat yang selama puluhan tahun...
Terus menjaga mereka yang terjebak di dalam hutan.
Keheningan masih menyelimuti ruang tamu. Tak ada seorang pun yang langsung berbicara setelah Bima menyelesaikan ceritanya. Semua masih berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja mereka dengar.
Hingga akhirnya...
Arga perlahan mengangkat wajah.
"Mas..."
Bima menoleh.
"Aku rasa..."
"...aku pernah menemukan tas itu."
Semua mata langsung beralih kepada Arga.
"Maksudmu?" tanya Rizal.
Arga menarik napas panjang.
"Waktu aku tinggal di Kampung Ciburial..."
"Aku, Pak Rahman dan beberapa warga mencoba menelusuri hutan sebelah utara rawa karena ingin mencari tahu jalur hilang yang ada di peta."
"Kami menyusuri beberapa jalur yang tergambar di peta yang ditemukan kang jaya"
Ia berhenti sejenak, mengingat kembali peristiwa itu.
"Di perjalanan, kami menemukan beberapa bungkus makanan dengan masa expired puluhan tahun lalu tapi anehnya bungkus itu masih bagus bahkan seperti baru saja dibuka."
"Lalu Di bawah sebuah pohon besar..."
"...kami menemukan sebuah carrier tua."
"Tapi anehnya..."
"...isinya masih bagus."
"Ada kamera analog."
"Jaket."
"Dompet."
"Dan beberapa barang lain."
Bima perlahan membelalakkan mata.
"Itu..."
Arga mengangguk pelan.
"Aku ingat kameranya."
"Waktu itu aku sempat heran."
"Barang-barangnya terlihat tua."
"Tapi masih utuh."
"Kami nggak menemukan pemiliknya."
Pak Rahman mengira pemilik tas itu sudah lama tidak ada.
Karena itu...
Kami membawa nya sebagai penemuan penting.
Namun sore harinya sebelum keluar hutan, saat melewati pohon itu. Arga terpikir hal yang mustahi.
Arga membuka carrier tersebut.
"Makanannya tinggal sedikit."
"Ada botol air yang hampir kosong."
"Jadi..."
Arga menatap Bima.
"...aku dan warga desa menambahkan mi instan.
"Biskuit."
"Dan mengisi penuh botol air minumnya."
Ruangan seketika membeku. Bima mematung. Matanya mulai memerah.
"Jadi..."
"...itu kalian?"
Suara Bima hampir tak terdengar.
Arga mengangguk.
"Iya."
"Kami berharap..."
"...kalau suatu hari pemilik tas itu masih hidup dan kembali..."
"...setidaknya dia punya bekal."
Air mata perlahan mengalir di pipi Bima.
Selama puluhan tahun...
Ia mengira ada sesuatu yang tak masuk akal telah mengisi kembali tasku.
Ternyata...
Ada manusia-manusia baik yang bahkan tidak mengenalnya.
Rizal mengusap tengkuknya pelan.
"Masya Allah..."
"Berarti..."
"Kalian saling membantu..."
"...meski dipisahkan puluhan tahun."
Tak seorang pun mampu menjawab. Kalimat itu terasa begitu sulit dipercaya. Namun semua fakta yang mereka dengar seolah saling melengkapi.
Beberapa saat kemudian, Rizal menoleh kepada Arga.
"Kalau cerita lo gimana, Ga?"
"Kita belum pernah dengar semuanya."
Arga menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Lain."
"Ceritaku beda."
"Tapi sama-sama aneh."
Semua kembali diam. Arga mulai bercerita.
"Hari itu..."
"Hari kita turun dari puncak."
"Cuaca masih cerah."
"Nggak ada tanda-tanda bakal terjadi apa-apa."
"Tapi..."
"Tiba-tiba kabut turun."
"Bukan kabut biasa."
"Dalam hitungan detik..."
"...semuanya putih."
"Jarak pandang paling jauh cuma satu atau dua meter."
Ia masih ingat jelas bagaimana ia berteriak memanggil teman-temannya. Bagaimana ia meniup peluit nya.
Namun suara mereka terdengar semakin jauh.
Lalu...
Menghilang.
"Aku diam."
"Nunggu kabutnya hilang."
"Beberapa menit kemudian..."
"Kabut memang hilang."
"Tapi..."
Arga menatap satu per satu sahabatnya.
"...semua pohon di depanku berubah."
"Bukan jalur yang tadi kulewati."
