Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Bertemu sebagai musuh berakhir di pelaminan.
Kisah perjodohan untuk mempererat hubungan kedua keluarga.
Janganlah terlalu mencintai, siapa tau menjadi musuh.
Jangan terlalu membenci, mana tau jadi cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Adit tersenyum melihat keberanian Erina. Ia tau kalau Erina sedang mencari perhatiannya, entah karena wajahnya tampan entah karena nilai yang ia inginkan.
"Yuk, kita masuk bareng!" ucap Adit tersenyum manis.
"OMG, Dosgan gue mau... Apa gue mimpi?" bathin Erina sembari menepuk pipinya sendiri.
"Duh Pak! Mending jangan deh! Apa kata anak-anak nanti kalau bapak sama bocah ini" ucap Susi, ia tidak ingin membiarkan Erina terlalu dekat dengan Adit, karena Susi juga menyukai Adit.
"Haish! Ibu ini jangan larang-larang dong, sirik bener liat aku sama Pak Adit" ketus Erina kesal.
"Yang sopan ya, bicara sama dosen. Mau kamu saya kasih C?" pekik Susi kesal sembari menatap Erina dengan sinis.
"Loh, kok main ancam-ancam. Bilang aja ibu kalah saing sama aku" ucap Erina menatap Susi dengan sinis.
"Kamu!" pekik Susi kesal.
"Hufff... Gak berbobot banget. Bertengkar di depan gue, malu-maluin aja" bathin Adit mendengus.
"Para wanita cantik. Jangan bertengkar ya di hadapan saya. Kalian mau kecantikan kalian luntur hanya dengan bertengkar gak jelas seperti ini?" ucap Adit berusaha menenangkan mereka berdua.
"Maaf, Pak!" ucap Erina dan Susi kompak dengan wajah merasa bersalah.
"Hmmm.. Ya udah yuk kita masuk, nanti kita telat" ucap Adit tersenyum lega.
Erina mengangguk kepala dan berjalan mengikuti Adit. Sedangkan Susi ia mendengus kesal dan berjalan ke berjalan masuk ke ruangannya sendiri.
Beginilah nasib orang ganteng dan keren. Semua orang jadi rebutan.
Erina merasa sangat senang dengan sikap Adit yang memilih dirinya. Bagi dia ini menjadi awal yang bagus untuk dirinya terus berada disisi Adit. Erina sangat percaya diri kalau dirinya bakal menjadi wanita satu-satunya yang dipilih Adit.
Berbeda halnya dengan Adit. Ia tidak tertarik dengan wanita yang mengejar-ngejar dirinya. Baginya wanita yang terlalu mengejar-ngejar dirinya itu tidak menantang.
Erina berjalan masuk dan menempati salah satu kursi disana.
"Assalamualaikum" ucap Adit berjalan masuk dan duduk di kursinya.
"Wa'ailaikumussalam warahmatullah" ucap semuanya.
"Rin! Ngapain masuk ke kelas gue?" tanya Rini bingung melihat sepupunya tiba-tiba masuk ke kelasnya. Karena ini hal yang pertama yang ia lakukan.
"Lo diam aja, jangan banyak protes" ketus Erina menatap tajam Rini.
"Haish... Ini kelas gue, jangan lo jadi preman disini" ketus Rini kesal.
"Udah, pokonya lo diam, ngerti" ketus Erina sinis.
Mata Erina terus menatap wajah tampan Adit. Membuat Rini curiga.
"Ooo.. Gue paham, lo kesini demi terus melihat Pak Adit?" ucap Rini tersenyum sinis.
"Lo sebaiknya diam dan jaga jarak dengan pak Adit, karena dia milik gue" kecam Erina dengan sinis.
"No! Dia single dan lo gak berhak mengklaim dia jadi milik lo" ketus Rini menatap Erina dengan tajam.
"Sebentar lagi gue bakal jadian sama Pak Adit. Mending lo jauhin dia sebelum lo terluka lebih dalam lagi" ucap Erina percaya diri.
"Jangan halu. Mungkin saja gue yang bakal bertunangan dengan Pak Adit" ucap Rini tersenyum sinis.
"Jangan harap." Ucap Erina kesal.
"Kita lihat saja nanti" ucap Rini menantang Erina.
-----
*Di kantor.
Shofi berjalan masuk ke kantor yang diikuti Tari. Mata Tari membelalak saat melihat kemegahan kantor Sultan Holding. Ia baru pertama kali masuk ke perusahaan itu dan matanya terus melirik ke seluruh arah.
