Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 28
Cewek berpiyama coklat kain satin itu berdecak malas ketika terdengar suara bel di pintu apartemennya.
Siapa yang datang malam-malam begini?!
Krystal terlebih dahulu mencari tahu lewat intercom, sayangnya tidak terlihat siapa-siapa di depan pintu. Dengan malas namun berjaga-jaga, cewek itu membuka pintu dan seketika terkejut saat Adnan tiba-tiba muncul di depannya dari arah samping.
Memejamkan mata sejenak, Krystal mendesis kesal.
"Sori kalau gue bikin lo kaget." Adnan meringis melihat ekspresi tidak bersahabat cewek di depannya ini. "Gue gak maksud."
Krystal menatapnya datar kemudian hendak menutup pintu jika saja Adnan tidak menahannya dengan tangan yang bergerak secepat kilat. Walau ia harus merasakan kejepit, tidak masalah.
"Gu-gue mau ngomong, Tal. Masalah tan—"
"Gue gak ada urusan sama lo, jadi mending lo pergi."
"Tal ... dengerin dulu. Gue gak bakal ngeluarin kata-kata pembelaan diri, kok. Gue cuma mau jelas—"
"Gue-gak-peduli!"
Angin dari pintu yang ditutup keras alias dibanting menerpa wajah Adnan membuat cowok itu sejenak memejamkan mata. Krystal memang tidak seperti perempuan pada umumnya yang gampang dibujuk.
Hati cewek itu terlalu dingin, beku seperti es di kutub. Ah, salah, bukan es, melainkan hati Krystal seperti batu. Keras hingga butuh waktu lama dan tenaga ekstra untuk meluluhkannya.
Entah karena karakternya memang seperti itu, atau kehidupan yang membuatnya.
Hidup Krystal sudah banyak sekali cobaannya. Diperlakukan tidak adil, dianggap tidak ada, dipermainkan dan tidak diharapkan. Semua itu membuat Krystal berubah menjadi sosok tak tersentuh.
Baru saja Adnan akan pergi, pintu unit itu kembali terbuka. Yang membuatnya terkejut adalah, Krystal yang keluar dari sana dengan lelehan air mata.
Ada apa?
Adnan segera mendekat kemudian memegang kedua pundak Krystal. "Lo kenapa?" tanya Adnan.
Tangis Krystal kian keras, terisak memilukan. "Ma-ma. Mama ... meninggal ...."
Ya Allah ....
Hati Adnan ikut terhimpit. Sesak melihat Krystal. Tidak bisakah sehari saja cewek ini tidak diuji?
Kenapa dunia begitu kejam padanya?
Apa salah Krystal?
Bukankah selama ini ialah korbannya?
Lalu kenapa dia terus yang merasakan sakit berkali-kali?
Adnan membawa Krystal ke pelukannya. Mengelus rambut lurus tergerai itu dengan lembut dan membiarkan airmata Krystal tumpah di dadanya.
"Gue anter ke sana. Ganti baju dulu. Gue tunggu di sini."
Mengingat Krystal yang hanya memakai piyama, tidak mungkin Adnan membiarkannya keluar dengan pakaian seperti itu.
Tanpa banyak kata, Krystal kembali masuk ke apartemennya tanpa menutup pintu, membiarkan Adnan menunggunya di sana.
Sosok lain yang berdiri di depan lift tak jauh dari unit Krystal, menatap tempat Adnan berdiri dengan tatapan tidak terbaca. Lalu, ia kembali masuk ke dalam lift.
Tujuannya datang sebenarnya ingin memberitahu Krystal akan kondisi Mama cewek itu dan ingin menjadi sosok yang menguatkan Krystal.
Nyatanya, ia kalah start.
Seorang Bagus Baskara kalah cepat oleh seorang Adnan.
Sahabatnya sendiri.
####
Bagus berkali-kali membuang pandangan ketika melihat Krystal menangis tersedu-sedu sembari memeluk nisan Mamanya.
Semua orang sudah pergi setelah mengirimkan doa untuk Mamanya. Kini, tersisa Bagus, Krystal dan Adnan yang sejak tadi setia mengelus bahu Krystal. Seolah berusaha mengirimkan sinyal penguat untuk cewek berpakaian hitam-hitam itu.
Pemakaman Mama Krystal memang dilangsungkan besoknya setelah wanita itu meninggal. Dan itu benar-benar sebuah cobaan yang paling menyakitkan seumur hidup Krystal.
Tanpa sempat mengajak Mamanya berbicara, menyuapinya makanan, membantunya membersihkan diri dan menyiapkan obat untuk Mamanya, wanita itu sudah lebih dulu pergi.
Pergi tanpa pamit.
Tanpa membiarkan Krystal mengucapkan selamat tinggal padanya.
Tanpa memberikan kesempatan Krystal memeluknya untuk yang terakhir kalinya dalam keadaan bernyawa.
Tuhan ... Krystal ingin ikut dengan Mamanya saja.
Sekarang ia tidak punya siapa-siapa lagi. Satu-satunya orang yang menemaninya melewati suka duka kehidupan telah berpulang ke pangkuan-Nya.
Papanya? Cih, bahkan pria berengsek itu tidak menampakkan batang hidungnya sejak tadi malam. Mungkin sibuk berlibur dengan istri keduanya.