"Bukan hutan yang kukenal."
"Aku benar-benar ada di tempat asing."
Beberapa anggota Mapala saling berpandangan. Pengalaman itu belum pernah mereka alami.
"Aku coba balik."
"Nggak bisa."
"Semua arah sama."
"Akhirnya aku jalan."
"Hanya mengandalkan feeling."
"Hari pertama..."
"Hari kedua..."
"Aku terus berjalan."
"Kalau malam datang..."
"...aku mendirikan tenda."
"Dua malam."
"Sendirian."
Tanpa api unggun yang besar. Tanpa suara teman. Hanya suara hutan. Dan doa agar pagi segera datang.
"Hari ketiga..."
"Aku menemukan sungai."
Matanya sedikit berbinar ketika mengingatnya.
"Waktu itu aku senang banget."
"Soalnya..."
"...kalau mengikuti aliran sungai biasanya bisa membawa kita ke perkampungan."
"Jadi aku ikuti."
Berjam-jam ia menyusuri tepian sungai.
Harapannya semakin besar.
Sampai akhirnya...
Ia melihat sebuah papan kayu.
"Papan nama kampung."
"Tulisannya hampir pudar."
"Ditumbuhi lumut."
"Kelihatannya udah lama banget nggak dirawat."
"Tapi..."
"Masih bisa dibaca."
"Kampung Ciburial."
Arga tersenyum tipis.
"Waktu itu aku pikir..."
"'Alhamdulillah... akhirnya ketemu kampung.'"
"Padahal..."
"...aku belum tahu kalau kampung itu menyimpan begitu banyak misteri."
Ia mengikuti jalan kecil di balik papan tersebut.
Namun bukannya rumah-rumah penduduk...
Yang ia temukan justru sebuah hutan bambu.
Bambu-bambunya sangat rapat.
Batangnya tinggi menjulang.
Hampir tidak ada celah untuk dilewati.
"Aku nunggu sampai besok."
"Soalnya udah mulai sore."
"Aku nggak berani masuk malam-malam."
Keesokan paginya...
Dengan sisa tenaga yang ada...
Arga nekat menerobos masuk. Beberapa batang bambu yang patah menjadi rintangan. Semak belukar memenuhi jalur.
Hingga...
"Salah satu bambu patah..."
"...menusuk betisku. Saat aku terperosok."
Rizal langsung meringis.
"Sakit banget pasti."
Arga tersenyum kecil.
"Iya."
"Dalem."
"Aku sempat cabut sendiri."
"Lalu kubalut seadanya."
"Tapi darahnya..."
"...nggak berhenti keluar."
Ia tetap memaksakan berjalan.
Karena ia tahu..
Berhenti berarti menyerah.
Menjelang Magrib...
Tubuhnya mulai kehilangan tenaga.
Perutnya kembali diserang nyeri hebat.
Lambungnya terasa seperti diremas.
Demam mulai muncul.
Kepalanya berat.
Pandangannya berkunang-kunang.
"Aku benar-benar udah nggak kuat."
Ia bersandar di batang pohon kopi.
Napasnya tersengal.
Lalu...
Di tengah suara angin...
Ia mendengar sesuatu.
"Azan."
Suara itu lirih. Namun sangat jelas.
Disusul suara orang-orang berbicara.
Dekat.
Sangat dekat.
"Aku pengen berdiri."
"Tapi kakiku udah gemetar."
"Aku cuma bisa kumpulin sisa tenaga."
"Lalu..."
"...teriak."
"Tolong...!"
"Sekali."
"Dua kali."
"Tiga kali."
Setelah itu...
Pandangannya mulai kabur. Yang masih ia ingat hanyalah suara langkah kaki yang berlari mendekat. Suara seseorang berkata,
«"Masih hidup!"»
Lalu suara yang lain,
«"Cepat, angkat!"»
Arga tersenyum haru.
"Orang pertama yang kutemui..."
"...Pak Rahman."
"Dan beberapa warga Kampung Ciburial."
"Merekalah..."
"...yang menyelamatkan hidupku."
Ruangan kembali hening.
Tak ada lagi rasa penasaran di wajah teman-teman Mapala. Yang tersisa hanyalah rasa syukur.
Karena mereka kini tahu...
Sahabat yang duduk di hadapan mereka...
Tidak hanya berhasil keluar dari hutan.
Tetapi juga berhasil bertahan hidup melewati hari-hari yang seharusnya hampir mustahil untuk dilewati seorang diri.