"Shofi! Coba lo lihat! Keren banget kan kantornya?" ucap Tari kagum.
"Biasa aja" ucap Shofi datar. Ia tau kantor itu sangat keren dan besar jauh dari kantor orangtuanya, tapi ia tetap bersikap biasa saja.
"Haish, lo ini kenapa? Kenapa dingin begitu" ucap Tari mendengus kesal.
"Lo jangan kampungan deh. Lo sendiri anak orang kaya, tapi masuk ke kantor orang norak banget" ketus Shofi menatap Tari dengan sinis.
"Hei! stop ya bilang gue norak, kampungan! Lo gak lihat apa? Kantor ini lebih besar dan keren daripada kantor nyokap lo dan nyokap gue. Wajarlah gue kagum" jelas Tari kesal.
"Iya deh iya" ucap Shofi mengalah, ia tidak ingin terus ribut dengan Tari. Ia terus berjalan ke resepsionis.
"Selamat pagi, Dek. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Anita, seorang resepsionis.
"Kami anak magang baru disini mau ketemu..." ucapan Tari terpotong dengan seorang lelaki yang sedang berjalan masuk ke kantor.
"Kalian anak magang baru disini? Ayo ikut saya!" ucap Dimas menghampiri mereka.
Shofi menatap Anita penuh tanya, namun Anita tersenyum sembari mengangguk kepalanya. Shofi paham dengan ekspresi Anita lalu ia berjalan mengikuti Dimas.
"Shofi! Cowok itu ganteng banget" bisik Tari pada Shofi cengengasan.
"Mau gue colok mata lo?" desih Shofi.
"Iihh.. Kamu ini gak asik" ucap Tari manyung.
"Udah jangan bertingkah! Kita sekarang di kantor orang bukan di kantor kita" bisik Shofi menatap tajam Tari.
"Iya" ucap Tari tersenyum kesal.
Dimas menekan lift, kemudian mereka masuk dan ia memilih angka 25, karena ruangan ada di lantai 25. Shofi hanya mengikutinya tanpa protes, sedangkan Tari dari tadi cengar-cengir, ia merasa sangat bahagia bisa magang disalah satu perusahaan raksasa di Indonesia, bahkan Asia. Selain itu ia bersyukur bisa bertemu dengan Dimas yang sangat tampan.
Lift terbuka dan Dimas langsung membawa mereka ke ruangannya. Pintu ruangnya langsung terbuka otomatis ketika orang datang.
"Mari masuk!" ucap Dimas berjalan masuk.
Shofi langsung berjalan masuk, sedangkan Tari sibuk melirik ke seluruh ruangan sembari jalan.
"Wow... keren banget" bathin Tari cengengesan.
"Silakan duduk!" ucap Dimas mempersilakan Shofi dan Tari untuk duduk di kursi yang terletak di depan mejanya. Dimas membuka sedikit kancing jasnya kemudian duduk di kursi kebanggaannya.
"Terima kasih, Pak" ucap mereka dan langsung duduk di kursi dengan sopan.
Dimas membuka cv keduanya yang berada di mejanya.
"Kamu, Tari Bramantio?" tanya Dimas menatap Tari dan sesekali melihat cv yang ada di tangannya.
"Iya. Benar, Pak" ucap Tari menatap Dimas sambil mengangguk kepalanya sedikit.
"Kamu nanti bekerja di lantai 10. Seseorang akan mengantarmu kesana" ucap Dimas langsung menghubungi sekretarisnya.
Tuuut..tuuut... Adit menekan tombol panggilan di telpon yang berada di atas mejanya.
"Sisil! Tolong kamu ke ruang saya" ucap Dimas memiringkan kepala ke arah telpon.
Tidak butuh waktu lama Sisil langsung berjalan menghampiri Dimas.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Sisil lembut.
"Tolong kamu antarkan dia ke lantai 10, mulai sekarang dia magang di kantor kita. Tolong katakan pada mereka suruh ajarkan dia apa saja yang ia tidak paham" tutur Dimas lembut tapi tegas.
"Baik, Pak" ucap Sisil mengangguk kepalanya.
"Mari, Dek!" ucap Sisil menatap Tari. Tari mengangguk kepalanya menandakan ia setuju.
"Shofi! Gue duluan ya, nanti lo telpon gue aja ya" ucap Tari menatap Shofi.
"Iya" ucap Shofi sambil tersenyum.
Tari terus berjalan mengikuti Sisil. Mereka menuju lift ke lantai 10.