Niat hati Meysa untuk bersembunyi dari kejaran wartawan. Justru ia terbangun di kamar bernuansa kerajaan dan juga dengan pakaian lengkap seorang wanita zaman dahulu. Kebingungan dengan apa yang terjadi, justru identitas dirinya di sini adalah seorang ratu yang lemah. Bertolak belakang dengan sikap dan kemampuannya, Meysa tidak akan membiarkan dirinya terinjak-injak.
Kalau begitu lihatlah bagaimana ratu dari modernisasi ini akan menggemparkan kerajaan, tekad Meysa.
Bagaimanakah perjalanan Meysa di zaman ini? Akankah ia berhasil pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latih
Untaian cambukan itu terhenti di tangan lentik mematikan itu. Semua orang mendaratkan tatapan mereka pada aksi debus ajaib itu, tidak ada luka tapi terlihat begitu kencangnya penahanan cambukan itu. "Apa begini sikap seorang kepala pelayan? Atau memang ini adalah tugas dari atasan atau ibu suri sendiri?"
Mata sipit itu terbuka lebar tapi tetap saja tidak bisa besar seperti tatapan yang ia harapkan. Mulut wanita dihadapannya ini, sungguh membuat percikan api di dadanya.
"Ratu Tania, pelayan anda melakukan kesalahan."
"Kesalahan? Kesalahan apa? Apa yang ia lakukan?" Tania melirik ke arah Siu yang masih terduduk di lantai dengan suara tersedu karena takut atau sakit.
"Pelayan ratu menjatuhkan makanan spesial ibu suri." Memang terlihat ada tumpahan makanan dilantai yang berceceran membuat Tania tersenyum kecil.
"Makanan itu bisa dibuat kembali, tapi satu cambukan membuat bekas yang tidak bisa hilang begitu saja. Apa makanan itu lebih bernilai dari tubuh manusia?"
"Ratu, makanan itu adalah makanan istimewa. Butuh waktu lama untuk menyelesaikan nya."
"Begitu kah? Apa istimewanya? Sehingga sangat berharga dari nyawa orang lain."
"Ini rendaman susu dan buah untuk kesehatan ibu suri. Pembuatan tidak dilakukan disini ratu, ini tidak bisa ditunggu oleh ibu suri."
"Kalau kau dan yang lainnya tidak bisa bertanggung jawab, maka aku yang akan menemui ibu suri." Cambukan itu perlahan mengendur dari genggaman tangan Tania.
"Bereskan itu!" Titahnya pada pelayan, Tania dapat mencium aroma tumpahan itu dan ia yakin itu adalah yogurt yang merupakan susu fermentasi yang dibalut dengan buah-buahan segar.
'Ternyata sudah ada.' Sebelum melangkah, ketua pelayan itu berhenti dan menatap Siu.
"Jangan melindungi seorang pelayan secara berlebihan Ratu, itu akan menjadi bumerang nantinya." Setelah mengatakan itu, ia kembali melangkah dengan langkah kecilnya.
"Dari pengamatan ku, kau tak mendapatkan perlindungan seperti yang Siu kudapatkan. Melindungi secara berlebih-lebihan dengan kemanusiaan ada bedanya. Atau itu semua tertutupi dengan rasa iri atau sakit hati?" Ada guratan besar di wajah wanita itu, genggaman tangannya yang tertutupi oleh pakaiannya tidak terlihat oleh siapapun.
Adalah kekesalan besar di sana seperti hujaman anak panah di dadanya. "Kami permisi ratu Tania."
Setelah kepergian gerombolan menyebalkan itu, Tania membantu Siu berdiri dan gadis muda itu masih terisak.
"Hentikan atau aku hukum!" Peringat Tania.
"Ratu.. hamba..." Jengah karena tangisan itu tak kunjung reda Tania memilih masuk dan tentu saja Siu mengikutinya bak anak yang tidak mendapatkan mainan di pasar bersama ibunya.
"Hentikan! Aku ingin jawaban, bukan tangisan Siu! Kalau kau tidak diam juga aku akan mencambuk mu lebih kasar!" Dan ancaman itu berhasil membuat Siu berhenti menangis.
"Katakan! Apa yang terjadi?"Tania duduk menunggu jawaban pelayan nya.