Dita? Adik tirinya itu juga sempat datang bersama pacarnya. Namun langsung pulang ketika mendapat telfon dari Papa kandungnya.
"Tal, udah. Pulang, yuk." Suara Adnan terdengar, Krystal menggeleng. "Kalau mau pulang, pulang aja. Gue juga gak butuh lo di sini," balas Krystal.
Kedengarannya memang kejam, tapi percayalah. Adnan tidak tersinggung ataupun sakit hati. Ia malah merasa ingin menangis.
Sebegitu hebatnya luka Krystal hingga cewek itu sudah tidak butuh siapa-siapa lagi?
"Jangan kayak gini, Tal. Gue tau lo berduka, tapi larut dalam kesedihan juga gak baik. Mama lo pasti gak suka kalau ngeliat anaknya sedih terus." Adnan masih mencoba membujuk.
"Lo ngomong gitu karna belum ngerasain apa yang gue rasain."
Menghela napas, Adnan mengalah saja. Membiarkan Krystal menatap nisan Mamanya dengan tatapan kosong.
"Krystal ...." Suara Bagus memecah keheningan yang beberapa detik lalu tercipta. Cowok yang juga bersetelan hitam-hitam itu memberi kode pada Adnan untuk berganti posisi dengannya, syukurnya Adnan langsung peka dan menurut.
Bagus berjongkok di samping Krysral, mengelus pundak cewek itu namun langsung ditepis oleh sang empu. Bagus tersenyum samar.
Sangat tahu diri bahwa kehadirannya mungkin masih menjadi sebuah belati yang menyayat hati Krystal.
Entah sudah bagaimana bentuk hati cewek tegar di samping Bagus ini.
"Pulang, ya? Bunda nungguin lo di rumah. Lo juga belum makan dari tadi, kan?"
"Gak usah sok peduli. Gue gak suka orang munafik." Krystal menjawab ucapannya tanpa berniat menatapnya.
"Tal ... gue bukannya sok pedul—"
"Pergi! Lo berdua pergi dari hadapan gue sekarang juga!" Krystal menoleh menatap Bagus dan Adnan bergantian. "Gue udah muak dikelilingi orang munafik yang gak pernah mikirin perasaan orang lain."
Tamparan itu begitu terasa walau hanya lewat kata-kata, Bagus dan Adnan menunduk. Benar, mereka hanyalah manusia munafik yang sudak mengkoyak hati seorang Krystal Raquelnesya.
Cewek paling kuat yang selalu dicurangi dunia.
"Maaf." Bagus kembali mengangkat pandangan, "tapi gue mohon, Tal. Ayo pulang. Gak baik lam—"
"Jangan buat gue kehilangan kendali dan neriakin lo di sini," potong Krystal, dingin dan tajam. Aurahnya begitu terasa membekukan aliran darah keduanya. Krystal terlihat sangat asing dengan mata yang berpendar penuh kebencian dan ... dendam?
Bagus dan Adnan tersentak. Sudah cukup Tuhan, jangan lagi ada masalah baru dengan rasa dendam itu.
Bagus berdiri, sebagai bentuk bahwa ia akan pergi. Ralat, tidak sepenuhnya pergi karena ia dan dan Adnan menunggu Krystal di mobil.
####
Kosong.
Hampa.
Menyakitkan.
Memilukan.
Nelangsa.
Benci.
Dendam.
Tidak bergairah.
Dan akhirnya mati rasa.
Semuanya terjadi pada Krystal dalam sekejap mata. Menghancurkan hidupnya dan hatinya tanpa ampun. Seperti sebuah panah yang ditancapkan sedalam-dalamnya pada dadanya kemudian ditarik secara kasar hingga membuatnya terkoyak.
Krystal tidak pandai mendeskripsikan rasa sakit. Yang jelas, rasanya kurang lebih seperti itu.
Ia ingin pergi, pergi sejauh mungkin. Bahkan jika perlu, ia tidak ingin lagi kembali ke tempat hina ini. Tempat di mana orang-orang egois, munafik, gila harta dan tidak berperasaan bersarang.
Ia ingin bersama Mamanya di surga, bahkan jika tidak di surga pun, asal bersama Mamanya ia selalu siap.
Karena baginya, surga tidak berarti apa-apa tanpa bersama Mamanya di sana.
Krystal meringkuk di pojok kamarnya. Memeluk lutut sembari terisak di sana. Wajahnya tenggelam di lipatan tengannya, badannya bergetar akibat isakan tangisnya.
Kenapa terasa begitu menyakitkan? Setengah jiwanya seolah hilang bersama Mamanya yang pergi tanpa sepatah kata.
Tuhan ... bolehkah Krystal menyusul sekarang juga?
Ia benar-benar sudah tidak sanggup.
.
.
.
Ada yg sampe nangis?😭
Bagaimana menurutmu part ini???
Bosan gak Krystal dapat cobaan terus???
Harapan untuk Krystal kedepannya?
Kamu Tim BagusKrystal/Tim AdnanKrystal??
Menurut kamu Krystal bakal berakhir dengan siapa??
SIAP BERTEMU KRYSTAL VERSI TERBARU DI PART BERIKUTNYA???
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, LIKE DAN SHARE.
SCREENSHOT PART FAVORIT KAMU BUAT INSTASTORY DAN TAG IG @nurulzaknh_ UNTUK DI-REPOST
SEE U~~💋
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..