"Tadi hamba berniat mencari ratu setelah semuanya selesai tapi... Kepala pelayan datang dan menemui hamba dan...
Siu yang baru saja membersihkan ruangan lain di istana ratunya dikejutkan dengan ucapan kepala pelayan yang menghina junjungannya membuat kayu yang cukup besar itu terjatuh dan mengenai pelayan yang membawa makanan untuk ibu suri.
"Kau! Dasar tak tau diri! Apa karena junjungan mu berani kau juga ikut sekarang! Hah!"
"Itu bukan kesalahan ku, pelayan itu seharusnya menghindar."
"Beraninya kau!" Siu yang sendiri langsung mendapat bulan-bulanan dari gerombolan gajah itu.
Wajah yang masih basah karena air mata itu mengikut kemana dan apa yang dilakukan junjungan nya. Tiba-tiba saja Tania mengangkat pakaian Siu hingga ke kakinya membuatnya langsung berdiri. "Apa yang ratu lakukan?"
"Kau tidak lihat? Aku mengobati mu. Kau tidak merasa sakit? Tadi kau menangis kencang sekali!"
"Hamba bisa sendiri Ratu...." Tania memilih duduk daripada ada drama lagi, sambil melihat pelayan nya membersihkan lukanya dengan desisan Tania mengeluarkan pidatonya.
"Dengar Siu... Kau perlu membalas dan menjadi berani untuk menghadapi orang-orang seperti itu. Aku tidak selalu ada atau orang lain untuk melindungi mu. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri Siu."
"Ratu akan pergi kemana? Hamba tentu saja ikut!"
"Benar, tapi jika kau dalam keadaan sendiri. Bagaimana? Kau tidak bisa pasrah dan diam saja. Berani! Ingat itu!"
"Tapi hamba bukan bangsawan yang bisa memegang atau...." Suara Tania langsung terdengar di ruangan itu membuat Siu menatap ratunya.
"Lihat ini? Kau terbiasa memegang sapu dan yang lainnya atau pisau bukan?" Kepala itu mengangguk.
"Ini bisa jadi senjata! Bukan untuk membunuh tapi perlindungan diri! Aku akan mengajarimu... Aku tidak mau memiliki Pelayan yang menangis saja atau aku aku memecat mu!"
"Jangan ratu! Hamba mau!" Bak anak kecil yang tidak mau kehilangan orang tuanya, Siu langsung setuju dan membuat Tania tersenyum senang, ia akan membentuk Siu untuk bisa melindungi dirinya sendiri.
...🌟🌟🌟🌟🌟🌟...
Dari tanah berpasir hingga bebatuan sudah dilewati tapi pria dengan kuda itu menatap arah dihadapannya dengan tanda tanya. "Kenapa belum sampai juga di sungai? Bukankah seharusnya sudah?" Tanya nya membuat pria dibelakangnya langsung mengeluarkan arah jalan.
"Tuanku, tapi disini...."
"Bawa kemari!" Pria itu merasa kesal karena setelah ia turun tidak terlihat garis sungai dari pandangannya.
Setelah petunjuk arah itu berada di genggaman nya, bentukan tak beraturan serta tendangan batu dengan lemparan tinggi terjadi bersamaan. "Longwei!" Teriaknya dengan kekesalan yang memuncak.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Sedangkan tawa kecil terdengar di rerumputan hijau dan suara aliran sungai yang menyegarkan. "Itu akan membuat jalannya terhambat beberapa waktu menuju istana. Aku tidak akan membiarkan itu dengan mudah."
"Tuanku, jika ia tau akan hal ini. Bukankah itu bisa menjadi masalah bagi Tuan?"
"Kita lihat saja siapa yang akan mendapatkan masalah nanti, sekarang kita akan menuju kerajaan bolavia."
"Apa tuanku menemui seseorang penting? Atau permintaan raja?"
"Mengunjungi ratu Tania, dua hari lagi. Dan kau akan lihat bagaimana Ratu itu."
Pagi yang baru saja menyingsing sudah membuat suara layangan pedang terdengar membuat pelayan dan pengawal yang bertugas penasaran. "Siapa yang latihan?" Tanya pria dengan pakaian tidurnya yang masih melekat.
"Ratu Tania, raja."
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
berteman aja dach asyik kayanya